
Hari kedua tanpa Kenzo, Riella merasakan kesepian. Biasanya setiap pagi ia disambut dengan sapaan selamat pagi dari Kenzo. Dan bulan ini tampak beda, tanpa kehadiran Kenzo, Riella benar-benar merasa kesepian. Seperti kemarin, Riella mengambil ponsel yang ada di meja, menatap layar membaca pesan dari Kenzo. Tapi pagi ini hanya centang satu saja, saat membalas pesan yang ia kirimkan pada Kenzo.
Kemarin Riella memilih untuk pulang dan membatalkan pertemuannya dengan Tiffani. Dan siang ini, dia baru bisa menemui rekan sekaligus orang kepercayaannya itu. Mereka berdua memang dekat, sejak Riella mulai memimpin Ramones Hospital. Tiffani yang sudah duduk di kursi menyambut Riella dengan wajah sumringah, ia lalu duduk berhadapan dengan Riella melaporkan pekerjaan yang sudah berhasil ia tangani.
“Fan … sepertinya bulan depan kamu laporannya lewat online saja deh, aku percaya sama kamu! Kalau kamu nggak paham, bisa tanya sama paman. Aku nggak yakin bulan depan bisa ke Jakarta karena di sana akan ada acara,” jelas Riella sambil meneliti pekerjaan Tiffani.
“Apa perlu aku datang ke Banjarmasin?” tanya Tiffani meletakkan minuman untuk Riella.
“Nggak perlu, kamu bisa kirim berkasnya melalui email, sedangkan lainnya kita bisa bicarakan melalui sambungan telepon. Ada dokter baru ya?” jelas Riella, yang dijawab anggukan oleh Tiffani.
“Oke aku akan melakukannya. La ada yang aku tanyakan, tapi ….” Tiffani tampak ragu ingin membicarakan apa yang ada di pikirannya saat ini, dia mengamati wajah Riella yang tidak terlalu menanggapinya.
“Kenapa?” tanya Riella menoleh ke arah Tiffani, meminta gadis itu untuk melanjutkan percakapan.
“Ah … nggak jadi, biar jadi rahasiaku saja, takut kamu kepikiran nanti,” jawab Tiffani, sambil mengibaskan tangannya.
“Kenapa katakan saja! Jangan buat aku penasaran deh, Fan … kamu soalnya sudah ingin mengatakannya,” ucap Riella sambil memberikan tanda tangan di file yang ia pegang.
“Baiklah, tapi jangan berpikiran macam-macam dulu ya?!”
“Hem ….” Riella menyahut acuh masih fokus dengan filenya.
“Kamu tahu nggak suamimu menjalani teraphy di Singapura?”
Riella yang mendengar ucapan Tiffani langsung menghentikan aktivitasnya, memperhatikan wajah Tiffani, lekat. “Iya, dia memang sering ke Singapura. Tapi aku tidak begitu paham apa yang ia lakukan. Eh … tunggu, tunggu! Tapi dia kemarin bilang ingin bertemu mantan mertuanya.” Riella menjawab ketika teringat ucapan Kenzo.
“Ow, gitu ya … tapi aku lihat dia rumah sakit, aku sempat mengikutinya, tapi aku kehilangan jejak, karena waktu itu aku dihentikan temanku. Sayang sekali!” Tiffani membuang nafasnya kasar karena merasa kecewa, saat tidak bisa lagi menemukan Kenzo.
“Iya dia sering ke sana, tapi aku juga tidak paham apa yang ia lakukan. Sudahlah kita focus dengan pekerjaan saja. Biar dia aku yang mengurus, aku akan bertanya ketika nanti dia pulang.” Riella memotong pembicaraan tentang suaminya.
“Hemmm, tapi dia tidak bilang kalau dia punya penyakit serius, kan?” tanya Tiffani yang penasaran.
Riella tersenyum ke arah Tiffani, dan berkata, “ada sepertinya ... diabetes hahaha ...” Sahut Riella dengan suasana tawa dari mereka berdua yang memenuhi ruang rapat.
“Amit-amit deh, jangan sampai kaya gitu beneran ya!Nggak puas nanti kamu!” kata Tiffani memukul lengan Riella.
Riella semakin tertawa keras, saat mendengar perkataan Tiffani. “Umur Kenzo masih muda, jadi nggak mungkin juga lemes kaya terong bakar.”
Ganti Tiffani tertawa membayangkan wujud terong bakar yang diucapkan Riella. “Ya, pasti punya bang Kenzo seperti singkong bakar, pasti itu!” goda Tiffani.
“Hust … diem lo ya! Mulai deh kalau bicara mesum langsung nyambung.” tegur Riella, meminta Tiffani untuk tidak melanjutkan obrolannya.
“Habisnya kamu yang mulai!”
Riella lalu melambaikan tangannya meminta Tiffani untuk mendekat. Bawahannya itu pun menurut, mendekatkan telinganya hampir menempel di bibir Riella. “Bagaimana dengan milik Bang Jamil?” tanya Riella penasaran dengan ukuran punya pacar Tiffani.
“Gila kamu! Ogah gue jawab, takut lo ambil!” ujar Tiffani lalu meninggalkan ruang rapat. Menjauhi Riella yang tiba-tiba berotak mesum.
Setelah urusannya dengan Tiffani selesai, Riella berniat untuk membeli pesanan Kaila. Sebenarnya ia sudah menghubungi Eva untuk menemaninya mencari hadiah untuk Kaila. Namun, wanita itu tengah berada di Bali, bertemu dengan kliennya.
Tiba di pusat pembelanjaan terkenal di Jakarta. Riella memasuki satu persatu gerai yang ada di mall tersebut. Mencari barang yang di pesan Kaila, sekalian membelikan oleh-oleh untuk mertuanya. Riella pun memasuki toko mainan yang ada di gerai baby shop, matanya menangkap pakaian bayi yang lucu-lucu. Ia lalu tertarik untuk mendekatinya, sambil berjalan pelan ke arah tempat mainan yang tadi penjaga toko katakan.
Tiba di tempat tujuan, Riella mulai memilih sesuai permintaan Kaila, sepasang boneka Barbie dengan rambut hitam legam yang sama dengan warna rambut Kaila, begitulah pesan gadis itu. Tidak butuh waktu lama Riella segera memilih, dan menyerahkan boneka itu pada penjaga toko.
“Yang ini saja, Mbak. Bungkus yang bagus ya!” perintah Riella menyerahkan satu box mainan yang menjadi kesukaan Kaila. Pelayan itu segera menjalankan perintah Riella. Sedangkan Riella masih berkeliling memutari baby shop. Mencari sesuatu yang bisa ia bayar dan bawa pulang. Tapi tidak ia dapatkan, karena di sana hanya ada perlengkapan bayi dan anak.
Bibirnya tersenyum kecut ketika mendapati wanita yang ia benci ada di sepuluh meter darinya, dengan perut membuncit, diperkirakan tangah hamil trisemester kedua dan berjalan-jalan sendiri memutari rak demi rak yang ada baby shop. Saat ia hendak menghindari pertemuannya dengan Chika, wanita itu justru memanggil namanya. Riella menoleh sebentar, tapi kali ini berbeda, ada lelaki di sampingnya yang tengah menunduk takut saat melihatnya.
“La, bagaimana kabarmu?” teriak wanita yang berada di belakang tubuh Riella.
Riella tidak ingin menjawab dan melanjutkan langkahnya tidak berniat menanggapi pertanyaan Chika, ia mendekat ke arah pelayan yang tadi ia perintah.
“La...” teriak Chika mengulangi panggilannya, berjalan mendekat ke arah Riella.
“Alhamdulillh sehat,” jawab Riella tanpa menoleh sedikit pun ke arah Chika saat wanita itu berada di samping Chika. Ia lalu berlenggang pergi membiarkan dua manusia lucknut itu berada di sana.
Namun, sayangnya Chika terus mengejar Riella yang berlari kecil semakin menjauh darinya. Riella pun tidak ingin menanggapi panggilan Chika. Hingga wanita yang tengah hamil itu terjatuh dan meringis kesakitan.
Jangan La, jangan tolongin dia! Dia wanita jahat! Please jangan menoleh, trus berjalan pop. Ucap Riella dalam hati menolak niatnya untuk menolong Chika saat mendengar rintihan mantan sahabatnya itu. Tapi ketika ia tiba di pintu masuk baby shop ia menoleh ke arah Chika yang tengah berada di gendongan Emil. Keduanya tampak panik karena Chika mengalami pendarahan. Riella berusaha lagi untuk tidak peduli dengannya, dia ingin segera pulang dan mendekam di kamarnya hingga Kenzo pulang. Supaya tidak bertemu dengan mereka berdua.
Saat Riella mengemudikan mobilnya pulang ke rumah, ia tampak kacau memikirkan kondisi Chika saat ini. Riella berusaha untuk tidak peduli, masa bodoh dengan kondisi Chika. Dia ingin egois kali ini. Mementingkan perasaanya di atas kewajibannya seorang dokter.
Riella menutup pintu mobilnya kasar, langsung berlari ke dalam rumah, dan naik ke lantai atas masuk ke kamarnya. Pintu pun tak luput dari luapan emosinya, ia kembali menyandarkan kepalanya di daun pintu, berteriak dalam hati, sambil mendekap lengannya erat. Membayangkan kelakuan Emil yang biadab di tengah istrinya yang sedang hamil, dia justru merayu padanya untuk kembali.
Saat Riella sadar dengan aroma parfum ruangannya, ia segera menghapus air matanya. Menyadari apa yang ia tangis itu lelaki lain. Ia berdiri dari duduknya sekarang. Mencari keberadaan lelaki yang mungkin bersembunyi di kegelapan kamarnya.
“Ken ….” panggil Riella berusaha menduga keberadaan Kenzo.
“Kenzo … apa kamu sudah pulang?” tanya Riella lagi berjalan mencari saklar lampu kamarnya. Lampu menyala menyinari ruangan, hingga tampak tubuh Kenzo yang duduk di kursi sofa.
“Kau pulang? kenapa tidak memberi kabar padaku?” tanya Riella menatap Kenzo dengan mata yang masih terlihat sembab.
“Kenapa? Apa kamu tidak suka jika aku pulang lebih cepat?” tanya Kenzo, berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mendekat ke arah Riella. Riella pun tersenyum ramah menyambut kedatangan Kenzo.
🚑
🚑
🚑
VOTEnya ya jangan lupa! Terima Kasih.