
Setelah menikmati sarapannya, Mega mencoba rileks di sofa menonton televisi. Mega biasa mengenakan daster pendek di rumah saat tidak ada siapapun.
Tayangan kuliner di televisi hampir membuat Mega yang berbaring di sofa terlelap lagi, tapi ketukan pintu rumah menyadarkannya.
"Maaf mengganggu bu," kata Budi ramah dengan Jamal yang berdiri di belakang Budi.
"Oh nggak apa, ada apa ya?" tanya Mega.
"Tadi pagi kami disuruh Pak Bimo memeriksa lampu rumahnya, katanya ada gangguan kerusakan di kamarnya?" jawab Budi.
"Ehm, oh iya. Tadi sempat ke sini ya? Maaf ya saya bangunnya kesiangan, ayo silahkan masuk Pak," Mega baru ingat tadi pagi lampu kamarnya mati.
Mega mempersilahkan dua petugas itu masuk. Tak disangka saat itulah niat bejad dua tukang dan kesempatan yang tersedia di saat Mega seorang diri, membuat Mega di lecehkan di rumahnya sendiri.
Mega dalam keadaan terikat, masing-masing tangannya diikat di pojok sisi ranjang membuat posisi Mega terlentang dengan kaki terbuka.
Tubuh Mega yang putih mulus meronta-ronta di atas ranjang seolah menuntut dilepaskan. Suaranya hanya tertahan seperti ingin berteriak, tapi tak bisa lepas karena mulutnya tersumbat.
"Lumayan juga ya dapet nenek-nenek peot haha." tawa Budi di barengi Jamal.
Budi naik ke ranjang di mana Mega terikat. Ia berlutut di antara kaki Nana sambil tangannya mulai mengusap kaki mulus Mega. Mega memberontak meronta-ronta, teriakan tertahan terdengar keras.
Mega terus meronta berusaha melawan, tetapi percuma karena ikatan di tangan dan kakinya sangat kuat.
Tubuhnya melemas saat dua orang pria itu menodai tubuhnya, Mega hanya mampu menangis dalam diam meratapi nasibnya sendiri.
Balasan buruk bisa terjadi akibat perbuatan jahat yang dilakukan di masa lalu. Di mana setiap perbuatan jahat atau tidak baik bisa sewaktu-waktu mendapat balasan serupa apabila tidak berhati-hati dalam bertindak.
Hukum pembalasan bisa terjadi karena hasil dari perbuatan kurang baik, jahat dan menyakiti perasaan seseorang. Sebab perbuatan yang dilakukan di masa lalu bisa saja akan mendapat balasan serupa ataupun setimpal.
Pentingnya berpikir ulang sebelum melakukan tindakan yang justru berisiko bagi kehidupan di masa depan. Dalam hal ini balasan untuk orang yang menyakiti bisa saja terjadi sewaktu-waktu dan mendapat balasan serupa.
"dendam itu tak ada gunanya, siapapun yang pernah menyakitimu akan berhadapan dengan karmanya."
Jangan pernah merasa bangga atau pun senang saat berhasil menyakiti seseorang. Apa yang ditabur itu yang dituai.
Ingat ya, roda hidup itu selalu berputar. Apa yang kita lakukan itu suatu saat akan kembali pada diri kita sendiri.
******
Bimo langsung pulang saat mendapatkan kabar dari menantunya kalau Mega telah di lecehkan oleh seseorang.
"Dimana Mega?" tanya Bimo memasuki rumahnya.
"Mas," panggil Mega yang masih terisak.
"Kenapa bisa?" tanya Bimo dengan raut wajah datar.
"Berani-beraninya kamu memasukkan pria asing di rumah saya,Mega." bentak Bimo.
"Nggak, Mas." jawab Mega menggeleng kuat.
"Kamu memang lancang Mega, seharusnya kamu tau kalau saya tidak ada di rumah maka kamu di larang memasukan orang asing, apalagi hanya ada kamu di rumah ini, dimana pikiran kamu Mega."
"D-dia bilang kamu yang menyuruhnya untuk membenarkan lampu kamar yang rusak." lirihnya dengan bahu bergetar menahan air mata yang akan segera membasahi pipinya.
"Dan kamu percaya? Kamu tau kan kalau saya tidak akan membiarkan siapapun masuk kecuali ada saya, kamu memang bodoh Mega."
Bimo sudah menelpon Alesha dan Rey untuk membawa Maura ke rumahnya, bahkan Alan juga telah sampai di rumah, ia ingin Maura melihat Mega terusir seperti dulu dirinya di tuduh melakukan hal yang tidak pernah Maura lakukan.
"Bunda, bunda kenapa?" tanya Alesha saat melihat keadaan Mega yang sangat kacau.
Bimo kembali dengan satu koper berisi barang-barang Mega." Keluar kamu dari rumah saya sekarang juga!" titah Bimo melemparkan koper tersebut dihadapan Mega.
"Mas, aku mohon jangan usir aku, setelah apa yang aku lakukan kenapa kamu tega, selama duapuluh tahun aku mengabdikan diriku hanya untukmu, dan ini balasan dari kamu, Mas?"
"Lihat ini Maura, dia yang menyakiti kamu akan merasakannya juga, ingat baik-baik saat kamu terusir akibat tuduhan selingkuh, maka hari ini dia yang menuduhmu selingkuh akan terusir karena telah ternoda."
"Lihat ini Alan, Alesha, dia yang mengurus kalian, tapi dia juga yang memisahkan kalian dari ibu kandung kalian."
"Ayah memang jahat, sama jahatnya dengan dia, dan ayah hanya akan menanti balasan atas perbuatan ayah dulu, maafkan ayah karena telah menyakiti hati kalian, termasuk Maura, maafkan aku, aku memang selama ini tidak bersamamu, tapi hatiku selalu untuk kamu, Ra."
Rey menggenggam tangan Alesha saat dirasa wanita itu sudah berlinang air mata," Sayang, jangan menangis, aku nggak kuat lihat kamu kaya gini, aku akan bicara sama ayah agar tidak mengusir bunda dari sini."
Maura memejamkan matanya saat bayang-bayang dirinya terusir dengan banyak cacian dan hinaan yang keluar dari mulut suaminya sendiri, dan kini hal itu terulang kembali dengan korban yang berbeda.
"Jangan!" ujar Maura lirih.
"Jangan usir dia, aku memang menginginkan dia terkena balasan atas apa yang dia lakukan, tapi kata-kata aku waktu itu hanya saat sedang emosi, aku tidak benar-benar ingin dia berada di posisiku yang menyakitkan."
Mega menjatuhkan dirinya di hadapan Maura untuk meminta maaf atas dosa-dosanya selama ini.
"Maafkan aku Mbak, aku memang tidak tau diri, tapi apakah aku pantas mendapatkan ini semua? Rasanya jika mengingat pengorbananku selama ini merawat anak-anakmu itu sudah cukup untuk menebus dosa-dosaku selama ini."
Maura yang tadinya iba dengan Mega kini berubah menjadi marah, ia tidak suka saat Mega mengungkit-ungkit jasanya membesarkan Alan dan Alesha.
Plak!
"Tadinya aku merasa iba, tapi sekarang tidak, tamparan tadi itu pantas untuk wanita perebut seperti kamu."
Plak!
"Tamparan ini untuk wanita tidak tau diri."
Mega memegang kedua pipinya yang memerah, rasanya ini penghinaan dari Maura untuk dirinya, selama ini tidak ada yang mempermalukannya seperti ini.
"KELUAR DARI RUMAH SAYA SEKARANG JUGA, ATAU SAYA YANG AKAN MENYERET PAKSA KAMU PERGI." bentak Bimo dengan nafas yang memburu.