Until the End

Until the End
Teguran Rey



Rey masuk ke dalam butik Alesha kemudian ia mengedarkan pandangannya. Tak ada sosok Alesha di bagian depan butiknya, biasanya Alesha terlihat duduk sambil menggambar di meja kerjanya.


"Selamat datang Pak Rey." sapa Sarah kepada Rey, barusan Rey sudah ke sini dan kini kembali lagi .


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Sarah dengan sopan.


"Bu Alesha udah balik dari makan siang kan?" tanya Rey.


"Iya betul, Bu Alesha sudah balik, Pak. Dia lagi ada di ruangan itu." Sarah menunjuk sebuah ruangan yang biasanya dipakai untuk meletakkan pakaian hasil rancangan Alesha.


Seketika Alesha mengangguk dan hendak menuju ke ruangan tersebut. Rey masuk ke sana dan kemudian menutup pintunya, langkah kakinya perlahan mencari keberadaan istrinya di dalam ruangan yang terisi penuh dengan pakaian itu.


"Sarah nanti tolong bantu saya pindahin yang ini. Sepertinya udah nggak enak dipandang mata, rencana mau saya pindahin ke bagian sana aja, ya!" ujar Alesha yang membelakangi Rey, tak sadar kalau yang masuk ke ruangan itu bukanlah asistennya melainkan suaminya.


Rey pun memeluk Alesha dari belakang, sontak hal itu membuat Alesha mendongakkan kepalanya menatap wajah Rey.


"Kamu ngagetin aja sih Mas." keluh Alesha, tetapi dia tidak menolak pelukan Rey sama sekali.


"Maaf sayang, Mas kangen banget sama kamu, jadi Mas sengaja dateng kesini buat ketemu kamu."


"Gombal banget tau nggak sih, nggak mempan." ujar Alesha melepaskan pelukannya.


"Kok dilepas?" tanya Rey.


"Malu Mas, takut Sarah tiba-tiba masuk." jawab Alesha.


"Kamu sibuk banget kayanya." ujar Rey duduk di sofa yang ada di sana.


"Ya mau gimana lagi Mas, minggu depan desain terbaru aku bakal launching, dan ya aku harus bisa semaksimal mungkin buat bikin gamis yang berbeda, maaf ya kalau akhir-akhir ini aku selalu sibuk di butik, aku juga jadi jarang perhatian sama kamu sama Haidar." ujar Alesha merasa bersalah.


"Nggak apa-apa sayang, Mas ngerti, tapi kamu harus tetep jaga kesehatan ya, Mas nggak mau sampai kamu sakit gara-gara terlalu sibuk sampai ngelupain kesehatan kamu sendiri." sahut Rey.


Alesha pun menghentikan pekerjaannya dan ikut duduk bergabung bersama Rey.


"Iya selesai ini aku pulang, Mas mau langsung pulang atau ke kantor lagi?" tanya Alesha.


"Pulang, kita bareng ya, kita habisin waktu sama-sama, kita udah jarang perhatiin Haidar gara-gara kesibukan kita."


Ponsel Rey berbunyi, tertera nama Pak Santo di layarnya, Rey pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamualaikum Pak Rey, maaf mengganggu, saya cuma mau memberitahu kelakuan Reysha tadi siang di sekolah." ujar Pak Santo di seberang sana.


"Wa'alaikumussalam, iya Pak, ada apa lagi ya sama Reysha." tanya Rey penasaran.


"Maaf sebelumnya, tadi siang Reysha dengan sengaja menumpahkan kuah bakso di tubuh Kakak kelasnya, Reysha juga pernah telat datang sekolah, saya sebagai guru BK menyayangkan tindakan Reysha, apalagi dia juga terkena kasus perbuatan hal tidak senonoh bukan? seharusnya Reysha jera, tetapi lagi-lagi dia membuat ulah." jelas Pak Santo.


"Putri saya nggak mungkin kaya gitu Pak." ujar Rey tidak percaya.


"Tapi kenyataannya kaya gitu Pak, makin hari Reysha makin bandel."


"Makasih atas informasinya."


"Iya Pak kalau gitu saya tutup dulu, assalamualaikum." balas Pak Santo.


"Wa'alaikumussalam." jawab Rey.


Setelah panggilan terputus, badan Rey terasa las mendapatkan pengaduan tentang tingkah buruk Reysha.


"Kenapa Mas?" tanya Alesha yang tidak digubris Rey.


"Mas kamu denger aku nggak sih, ada apa? kenapa kamu diem aja." pekik Alesha menggoyangkan lengan Rey.


"Reysha, lagi-lagi dia buat ulah, dia numpahin kuah bakso di badan Kakak kelasnya, aku harus ke rumah Azzam sekarang." ujar Rey bangun dari tempatnya, tentu saja Alesha pun ikut bangkit.


"Aku ikut, dia bener-bener keterlaluan, kita nggak pernah ngajarin dia buat berperilaku kasar."


*****


Rey mengetuk pintu rumah keluarga Azzam, dia tidak sabar untuk memberikan hukuman kepada putrinya itu.


"Papa.." teriak Reysha berlari memeluk tubuh papanya, tetapi Rey tidak bergeming. Ia masih diam tanpa mau membalas pelukan putrinya.


"Assalamualaikum Ma, Pa." salam Azzam mencium kedua tangan mertuanya.


"Mari masuk." ajak Azzam diangguki Rey dan Alesha, mata Reysha berkaca-kaca karena papanya tidak membalas pelukannya sama sekali.


Rey dan Alesha duduk di ruang tamu rumah Azzam, setelah itu Rey berdehem untuk mengatakan sesuatu kepada putrinya.


"Reysha.." panggil Rey.


"Iya Pa.."


"Masalah apa lagi yang kamu perbuat di sekolah? Papa nggak pernah ngajarin kamu buat bersikap kasar, Papa dapat laporan dari Pak Santo kalau kamu telah melukai Kakak kelas kamu di sekolah." ujar Rey menatap datar wajah putrinya.


"Aku nggak buat masalah sama dia Pa, dia yang duluan cari gara-gara, Reysha lagi makan di kantin, tapi dia tiba-tiba nyiram kepala aku pakai jus yang dia bawa."


"Nggak mungkin dia tiba-tiba nyiram kamu kaya gitu."


"Sasa nggak sengaja nabrak kakak kelas itu gara-gara Reysha, Sasa udah minta maaf sama dia, tapi dia malah bentak-bentak Sasa nyuruh dia tunduk sama Kakak kelas itu, karena Reysha nggak suka makannya aku tegur dia, eh dia nggak terima terus nyiram kepala Reysha." jelas Reysha menundukkan kepalanya.


Alesha menghela nafas panjang, ia sekarang mengerti kenapa Reysha berani berbuat seperti itu, tetapi tindakan Reysha sangat melukai lawannya.


"Mama ngerti, tapi lain kali jangan kaya gitu lagi, Mama nggak suka anak Mama berperilaku kaya gitu, sekarang kamu juga seorang istri, jaga sikap di rumah ini juga, jangan seenaknya, pulang sekolah bantu bersih-bersih rumah, mertua kamu pasti sibuk, jadi kamu yang harus bantu mengerjakan pekerjaan rumah." ujar Alesha mengusap kepala putrinya.


"Reysha nggak kuat Ma, Reysha belum siap ngejalanin ini semua." lirih Reysha menahan Isak tangisnya.


"Mama yakin, Bunda Marisa baik, ayah Arkan baik, dan juga Azzam tentu baik juga, kenapa kamu nggak bisa berusaha?" tanya Alesha.


"Pergi keluar kota Pa." jawab Azzam.


"Jadi kalian cuma berdua?"


"Iya Pa.." Rey hanya mengangguk saja, dia kemudian menarik Alesha yang sedang menenangkan Reysha.


"Kita pulang sekarang, buat kamu, Papa bakal potong uang jajan kamu bulan ini."


"Nggak bisa gitu Pa, Papa selalu aja bertindak sesukanya, kapan Papa bisa menghargai Reysha." keluh Reysha.


"Kapan Papa nggak menghargai kamu? Papa selalu menghargai kamu, bahkan Papa selalu menuruti kemauan kamu, tapi kamu nggak pernah menuruti kemauan Papa, bahkan kamu nggak pernah sama sekali membanggakan Papa."


"Mas.." tegur Alesha, Rey langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut, Alesha tentu saja langsung menyusul suaminya.


Reysha terkulai lemas saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Papanya, sebegitu mengecewakannya kah Reysha itu, baru seperti ini saja Papanya udah marah, apalagi jika nanti Rey tau kalau Reysha memiliki seorang kekasih.


Apa Rey akan memukul dirinya? apa Mamanya juga akan menangis untuk Reysha? entahlah yang pasti Reysha tidak peduli itu semua.


Papanya selalu membanggakan Haidar, memang benar Haidar lebih baik dari dirinya, tapi bisakah Rey menghargai Reysha sedikit saja.


*****


Saat sampai di rumah, Rey langsung menyandarkan tubuhnya di sofa, dia memejamkan matanya untuk meredam emosi.


"Mas, kamu nggak seharusnya bilang kaya gitu sama Reysha, kamu keterlaluan, kita harus pelan-pelan ngertiin dia."


"Disebelah mananya aku nggak ngertiin dia Sha, kamu selalu aja bela dia, kalau tau begini mending dulu aku masukin pesantren aja, biar dia nggak semena-mena, lihat adiknya, Haidar selalu membanggakan keluarga, selalu patuh sama orang tuanya."


"Mas kamu bisa nggak sih nggak usah banding-bandingin Reysha sama Haidar, mereka anak aku semua, aku nggak mau nantinya Reysha bakal benci sama Haidar gara-gara iri."


ujar Alesha, Rey hendak menjawab ucapan istrinya tetapi bel rumahnya berbunyi menandakan ada tamu yang mengunjungi rumahnya.


Alesha pun berjalan ke depan pintu rumahnya, ia membukakan pintu.


"Assalamualaikum.." salam seorang lelaki bertubuh tinggi dengan berpakaian atasan putih dan sarung hitam.


"Wa'alaikumussalam, siapa ya?" tanya Alesha mengernyitkan dahinya.


"Maaf Bu, saya Rangga anaknya Pak Ahmad, bapak bilang kalau saya di suruh menggantikannya sementara waktu karena bapak sedang sakit." ujar Rangga dengan sopan.


"Oh kamu yang diceritain Pak Ahmad, mari masuk, kayanya Haidar juga udah nunggu." ujar Alesha mempersilahkan Rangga masuk.


"Siapa sayang?" tanya Rey.


"Oh ini Mas, ada anaknya Pak Ahmad, dia bilang kalau Pak Ahmad lagi sakit, jadi anaknya yang akan menggantikan Pak Ahmad sementara waktu." Rey pun mengangguk.


"Mari duduk, nanti biar istri saya yang manggil Haidar, oh iya nama kamu siapa?" tanya Rey.


"Rangga Pak."


"Kayanya masih muda banget."


"Iya umur saya masih duapuluh enam tahun Pak." jawab Rangga apa adanya.


"Iya, Pak Ahmad pernah cerita kalau kamu mengabdi di pesantren kan? sebenernya saya juga mau kamu mengajar putri saya, tapi putri saya yang satu ini emang sudah diajari."


"Kenapa nggak sekalian aja Pak? biar saya mengajari kedua anak bapak." tanya Rangga antusias, dia tidak keberatan untuk membagi ilmunya.


"Masalahnya dia sudah menikah dan ikut suaminya, anak saya menikah muda, dia masih kelas sebelas tetapi karena kesalahpahaman berakhir dia harus di nikahkan, saya berasa gagal menjadi seorang ayah, apalagi tadi saya habis bertengkar sama dia."


"Maaf kalau boleh tau, emangnya bertengkar karena apa ya?" tanya Rangga hati-hati.


"Dia bikin masalah lagi di sekolah, tadi saya dapat telepon kalau Reysha menyiram Kakak kelasnya dengan kuah bakso, dan saya mendatangi rumah mertuanya dan memarahi dia, bahkan saya sampai mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak saya ucapkan, saya mengatakan kalau dia tidak pernah membanggakan saya sama sekali." ungkap Rey dengan penuh penyesalan.


Rangga mengangguk paham akan situasi."Menurut saya bapak seharusnya menasihati anak bapak dengan lembut, dan memberi pengertian bukan malah penekanan, memang saya belum mengerti tentang permasalahannya, tapi alangkah baiknya jangan menggunakan emosi." ujar Rangga.


Alesha datang dengan dua cangkir teh dan satu gelas susu untuk Haidar. Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, sesi pembelajaran Haidar hanya sampai jam sembilan malam, setelahnya Haidar akan tidur.


"Ayo di minum dulu tehnya." ujar Alesha.


Setelah meminum, Rangga pun mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas. "bisa dimulai sesi pembelajarannya?" tanya Rangga.


"Bisa Pak." jawab Haidar.


"Ya udah kalau gitu, saya sama istri saya pamit ke belakang, biar Haidar berkonsentrasi dalam belajar" ujar Rey


Rey dan Alesha menaiki tangga untuk mengistirahatkan dirinya, Alesha pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya bergantian dengan Rey.


Alesha membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada putrinya.


...^^^Reysha^^^...


...Online✔️...


^^^Sayang, maafin Mama sama Papa ya. Papa nggak bermaksud buat ngomong kaya gitu sama kamu, Papa mungkin kecapean kerja dan kelepasan marahin kamu, Mama janji uang jajan kamu bakal tetep aman, Jangan bikin Papa marah lagi.^^^


^^^Mama nggak tega liat kamu dimarahin Papa sayang^^^


Makasih Ma, maafin Reysha juga


Reysha janji nggak bakal bikin kecewa


Mama sama Papa lagi.


Setelah itu Alesha turun ke lantai satu saat jam menunjukkan 21.00 yang berarti sesi pelajaran Haidar telah berakhir.