
Reysha dan Azzam sudah siap dengan seragam sekolahnya, mereka kini sedang sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan mereka berdua berangkat ke sekolah dengan mobil, karena Reysha yang memintanya. Reysha bilang ia tidak mau panas-panasan dan bisa lebih leluasa.
Di dalam mobil Reysha sibuk bermake up membuat Azzam jengah melihatnya. Gadis itu memoles liptint dibibir kecilnya, sesekali bergaya sok imut didepan kaca ponselnya.
"Udah cantik belum?" tanya Reysha tak tau malu.
"Biasa aja," jawab Azzam datar, ia tidak suka melihat bibir Reysha terlalu merah.
Reysha mengerucutkan bibirnya, lalu mendekatkan wajahnya pada Azzam. "Liat nih, mm...." ujarnya sambil tersenyum manis, membuat Azzam menoleh dan tertegun sebentar.
"Lipstik lo ganti, norak" ujar Azzam membuat Reysha menjauhkan wajahnya dengan bingung.
"Idih segini bagusnya dikatai norak," ucap Reysha kesal.
"Gak ada yang lebih natural?" tanya Azzam, sesekali melirik Reysha.
"Ada, tapi bagusan ini tau" gumannya sambil memonyongkan bibirnya.
"Hapus" ucap Azzam tak suka.
"Gak mau!" ujar Reysha tak kalah ketus.
"Hapus."
"Gak mau--astaga" Reysha kaget karena Azzam menghentikan mobilnya mendadak. Untung saja tidak ada kendaraan lain dibelakangnya.
"Hapus atau gue yang hapus?" tanya Azzam kesal.
"Hapus aja kalau berani." ejek Reysha sambil bersedekap.
"Siapa bilang gue gak berani?" tanya Azzam membuat Reysha menurunkan tangannya yang bersedekap.
"Terus?" tanyanya bingung.
"Sekali lagi gue bilang, hapus." tegas Azzam, entah kenapa kini Azzam tidak suka sekarang kalau Reysha dilirik cowok lain karena make up nya. Walaupun tidak terlalu tebal tapi menurut Azzam gadisnya itu lebih cantik natural.
Reysha menantangnya. "Tetep gak mau" ucapnya kesal.
Tanpa persetujuan Reysha, Azzam mencium bibir mungil itu. ********** hingga warna lipstik itu memudar. Reysha syok, ia tak bergeming. Hanya diam sambil menunjukan ekspresi kagetnya.
Reysha tersadar dan memejamkan matanya lalu mendorong bahu bidang Azzam dengan kasar. "Sorry" ucap Azzam.
Reysha merasa sangat malu, ia mengelap bibirnya yang sedikit basah lalu memalingkan wajahnya. Sedangkan Azzam sudah menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
Reysha meremas roknya, jantungnya berdetak tak karuan. Ini pertama kali untuknya, Reysha merasa merinding dan panas dingin. Ia merutuki dirinya sendiri yang menantang Azzam.
Saat sampai disekolah, gerbangnya hampir saja ditutup. Dengan cepat Azzam mengemudikan mobilnya lalu masuk kedalam sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya Reysha langsung pergi duluan, ia masih malu soal tadi pada Azzam.
Reysha berlari ke kelasnya karena semua orang sudah baris. Ia meletakan tasnya dan mencari topinya dengan buru-buru, setelah mendapatkan topi itu Reysha langsung berlari menuju lapangan.
Reysha segera mencari barisannya, ia menemukan Raya dibarisan paling belakang. "Eh Sa telat lo? Didepan sana" ujar Nada pada Reysha.
"Gue dibelakang aja" ucap Reysha sambil mengatur nafasnya.
"Yang pendek didepan" ujar Pak Alvaro yang sedang mengatur barisan. Semua teman sekelasnya menatap Reysha, ia mendengus kesal. Selalu seperti ini, selalu dia yang kena, selalu Reysha yang harus baris didepan. Ia merutuki dirinya yang malas berolahraga hingga membuatnya tumbuh ke samping.
Ketiga sahabatnya menertawakan Reysha yang sedang berjalan ogah-ogahan ke barisan depan. Setelah baris Reysha membenarkan topinya lalu mengambil posisi istirahat ditempat.
Tak lama kemudian upacara dimulai dan matahari semakin naik, peluh membasahi kening Reysha. Sesekali ia mengelapnya lalu kembali pada posisi semula.
Dua puluh menit kemudian upacara selesai. Reysha sudah kembali ke kelasnya dan mengipas wajahnya dengan topi seolah Ac kelas saja tidak cukup untuk meredakan gerah ditubuhnya.
"Udin ngapain sih lo didepan Ac gitu? Minggir gerah tau" ketus Reysha.
"Bentar gue gerah banget nih" ucapnya sambil merentangkan tangan menikmati dinginnya Ac.
"Fa, anterin gue beli minum yu" ujar Reysha yang sangat haus.
"Ayo, gue juga haus nih" ucapnya.
"Nggak deh kalian aja" jawab Sasa yang diangguki oleh Cika.
Reysha dan Syifa segera pergi ke kantin sebelum guru datang. Di luar sana Reysha melihat Gema yang sedang dihukum bersama teman-temannya.
Setelah membeli minum Reysha dan Syifa langsung kembali ke kelas. Tapi langkah mereka terhenti karena Gema memanggilnya, Reysha hanya diam saat cowok itu menghampirinya.
"Thanks" ucap Gema yang merebut minuman Reysha.
"Kak Gema!!" Pekik Reysha tak terima.
Gema menengguk air itu dihadapan Reysha, jakunnya naik turun bersamaan dengan keringatnya yang mengalir. Syifa menepuk-nepuk lengan Reysha lalu berbisik, "Ganteng banget" ucapnya.
"Sisa setengah, lo mau?" tanya Gema sambil menyodorkan botol itu.
Reysha menggeleng kesal, "Gak makasih." Tekannya, lalu menarik lengan Syifa.
"Baru sadar gue kalau anak kaya dia ada yang cakep, biasanya kan jamet semua." ucap Syifa, Reysha menghentikan langkahnya dan melepas lengan Syifa dari pegangannya.
"Cowok mulu otak lo, inget Rendi" ketus Reysha lalu meninggalkan Syifa.
Setelah sampai dikelas Reysha berdecak kesal sambil menendang bangkunya yang tak bersalah. Sekarang hausnya hilang begitu saja karena Gema.
*****
Bel istirahat yang baru saja berbunyi langsung membuat para siswa dan siswi berhamburan keluar kelas untuk mengisi perutnya yang lapar. Reysha dan ketiga sahabatnya pun kini sedang menuju kantin.
Sesampai di kantin Reysha melihat Intan yang sedang duduk berdua dengan Azzam di pojok kantin. Reysha tak terima, Azzam sudah miliknya sekarang. Ada rasa cemburu saat Intan mengajak Azzam berbicara, walaupun respon Azzam hanya sedikit.
"Hai" sapa Reysha lalu duduk dihadapan Azzam dan Intan, sedangkan ketiga sahabatnya sudah memencar entah kemana.
Intan menatap Reysha tak suka, sedangkan Reysha malah tersenyum manis pada Azzam. Ia melupakan kejadian tadi pagi karena rasa tak sukanya pada Intan mengalahkan rasa malunya pada Azzam.
"Yang tidak berkepentingan harap mundur." ucap Reysha angkuh sambil menjentikkan jarinya.
"Kamu udah pesan makan kak?" tanya Reysha halus pada Azzam.
Intan mengernyit bingung, Aku-kamu? Intan tidak bisa membayangkan kalau Reysha jadian dengan Azzam. Ia menatap Reysha tajam lalu berdecih dan meninggalkan mereka berdua.
Reysha melayangkan tangannya pada udara saat Intan menjauh. "Gue tampol juga lo" guman Reysha kesal.
Azzam tersenyum tipis melihat Reysha seperti itu, ia beruntung karena Reysha segera datang dan mengusir Intan yang membuatnya sangat risih.
"Kok duluan sih ke kantinnya?" tanya Reysha.
"Di tarik Intan kesini" jawab Azzam. Reysha menghela nafas jengah lalu menatap Azzam kesal.
"Emang gak bisa nolak ya kalau di ajak Intan?" tanya Reysha.
"Gak enak aja nolaknya" jawab Azzam acuh.
"Pesenin aku Mie ayam dong, laper banget nih." ucap Reysha sambil mengelus perutnya.
"Aku kamu?" tanya Azzam sedikit geli.
"Iya kan kita udah pacaran, masa masih gue lo aja? Gak baik tau." ucapnya lalu mendekatkan wajahnya pada Azzam, "apalagi kita udah nikah" bisiknya.
Azzam tersenyum kecil lalu segera pergi memesan makanan mereka.
Reysha menunggunya lalu tak lama kemudian Azzam datang dengan seorang ibu kantin yang membawa makanan, sedangkan Azzam membantunya membawa minuman.
Mereka makan berdua, sesekali Reysha melirik Azzam yang sedang makan dengan tenang. Ia kagum dengan Azzam karena cowok itu pintar, baik, sopan, tampan, penyabar dan masih banyak lagi. Reysha jadi berfikir kenapa dulu ia menyerah untuk mendapatkan Azzam. Kenapa ia lebih memilih Marvel si kutu kupret itu. Tapi Reysha bersyukur karena dirinya dan Azzam bersatu tanpa harus saling memperjuangkan.
"Di makan mie ayamnya" tegur Azzam membuat Reysha segera memakan makanannya.
Setelah selesai makan Reysha meminta Azzam untuk mengantarnya ke kelas. Gadis itu menjadi posesif dan lebih manja semenjak Azzam mengatakan bahwa mereka pacaran. Menikah sambil pacaran, tidak salah bukan?.
Reysha mengayunkan genggaman tangan Azzam, sesekali ia melirik Azzam dan tersenyum malu. Reysha tidak pernah membayangkan akan jatuh hati pada Azzam secepat ini setelah putus dari Marvel.