
Hari ini belang tampak lebih bersemangat dari pada hari kemarin, pasalnya hari ini dia bisa bertemu Haidar kembali setelah libur di hari minggu.
"Selamat pagi Haidar." sapa Bella saat melihat Haidar memasuki kelas setelah selesainya upacara.
"Assalamualaikum Bel." sahut Haidar.
Bella menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat Haidar malah memberinya salam.
"Wa'alaikumsalam." jawab Bella.
"Hari ini kan ngumpulin tugas dari bu Yanti, aku udah ngerjain tapi masih ada yang bingung, boleh nggak nanya sama kamu?" tanya Bella dengan antusias.
"Maaf Bella, kalau kamu mau tanya, kamu tanya aja sama Nesa. Nesa juga pinter kok di kelas." jawab Haidar kemudian duduk di bangkunya.
Dengan lesu pun bela menghampiri Nesa yang sedang duduk sendirian lantaran dia tidak memiliki teman.
"Nesa..." panggil Bella.
"Kenapa?" tanya Nesa.
"Aku boleh nggak duduk sama kamu? aku mau jadi temen kamu biar kamu bisa ajarin aku belajar." tanya Bella.
Nesa mengernyitkan dahinya bingung, sebab setiap hari Bella akan selalu mencaci maki dirinya karena tidak memiliki teman dan kerap dijauhi banyak orang.
"Aku bener-bener minta maaf kalau banyak salah sama kamu." ujar Bella.
"Boleh." jawab Nesa.
"Makasih Nesa.." ucap Bella memeluk teman barunya.
Jam pelajaran pun di mulai, kini adalah pelajaran matematika yang dimana semua orang rata-rata tidak menyukai mata pelajaran tersebut.
"Ih susah banget sih, ini gimana Nes." tanya Bella menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal akibat memikirkan jawaban tersebut.
Nesa tersenyum tipis, dengan penuh kesabaran ia mengajari Bella hingga paham.
*****
Pulang sekolah tiba-tiba Nesa dijemput oleh kedua orang tuanya yang sudah membawa koper membuatnya mengernyitkan dahinya.
"Loh kok ayah sama bunda bawa-bawa koper?" tanya Nesa bingung.
"Maaf ya sayang, hari ini ayah harus pergi ke New York karena ada pekerjaan dan bunda juga harus pergi ke sana juga untuk mengurus bisnisnya, karena kamu masih sekolah dan disini kita nggak ada keluarga, maka ayah sengaja mau nitipin kamu ke rumah Tante Alesha." ucap Friza, dirinya saat ini merasa bersalah karena meninggalkan putri semata wayangnya, tetapi dia juga harus mencari uang untuk biaya masa depan anaknya.
"Maafin bunda Nes, sebenernya bunda juga berat ninggalin kamu, tapi bunda janji nggak bakal pergi lama." ujar Ainun.
Nesa menghela nafas kasar, artinya jika dia tinggal di rumah Alesha maka dia akan setiap hari bertemu dengan Haidar.
"Ayo berangkat, nanti ayah bisa telat." ajak Friza.
Nesa mengangguk lesu, hari ini sungguh melelahkan baginya.
Sepuluh menit berlalu, mereka pun sudah sampai di kediaman keluarga Prayoga, disana sudah ada Alesha, Rey dan juga bi Ijah yang menunggu.
"Assalamualaikum." salam mereka setelah berada di depan rumah.
"Wa'alaikumussalam, apa kabar nun?" tanya Alesha memeluk istri dari sahabatnya.
"Alhamdulillah baik Sha, maaf ya karena aku bakal ngerepotin kalian." ucap Ainun.
"Nggak ada yang di repotin nun, lagian kita ini udah kenal lama, banyak kamar juga kok, bisa kalau kamu juga ikut nginep." canda Alesha.
"Enak aja main terkam-terkam." ucap Rey memelototi Friza.
"Ampun suhu, Pak Rey dari dulu sadis amat sih." gerutu Friza.
"Udah-udah, kamu yang nurut sama Tante Alesha ya Nes, jangan banyak-banyak ngrepotin, kalau di rumah harus sering-sering bantu."
"Ini mau nitip anak apa nyuruh jadi art sih, masa keponakan Tante di suruh beres-beres." ucap Alesha.
"Ya udah kita pergi dulu ya Sha, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah." jawab Alesha dan Rey.
BI Ijah pun membawa koper Nesa memasuki kamar tamu, Alesha juga menyuruh Nesa untuk mengikutinya.
"Anggap rumah sendiri ya Nes, jangan sungkan kalau makannya kurang nanti tante minta sama ayah kamu." ucap Alesha. Nesa hanya tersenyum kikuk karena masih canggung.
"Mending kamu ganti baju dulu Nes, Om sama Tante tunggu di meja makan ya, sekalian kita makan bareng." kata Rey diangguki Nesa.
"Iya biar nanti baju kamu bibi yang beresin."
"Nggak usah Tante, biar nanti Nesa beresin sendiri." jawab Nesa.
Karena masih sangat baru menginjakkan kaki di rumah ini Nesa masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Tinggal menumpang di rumah seseorang tentu saja tidak mudah.
Menginap di rumah kerabat atau saudara adalah hal yang wajar, dan pasti pernah dialami oleh semua orang. Entah karena harus mengerjakan tugas kelompok, tengah liburan di kota tempat tinggal saudara, atau sekedar menginap tanpa ada alasan khusus.
Namanya menginap di rumah orang, tidak sama seperti di rumah sendiri. Walaupun tinggal di kediaman orang terdekat, atau keluarga sekalipun, tetap ada adab atau sopan santun yang mesti dijaga.
Jangan sampai, Nesa justru membawa kesan negatif, apalagi merepotkan si pemilik rumah.
Saat menginap, Nesa tidak sendirian di rumah itu,selain ada Alesha dan Rey, disana juga ada Haidar juga bi Ijah. Nesa harus berusaha untuk mengakrabkan diri sama mereka juga.
Apalagi jika ia harus menginap cukup lama di sana. Jangan sekali-kali bersikap cuek dan masa bodoh. Anggap mereka sebagai keluarganya juga. Tawarkan bantuan seperlunya, agar keberadaannya di rumah mereka bisa berguna. Gak cuma numpang tidur, mandi sama makan saja.
Setelah selesai memakai baju ganti, Nesa pun langsung bergegas menemui Alesha untuk membantu wanita tersebut.
"Ada yang bisa Nesa bantu Tan?" tanya Nesa.
"Nggak ada sayang, lebih baik kamu duduk manis di meja makan sama Om Rey sama Haidar." ujar Alesha.
"Tapi Nesa malu Tan, Nesa belum terbiasa di sini." jawab Nesa dengan jujur.
Alesha mengusap kepala Nesa dengan sayang, ia menyayangi semua keponakannya sama seperti anaknya sendiri walaupun Nesa tidak ada ikatan darah dengannya.
"Ya udah kamu bawa piring ini kesana yuk." ajak Alesha.
Haidar terkejut saat melihat kehadiran Nesa disana, pasalnya sejak pulang sekolah ia terus berada di kamar dan tidak tau akan kedatangan Nesa.
"Nah ayok makan, sebelum makan Haidar pasti kaget kenapa bisa ada Nesa di sini, iya kan?" tanya Alesha diangguki Haidar.
"Mulai hari ini Nesa akan tinggal disini karena Om Friza sama Tante Ainun ada urusan di luar negri, karena Nesa nggak punya siapa-siapa disini maka Om Friza menitipkan Nesa di sini." jelas Alesha. Haidar pun hanya membulatkan mulutnya tanda mengerti.
"Mulai besok nanti Nesa pergi berangkat sama Haidar di antar Om Rey."
"Apa nggak ngerepotin?" tanya Nesa.
"Nggaklah sayang, kan kalian satu sekolah." jawab Alesha.
Setelahnya mereka pun menikmati makanan dengan tenang.