Until the End

Until the End
Tidak menyangka



Kini Alesha dan Rey tengah bergulung dalam selimut sambil saling berpelukan satu sama lain. "Mas nggak nyangka bakal secepat ini melepas Reysha buat orang lain." lirih Rey mengecup singkat kening istrinya.


"Aku juga masih nggak nyangka sama semua ini Mas, kamu nggak percaya kan kalau Reysha sama Azzam bisa berbuat hal tidak senonoh itu? bahkan di sekolahnya" tanya Alesha membenarkan posisi tidurnya.


"Mas juga nggak percaya Sha, pasti itu cuma salah paham, tapi Mas yakin kalau Reysha bisa jalanin ini semua."


"Tapi Mas, kamu ingat kan pernikahan kita dulu, kita nggak sama-sama cinta, apalagi status aku jadi istri kedua, itu berat banget buat aku, aku juga sempat hampir menyerah, menikah itu bukan hal yang gampang Mas."


Rey menghela nafas panjang, ayah mana yang tega membiarkan putrinya menikah karena paksaan, karena dulu Rey juga terpaksa menikah dengan Alesha.


"Mas ngerti, tapi kita berdoa yang terbaik aja buat Reysha, sekarang fokus kita pada Haidar, dia makin gede makin bandel."


"Dia cuma bandel sama kamu aja Mas, mungkin dia iri karena kamu lebih deket sama Reysha di banding dia." ujar Alesha.


Rey terkekeh pelan,ia mengusap pipi Alesha yang chubby. "Kamu makin hari, makin tambah ya cantiknya bikin Mas makin cinta sama kamu."


Alesha mencubit pinggang Rey pelan "Terus kalo aku jelek berarti Mas gak cinta sama aku,gitu?" ujar Alesha melepaskan pelukan Rey.


"Bukan begitu sayang, mau kamu jelek ataupun gendut sekalipun juga aku tetep cinta, tapi kalo kamu makin cantik dan sexy begini ya alhamdulillah udah rejeki aku punya istri kayak kamu."


"Hmm mulai deh kamu."


"Apa? Aku kenapa? Beneran kok sayang, aku jujur kamu itu makin cantik dan sexy."


Pipi Alesha bersemu merah mendengar pujian dari suaminya. "Bukannya makin hari makin tua ya."


Rey yang tidak tahan dengan ekspresi menggemaskan Alesha langsung mencium bibir ranum tersebut." Udah ah, yuk tidur Mas. jangan kaya anak muda lagi, kita bentar lagi pasti punya cucu." ujar Alesha membenarkan selimutnya dan memejamkan mata untuk menunggu esok hari datang.


*****


Pagi yang cerah dengan pelukan yang hangat. Posisi Reysha dan Azzam kini berpelukan.


Perlahan mata Azzam terbuka saat mendengar kokokan ayam. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah manis Reysha yang tertutupi oleh rambut pendek gadis itu.


Azzam menghela nafas untuk menerima semua kenyataan ini, mulai sekarang Azzam akan belajar menjadi seorang pemimpin yang baik.


Suara pintu yang diketuk sangat mengejutkan Azzam yang sedang melamun. "Kalian udah bangun?" tanya Alesha dari luar.


"Udah Ma" jawab Azzam membuka pintu.


"Reysha belum bangun?" tanya Alesha sambil melirik kedalam kamar.


"Belum" jawab Azzam.


"Yaudah gak papa, untuk hari ini kalian berdua libur sekolah dulu ya. Mama tau kalian capek, udah sana lanjut tidur, Mama mau ke butik dulu paling sore atau malam pulang." ucap Alesha, memang sekarang dirinya mengelola butik yang sempat Rey berikan untuknya sewaktu masih mengandung Haidar.


"Oh ya, suruh Reysha rapihin bajunya. Malam ini kalian jadi pindah kan?" tanya Alesha.


"Iya Ma."


"Yaudah Mama pergi dulu ya, sarapan udah siap kok" ucap Alesha setelah itu ia pergi.


Azzam kembali menutup pintu lalu melanjutlan tidurnya. Reysha berguman sambil merenggangkan ototnya dengan mata yang masih terpejam. Sedetik kemudian matanya terbuka dengan sempurna, ia langsung melihat jam yang berada diponselnya.


"Jam delapan." pekik Reysha meloncat dari ranjangnya.


"Zam, bangun" panggil Reysha sambil mengguncang tubuh Azzam "kita telat"


Azzam yang baru saja memejamkan matanya terpaksa membuka kembali kelopak matanya "kita libur hari ini, Mama udah ijinin kita, rapihin baju lo nanti malam kita pindah" ucap Azzam dengan suara berat.


Wajah Reysha menjadi murung saat mendengar kata pindah, ia tidak bisa meninggalkan kamar tercintanya.


"Harus banget ya pindah? Kenapa gak tinggal disini aja?" guman Reysha yang tidak di dengar Azzam.