
Pagi mulai menyapa, dalam kamar penuh warna itu terlihat Riella tengah mematutkan pakaian yang ia kenakan di depan cermin besar kamarnya, mengoles tipis bibir tipisnya, mengikat rambut seperti ekor kuda tanpa ada sisa anak rambut yang tersisa, membiarkan lehernya yang jenjang terekspos sempurna. Pagi ini ia akan berangkat bersama dengan Emil, sesuai pesan terakhir yang semalam Emil kirimkan padanya.
Setelah merasa siap ia segera keluar kamar, berjalan mendekat ke arah meja makan, berpamitan dengan semua orang yang tengah sarapan bersama di sana.
“Nggak sarapan? Ajak Emil masuk dulu, untuk sarapan bersama!” Erik menegur ketika melihat Riella yang buru-buru berpamitan dengannya.
“Nggak perlu, Pa. Riella ada rapat jam 9 nanti. Nggak akan cukup waktunya.”
Ella yang mendengar itu segera berjalan ke arah dapur mengambil kotak makan untuk Riella. Mengisinya dengan roti dan susu kaleng bergambar beruang ke dalam kotak makan.
“Bawa ini, makan sebelum rapat dimulai!” Pesan Ella seraya memasukkan kotak makan bertuliskan IKEA ke dalam tas Riella.
“Wah, jadi seperti anak paud kalau seperti ini, maksih ya, Ma,” kata Riella seraya mengecup pipi Ella, lalu segera keluar rumah untuk menemui Emil yang sudah menunggu di depan pintu.
Tiba di depan rumah, senyuman manis Riella berikan ketika menatap tubuh Emil yang berbalut jas silver yang pas di tubuhnya.
“Pagi, Sayang.” Emil menyapa sambil mendekatkan bibirnya hendak mendaratkan ciuman di pipi Riella. Namun yang terjadi, telapak tangan Riella menghadang bibir Emil, memperingatinya supaya tidak melakukan hal itu ketika berada di lingkungan rumahnya.
“Berangkat yuk!” ajak Riella diiringi kekehan kecil, saat melihat wajah muram Emil.
Emil tidak menjawab ajakkan Riella, dia hanya membuka pintu mobilnya, mempersilahkan Riella untuk masuk ke dalam mobilnya.
Saat berada di perjalanan, hanya terdengar ocehan kecil dari bibir Emil yang mengikuti lagu yang diputar di mobilnya, lagu kasmaran sesuai isi hatinya saat ini. Sedangkan Riella membalas satu persatu ucapan selamat dari temanya atas pertunangan yang semalam berjalan dengan lancar.
“Nanti biarkan aku yang menjemputmu, atau jam makan siang kita makan bersama.” Kata Emil menatap Riella.
“Sepertinya aku akan sibuk Kak, ada beberapa jadwal pertemuan dengan dokter hari ini,” tolak Riella, yang memang benar-benar sibuk.
“Mentingin kerjaan terus! Aku kapan?!” cibir Emil yang sudah mengubah raut wajahnya
“Ayolah Kak, jangan seperti anak kecil. Aku tidak mencari pacar baru, aku hanya berusaha bekerja sebaik-baiknya supaya papa nggak kecewa dengan hasil kerjaku.” Riella menggenggam tangan Emil, membujuk lelakinya supaya menampilkan wajah ramah.
“Baiklah, sudah resiko punya calon istri seorang pengurus rumah sakit,” kata Emil mencium punggung tangan Riella yang ada di genggamannya.
Mobil memasuki area rumah sakit, Emil mengabaikan ucapan Riella yang memintanya untuk turun di depan pintu masuk, ia justru memilih menghentikan mobilnya di tempat sepi dari lalu lalang keramaian.
“Nggak perlu nganterin masuk Kak, nanti Kak Emil terlambat ke kantornya!” peringat Riella, setelah Emil mematikan mesin mobilnya.
Emil hanya membalas tatapan sayu ke arah Riella, dia menatap lekat ke arah Riella yang tengah menertawai kelakuannya. Saat melihat Riella hendak membuka pintu. Ia justru mengunci pintu mobilnya. Membuat Riella mengeluarkan decakan sebal karena kelakuannya.
Emil yang melihat keluhan Riella semakin mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan kekasihnya, membuat wajah Riella merona ketika merasakan hembusan nafasnya yang hampir menempel.
“Kak …” panggil Riella saat tangan Emil hendak mencoba melepas kancing kemeja yang ia kenakan.
“Nggak akan lama, kilat saja,” sahut Emil dengan suara serak menahan sesuatu.
Riella hanya mampu memejamkan matanya saat tangan jemari Emil mulai membelai lehernya, ia mulai menikmati setiap sentuhan lembut yang mendarat di bagian sensitivenya, sebisa mungkin ia menahan suaranya supaya Emil tidak melakukan lebih dalam lagi.
“Aku merindukanmu, Sayang.” Suara serak Emil kembali terdengar, membuat Riella semakin khawatir jika calon suaminya itu akan benar-benar melakukannya di mobil.
“Kak!” panggil Riella serempak dengan matanya yang terbuka, menahan tangan Emil untuk tidak turun ke bagian perutnya. Tapi Emil semakin menggila, dia justru menyapu kasar bibir Riella dengan bibirnya, melahap dalam supaya calon istrinya itu tidak melakukan penolakkan. Dengan kesusahan Emil menarik kunci kursi yang Riella tempati, supaya posisi Riella menjadi setengah tertidur, hingga membuatnya lebih leluasa untuk menjamah tubuh Riella.
“Aku tertantang melakukannya di tempat yang sempit, Sayang. Jangan menolakku!” peringat Emil seraya menaikkan bra hitam milik Riella, setelahnya ia menikmati bagian kenyal tubuh Riella dengan bibirnya, menikmati dengan rakus, seperti bayi yang benar-benar haus akan asi ibunya.
Perlakuan Emil membuat Riella mengeluarkan desahan kecil yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga. Emil tersenyum mendengar hal itu, menatap Riella penuh gairah, tangannya mulai terulur melepas ikatan rambut Riella, menciumi aroma rambut Riella yang menyegarkan.
“Tubuhmu, tidak seperti apa yang kamu katakan, ia juga sedang merindukanku!” kata Emil berusaha melepas kancing celana jeans yang di kenakan Riella.
“Jangan lakukan Kak. Please!” ulangnya lagi saat Emil masih setia menjamahnya. Emil yang melihat air mata Riella mengalir, langsung reflek menghentikan kegiatannya, lalu beralih menatap wajah Riella, meski dia juga frustasi karena nafsunya kini sudah sampai ubun-ubun. Tapi, dia merasa iba ketika melihat Riella mengusap air matanya yang menetes.
“Hei … kenapa? Apa aku menyakitimu?” tanya Emil mengusap pipi Riella yang terkena air mata. Ia lalu beralih menutup kembali kemeja Riella, mengancingkan satu persatu baju batik yang Riella kenakan, hingga tubuh sexy Riella kini sudah tertutup sempurna.
“Katakan padaku? Kenapa? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini?” tanya Emil yang kini tepat berada di samping Riella, menatap lekat wanita yang kini masih menangis.
“Maaf Kak, maafkan aku.”
“Kamu nggak melakukannya dengan lelaki lain, Kan?” tanya Emil melotot curiga. Riella menggelengkan kepalanya cepat, sebagai jawaban. Ia lalu memeluk Emil erat meluapkan isi perasaanya.
“Kak, jangan lakukan dulu ya, sebelum kita resmi menikah. Aku hanya ingin saat malam itu, kita merasakan perasaan cinta yang luar biasa. Bertahanlah sampai hari itu tiba,” jelas Riella, membuat Emil terkekeh. Karena merasa konyol dengan permintaan Riella.
“Kamu yakin nggak akan merindukan aku?” tanya Emil setelahnya dengan tawa yang masih tersisa.
Riella mendongak, menatap wajah Emil.
“Kangen pasti, tapi akan aku coba untuk mmenahannya. Pasti akan menyenngkan, malakukannya ketika kerinduan kita sedang bergelora.”
“Baiklah Sayang, aku akan menurut denganmu demi hari special kita. Yang kata orang itu adalah malam pertama. Tapi maaf karena aku justru sudah mencicilnya lebih dulu.”
“Terima kasih untuk kesabaranmu.” Jawab Riella singkat semakin mengeratkan pelukkannya.
“Tapi kalau ciuman bibir saja boleh, kan?” tanya Emil menatap serius ke arah Riella, tangannya berada di kedua pundak Riella.
“Ciuman tipis saja ya,” jawab Riella.
“Astaga! ajarin aku, bagaimana yang namanya tipis itu! Setahuku hanya ada satu,” kata Emil diiringai seringai nafsu dari bibirnya, lalu menyapu kembali bibir Riella, dengan dalam dan cepat.
“Ih, nyebelin!” gerutu Riella mengusap bibirnya, ia lalu membenarkan dandannya yang sudah tidak rapi lagi, menatap spion kecil di depannya, sambil memoleskan lipemate yang tadi ia ambil dari dalam tasnya. Emil yang melihat tindakan Riella, merasa gemas sendiri dengan calon istrinya, ia kembali mencium bibir Riella, meski singkat tapi itu kembali merusak apa yang sudah diukir Riella di bibir merahnya.
“Sudah cantik, Sayang. Kamu dandan buat siapa sih? Jangan ganjen ya!?”
“Untuk dokter Rizki, dokter baru yang tampannya melebihi Kak Emil?” canda Riella yang diakhiri suara tawa kecil.
“Aku akan bilang papa mertua, supaya memecat yang namanya Rizki!”
“Heh, enak saja. Dia masih koas jangan macam-macam!”
“Lebih baik seperti itu, dari pada aku harus kehilangan mempelai wanitaku!” kata Emil membelai lembut pipi Riella. Lalu membantu merapikan rambut riella kebelakang telingnya.
“Dasar! Lelaki selalu seperti itu. Cemburunya melebihi menara Eifell.”
“Itu tandanya cinta, Sayang!” jawab Emil, lalu kembali mengendus leher Riella, setelah melihat leher Riella kembali terekspos sempurna.
“Dah ya, aku masuk dulu, selamat bekerja, Honey,” pamit Riella, lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Emil.
“Bye, I love you.”
“Aku mencintaimu juga, dah sana berangkat, keburu terlambat. Salam untuk Eva ya!” Emil mengangguk menyetujui ucapan Riella. Dia dan Eva memang satu perusahaan, Eva jugalah yang memberikannya kesampatan untuk bekerja sama dengan perusahaan papanya. Bekerja sama dalam bidang transportasi.
🚑
Hitung mundur, bentar lagi Kenzo muncul😍😍. Makasih untuk votenya, jangan lupa untuk like dan komentar.