
Kondisi Erik sekarang sudah semakin membaik. Pagi ini dia sudah diizinkan untuk berpindah ke ruang perawatan. Dokter yang menanganinya risih karena Erik terus berceloteh memaki tak jelas untuk segera keluar dari ruang ICU.
Saat ini Kenzo tengah terlelap di sofa. Dia lelah karena semalaman pahanya dipakai bantal untuk sang istri. Sedangkan Riella tengah duduk di samping bed Erik.
Pria itu sudah duduk manis di bed perawatan. Tapi bibirnya merengek minta naik ke atas untuk bertemu dengan sang istri. Dia mencoba merayu anak perempuannya. Supaya mengizinkan dia untuk pergi.
Namun, Riella yang paham terus menolak keinginan papanya. Dia tidak mengizinkan Erik untuk naik ke lantai atas. Berusaha memberi alasan yang tepat untuknya.
“Kenapa kamu tidak tidur saja situ!” Erik menunjuk ke arah sofa di mana menantunya tengah terlelap, dengan posisi tengkurap.
“Nggak Riella mau nungguin Papa. Riella tahu Papa hanya ingin mencuri kesempatan supaya bisa kabur.” Riella menjawab, sambil menatap tajam ke arah Erik. Dia yakin jika papanya naik ke atas tidak akan mungkin bisa beristirahat dengan baik.
Erik menggaruk lehernya yang tidak terlalu gatal, “Kasihan mamamu nanti dia tidak berhenti menangis,” ujarnya mencari-cari alasan. Hanya itu yang ada di pikirannya saat ini, dia hanya memikirkan kondisi Ella.
Riella tidak ada niatan membalas perkataan papanya. Dia hanya memberi tatapan tajam ke arah Erik, seolah mengatakan dia tidak mengizinkan papanya untuk pergi kemana-mana.
Sampai beberapa menit kemudian dia mendengar suara pintu terbuka, tatapan Riella menjurus ke arah mamanya yang berdiri di ambang pintu. Disusul dengan Maura dan Naura yang mengekor di belakanganya.
Ella yang baru saja tiba, membuang nafas lega, saat menatap sang suami duduk manis sambil tersenyum ke arahnya. Ada perasaan cemas bercampur dalam hatinya. Tapi dia juga kesal dengan Erik.
“Ma, bayi tua mama minta nyusul ke atas terus. Merengek kaya anak kecil!” Riella mengadu tentang kelakuan papanya, saat melihat Ella hanya diam mematung di dekat pintu. Mata Ella tak berpindah menatap Erik yang sudah terlihat biasa-biasa saja.
“Kenapa nggak kamu lepas infusnya saja? Atau kemarin kamu lepas selang oksigennya! Biarkan dia kehabisan nafas.” Ella masih kesal dengan Erik, karena sudah membuat jantungnya hampir terlepas dari tempatnya.
“Iya, itu berarti kamu mau jadi janda lebih awal!” sahut Erik yang paham dengan sindiran sang istri.
Riella meninggalkan dua sijoli itu untuk saling menyalahkan maupun melepas kerinduan. Dia berjalan ke arah Kenzo yang masih terlelap di sofa, membangunkan suaminya untuk pulang ke rumah.
“Ma, Riella sama Kenzo pulang dulu ya. Nanti Riella balik lagi.” Pamitnya pada Ella, dia sudah merengkuh lengan Kenzo, meski suaminya itu belum sepenuhnya membuka mata.
“Nggak usah balik. Papa nanti pulang kok.” Erik menyahut tanpa menatap Riella. Dia masih menyimpan perasaan kesal pada Riella yang tidak mengizinkan dia pergi.
“Sudah pulang saja kamu istirahat sama Kenzo. Kasihan kamu pasti juga lelah, dari kemarin belum istirahat juga loh.” Ella menjawab, dan meminta Riella untuk tidak kembali ke rumah sakit karena sudah ada dia yang akan mengurus suaminya.
Riella mengangguk dan segera keluar ruangan bersama Kenzo dan Naura. Naura ikut pulang bersama mereka berdua, karena gadis itu ingin pulang untuk menyiapkan perlengkapan kuliahnya.
***
Tiba di rumah mewah milik Erik, Riella segera membawa Kenzo untuk naik ke kamarnya. Kamar yang beberapa bulan tidak ia masuki. Tapi tetap saja bersih lantaran mamanya selalu meminta pelayan untuk membersihkannya.
Riella yang sudah gerah, segera memasuki kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang lengket, karena seingatnya dia belum mandi sedari pagi kemarin.
Sedangkan Kenzo memilih merebahkan tubuhnya di ranjang, sambil memainkan ponsel di tangannya. Membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Alby. Salah satu pesan membuatnya tidak nyaman karena ada beberapa masalah dengan kantor. Dia memikirkan sejenak langkah apa yang akan dia ambil, lalu segera mendudukan tubuhnya di tepi ranjang.
Riella yang baru saja menyelesaikan mandinya menatap heran ke arah Kenzo. “Kenapa ada masalah?” tanya Riella sambil berjalan ke arah lemari baju nya, mencari baju ganti yang masih ia tinggal di lemari. Tangan kananya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Kenzo yang melihat pemandangan indah itu segera mendekati tubuh Riella yang berada di depan kaca, dia memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu dari belakang. “Sepertinya aku harus pulang dulu deh, Nee.” Kenzo berbicara lembut, ada nada sedih yang ia ucapkan.
Riella menatap wajah Kenzo dari pantulan cermin. “Ya sudah tidak masalah, biarkan aku di sini dulu, sampai papa sembuh. Lagian kalau aku ikut kamu sekarang, kasihan anak kita!”
“Iya, jangan pulang sendiri! Aku akan menjemputmu saat semuanya sudah beres.” Kenzo berpesan pada Riella. “Kamu enak banget kalau habis mandi,” imbuhnya memuji Riella, mendaratkan kecupan di pundak yang masih tertutup handuk.
Kenzo hanya tersenyum tipis membalas tatapan Riella, lalu tangannya menarik pelan tali handuk yang masih tersimpul rapi. “Kita rangkap ya pagi ini.” Minta Kenzo tanpa hentinya menyusuri leher Riella.
“Minggir dulu, aku mau sarapan. Perutku lapar,” tolak Riella, sambil berusaha melepas pelukan suaminya.
“Makan dulu tubuhku setelah itu kita bisa turun. Untuk menikmati sarapan pendampingnya.” Kenzo membalikkan tubuh Riella menghadapnya. Mengubah lipatan wajah Riella menjadi senyuman geli karena perlakuan yang ia berikan.
Kenzo mulai menciumi kening Riella yang sedikit rendah darinya. Kecupan yang menimbulkan suara dan meninggalkan jejak hangat di wajah Riella, membuat wajah istrinya itu merona seketika.
Kenzo tersenyum saat melihat Riella mulai memejamkan mata. Dia tahu, ini artinya sang istri hanya bisa pasrah dengan apa yang ia lakukan. Kenzo dengan lembut menikmati bibir sang istri, membuat Riella mengeluarkan suara kecil yang ia sukai dari bibirnya. Tangan Kenzo tidak bisa tinggal diam, terus berusaha menyingkap kain yang menutupi pundak sang istri.
“Astaga mataku ternoda!” Naura menjerit tapi masih diam di tempat, sambil menutup matanya dengan tangan. Tapi percuma, rasa penasaran yang ia rasakan, meminta jemarinya untuk merenggang, supaya bisa melihat aksi keduanya.
“Kakak kenapa nggak tutup pintu sih!” gerutunya masih dengan tangan di depan wajahnya.
Sepasang pasangan itu gelagapan membenarkan posisinya. Kenzo bahkan mengikat kuat tali handuk Riella. Membuat perut Riella sesak.
“Nara! Kenapa sih, nggak ketuk pintu dulu!” Riella memaki Naura yang berdiri di dekat pintu.
“Salah Kakak pintu terbuka lebar jadi Riella masuk langsung. Lain kali tolong dikunci ya! Nara nggak mau seperti ini lagi. Mata suci Nara ternoda!” wajah judes itu menatap tajam ke arah Kenzo dan Riella secara bergantian.
“Iya, maaf. Kamu mau apa?” ucap Riella menanyakan kedatangan Naura ke kamarnya.
“Nara cuma mau pamit mau berangkat kuliah.” Naura berkata lembut, sambil membuka telapak tangannya yang menutupi wajah.
“Okey, bye. Silakan keluar!” sahut Kenzo, mendorong adik iparnya sampai keluar melewati pintu kamar. “Kali ini akan kakak kunci pintunya, jangan coba-coba mengetuk. Karena tidak akan kami buka pintunya!” peringat Kenzo sebelum mengunci pintu kamar.
Kenzo sejenak bersandar di daun pintu, sambil membuang nafas lega. Lalu mendekat lagi ke arah Riella. Memulai lagi kegiatan yang bisa memancing gairahnya. Kali ini dia mengangkat tubuh Riella dan merebahkannya di ranjang.
Kenzo bermain dengan lembut pagi ini. Meski begitu gerakannya mampu membuat Riella mendesah keras memenuhi kamar. Istrinya itu dibuat klimaks berkali-kali olehnya. Sebelum akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
Kenzo menenggelamkan kepalanya di antara bukit indah milik sang istri, berharap waktu akan berhenti sebentar saja, sebelum mereka kembali berpisah.
“Aku bakalan rindu banget sama kamu, sama gerakan calon anak kita juga,” ucap Kenzo.
“Hem, kamu jangan lama-lama jemputnya ya,” pesan Riella, tangannya ikut memeluk tubuh Kenzo yang masih bercucuran keringat.
“Besok sore,” ucap Kenzo cepat.
“Emang kamu nggak capek?”
“Demi istri dan anakku, kalau besok sudah selesai urusannya aku akan menjemputmu.” Kecupan singkat terus menerus Kenzo berikan di bibir Riella.
“Setelah itu kita belanja perlengkapan bayi ya, aku mau belanja sekalian di sini, mumpung hamilnya juga masih muda, jadi tidak terlalu lelah, untuk jalan-jalan lama.” Riella melepas pelukannya saat bibir Kenzo kembali menyusuri leher.
Kenzo menatap lagi ke wajah Riella. “Oke tunggu aku datang. Tapi ….”
“Tapi apa?”
“Sekali lagi! Kan jadwal semalam tidak ada, malam nanti juga libur, besok belum pasti, jadi sekarang aku ambilnya triple.” Kenzo tersenyum tipis sambil menggerakkan sesuatu yang masih terbenam di milik sang istri.