The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Sebutan Papa



“Lintang. Yang seminggu lalu ikut ke Jakarta," Nindi buru-buru menjelaskan supaya Riella tidak salah paham. "Anak-anak mengira mereka pacaran karena Lintang memang dekat dengan Kenzo, dua minggu terakhir ini. Dia pasti di dalam membantu ibu pengurus panti menyiapkan makan siang, masuklah!” perintah Nindi mengusap lembut punggung Riella.


Tapi Riella yang mendengar ucapan Nindi hanya menggelengkan kepalanya. Menolak tawaran Nindi, karena merasa tidak nyaman dengan penjelasan Nindi.


“Riella di sini saja Ma. Riella masih pengen main dengan mereka,” ucap Riella mencari alasan, lalu ia mendekat ke arah Kaila yang tengah berkumpul dengan temannya.


“Kaila ini memang dekat dengan Kenzo, jangan kaget, kalau mendengar dia memanggil Kenzo dengan sebutan papa, karena mereka memang sangat dekat. Kadang Kenzo membawanya tidur bersama saat dulu masih tinggal dengan mama.” Nindi menjeda ucapannya, mengamati perubahan wajah Riella yang jelas terkejut, “kalau sekarang nggak perlu lah ya? Kasihan kamu, siapa nanti yang akan memelukmu kalau kamu kedingingan?” goda Nindi membuat Riella mengalihkan tatapannya dari Nindi.


Nindi lalu membawa Riella untuk duduk di kursi teras setelah merasa bosan bermain anak-anak, sambil mengamati ke arah anak-anak yang tengah bermain Nindi bercerita panjang lebar tentang keluarganya, termasuk adik iparnya Keysa yang pindah ke London karena mengikuti suaminya.


“Mamamu pernah cerita tentang Kenzie?” tanya Nindi setelah melihat Riella hanya diam mendengarkan.


“Emmm ... Kenzie?” tanya Riella memastikan karena dia lupa seperti apa orangnya.


“Iya, adiknya papa Haikal. Yang dulu sempat hampir menikah dengan mamamu.” Nindi menjelaskan. Membuat Riella tersenyum tipis karena mengingat sesuatu.


“Iya, tapi cuma sedikit, Ma. Soalnya papa selalu memotong ucapan mama Ella kalau membahas tentang almarhum om Kenzie. Papa tu paling cemburu kalau membahas almarhum om Kenzie.”


“Ternyata masih seperti dulu ya? Mama dulu saksi perjuangan mamamu melawan sakit hati, karena papamu sempat ingin menikah dengan wanita lain.”


“O ya? Bagaimana ceritanya, Ma?”


“Sama sepertimu sekarang. Tapi untungnya dulu hanya salah paham. Mungkin jodoh mamamu memang benar-benar kak Erik.” Nindi memperhatikan wajah Riella yang terlihat antusias mendengarkan ceritanya. Nindi pun melanjutkan lagi ceritanya, “Mamamu dulu saat kuliah di Sidney, diam-diam menyimpan foto papamu di bawah bantal, makanya sulit untuk membuka hati. Jangan sampai itu terjadi denganmu. Apalagi sekarang, status kamu sudah menikah. Bukannya mama membela Kenzo juga, sih. Tapi mama tahu, jika Kenzo anak yang baik, dia tulus mencintaimu.” Nindi terus berbicara hingga akhirnya Lintang yang baru saja keluar dari arah rumah menghentikan obrolan mereka.


“Makan siang dulu yuk, Ma. Sudah siap makan siangnya,” tawar Lintang yang baru saja selesai memasak.


“Nanti dulu, masih jam 11, sekalian nunggu Kenzo katanya tadi mau pulang saat jam makan siang.” Nindi lalu menarik tangan Lintang untuk bergabung dengan mereka.


Riella hanya mendengarkan pembicaraan Nindi dan Lintang yang tengah membicarakan suaminya. Dia tidak ingin menyahut apa yang tengah mereka bahas, karena ia tidak seperti Lintang yang dekat dengan Kenzo untuk saat ini.


“Nah itu, Kak Kenzo datang.” Lintang yang melihat mobil Kenzo dari arah kejauhan, segera beranjak dari duduknya menyambut kedatangan Kenzo yang sudah turun dari mobil.


Riella yang melihat Lintang mencium tangan Kenzo, merasa kesusahan menelan air liurnya. Sejenak membandingkan dirinya dengan Lintang. Lintang memang baik menyambut Kenzo seperti seoranh istri yang tengah menyambut suaminya, tapi masalahnya ia yang berstatus istri Kenzo tidak bisa melakukan hal itu.


“Mama masuk ke dalam dulu menyiapkan makan siang,” pamit Nindi yang berlalu ke dalam rumah meninggalkan mereka bertiga di teras.


Kenzo yang melihat Riella duduk di kursi teras, segera menyapanya, memberikan tanganya untuk Riella cium, “Hai." kata Kenzo yang mendudukan tubuhnya di depan Riella, “sudah kenal siapa saja? Seru kan main dengan mereka?” tanya Kenzo menunjuk ke arah anak-anak yang masih betah bermain.


“Yah lumayan, dari pada harus kesepian dan-”


“Kak Ken, ada sambal mandai di dalam, kebetulan aku dapat di pasar tadi pagi, karena aku teringat kak Ken jadi aku belikan,” ucap Lintang memotong ucapan Riella.


Riella hanya menatap acuh ke arah perempuan yang berada di samping Kenzo. Tidak ingin lagi membuka mulutnya untuk melanjutkan ucapannya yang tidak sempat ia ucapkan.


“Iya, terima kasih, nanti kakak akan mencicipinya,” jawab Kenzo sambil mengacak rambut Lintang.


Kenzo membalas tersenyum ke arah Lintang, lalu beralih menatap wajah Riella yang tengah memperhatikan anak-anak yang tengah berlarian di halaman rerumputan.


“Kamu suka anak kecil?” tanya Kenzo saat mengikuti tatapan Riella.


“Nggak begitu. Mereka hanya akan menambah masalah.”


Kenzo terkekeh mendengar jawaban Riella, bingung juga dengan apa yang harus ia lakukan setelah ini.


“Padahal di luar sana banyak orang yang menginginkan bayi,” kata Lintang menyahut pembicaraan mereka berdua.


Semakin lama, Riella semakin tidak nyaman dengan situasi saat ini. Ia berniat untuk masuk ke dalam rumah membantu mertuanya.


“Aku ke dalam dulu,” pamit Riella setelah mendengar perkataan Lintang, dia merasa risih dengan gadis yang lebih muda darinya itu, karena sejak tadi selalu memotong ucapannya.


Tiba di dalam rumah Riella mendapat panggilan dari Nindi yang sudah berada di meja makan, ia meminta Riella untuk duduk di samping kursi kosong yang biasa Kenzo tempati.


“Makan dulu sini, Sayang. Takutnya baru sehari kamu di sini, mamamu protes saat melihat tubuhmu yang kurus, dan nanti bisa-bisa dia memintamu untuk pulang ke Jakarta sekarang juga. Duduklah di sini!” kata Nindi menarik kursi untuk Riella. Nindi lalu berteriak memanggil Kenzo dan Lintang yang masih berada di luar rumah, mereka berdua berjalan beriringan dengan Lintang yang berada di depan Kenzo.


Formasi meja makan sudah terisi lengkap kecuali Haikal yang masih berada di luar daerah. Riella menikmati makannya dengan nikmat tanpa melihat ke arah piring di sampingnya yang masih kosong. Karena pemiliknya tengah bermain gawai di tangannya.


Lintang yang paham segera mengambil piring Kenzo lalu mengambilkan makannya untuk Kenzo. “Harus habis,” kata Lintang menyerahkan piring yang sudah berisi makanan di depan Kenzo. Kenzo pun meletakkan ponselnya, dan mulai menikmati makanan yang diambilkan Nindi.


“Astaga Kak, hampir lupa.” Lintang menepuk dahinya saat mengingat sesuatu yang ia lupakan.


“Kenapa?” tanya Kenzo bingung melihat Lintang yang berlari ke arah dapur.


“Hampir saja lupa,” kata Lintang yang sudah kembali ke meja makan. Ia lalu menyendokkan sambal mandai ke piring Kenzo, meminta Kenzo untuk segera menikmatinya. Karena Lintang tahu Kenzo sangat menyukainya.


Berbeda dengan Riella yang tidak menyukai fermentasi dari kulit cempedak yang ada di tangan Lintang. Riella merasa ada yang tidak beres dengan perutnya saat mencium aromanya Mandai yang terlalu menyengat. Perutnya merasa di aduk-aduk, mengetuk mulutnya untuk segera dimuntahkan.


“Kamar mandi di sebelah mana?” tanya Riella berusaha menahan supaya tidak muntah di meja makan. Kenzo menunjuk ke arah kamar mandi, diikuti Riella yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


🚑


🚑


🚑


🚑


Terima kasih sudah mampir😘🥰


Jangan lupa untuk Like dan Komentar