The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Masalah Kissmark



Budayakan menekan tanda like sebelum membaca👍🙏


♥️


“Kenapa? Apa kamu tidak suka jika aku pulang lebih cepat?” tanya Kenzo, berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mendekat ke arah Riella. Riella pun tersenyum ramah menyambut kedatangan Kenzo.


“Bukan tidak suka, tapi kaget saja, kan harusnya besok siang kamu baru kembali dari Singapura?” Riella masih bisa tersenyum ke arah Kenzo. Tanpa tahu apa yang lelaki itu rasakan saat ini.


“Yah, tapi aku tahu kamu pasti merindukanku. Jadi aku pulang lebih awal.” Kenzo lalu mondorong tubuh Riella, hingga kaki Riella menyentuh tepi ranjang. “Apa kamu mau mandi lebih dulu?” tawar Kenzo yang sudah menatap Riella.


“Nggak aku sudah mandi.” Riella menahan dada Kenzo yang semakin dekat dengannya, dia hampir terjatuh ke ranjang jika Kenzo tidak menarik pinggangnya.


“Apa kamu begitu merindukanku?” tanya Riella yang masih bisa tersenyum ramah, selesai mengatakan itu. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Kenzo yang lebih tinggi darinya.


Namun, tidak dengan Kenzo, matanya terlihat jelas, bukan kerinduan yang ia nikmati saat ini. Sesak di dadanya tidak bisa ia luapkan, saat melihat senyum istrinya, yang begitu bahagia saat mendapati dirinya. Padahal, rentetan pertanyaan sudah ia susun saat pesawatnya lepas landas. Ia menarik dagu Riella, tanpa aba-aba dan pemberitahuan ia melu*mat kasar bibir lembab Riella, tidak ada kelembutan yang bisa ia berikan untuk istrinya. Hanya ada nafsu yang ingin segera ia ledakkan.


Riella merasa janggal dengan perlakuan Kenzo kali ini. Tidak berperasaan dan penuh nafsu. “Ken!” panggil Riella setelah Kenzo memberinya jeda untuk bernafas. Tapi setelah berlangsung lima detik, Kenzo lebih keras lagi mendorong tubuhnya. Membuatnya benar-benar terhempas ke ranjang dengan dress yang masih utuh, dan menempel di tubuhnya.


“Kamu tahu, La. Hukuman apa yang pantas untukku? Maka hukumlah aku sekarang, tapi ku mohon hentikan perbuatanmu, La! Kamu istriku!” Kenzo berucap sambil berusaha menarik kasar baju yang Riella kenakan.


“Apa maksudmu, Ken?” tanya Riella yang tidak paham. Ia berusaha menahan tangan Kenzo yang hendak melepas pengait bra nya.


“Aku tahu. Aku berdosa padamu, masa lalu ku mungkin tidak bisa diterima oleh wanita mana pun. Dari aku pergi tanpa kabar, hingga statusku yang ternyata sudah pernah menikah. Tapi jangan menyiksaku seperti ini! Aku mencintaimu tulus, bukan main-main. Aku juga bisa terluka, jika kamu bersikap seperti ini.” Kenzo terus mengutarakan isi hatinya membuat Riella semakin bingung mencerna ucapannya.


“Ken! katakan saja apa maksudmu!” perintah Riella sedikit ketakutan, karena Kenzo menarik tangannya untuk ia cekal, dan diletakkan di atas kepalanya.


Tanpa berkata lagi Kenzo mengecup kasar leher Riella. Tidak peduli dengan kaki Riella yang berusaha untuk menendangnya supaya menjauh. Dia menganggap ini tidak salah, kalaupun harus mengambil hak nya sekarang. Hampir satu tahun dia menikah tapi tetap saja bagaikan bujang lapuk yang tenggelam dalam nafsunya yang tidak tersalurkan.


Kenzo mulai lagi mengecup kasar satiap lekuk leher Riella. Hatinya berdenyut perih saat melihat tanda merah di leher Riella yang ia tahu itu bukan yang ia tinggalkan. Kenzo berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. Dia lelaki cengeng, berhati kecil, kecuali dengan Riella dia mampu untuk memberikan hatinya yang besar, dia mampu bersabar untuk wanita yang ia cintai sepenuh hati.


Kenzo mulai melepas satu persatu pakaiannya sendiri, tanpa berpikir ulang, Kenzo melepaskan celana dalam Riella. Memasukkan mesin penghasil bibit dengan sekali hentakkan. Ia mengabaikan Riella yang tengah mengeluarkan air mata di bawah gerakan dan kukungannya. Ia ingin egois kali ini, memberikan nafkah batin seperti suami pada umumnya. Tanpa peduli rintihan dan keluh kesakitan dari bibir Riella.


Dengan nafas pendek dan debaran jantung yang semakin cepat, Kenzo terus melakukan gerakan maju mundur. Meluapkan rasa kesal dan emosinya. Hingga mesin penghasil bibit itu siap untuk mengeluarkan benih, Kenzo semakin menambah kekuatannya, bersamaan dengan denyutan yang mencekram erat miliknya, benih itu menyembur sempurna di ladang yang subur milik istrinya.


Kenzo lalu jatuh di samping Riella, mengatur nafas yang hampir saja terhenti saat merasakan nikmatnya surga dunia. Ia tersenyum senang, suatu kebanggaan karena ia berhasil melepas title perjakanya, dan dia persembahkan pada wanita yang ia cintai. Tidak peduli dia melihat darah atau tidak, yang ia pedulikan ia bisa memberikan apa yang terbaik darinya.


Sedangkan Riella hanya diam, masih dengan air mata yang terus mengalir, tanpa bisa protes apapun pada Kenzo. Karena ia tahu, seharusnya mereka melakukan ini dari dulu. Riella membelakangi tubuh Kenzo, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, karena kelakuan Kenzo tidak seperti hari-hari sebelumnya.


Kenzo menarik selimut, lalu menutupi tubuh Riella yang tidak tertutupi kain. Ia membawa Riella ke dalam pelukannya, sambil merapikan rambut Riella yang terasa lembab karena keringat. “Haruskah aku minta maaf karena melewati batas, La?” tanya Kenzo setelah berhasil mengendalikan emosinya.


“Maafkan, aku! Tidurlah, ini sudah malam!” Kenzo semakin erat memeluk Riella, dia tidak ingin kehilangan Riella untuk kedua kalinya, cukuplah wanita ini berada di sampingnya dengan atau tanpa cinta, dia akan mempertahankan Riella.


“Ken, apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak ada kelembutan saat kamu melakukannya?” tanya Riella yang penasaran, dengan Kenzo.


Dengan mata yang masih terpejam, Kenzo menjawab ucapan Riella, “Aku tidak tahu bagaimana melakukannya dengan lembut, karena ini adalah pengalaman pertama bagiku.”


“Bukan itu!” sahut Riella setelah diam beberapa detik.


Kenzo membuka matanya, menatap wajah Riella yang tepat di dekapannya. Lalu meletakkan tangannya di tengkuk leher Riella.


“Apa kamu bertemu mantanmu?”


Riella diam, tidak berani menatap Kenzo. Namun, saat ia hendak menjawab pertanyaan Kenzo, lelaki itu lebih dulu memotongnya.


“Tidak seharusnya aku mencampuri masa lalumu, tapi jika menyangkut ini ...” Kenzo menunjuk kissmark yang diberikan Emil. “Aku juga tidak rela jika milikku disentuh orang lain, La,” lanjutnya.


Tubuh Riella menegang, paham dengan apa yang Kenzo pikirkan. Ia khawatir jika Kenzo menuduhnya melakukan hal dewasa dengan Emil.


“Ken, ini tidak seperti yang ada di pikiranmu!” kata Riella mencoba menjelaskan.


“Sudah lupakan, tidurlah!” kata Kenzo yang tidak ingin membahas.


“Nggak aku belum bisa tidur jika kamu masih berprasangka buruk padaku, aku tidak melakukan apapun dengan lelaki brengs*ek itu, Ken. Aku memang bertemu dengannya, tapi kami tidak melakukan hal-hal di luar normal!”


“Jadi menurutmu tanda ini masih normal? Ini bukti!” bantah Kenzo.


“Ken! Dengarkan dulu penjelasanku!”


Tangan Kenzo terangkat meminta Riella untuk tidak melanjutkan pembahasan mengenai tanda kissmark.


“Ini terakhir kalinya kamu melakukan ini, La. Jika dia melakukan lagi, aku tidak akan mengampuninya. Aku diam bukan berarti menerima ini! Tidurlah!” pesan Kenzo, lalu kembali memeluk tubuh Riella, meminta Riella untuk segera memejamkan matanya.


“Ken, aku minta maaf padamu. Tapi bukan berarti, aku sudah melakukannya dengan Emil. Kamu juga harus percaya padaku!” kata Riella sebelum ia terlelap satu selimut dengan Kenzo.


🚑


🚑