Until the End

Until the End
resepsi



Hari ini adalah hari yang bahagia bagi Rey dan Alesha serta keluarganya. Hari yang dimana Ira nanti-nantikan akhirnya terwujud. Dimana putra kesayangannya akan melangsungkan acara resepsi dan akan memberikan kabar bahagia bagi para tamu undangan.


Kabar bahagia yang akan Ira sampaikan adalah mengenai calon cucunya yang akan segera hadir di keluarga Prayoga.


Bukan cuma Ira yang antusias menyampaikan berita bahagia ini, tetapi Bimo pun akan menyampaikan kehadiran calon cucunya kepada rekan bisnisnya.


Sedangkan Safira menghela nafas kasar menahan sesak di hatinya, pernikahan impian, suami impian, dan juga keluarga impian bisa Alesha dapatkan dengan mudah, tetapi Safira? Dia hanya mendapatkan sebagian saja dari kebahagiaan itu.


Safira yakin ini takdir tuhan yang telah digariskan, apakah ini karena perbuatannya yang menghilangkan nyawa seseorang hingga dia harus mengganti dengan suaminya.


"Baiklah para hadirin yang berbahagia, sebetulnya acara hari ini cuma sekedar resepsi karena ternyata Pak Rey Prayoga dan Alesha Prasetia sudah melangsungkan akad nikah tiga bulan yang lalu" ucap pembawa acara


"Mereka menutupi pernikahan ini karena nona Alesha masih berada di bangku SMA, jadi mereka terpaksa melakukan pernikahan tersebut, karena sekarang nona Alesha sudah lulus sekolah, maka keluarga Prayoga dan Prasetia menggelar acara yang spektakuler ini untuk kalian semua"


"Ini dia pengantin yang sedang berbahagia akan memasuki aula"


Kedua pasangan yangs sedang merasakan bak raja dan ratu itu berjalan berdampingan sambil bergenggaman tangan.


Alesha memakai gaun berwarna putih sederhana namun elegan dipakainya dan riasan make up yang natural membuatnya bersinar, di sampingnya ada Rey yang memakai tuxedo berwarna hitam dipadukan dengan kemeja putih membuatnya tampak tampan berkali-kali lipat.


Mereka berjalan dengan diiringi Bridesmaids yang salah satunya adalah Resa sahabat baik Alesha.


Dipojok aula Alan memandang kagum Rasa, sungguh rasanya ia ingin menikahi easa saat ini juga, tapi kenyataan membuatnya tersenyum miris, Resa bukan lagi miliknya sekarang, dan ia hanya perlu menatap ke depan bukan kebelakang dimana harus terus mengingat masa lalu.


Rey dan Alesha dipersilahkan duduk di tempat yang sudah di sediakan, dalam acara tersebut Rey akan mengulang kembali akadnya dengan Alesha, dan juga akan ada sesi pelemparan bunga serta pemotongan kue.


Ira menaiki atas panggung untuk menyampaikan kabar bahagia atas kehamilan menantunya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" salam Ira


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab para tamu undangan.


"Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada kalian yang telah hadir dalam acara ini, disini saya berdiri untuk menyampaikan kabar bahagia kepada kalian semua, bahwasanya menantu saya tengah hamil. Dan saya meminta kepada kalian untuk mendoakan kesehatan menantu dan calon cucu saya, sebuah kebahagian tersendiri bagi saya"


"Kebahagiaan di atas penderitaan seseorang kan" ujar seorang perempuan yang tiba-tiba muncul.


"Apa maksud kamu?" tanya Ira menatap tajam perempuan yang berdiri di hadapannya.


"Bukannya ini pernikahan kedua dari Rey Prayoga? Oh rasanya si ****** kecil itu menyerahkan dirinya hanya untuk keturunan keluarga anda bukan?" ujar Sinta menatap sinis Alesha.


Alesha yang ditatap seperti itu seketika rasa takut pun muncul, ia meremas gaun yang ia pakai. Rey yang melihat ketakutan Alesha langsung menggenggam tangannya.


"Jaga ucapan anda" desis Ira


"Lihatlah betapa bangganya keluarga Prayoga dan Prasetia melakukan acara pernikahan ini tetapi wanita yang berada di pojok sana sedang merasakan sakit hati" ujar Sinta menunjuk Safira yang berdiri dipojok sambil menatap sendu mereka.


"Bukannya ini pernikahan pertama Rey?" Tanya salah satu rekan bisnis Bimo.


"Iya setau saya juga begitu" jawab yang lainnya.


"Lantas apa masalahnya dengan anda?" tanya Reza sepupu Rey.


"Bukankah anda bukan bagian keluarga dan tidak seharusnya mencapuri urusan orang lain? Lagian Safira juga tidak keberatan suaminya menikah lagi, jika memang Safira keberatan maka dia tidak akan mungkin mau dipoligami bukan?"


"Lalu kenapa kalian menyembunyikan Safira sedangkan Alesha tidak? Bukankah Safira yang seharusnya menjadi yang utama bukan malah Alesha"


"Lalu apakah ini merugikan anda?" tanya Safira membuka suara, ia tidak mau ada keributan di pesta suaminya.


"Saya yang menjadi istri Mas Rey tentu tidak keberatan dengan hal ini, karena selain saya bisa merasakan menjadi seorang ibu, saya juga bisa merasakan menjadi seorang kakak dari Alesha" ujar Safira menatap tajam Sinta, ia tau Sinta melakukan ini untuk mempermalukan Alesha, yang ia tahu juga Sinta menaruh hati pada suaminya.


"Selama ini hidup kami normal, Mas Rey yang selalu adil diantara kita berdua, dan saya tidak keberatan kalau yang dikenal sebagai istri Mas Rey hanya Alesha, karena itu tidak merubah apapun kalau saya juga istrinya. Saya tidak butuh pengakuan dunia kalau saya istri pertamanya"


"Lihatlah gadis bodoh ini, ia menerima rasa sakit dan perempuan lain menerima kebahagiaan"


"Anda yang sebenarnya bodoh, saya tau anda tidak terima dengan pernikahan ini karena anda yang menginginkan menjadi istri keduanya bukan? Saya bersyukur karena Alesha lah yang menjadi adik madu saya, bukan wanita seperti anda"


Safira memutar rekaman suara Sinta yang mengutarakan isi hatinya kepada Rey, namun Rey menolak secara halus dan menjawab sudah memiliki pilihan sendiri.


Sinta menggeram kesal, ia berusaha menjatuhkan harga diri Alesha namun dirinya sendiri yang harga dirinya telah jatuh dihadapan banyak orang.


Alesha berlari keluar dari acara, ia merasa malu dan merasa bersalah kepada Safira, yang dikatakan Sinta memang benar, seharusnya keberadaan Safira lah yang harus diketahui banyak orang, bukan dirinya.


"kenapa sih cobaan selalu menimpa Asha,Asha cape nerima semua ini" keluh Alesha


"Alesha" panggil Rey menghampiri Alesha yang sedang duduk sambil menangis.


"Saat kamu merasa lelah dan merasa ingin menyerah, ingat lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya"


"fa inna ma'al-'usri yusrā  Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan"


"Jangan pernah mengeluh dengan semua ujian yang kita dapatkan, karena Allah tidak mungkin memberi ujian melebihi batas kemampuan kita" nasihat Rey membenarkan Khimar Alesha yang memperlihatkan anak rambutnya sambil tersenyum menguatkannya.


"Maafin Asha karena udah banyak ngeluh selama ini, Asha selalu salah, bimbing Asha menjadi lebih baik lagi" ujar Alesha merasa bersalah.


"Selama aku mampu, aku akan selalu membimbing kamu sebisa mungkin" jawab Rey mengusap air mata Alesha.


"Aku yakin kita bertiga pasti mampu melewati ini semua, kita akan hidup bahagia dimana ada aku, Safira,kamu dan anak-anak kita nanti, jangan pernah dengarkan omongan orang"


Rey memang sudah mencintai Alesha, namun ia akan selalu mengingat Safira dan akan selalu mencintai Safira. Bahkan dalam mengucapkan kalimat tadi pun Rey menyebut nama Safira lebih dulu di bandingkan Alesha.


Alesha pun tidak keberatan akan hal itu, yang terpenting Rey mampu adil kepada dirinya, ia juga perlahan mampu memaafkan Safira dan membayangkan anaknya akan mempunyai banyak kasih sayang dari dua ibu.


Bersambung.......