
Alesha tengah berdiri didepan rumah minimalis 1 lantai yang sangat kecil namun terlihat sangat nyaman yang dikelilingi rerumputan dan tanaman.
Rumah itu sekarang akan menjadi tempat tinggal Alesha, tempat dimana ia akan belajar menjadi seorang istri sekaligus adik untuk sang pemilik rumah.
Rey membawa satu koper yang berisi baju-baju Alesha dan tangan satunya ia gunakan untuk memegang erat tangan istri kecilnya sesekali mengecup singkat punggung tangan Alesha.
"Maafin Mas ya," ujar Rey menatap sendu Alesha.
"Maaf kenapa mas?" tanya Alesha bingung.
"Mas hanya bisa mengajak kamu tinggal dirumah seperti ini, dan Mas juga gak bisa memanjakan kamu seperti yang dilakukan ayah kamu."
Alesha tersenyum seraya menggeleng "Mas, Asha seneng kok, Asha kan udah pernah bilang kalau Asha gak bakal nuntut banyak tentang materi,yang Asha mau hanya bimbingan Mas buat bikin Asha menjadi orang yang lebih baik lagi."
"Makasih sayang"
Rey melangkahkan kaki memasuki rumah tersebut diikuti Alesha yang berjalan dibelakangnya.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam, selamat datang Alesha." jawab Safira menghampiri mereka diruang tamu.
"Semoga kamu betah ya tinggal disini, mba juga udah siapin kamarnya, sekarang kamu mending ke kamar beres-beres barang-barang kamu sama Mas Rey." ucap Safira memeluk Alesha.
"Makasih Mba" jawab Alesha dengan kikuk.
Rey menarik tangan Alesha tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Safira, ia masih marah terhadap istrinya.
"Kamu istirahat dulu aja biar nanti mas aja yang beres-beres." ucap Rey.
"Nggak usah Mas, Asha mau langsung beresin aja abis itu istirahat."
"Ya udah Mas bantu"
Rey membantu Alesha memasukkan baju-bajunya kedalam lemari, sedangkan baju-baju Rey akan tetap berada dikamar Safira.
"Mas" panggil Alesha
"Ya?"
"Aku mau tanya boleh nggak sih?"
"Mau tanya apa Zaujati?"
"Bedanya mahram sama muhrim itu apa?
"Nah pas banget kamu nanya kaya gitu, mungkin karena kebanyakan orang salah artian jadi mereka bingung bedanya mahram sama muhrim, oke biar mas jelasin ya, mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam."
"Mahram juga dibagi menjadi dua jenis, ada mahram muabbad dan ada mahram muaqqot."
"Mahram muabbad adalah orang yang tidak boleh dinikahi selamanya. Mahram muabbad dibagi menjadi tiga jenis, yaitu karena nasab, karena ikatan perkawinan, dan karena persusuan sedangkan Mahram muaqqot adalah orang yang dilarang dinikahi sementara karena kondisi tertentu."
"Contohnya Saudara perempuan dari istri (ipar)
Bibi dari jalur ayah ataupun ibu.
Istri yang telah bersuami.
Istri orang kafir yang belum masuk Islam.
Wanita yang telah ditalak tiga.
Wanita pezina sampai ia bertaubat.
Wanita yang sedang ihram sampai ia tahalul." jelas Rey menatap Alesha dengan serius.
"Kalo muhrim?" tanya Alesha.
"Muhrim itu sebutan bagi orang yang melakukan ihram. Ketika jemaah haji atau umrah telah memasuki daerah Miqat, kemudian seseorang mengenakan pakaian ihramnya, serta menghindari semua larangan ihram, maka orang itu disebut muhrim."
"Jadi selama ini yang orang bilang ih gak usah pegang-pegang bukan muhrim itu salah arti ya." tanya Alesha polos sambil menirukan gaya bicara orang yang ia maksud.
Rey tersenyum tipis mengacak Khimar yang dipakai Alesha.
"Jangan pernah terlalu berharap kepada seseorang, karena bahkan bayanganmu sendiri meninggalkanmu dalam kegelapan." guman Alesha melihat Rey keluar dari kamarnya.
"Sejujurnya bukan ini kemauanku, bukan karena alasan ingin menjadi yang lebih baik lalu aku harus merusak kebahagiaan orang lain."
*****
Jam sudah menunjukan pukul 04.30 pagi, Alesha beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu agar bisa melaksanakan sholat subuh.
Setelah selesai sholat Alesha memilih merebahkan kembali tubuhnya diatas ranjang, ia menatap langit-langit kamar, tadi malam Rey berada dikamar Safira untuk menemani istri pertamanya hingga membuat Alesha harus tidur sendiri di tempat tinggal barunya.
Alesha membuka buku diary nya untuk menulis segala sesuatu yang dia alami selama ini,ia menganggap buku tersebut adalah temannya selain Alan sang kakak dan Resa teman baiknya.
Tanpa terasa waktu berjalan cepat menunjukan pukul 06.15 pagi, Alesha memutuskan untuk keluar dari kamarnya guna menemui Safira dan Rey untuk berpamitan berangkat ke sekolah.
"Selamat pagi Mba Safira." sapa Alesha dengan senyuman ketika sudah berada di meja makan.
"Assalamualaikum Alesha bukan selamat pagi." tegur Rey yang sudah duduk disana.
"Hehe maaf, assalamualaikum." salam Alesha tersenyum kikuk.
"Wa'alaikumussalam" jawab Safira dan Rey bersamaan.
"Kamu mau makan apa sha?" tanya Safira
"Ah masa gak bantuin tiba-tiba disuruh makan, kan gak enak Mba." canda Alesha mencairkan suasana yang nampak canggung.
"Ya nggak papa dong, ini kan hari pertama kamu disini jadi Mba mau kamu makan yang banyak."
"Ah nggak usah Mba, maaf bukannya Asha nolak, tapi hari ini Asha buru-buru soalnya udah janjian sama Resa, Asha hari ini harus banyak belajar bareng karena bentar lagi kita bakal ikut lomba olimpiade sekolah Mba." jawab Alesha berusaha menolak sehalus mungkin.
"Oh yaudah nanti mba bawain bekal aja ya, mba takut kamu sakit kalo gak makan."
"Tapi Asha buru-buru mba, sisain aja buat nanti makan pulang sekolah kan bisa diangetin heheh." ujar Alesha mengambil tasnya bersiap untuk berangkat.
"Biar Mas antar Sha." ucap Rey membuka suara.
Alesha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia berusaha mencari alasan agar tidak berangkat dengan Rey, ia takut semua murid tau kalau ia sudah menikah dengan guru idaman para wanita.
"Mas Rey mending sarapan aja, lagian ini masih terlalu pagi, Asha juga gak mau sampe anak-anak yang lain curiga kalo Asha berangkat bareng sama Mas Rey" ucap Alesha dengan jujur.
"Ya udah hati-hati ya"
"Hooh" jawab Alesha mencium punggung tangan Rey dan juga Safira.
"Assalamualaikum Mas ganteng, Mba cantik." ucap Alesha berlari keluar rumah.
"Ada-ada aja ya Mas, Asha lucu juga" celetuk Safira melihat kepergian Alesha.
"Iya gemesin kaya kamu, udah mending kita makan"
Ajak Rey duduk disamping Safira, Safira dengan telaten melayani suaminya dengan baik.
"Alesha pinter ya Mas dikelas sampai-sampai mau ikut lomba olimpiade." ucap Safira membuka suara.
"Mas gak tau sih, kan Mas baru pindah ke sana, tapi sebenernya dia emang pinter dalam mata pelajaran Mas, mungkin dia kurang bimbingan aja biar jauh lebih mengerti lagi, tapi Mas juga takut dia banyak temenan sama cowok." ujar Rey memberi tahu Safira, ia masih mengingat kala pertemuannya dengan Alesha didepan gerbang sekolah saat Alesha tengah menunggu jemputan namun abangnya tak kunjung datang hingga akhirnya seorang remaja datang mengantarkan Alesha pulang, walaupun kejadian itu sebelum mereka menikah,tapi Rey harus tetap jaga-jaga dengan pergaulan istri kecilnya.
"Jadi Mas cemburu nih" ledek Safira melihat raut wajah kesal suaminya.
"Bukan cemburu fir, tapi Alesha juga harus tau batasannya." jawab Rey.
"Cemburu juga gak papa Mas, kan udah halal"
"Udah deh fir jangan ngeledek mulu, ini kan waktu kita berdua jadi kita nikmatin aja, jangan bahas Alesha dulu" ucap Rey.
Didalam hati Safira ada rasa cemburu yang amat besar kala suaminya kesal dengan kedekatan Alesha dan pria lain, tapi disisi lain wajar saja jika Rey cemburu, karena Alesha juga istrinya sekarang. Safira membuang rasa cemburunya, sebab jika ia cemburu berlebihan maka suaminya akan gagal dalam berlaku adil.
"Ya udah sana kamu berangkat nanti telat lagi, jangan lupa pastiin kalo Asha udah sampe sekolah ya Mas." ujar Safira membenarkan kerah kemeja suaminya.
"Siap nyonya, kalo gitu Mas berangkat dulu ya assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam hati-hati Mas."