
Kenzo mengemudikan mobilnya ke arah kantor. Berbeda dengan Jakarta jalanan di sini cukup lenggang. Tidak ada macet berkepanjangan saat jam berangkat maupun pulang kerja. Perkebunan sawit yang opa nya tinggalkan dulu, saat ini sudah menjadi perkebunan sawit terbesar di kotanya, dan Kenzo lah yang mengurus perkebunan tersebut.
Tiba di kantor, Kenzo disambut ramah oleh beberapa staff kantornya, mereka menyapa ramah kepada Kenzo yang memang terkenal supel. Banyak staff wanita di sekeliling Kenzo. Dan salah satunya mantan kekasih Kenzo yang ia pacari selama 3 bulan. Mereka putus karena Kenzo tidak pernah menjalani hubungan serius dengan Reva.
Reva adalah gadis sexy yang penuh ambisius dalam karir maupun percintaannya, wanita dominan yang suka mengatur-ngatur semua kegiatan Kenzo, ia sudah 3 tahun bekerja di kantor Kenzo, dan menyalah artikan kebaikan yang Kenzo berikan padanya adalah wujud cinta Kenzo. Sayangnya wanita itu sekarang menjadi sekertaris Kenzo, meski Kenzo muak dengan kelakuannya, tapi ia belum memiliki alasan untuk memecatnya.
Kenzo segera masuk ke ruang pribadinya, menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk yang hanya muat untuk satu orang saja, menggantungkan kakinya di tepi ranjang, sambil memikirkan bagaimana nasib pernikahannya dengan Riella ke depannya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka pelan, menampilkan wajah rekannya yang tampak semangat untuk bekerja pagi ini.
“Weh, baru kali ini lihat Bang Kenzo kelelahan, tahan berapa ronde sampai kusut begitu?” goda Alby yang penasaran dengan malam pertama Kenzo, ia mendudukan tubuhnya di tepi ranjang sebelah Kenzo.
“Diamlah, jangan mengangguku! Leherku tidak nyaman untuk digerakkan.” Kenzo menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan, untuk meredakan lehernya yang sakit. Tanpa mempedulikan tatapan Alby.
“Benarkah? Apa perlu aku datangkan dokter?” tawar Alby yang nampak khawatir.
“Nggak perlu, aku hanya ingin beristirahat sebentar. Bangunkan aku jika aku tertidur nanti.” Kenzo memejamkan matanya erat, tapi pikirannya berlarian ke arah menaklukan hati Riella.
“Apa Bang Kenzo sudah memberitahunya?” tanya Alby memperhatikan wajah Kenzo yang kusut.
“Belum bisa.”
“Sampai kapan, Bang Kenzo akan jujur padanya?” tanya Alby penasaran dengan rencana Kenzo.
“Seperti kisah dalam novel, sebelum ending semua rahasia akan terkuak. Begitu mungkin pikiranku, tunggu dia membuka hatinya dulu, barulah aku akan mengatakannya. Dan kita akan berakhir bahagia. Aku takut dia akan pergi jika aku mengatakannya sekarang. Semoga dia bisa menerima semua kekurangan dan kelebihanku.”
Alby yang mendengar suara Kenzo hanya mampu menghela nafas panjang, ia juga sudah lelah menutupi semuanya selama ini. Tidak mudah menutupi rahasia Kenzo yang ia simpan rapat-rapat, karena tentunya sebagai pengusaha terkenal banyak yang kepo tentang kehidupannya.
“Bukanlah lebih cepat lebih baik, Bang. Bagaimana jika dia tidak menerima Abang, setelah mengetahui semuanya? Setidaknya dia belum begitu mencintai Abang, dengan begitu dia bisa mudah melupakan Abang.”
“Tapi aku yang belum siap untuk kehilangan dia lagi, sudah cukup aku dulu meninggalkannya.”
“Ceh Abang ini! Itu namanya egois!”
“Sudah pergi sana, aku lelah ingin istirahat!” usir Kenzo karena merasa terganggu dengan kehadiran Alby.
“Makanya, kalau baru pecah perjaka itu, lebih baik satu ronde saja. Pasti lembur sampai subuh, kan!” selidik Alby menatap wajah lelah Kenzo.
“Berisik! Pergilah cepat jangan mengangguku!” Kenzo membuka matanya, menatap tajam ke arah Alby.
“Alby!” bentak Kenzo membuat Alby langsung beranjak dari posisi tidurnya.
“Siap, Bos. Tutup mulut ini,” Sahut Alby seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia segera berlari ke luar ruangan, takut jika Kenzo akan melepas sepatu lalu melemparkan ke arahnya. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan Kenzo, ia kembali membalikkan tubuhnya.
“Jangan lupa akhir bulan jadwal therapy,” pesan Alby lalu meninggalkan ruangan Kenzo.
Kenzo yang mendengar pesan Alby, reflek mendudukan tubuhnya, rasa lelahnya tiba-tiba menguap karena mendengar ucapan Alby. Ia lalu mengambil ponsel yang ada di kantongnya berniat untuk menghubungi Riella, tapi panggilannya tidak segera dijawab oleh istrinya, ia lalu beralih menelepon mamanya. Meminta tolong untuk melihat kondisi Riella.
***
Di sisi lain Riella yang baru saja bangun dari tidurnya, mengedarkan pandanganya ke arah sekeliling kamar. Mencari keberadaan Kenzo, tapi ia tidak mendapatinya. Ia lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan berniat mencari keberadaan Kenzo di luar kamar.
Rumah yang cukup luas itu nampak sepi, hanya ada Riella sendiri yang berada di sana. Membuat pikirannya melayang ke arah Emil yang berada di Jakarta, tidak mudah melupakan lelaki yang singgah dihatinya cukup lama, meski dia belum ada satu tahun berpacaran, tapi dia sudah lama menyukai lelaki itu. Kini ia cuma bisa mengenang kenangan yang ditinggalkan Emil, mengingat kata-kata manisnya.
Setelah selesai mandi Riella segera keluar kamar, mencari keberadaan Kenzo. Tapi ia tak mendapati suaminya, ia bingung mau kemana, karena keluar pun ia tidak tahu arah. Ia lalu berjalan mendekati meja makan, matanya menangkap sarapan yang tadi dibuat Kenzo. Ia lalu duduk di kursi sambil mengambil kertas kuning yang ia tahu itu tulisan tangan Kenzo.
Selamat pagi…
Cepatlah makan sebelum jam 9. Maaf aku tidak menunggumu bangun. Alby menelepon dan aku harus segera ke kantor. Nggak usah masak kalau kamu nggak bisa masak, aku akan pulang saat jam makan siang. Semoga harimu menyenangkan.😊
Setelah membaca pesan dari Kenzo, Riella menatap ke arah meja makan, mengamati roti panggang yang sudah disiapkan Kenzo. Ia lalu duduk menikmati sarapan yang ada di depannya.
“Syukurlah kalau dia sudah pergi,” gumamnya lirih dengan mulut yang terisi roti panggang, ia menikmatinya dengan nikmat roti buatan Kenzo, tanpa tahu siapa pembuat sebenarnya.
“Hubungan macam apa ini, Ken? Kenapa justru kamu yang menemaniku? Padahal kamu tahu aku sangat benci denganmu.” Ucap Riella bermonolog sendiri, mengingat kejadian 13 tahun yang lalu jika ia pernah mengalami hal serupa, sakit hati karena ditinggal orang yang dia cintai. Riella segera membuang pikiran kotornya, menerima takdir jika Kenzo lah yang akan mendampingi seumur hidupnya nanti.
Sesaat kemudian terdengar bunyi pintu rumah diketuk. Riella segera beranjak dari tempat duduknya, membuka pintu lebar, tampak Nindi berada di depan pintu tersenyum ramah ke arahnya.
🚑
🚑
🚑
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa untuk like dan komentar.