The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Kepo-in Mantan



Usai menjemput Eva di hotel Astron, Kenzo segera melajukan mobilnya menuju rumah. Saat di perjalanan dia hanya menatap sang istri dari kaca kecil yang ada di depannya. Dia turut bahagia mendengar Riella yang menceritakan perkembangan calon anaknya. Sampai dia tidak menyadari jika mobil yang ia kemudikan sudah berhenti di depan rumahnya.


Mereka berdua turun, sedangkan dia masing berada di dalam mobil. “Aku langsung balik kantor, ya,” kata Kenzo yang berteriak dari jendela mobil.


Riella segera menoleh ke arah suara, mengernyit, dia pikir suaminya akan diam di rumah dan tidak kembali lagi ke kantor.


“Loh, balik lagi?” tanyanya sedikit kecewa.


“Iya masih ada pekerjaan di kantor.” Sebenarnya Kenzo merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang asing di dalam rumahnya.


Riella yang mendengar jawaban sang suami bergegas mendekat ke arah mobil. “Hati-hati ya,” ucapnya berpesan wajahnya terlihat tidak rela jika Kenzo meninggalkannya.


Kenzo tersenyum tipis, sambil mengangguk. “Iya. Kamu juga jangan capek-capek. Kasihan aku yang mijetin kamu nanti!” pesan Kenzo. Lalu meminta Riella untuk mendekat lagi ke arahnya. Dia memberikan kecupan hangat di dahi Riella. Hanya sebentar, dia malu karena Eva masih menatap kegiatan mereka berdua.


“O, ya. Hampir lupa. Sampaikan pada pak Larmen untuk memanen matoa yang ada di kebun belakang,” ucan Kenzo.


Riella menyatukan alisnya, mencoba memahami ucapan suaminya. “Kamu punya pohon matoa, kenapa bergelantungan di pinggir jalan kaya sipanse!” makinya dengan raut kesal.


“Pengen saja, punya tetangga lebih nikmat,” ucapnya sambil tertawa renyah.


“Ya, bagus sih, asal jangan itu nya saja yang nikmat!” cibirnya lalu memanyunkan bibirnya. “Sudah sana pergi. Hati-hati jangan mampir ke rumah tetangga!” peringatnya sebelum jendela mobil Kenzo tertutup.


Kenzo kembali melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumahnya. Meninggalkan sang istri di rumah, berdiam diri di kantor lebih baik.


Setelah melihat mobil suaminya menghilang, Riella kembali mendekat ke arah Eva. Dia kembali memeluk erat tubuh sahabatnya. Meski terganggu dengan perutnya yang sudah membuncit.


“Aku sangat merindukanmu,” ucapnya sambil menggiring Eva masuk ke rumahnya.


“Aku juga, aku kesepian di Jakarta. Semua orang-orang pergi meninggalkan aku! Tidak kamu, tidak Chika, semua pergi, hanya tinggal aku sendiri di ibu kota.” Eva menggerutu tak jelas saat dia sudah duduk di ruang tamu Riella. Dia menelisik sekeliling rumah Riella yang tampak nyaman.


Sedangkan Riella tengah sibuk membuatkan minuman untuk sahabatnya. Setelah selesai ia mendekat, duduk di samping Eva.


“Kau masih berhubungan dengan Chika?” selidik Riella, bertanya tanpa ada niatan jahat lainnya.


“Yah, bagaimana pun kita pernah bersama-sama. Aku tidak sampai hati meninggalkannya sendiri.” Eva menjelaskan singkat. Riella mengangguk menyetujui.


“Yah, aku tidak masalah kok. Meski aku membencinya bukan berarti kamu harus ikut membencinya, karena dia tidak bersalah padamu! Hanya aku yang bermasalah.” Riella lalu memasukkan sepotong kue kacang ke dalam mulutnya. Menikmati bubuk kacang yang di olah sedemikian nikmat.


“Hmm … benar. Tapi kamu dengar nggak kabar dari kak Emil? Atau siapa tahu kamu masih kepo-kepoin kabarnya dia lewat akun sosmed nya, githu?” selidik Eva sambil menampilkan senyum tipis.


Riella menatap ke arah Eva sambil menikmati gerakan calon anaknya. “Nggak, ngapain juga kurang kerjaan banget. Mendingan kepoin akun suami.” Riella menyangkal tuduhan Eva. Karena selama ini tidak pernah melihat akun Emil, dia sengaja memblokir semua tentang dua manusia lucknut itu. Dan baru sekali tadi melihat foto Emil dan anaknya dan itu pun suaminya ada di sampingnya.


“Hmm sayang deh, kamu tahu nggak … kalau Chika pergi entah kemana?” tanya Eva, saat mengingat sahabatnya pergi setelah melahirkan anak pertamanya.


“Pergi?” tanya Riella. Dia tidak habis pikir bukannya mereka tengah dilanda kebahagian setelah kelahiran anak pertamanya.


“Iya. Chika kabur ntah dia berada di mana aku juga tidak tahu, ponsel dan segalanya susah untuk dihubungi. Dia meninggalkan bayinya dengan kak Emil.” Eva menceritakan lagi lebih detail tentang kondisi mantan tunangannya. Karena memang Chika pergi meninggalkan Emil setelah dia keluar dari rumah sakit entah apa alasan tepatnya dia tidak tahu, karena saat ia hendak menanyakan, wanita itu sudah tidak bisa lagi dihubungi.


“Yakin? Loe emang bahagia?” selidik Eva, menatap serius ke arah Riella.


“Bahagia dong! Kamu nggak lihat bukti cinta kami ini.” Riella menunjuk ke arah perutnya yang membulat. Memberitahu Eva, jika dia sudah bahagia, meski banyak hal yang ia sembunyikan. Dia merasa tidak perlu menceritakannya pada Eva, biarlah ini menjadi rahasianya dan Kenzo saja.


“Ya, syukurlah! Berarti doaku ikut dikabulkan!” ucap Eva, lalu menatap ke arah perut Riella. “Sudah berapa bulan sih, La?” imbuhnya penasaran.


“Baru jalan lima bulan. Nanti datang ya, acara tujuh bulanan rencana mau adain di Jakarta.” Riella tampak bersemangat saat mengatakan hal itu.


“Siap deh, buat sahabat gue yang katanya sudah move on dari mantan tunangannya.” Eva tersenyum jahil melirik ke arah Riella. Dia bersyukur Riella bisa keluar dari jeratan cinta Emil dan hidup bahagia dengan suaminya yang begitu mencintainya.


Mereka mengobrol sampai menjelang adzan Maghrib, melepas rindu sambil bercerita kesana kemari, bertukar cerita moment bahagia selama mereka tidak bertemu.


“Lalu? Kamu putus lagi dengan yang pengacara itu?” tanya Riella bergantian mengorek kehidupan Eva.


“Hmm masih ada banyak pria yang mengantri di belakang sana.” Eva menjelaskan. Dia memang terlalu sibuk dengan bisnis hingga membuat jarak dengan kekasihnya. Dan itulah yang membuat mereka untuk menjalani kehidupan masing-masing.


“Kamu tidur sini kan, Va?” tanya Riella memastikan.


“Nggaklah, aku balik ke hotel. Nggak enak sama suamimu. Kalau kamu lajang boleh deh aku menginap.” Eva menjelaskan dia juga merasa tidak nyaman jika nanti menganggu hubungan sahabatnya.


“Baiklah, meski aku masih merindukanmu. Tapi kita bisa bertemu lagi nanti di Jakarta.” Riella memeluk erat tubuh sahabatnya.


“Sudah lepas ah, itu jemputan gue datang!” kata Eva saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah sahabatnya.


“Hem, hati-hati ya. Makasih sudah mampir, meski kamu datang dengan tangan kosong!” cibir Riella. Lalu mengantar Eva sampai teras rumah, mengantar kepergian sahabatnya. Setelah mobil Eva pergi Riella kembali masuk ke dalam rumah.


Dia kembali merasakan kesepian saat ini. Apalagi Kenzo belum pulang kerumah. Tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu pulang sore. Riella lalu meraih ponselnya menanyakan keberadaan Kenzo.


“Apa pulangnya masih lama?” satu pesan Riella kirimkan pada suaminya. Lima menit menunggu dia tidak menerima balasan dari sang suami membuatnya mendengus kesal. Dia merasa kesepian malam ini. Aslan juga dibawa mertuany ke tempat ulang tahun cucu sahabatnya.


“Sebentar lagi, kenapa? Apa kamu ngidam sesuatu?” balasan masuk setelah menunggu tiga puluh menit.


Riella yang membaca pesan Kenzo tersenyum tipis, mulai memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak begitu dia inginkan.


“Pengin banget sih nggak, tapi aku mau es krim rasa vanilla.”


“Itu saja?” secepat dan sesingkat itu Kenzo menjawab pesan Riella. Dan Riella membalas singkat dengan mengirimkan emot jempol.


Setelah itu Riella hanya bisa menunggu suaminya pulang. Berharap Kenzo akan segera tiba di rumah. Riella mengusir kesepianya dengan menyalakan televisi melihat berita acara petang hri ini. Tapi tetap saja dia merasa bosan karena acara televisi hanya ada sinetron dan berita politik, dia pun mematikanya. Dia memilih untuk memejamkan mata sambil menunggu Kenzo tiba.


...----------------...


like banyak ya, aku usahain hari ini up lagi.