
Semakin hari Rey semakin kehilangan berat badannya. Wajahnya tidak berisi seperti dulu, tulang-tulang pipinya kini terlihat lebih jelas. Ada alasan mengapa Rey seperti ini. Semenjak ia melakukan kemoterapi, Rey sering sekali mengalami muntah dan tidak nafsu makan yang mengakibatkan berat badan laki-laki itu menurun.
Rey juga sudah meliburkan diri dari kantor. Ia menyerahkan dan mempercayakan pekerjaannya pada Danu,sedangkan butik untuk Alesha masih tetap di kelola Kinan.
Melihat kondisi Rey yang seperti ini,tentu membuat Alesha sedih. Tapi sebisa mungkin ia tidak menunjukannya pada Rey.
"Kamu capek ya ngurus aku?" Alesha yang tengah merapihkan bekas makan suaminya di kamar, menoleh begitu mendengar suara sang suami.
"Maaf ya Sha," Sambung Rey.
Alesha mengangkat kedua sudut bibirnya. Ia menghampiri Rey yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang setelah makan, "Engga capek kok. Kamu kan suami aku. Udah tugas aku," Balas Alesha dengan tenang.
Rey menunduk. Entah kenapa setiap kali melihat wajah istrinya membuatnya merasa bersalah, "Kamu lagi hamil. Seharusnya aku yang jagain kamu. Bukan malah kamu yang jagain aku."
Alesha mengangkat wajah Rey dengan kedua tangannya. Ia mengecup bibir suaminya sekilas, "Nggak apa-apa. Jangan ngerasa bersalah gitu. Lagian aku masih bisa jaga diri sendiri. Mas fokus aja sama kesehatan Mas. Jangan pikirin aku," Alesha mengusap pipi Rey dengan lembut.
"Kemoterapi ketiga bakal di lakuin minggu depan, jangan pusingin hal-hal yang nggak perlu. Oke?"
Rey menghela nafasnya, "Maaf..."
"Minta maaf mulu aku marah nih," Ancam Alesha. Karena hampir setiap hari wanita itu mendengar kata maaf keluar dari mulut suaminya.
Rey terkekeh pelan, "Kamu hari ini nggak ngidam?" Rey tahu jika sudah seminggu belakangan ini Alesha selalu mengidam. Tapi istrinya tidak pernah bilang pada Rey kalau ia menginginkan sesuatu. Rey tahu kalau Alesha mengidam saja karena tidak sengaja melihat pesan yang dikirimkan Alesha kepada Resa dan mengatakan kalau ia sedang ingin memakan buah yang asam.
"Mas tau aku ngidam?"
Rey mengangguk, "Mas nggak sengaja baca pesan kamu sama Resa,kenapa kamu gak cari sama Resa aja?" tanya Rey.
"Mana bisa aku ninggalin Mas di rumah sendirian. Nggak ingat dua hari yang lalu Mas muntah-muntah? Dari pada suami aku kenapa-napa, mending aku relain ngidam aku nggak terpenuhi."
Rey mengangkat kedua sudut bibirnya, "Hamil kali ini kamu lebih dewasa ya," Katanya sambil terkekeh.
Bibir Alesha mengerucut."Harus dong,masa udah mau punya dua anak tapi masih kaya anak-anak."
"Mama Ayo main!" Reysha masuk ke dalam kamar orang tuanya sambil membawa mainannya
"Astaghfirullah, jangan di bawa ke kamar. mainannya," Alesha buru-buru mengambil mainan tersebut dan meletakkannya di depan pintu kamar.
"Kok di taruh di luar? Ayo main sama kakak Ma." rengek Reysha.
"Udah siang sayang, mending bobo di kamar ya?"
"Enggak mau! Mau main di luar sama Mama!" Kekeuhnya.
Alesha menghela nafas. Ia ingin menemani putrinya bermain. Sudah lama juga ia tidak keluar rumah karena mengurus Rey. Tapi di sisi lain ia tidak bisa meninggalkan suaminya dalam kondisi seperti ini, "Papa lagi sakit. Nggak bisa ditinggal sendiri. Kalau engga kakak main sendiri aja ya di depan tv?"
"Bosen. kakak mau main sama Mama..."
"Papa lagi sakit sayang."
"Reysha!!!" Bentak Alesha akhirnya. Kepalanya pusing mendengar rengekan anaknya terus, "Masuk kamar."
Melihat Mama yang membentak dirinya, membuat nyali Reysha menciut. Tanpa aba-aba lagi anak itu berlari memasuki kamarnya.
Rey yang melihat itu menyuruh Alesha untuk menenangkan dirinya. Rey paham kenapa Alesha bisa membentak putrinya seperti ini. Di samping ia lelah karena mengurus dirinya sendiri, Alesha juga harus mengurus Rey dan Reysha. Belum lagi hormon ibu hamil yang tidak stabil membuat Alesha mudah emosi.
Alesha mengusap wajahnya kasar, "Aku nggak niat bentak dia. Serius deh," Katanya merasa bersalah.
"Iya. Mas paham," Rey membawa Alesha ke dalam pelukannya dan mengusap punggung wanitanya, "Tenangin diri kamu dulu ya, nanti kalau udah bener-bener tenang, temuin Reysha. Minta maaf sama dia, anak kecil biasanya salah tangkap sama apa yang kita maksud."
"Dan kalau bisa kamu penuhi aja keinginan dia buat main sama kamu di luar," Alesha mendongak mendengar perkataan suaminya.
"Terus kamu gimana? Sendirian di---,"
"Nggak apa-apa. Mas bisa ditinggal sendiri," Sela Rey.
Sejujurnya ia tidak tega melihat wajah putrinya yang hampir menangis tadi. Terlihat sekali dari mata Reysha kalau ia benar-benar ingin bermain di luar. Memang, untuk anak seukurannya cukup membosankan jika berada di tempat yang sama dalam waktu lama.
Setelah merasa tenang, Alesha memberanikan diri untuk masuk kamar putranya.
Begitu masuk, Alesha bisa melihat Reysha yang tengah bermain di atas karpet berbulu sendirian.
"Reysha," Panggil Alesha. Ia duduk di samping putrinya."Maafin Mama."
Reysha masih pura-pura sibuk dengan mainannya.
"Mama nggak sengaja marahin kamu. Maaf ya?"
Reysha menaruh mainannya lalu menatap Alesha dengan tatapan menyedihkan, "Iya," Balasnya.
"Kakak mau main kan? Ayo Mama temenin."
Reysha menggeleng, "Main di sini aja. Kasian Papa lagi sakit."
"Ha?"
Reysha tersenyum, "Maafin kakak ya ma, karena udah nakal tadi."
Alesha semakin merasa bersalah karena sudah membentak anaknya. Ia segera memeluk Reysha dan menciuminya berulang kali, "Anak baik. Mama makin sayang. Kamu nggak salah kok, Mama yang salah."
"Kakak juga sayang Mama, Papa sama adik juga."
Rey yang mengintip dari celah pintu kamar Reysha, tersenyum melihat bagaimana istri dan anaknya sudah baikan, "Nggak masalah kalau Tuhan ngambil nyawa aku sekarang, asal mereka berdua bisa bahagia terus kayak gini." lirihnya sebelum meninggalkan tempat itu.
Bersambung.......