The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Masakan Pertama



Tepat pukul 11 malam Kenzo keluar dari ruang kerja, ia berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya, ia lalu melajukan pelan menuju rumah, melewati jalanan yang sudah tampak sunyi, sepi. Malam ini Kenzo sengaja menghindari Riella yang masih bersikap dingin padanya, selain itu dia juga harus menyelesaikan pekerjaanya yang menumpuk, karena kemarin ia tinggal untuk menikah.


Saat tiba di rumah, Kenzo mengedarkan ke arah ruangan, sebagian lampu sudah padam, hanya beberapa sorot lampu kuning saja yang masih menyala, menghiasi sudut dinding rumah, menciptakan cahaya temaram yang tampak romantis. Kenzo malanjutkan langkahnya, berjalan pelan ke arah kamar, berniat untuk mengambil pakaian ganti, karena rencananya ia akan kembali tidur di ruang kerjanya lagi.


Saat ia masuk kamar, matanya menangkap Riella yang tidur meringkuk di tengah ranjang. Wajahnya tampak nyenyak di sana, meski tanpa selimut dan alas kepala. Melihat itu, menyentuh hati Kenzo untuk mendekat ke arah Riella, berniat memberikan bantal untuk istrinya.


Kenzo duduk di pinggir ranjang, mengamati wajah Riella yang tertutup sebagian rambut, tangan Kenzo lalu terulur membenarkan rambut Riella. Bibir Kenzo tertarik ke atas saat mendapati wajah Riella yang polos. Merasa Riella sudah nyenyak, ia lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Mengamati wajah Riella dari dekat.


“Selamat malam, semoga mimpi indah," ucap Kenzo dengan lirih, "maafkan aku ..., aku belum bisa jadi suami yang baik untukmu. Kamu masih memberi kesempatan untukku, kan? Aku janji akan memperbaiki semuanya.” Setelah itu Kenzo pelan-pelan mendekatkan bibirnya ke arah kening Riella, mengecup kening Riella dengan lembut, takut istrinya akan terbangun dan menyadari apa yang ia lakukan saat ini. Kenzo kembali tersenyum lebar ketika menatap wajah Riella yang meneduhkan hatinya, berandai-andai bagaimana jika Riella seperti ini ketika Riella membuka mata, pasti dia akan sangat bahagia. Kenzo lalu mengangkat kepala Riella, meletakkan bantal di bawah kepala istrinya, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Riella.


“Sementara selimutku dulu yang akan menemanimu, besok atau kapan semoga aku bisa menggantikannya,” kata Kenzo sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh Riella. Dia lalu beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan Riella. Namun, Kenzo terkejut ketika tangan Riella menahannya. Tubuhnya membeku, sulit untuk digerakkan.


“Ka-kamu bangun?” Suara Kenzo terdengar panik ketika melihat Riella benar-benar membuka matanya.


“Hem, kenapa kamu pulang selarut ini? Aku mengirim sms juga nggak kamu balas.” Riella bertanya sambil mengusap matanya yang terasa lengket.


“Maaf. Aku tidak membuka ponselku tadi,” jelas Kenzo menunjukkan jika ponselnya masih ada notifikasi pesan belum terbaca, “kamu sudah makan?” lanjut Kenzo bertanya sambil menatap ke arah jam dinding.


“Belum, aku menunggumu.”


Kenzo mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan jawaban Riella. Seperti ada mukjizat, karena Riella tiba-tiba bersikap baik padanya, setelah sikap menyebalkan tadi siang yang Riella lakukan. Sekarang justru Kenzo yang terlihat kebingungan karena tidak membawa makanan apapun untuk Riella.


“Tapi aku nggak bawa apa-apa malam ini. Kamu tunggu di sini biar aku membuatkanmu makanan.” Kenzo melepaskan cekalan Riella, hendak berjalan ke dapur.


“Nggak perlu, Ken. Tadi sore aku belajar memasak, karena aku jenuh berada di dalam rumah sendirian, jadi aku membuat masakkan ringan, tapi nggak tahu rasanya seperti apa, aku harap kamu menyukainya.” Riella berjalan ke arah dapur, mendahului Kenzo yang tadi berada di depannya. Kenzo mengikuti langkah Riella, merasakan hatinya yang sedikit bahagia.


Tiba di meja makan, Kenzo diminta duduk oleh Riella, untuk menunggunya yang tengah mengambil makanan yang tadi ia buat. Riella menyerahkan piring kosong ke tangan Kenzo, supaya suaminya lebih dulu mengambil masakkan yang tadi sudah ia hidangkan.


“Aku tadi menelepon mama, meminta resep masakan ini. Cobalah semoga kamu menyukainya.” Riella berkata jujur pada Kenzo, berdiri lagi untuk mengambilkan makanan di piring Kenzo karena melihat Kenzo tidak kunjung bergerak, ia lalu duduk di samping Kenzo, hendak mendengar pendapat Kenzo tentang masakkan pertamanya.


“Wah, sepertinya enak, dari aromanya saja sudah tercium jika bumbu yang kamu masukkan sepertinya pas!” Kenzo memuji makanan Riella meski makanan itu belum mendarat di lidahnya.


“Cobalah dulu, ini cuma spaghetti yang aku campur dengan jamur dan potongan ayam.”


Kenzo menatap makanan di depannya, mulai menggulung spaghetti dengan garpu yang ada di tangan kanan, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kenzo memakannya dengan berat hati, karena masakkan yang Riella buat di luar ekpetasi nya. Ingin sekali ia membuang makanan yang ada di mulutnya, tapi ia tidak ingin membuat Riella kecewa apalagi ini masakan pertama Riella. Kenzo menahan diri supaya tidak terbatuk, karena merasakan rasa garam yang berlebihan, tengah menyerang indra perasanya.


“Gimana, enak nggak? Pasti enakkan?” tanya Riella mengamati ekpresi Kenzo.


“Ya.” Singkat Kenzo. Setelah itu batuknya terlepas dari pertahanan yang sudah ia bangun, membuat Riella curiga dengan masakkan yang sudah ia buat sendiri.


“Berapa nilainya?” tanya Riella, meminta Kenzo memberikan pendapat untuk hidangan yang sudah ia buat dengan susah payah.


“Ya, nilai makanan ini?”


“Perfect,” jawab singkat Kenzo. Membuat Riella segera menyantap makanan yang ada di depannya. Sementara Kenzo yang dia jadikan alat penguji makanan, ingin berusaha menghentikan tingkahnya pun gagal karena makanan itu sudah masuk ke dalam mulut Riella.


Baru saja Riella memasukkan ke dalam mulut, kembali ia semburkan karena tidak tahan dengan rasa asin dari spaghetti yang mendarat di lidahnya. Riella lalu meraih makanan yang ada di depan Kenzo, “nggak usah dimakan, dikasih kucing saja, pasti akan mati kucingnya.” Riella lalu berdiri membuang spaghetti tadi ke tempat sampah.


“Kenapa kamu nggak jujur? Harusnya kamu mengatakan jika makanan ini tidak layak untuk dimakan!” Riella mengomel sambil berjalan ke arah meja makan.


Kenzo hanya mendengarkan dan mengawasi pergerakkan Riella yang terus berbicara tentang proses pengolahan speghetti. Dia lalu mengangkat telunjuknya ke arah bibir Riella, meminta istrinya untuk diam. “Aku tidak ingin kamu kecewa, aku bisa saja mengatakan padamu jika makanan itu tidak enak. Tapi aku masih mau menikmati masakanmu selanjutnya. Aku nggak mau kamu patah semangat dan berhenti untuk membuat makanan untukku.”


“Seperti itu kah?” Riella mengerutkan dahinya. “Seharusnya tidak begitu, Ken! meski itu menyakitkan buatku, tapi kamu harus mengatakan semuanya dengan jujur.” Riella tampak biasa saja ketika menanyakan hal itu, tapi berbeda dengan Kenzo yang langsung nampak khawatir dengan ucapan Riella. Karena ia mengartikannya lain.


“Kamu belum makan, kan? Biar aku yang membuatkan makanan untukmu.” Kenzo berdiri, berjalan ke arah dapur membuatkan makanan untuk Riella.


“Nggak perlu, makanan tadi siang masih ada. Aku makan itu saja.” Riella lalu berjalan ke arah dapur mengambil makanan yang tadi siang Kenzo bawakan untuknya. Setelah itu Riella menikmati makanannya dengan tenang, sambil berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanyakan rahasia Kenzo selama ini.


“Ken.”


“Ya.”Kenzo mendongak menatap Riella.


“Setelah ini ada yang ingin aku tanyakan padamu, segera habiskan makananmu.” Kenzo menganggu sebagai jawaban.


Tidak ada yang membuka percakapan malam itu, hanya terdengar jelas suara gesekkan sendok dan garpu yang mengambil makanan dari piring.


Setelah makanan di depannya habis, Kenzo segera berjalan menuju ruang tengah, diikuti Riella yang berjalan di belakangnya. Riella menjaga jaraknya dengan Kenzo saat mereka duduk. Kenzo duduk di sofa yang lebih panjang dari yang Riella tempati. Tidak mempedulikan jika jarum jam kini sudah mendekati ke arah angka 1 dini hari, Riella ingin mencari jawaban yang sejak tadi ada di pikirannya.


“Kenapa?” tanya Kenzo setelah melihat Riella tidak kunjung membuka suaranya.


Riella mengamati wajah Kenzo yang terkena cahaya redup dari lampu ruangan.


“Apa kamu bisa menjelaskan. Kenapa kamu dulu tidak datang?”


🚑


🚑


🚑


Ambulan lewat dulu🚑. Cuaca sedang buruk jaga kesehatan, istirahat secukupnya ya? ♥️♥️♥️ jangan lupa like dan komentar. Setelah ini aku kupas setengah rahasia Kenzo. Nggak janji nanti malam bisa update, karena sedikit cumpleng, tapi aku usahain. YANG PENTING VOTENYA BUAT HARI SENIN DIBANYAKIN.😂😂😂