Until the End

Until the End
Romantis



Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam celah-celah kamar sepasang suami istri yang masih bergulung dengan selimutnya.


Siapa lagi kalau bukan Rey dan Alesha, kedua suami istri itu masih saling berpelukan mengingat tadi subuh Alesha kembali diserang pusing dan mual.


"Assalamualaikum sayang..." sapa Rey sembari tersenyum saat Alesha mulai mengerjapkan kedua matanya.


"Wa'alaikumussalam." sahut Alesha dengan nada lirih.


"Gimana badannya, masih sakit, kepalanya masih pusing?" tanya Rey beruntun.


"Alhamdulillah udah baikan kok Mas." jawab Alesha mengusap pelan rahang tegas Rey.


"BI Ijah tadi udah buatin sup ayam, ayo makan, nanti keburu dingin supnya." ujar Rey mengambil sup yang tadi di taruh di atas nakas.


"Aku mau ke kamar mandi dulu Mas, mau cuci muka terus gosok gigi dulu." kata Alesha berusaha beranjak dari tempat tidurnya.


"Biar Mas gendong ya." tawar Rey.


"Mas, aku cuma sakit bukan lumpuh jadi nggak usah berlebihan. kamu cukup bantu aku aja jalan ke kamar mandi." ucap Alesha mendengus kesal.


Rey langsung memapah Alesha memasuki kamar mandi, bahkan pria itu sengaja menunggu istrinya di depan kamar mandi takut-takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


Sepuluh menit kemudian Alesha pun keluar dari kamar mandi, langsung saja Rey menuntun tangan istrinya agar kembali duduk di pinggiran ranjang, sedangkan Rey menarik kursi meja rias dan duduk dihadapan Alesha.


"Aku suapi ya." Rey mengambil mangkuk sup itu kemudian menyuapi Alesha dengan telaten.


"Mas nggak ke kantor hari ini?" tanya Alesha saat melihat jam menunjukan pukul 06.30 pagi.


Rey menggeleng pelan."Nggak, Mas mau jagain kamu aja di sini, kamu juga harus istirahat di rumah, nanti Mas telepon Mbak Kinan kalau kamu nggak ke butik hari ini."


"Mas, aku kangen Mbak Safira, udah dua hari ini aku sering mimpiin dia, nanti sore kita ke makam Mbak Safira ya Mas, kita doain dia supaya tenang disana." ujar Alesha memegang tangan Rey yang sedang memegang sendok.


"Iya nanti kita kesana, sekarang kamu makan dulu yang banyak terus istirahat lagi ya."


"Iya tapi kamu kasih tau Reysha juga supaya dia ikut, dia juga putrinya Mbak Safira."


"Tapi Sha, Reysha selama ini nggak mau ikut ke makan Safira, Mas takut dia bakal ngomong yang nggak-nggak lagi." lirih Rey dengan sendu.


Alesha hendak menyahuti perkataan Rey, tetapi tiba-tiba kamarnya di ketuk dari luar membuatnya mengurungkan niat untuk membahas masalah ini lebih jauh.


"Mama, Haidar boleh masuk?" tanya Haidar dari balik pintu.


"Boleh sayang, sini masuk." sahut Alesha, Haidar pun langsung membuka pintu kamar orang tuanya, ia sudah mengenakan pakaian rapi karena ingin berangkat ke sekolah.


"Mama udah baikan? kata bi Ijah Mama sakit lagi." ujar Haidar duduk di samping Alesha.


"Mama nggak papa sayang, kamu mau berangkat ke sekolah ya? biar Papa suruh anterin kamu ya, Mama gak mau kamu naik angkutan umum lagi, udah cukup selama ini kamu terlalu mandiri, kadang Mama kaya nggak dibutuhkan sebagai orang tua." jujur Alesha.


Haidar menunduk, ia merasa bersalah karena terlalu ingin mandiri sampai lupa jika masih ada orang tua yang sangat menyayangi.


"Maafin Haidar Ma, Haidar cuma pengen jadi mandiri biar di masa depan Haidar bisa menghadapi dunia yang sebenarnya, tapi Haidar nggak pernah lupa kalau Mama sama Papa sayang banget sama Haidar."


"Udah sana berangkat nanti telat."


"Ya udah aku berangkat dulu ya Ma, Mama hati-hati di rumah, assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." setelah mencium tangan Alesha, Haidar keluar terlebih dahulu membiarkan kedua orang tuanya berbicara sejenak.


"Mas anterin Haidar dulu ya, kamu langsung istirahat."


"Iya Mas." Rey pun mencium kening Alesha dan langsung berpamitan pergi.


setelah kepergian Rey, Alesha langsung memberikan kabar kepada Reysha agar nanti sore dia bisa datang ke rumah kemudian pergi bersama-sama ke makam Safira.


******


Siang hari ini Alesha terlihat lebih segar dari sebelumnya, bahkan dia kini sedang memasak makan siang untuk suaminya yang sedang berada di ruang kerja.


Entah kenapa akhir-akhir ini Alesha selalu merasa gampang lelah, bahkan dia sudah jarang datang ke butik lagi untuk sekedar mengeceknya saja.


Mungkin ini karena Alesha memiliki banyak beban pikiran tentang anaknya, pasalnya dia selalu memikirkan bagaimana sikap Reysha di rumah mertuanya itu. Reysha terkesan manja, tetapi disana dia takut Reysha tertekan dan menjadi masalah mental bagi putrinya.


Rencananya Alesha akan membicarakan kepada suaminya untuk meminta Azzam dan Reysha tinggal dirumahnya saja.


Pernikahan menjadi momen sakral yang tak hanya melibatkan dua hati saja namun dua keluarga. Makna menikah adalah menjalani hidup baru dengan orang yang baru dikenal. Secara tidak langsung dan tersirat, pernikahan bisa diartikan sebagai proses pelepasan orang tua terhadap anaknya.Memercayakan anak tercinta kepada orang lain yang ia pilih tak selalu mudah


Rasa khawatir pastinya dialami oleh orang tua manapun yang baru saja melepas anaknya setelah menikah.


"Aku cari kemana-mana ternyata ada disini. Bandel ya kamu, aku bilang suruh istirahat malah lagi di dapur, kamu kecapean sayang, nanti kamu sakit lagi gimana? aku kasihan liat kamu mual-mual,pusing terus demam." ujar Rey yang memeluk Alesha dari belakang sambil menumpukkan dagunya di bahu Alesha.


Alesha langsung berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Rey serta menggesekkan hidungnya di hidung suami tercinta.


"Aku udah baik-baik aja, Papa." jawab Alesha sembari menggoda suaminya itu, biasanya Rey akan salah tingkah jika Alesha memanggilnya dengan sebutan Papa.


"Aku mau bikin makanan yang banyak, nanti kan Reysha dateng ke rumah, pasti dia juga dateng sama Azzam, jadi aku mau buat makanan yang enak buat menantu aku." ujar Alesha.


Rey mematikan kompornya, kemudian menarik pinggang Alesha agar lebih mendekat, menatap netra tajam istrinya dengan lekat. "Bandel banget sih, kamu kan bisa minta bantuan bi Ijah, kalau kamu sehat aku juga nggak bakal ngelarang kamu,tapi ini kamu lagi sakit sayang, mau dosa karena nggak nurut sama suami?"


Alesha langsung saja mengusap dada Rey dan menyandarkan kepalanya."Iya Pak Rey, Alesha minta maaf ya, jadi sekarang Alesha harus apa biar Pak Rey maafin Alesha?" tanya Alesha dengan tampang polosnya.


"Gimana kalau pijat-pijatan aja, nanti Pak Rey maafin sekalian kasih nilai tambahan buat murid Pak Rey yang satu ini." ujar Rey yang sedang mengikuti alur yang dibuat Alesha.


"Tapi Alesha nggak bisa mijat, yang lain aja ya?"


"Boleh, tapi Pak Rey kasih hukuman buat kamu." setelahnya Rey langsung menggendong Alesha menuju lantai dua.


"MAS REY LEPASIN."


BI Ijah yang melihat itu semua hanya menggelengkan kepalanya, dia heran melihat tingkah tuan dan nyonya nya itu.