Until the End

Until the End
Lembur



Pukul setengah sepuluh malam, Rey menginjakkan kaki di rumahnya. Pria itu langsung memasuki kamar putrinya untuk mengecek Reysha yang mulai tidur di kamar terpisah.


Setelah memastikan putrinya baik-baik saja, Rey memasuki kamar utama.


Pria itu berjalan berlahan-lahan, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat melihat seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidur.


"Sudah tidur, ya?" guman Rey pelan, tidak ingin jika suaranya sampai mengusik tidur Alesha. Pria itu menundukkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Alesha dengan lebih jelas.


Tangan Rey tergerak dengan sendirinya untuk menyentuh pipi Alesha. Rey sendiri tidak mengerti mengapa dirinya selalu saja tidak bisa mengendalikan diri saat dekat dengan istrinya. Setiap bagian tubuhnya seolah-olah memiliki gerak refleks dengan sendirinya jika sedang bersama Alesha.


Rey terus saja memperhatikan wajah Alesha saat tertidur. Sesekali tangannya terulur untuk menyingkirkan helaian-helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, Rey melihat kelopak mata Alesha yang masih membengkak Apa dia baru saja menangis ?


Rey mengusap kelopak mata Alesha secara berganti-gantian. "Apa kamu menangis?" Tanyanya lirih.


"Jangan menangis, sayang. Harus berapa kali lagi Mas katakan kalau Mas tidak suka kamu menangis, hmm ? Dasar anak nakal!" Kini Rey beralih mengecupi kelopak mata wanita itu


Rey membaringkan tubuhnya di samping Alesha. Dengan space yang sempit karena pria itu tidur di tepi ranjang, Rey jadi harus memiringkan tubuhnya.


Satu ciuman mendarat pada perut Alesha yang tertutupi pakaian sebelum akhirnya pria itu memeluk pinggang istrinya dan menyusul gadis itu ke alam mimpi.


Lima belas menit kemudian, Alesha terbangun saat merasakan ada lengan kekar yang melingkar di perutnya.


Alesha mengusap tangan Rey dengan lembut, tatapan matanya menjadi sayu, Alesha lelah seharian menangis akibat mimpi-mimpinya selama ini.


Alvin dan Safira selalu muncul bergantian di mimpi itu, Alvian yang tersenyum dan Safira yang menangis. Entah pertanda apa itu semua, yang pasti Alesha takut ada suatu pertanda dalam mimpinya.


"Kenapa sayang?" tanya Rey yang merasa tidurnya terusik saat Alesha mengusap punggung tangannya.


"Nggak Papa Mas,kapan pulang?"


"Baru aja, udah ya kita tidur lagi." ajak Rey, namun saat Rey menarik selimutnya Alesha melihat sesuatu keluar dari hidung Rey.


"Mas." pekik Alesha.


"Kamu mimisan." ujar Alesha mengambil tisu yang ada di nakas sampai tempat tidurnya.


Alesha langsung menarik kepala Rey dan membersihkan darah yang keluar lalu menyubat hidung Rey.


*****


"Mas, beneran nggak mau ke rumah sakit?"


Rey tersenyum tipis kearah Alesha yang baru saja datang dari dapur sambil membawa mangkuk bubur ditangannya.


"Engga sayang. Mas cuma kecapean aja," Ini sudah ke-empat kalinya sejak semalam Alesha menyuruhnya untuk ke rumah sakit. Tapi rey selalu saja menolaknya.


Alesha duduk di samping suaminya.


"Kenapa nggak mau berobat sih Mas? Muka kamu pucet. semalam juga kamu mimisan banyak banget, aku takut kamu kenapa-kenapa Mas." lirih Alesha menatap sendu suaminya.


Rey menarik Alesha ke dalam pelukannya.


"Mas cuma kecapean aja sayang. Beneran deh. Istirahat sehari juga besok sehat. Apalagi kalau istirahatnya di temenin istri tercinta." goda Rey mencubit gemas hidung Alesha.


Alesha memukul pelan perut Rey.


"Gombal. Makan dulu nih. Aku udah nyoba buat bubur." ujar Alesha menyerahkan semangkuk bubur pada Rey.


Rey bangun dari posisinya dan mulai melahap bubur yang Alesha buat.


"Makasih ya sayang," Selesai makan Rey meminta Alesha untuk tetap menemaninya di kamar.


Akhirnya mereka berbaring bersama di kasur dengan posisi saling memeluk satu sama lain,


Saat Rey dan Alesha tengah menikmati moment berdua, Reysha masuk ke dalam kamar dengan botol susu di tangannya.


"Mama" Panggilnya dengan bibir yang mengerucut.


"Eh anak Mama udah bangun?" Alesha berjalan menghampiri Reysha dan menidurkannya di tengah-tengah antara Rey dan Alesha.


"Papa nggak kerja?" Tanya Reysha saat melihat Papanya masih bergulung dengan selimut.


Rey menggeleng dan mencium pipi gembul putrinya. "Engga. Papa di rumah aja mau main sama Risa hari ini."


"Beneran?" tanya Reysha dengan mata berbinar.


"Iya beneran. Kakak mau main sama Papa?"


Reysha mengangguk dengan antusias, "Kakak mau main sama Papa. Ayo Papa main." ajak Reysha menarik tangan Rey.


"Papa lagi sakit sayang. Besok aja mainnya ya?" senyum Reysha langsung memudar sepertinya tidak menyukai ide Alesha yang akan mengajak Reysha bermain keesokan harinya.


"Nggak apa-apa Sha. Mas cuma mau nemenin main aja kok." ujar Rey.


"Kamu masih pucat Mas. Aku nggak mau ya kamu tiba-tiba pingsan." ujar Alesha dengan tegas.


"Nggak akan pingsan. Ayo main sama Papa. cium dulu tapi," Reysha mendekat kearah Rey lalu mencium pipinya, tapi setelah itu dia malah jahil menarik hidung papanya.


"Hadeh, kamu anak siapa sih? Jahilnya kebangetan," ucap Rey kemudian mengajak Reysha dan Alesha keluar rumah dan bermain di halaman belakang.


Rey menyuruh Alesha untuk duduk saja di kursi, sedangkan dia dan Reysha malah bermain kejar-kejaran.


Sejujurnya kepala Rey sedikit sakit sekarang. Tapi melihat senyum Risa dan Alesha yang terlihat senang seperti ini, Rey tidak tega untuk mengeluhkan rasa sakitnya kepada mereka.


"Papa, Ayo cepet kejar Kakak."


Ah, rasanya bahagia saat melihat orang-orang yang kalian sayangi tersenyum seperti ini.


Saat sedang asik bermain, tiba-tiba saja ponsel Rey yang berada di saku celana bergetar.


"Kaka main sendiri bentar ya, Papa mau angkat telpon dulu." Reysha hanya mengangguk dan berlari ke arah Alesha.


Rey menjauh dari Alesha dan Risa untuk sekedar mengangkat telpon, "Halo?"


"Emangnya nggak bisa diganti hari lain?"


"Oke, saya ke sana sekarang," Sambungan telpon terputus. Rey buru-buru menghampiri Alesha untuk berpamitan padanya.


"Sayang, Mas mau ke kantor bentar ya Sha. Ada hal yang harus Mas selesaikan hari ini." ujar Rey


"Mas kan lagi sakit," Wajah Alesha terlihat khawatir, "Emangnya kerjaan kamu nggak bisa di handle dulu sama Mas Danu?"


"Engga bisa. Mas harus ketemu sama klien penting hari ini. Mas janji, kalau urusannya udah selesai, Mas langsung pulang. Ya?" ucap Rey sedikit memohon kepada Alesha.


Alesha menghela nafas pasrah, "Yaudah. Hati-hati."


Rey tersenyum lalu mengecup keningnya, "Jangan lupa makan."


"Hm."


"Jangan cemberut gitu dong. Bibirnya udah maju tambah maju." goda Rey.


"Ih Mas Rey, udah sana cepetan berangkat. terus pulangnya jangan lama-lama."


Bersambung.............