The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Pulang



Pasti pada bingung ya, kenapa ada tulisannya end? Ini nggak end kok, cuma Ella baru galau karena level karyanya gak mau naik. Jadi Ella kasih end siapa tahu memancing buat naik level. Ella tetap akan nuntasin cerita ini setuntas-tuntasnya. Tapi juga timbal baliknya ya, beri dukungna melalui vote, tinggal hari ini dan besok, biarkan cerita ini masuk 20 besar. Sayang votenya dah banyak yang masuk🤣. Terima kasih.


♥️


♥️


Kondisi kesehatan Kenzo sudah mulai membaik, selepas dua hari yang lalu keluar dari rumah sakit. Dan siang ini mereka berencana untuk pulang ke Banjarmasin. Riella akhirnya mau mengalah, mengikuti suaminya untuk pulang ke sana terlebih dahulu.


Drama terjadi ketika mereka hendak masuk ke dalam kabin pesawat. Kenzo seperti terserang rasa trauma mendalam saat hendak tiba di pintu masuk pesawat. Ia menahan tangan Riella, layaknya anak kecil yang diajak masuk ke rumah hantu.


“Masuklah, Bee! Tidak akan terjadi hal buruk saat kita di atas nanti!” Riella meraih tangan Kenzo, mengusap lengan kekar suaminya, membantu merendam rasa khawatir Kenzo.


“Terjadi pun juga tak apa, kalaupun aku mati, kita mati bersama.” balas Kenzo acuh, memasukkan tangannya ke kantung celana.


“Enak saja! Aku masih ingin hidup, banyak keinginanku yang belum tercapai. Belum juga jadi dokter spesialis masa harus mati konyol.” Riella lalu memberikan kertas boarding pass nya kepada pramugari. Meminta pramugari untuk mencari nomor tempat duduk yang tertera di tiket pesawatnya.


Meski pulang dengan pesawat komersil, tapi Alby memesankan tiket kelas satu untuk mereka berdua. Jadi, mereka bisa duduk dengan nyaman, saat berada di pesawat. Tangan Riella tidak terlepas ketika mereka duduk berdampingan, saling terpaut dan mengenggam erat. Kenzo teringat kejadian satu minggu yang lalu, ketika ia berdebat dengan lelaki bernama sama dengannya. Berulang kali ia menghilangkan perasaan cemas sambil memejamkan mata.


“Nih, pakai ini!” kata Riella memberikan kain penutup mata pada Kenzo. Kenzo pun menerima, tapi ia justru memakaikan pada Riella.


“Buat kamu, Bee.” tolak Riella, ketika Kenzo menutup matanya dengan kain tebal berbentuk kaca mata.


“Nggak, buat kamu saja. Biar nggak bisa lihat artis ganteng di depan sana!” bisik Kenzo di samping telinga Riella.


“Heh! Siapa? Ada siapa memangnya?” tanya Riella penasaran, ia berusaha menurunkan penutup matanya.


“Bukan siapa-siapa hanya Kenzo Abyan di sini yang paling tampan! Buat kamu saja, aku sudah lebih baik, tadi cuma sedikit trauma,” jelas Kenzo menutup kembali mata Riella lalu mengecup singkat pipi Riella yang sedikit berwarna pink karena polesan blush on.


Pesawat mulai berjalan pelan, Kenzo mulai memeriksa seatbelt nya lagi memastikan semua aman terkendali, termasuk juga punya Riella tak luput dari pemeriksaanya.


Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau Ridhoi. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga. Doa Kenzo dalam hati ia memejamkan matanya ketika pesawat yang mereka tumpangi mulai meninggalkan daratan. Tidak peduli cengkraman tangannya semakin erat di tangan Riella. Ia tidak ingin melepaskan genggaman tangannya.


“Kamu tidur, Bee?” tanya Riella yang kini membuka penutup matanya.


“Nggak. Kamu mau tidur? Biar kursinya aku betulkan!” jawab Kenzo.


“Nggak, lagian juga nggak akan lama perjalanannya, aku mau lihat awan saja mumpung cerah,” kata Riella sambil menarik penutup jendela, melihat pemandangan yang seperti bulu domba menghiasi birunya langit siang ini.


“Jika aku sudah mencintaimu, aku akan menulis di sini I love you Kenzo from 30000 ft,” canda Riella sambil membuat tulisan di jendela dengan apa yang tadi ia ucapkan.


“Kamu ternyata bisa kepikiran kaya gitu ya? Seorang Riella yang cantiknya kebangetan, judesnya apalagi, tapi bisa kepikiran sweet kaya gitu.” goda Kenzo membuat kepercayaan diri Riella mulai luntur.


“Iya, tapi nanti setelah aku bisa mencintaimu,” kata Riella sambil tersenyum ke arah Kenzo lalu kembali menatap awan putih dari balik jendela.


“I love you Riella from 32000 ft.” Tulis Kenzo di atas layar ponselnya memperlihatkan ke arah mata Riella


“Kalau kamu seperti ini terus, tidak akan lama kamu pasti bisa mencintaiku, tinggal kamu sadar atau tidak!” kata Kenzo berbisik di depan wajah Riella. Setelah itu Riella mulai memejamkan mata, karena rasa kantuk semakin terasa saat pendingin udara mengenai wajahnya. Ia terlelap dengan lengan Kenzo yang ia gunakan sebagai bantal.


***


Hampir satu jam tiga puluh menit mereka akhirnya tiba di Banjarmasin. Mereka berdua sudah ditunggu Alby yang ada di depan pintu kedatangan.


“Selamat datang kembali, Bang!” kata Alby merentangkan kedua tangannya memeluk Kenzo, “aku pikir aku tidak bisa menemui Abang lagi!” lanjut Alby mengurai pelukannya, beralih menatap wajah Kenzo.


“Enak saja, siapa yang akan menikmati hasil kebun sawit ku nanti jika aku tidak kembali,” sahut Kenzo melirik ke arah Riella.


“Gimana kakak ipar? Seperti naik roll coaster kan? Kenzo memang suka bikin tegang tapi dia Abangku yang paling baik!” kata Alby beralih menatap Riella.


Kenzo hanya mencibirkan bibirnya, "jelas hanya dia adikku satu-satunya," sahut Kenzo, saat mendengar ucapan Alby. Ia lalu segera berjalan ke arah mobil yang tadi dibawa Alby.


“Mama kenapa sih, Al? Katanya punya kejutan untuk kita?” tanya Kenzo pada Alby, saat mobil mereka melaju pelan ke arah rumah.


“Abang lihat saja sendiri! Bukan hal buruk kok, Bang. Tidak perlu khawatir!” jawab Alby memberitahu Kenzo.


“Ya,” sahut Kenzo lalu menatap kursi penumpang bagian belakang menatap Riella.


“Nee, mau ke rumah langsung atau mau ke panti dulu?” tanya Kenzo.


“Pulang dulu saja, gimana? Kita bersih-bersih badan dulu,” kata Riella. Kenzo mengangguk ke arah spion kecil di depannya melihat Riella dari pantulan kaca.


Tidak butuh lama mobil sudah masuk ke daerah perumahan rumah Kenzo. Rumah yang luas dan asri itu menyambut kedatangan mereka.


“Terima kasih Alby, aku mau mengundangmu makan malam, tapi aku tidak bisa memasak, jadi kapan-kapan saja, ya?” kata Riella di balik jendela samping kemudi.


“Iya, aman sudah, Kakak ipar.” Alby segera meninggalkan rumah Kenzo, setelah menurunkan beberapa barang milik mereka berdua.


“Selamat datang kembali, Nee. Kita mulai sungguh-sungguh kisah kita mulai hari ini. Semoga istriku ini bisa melupakan lelaki yang sudah membuatnya terluka. Dan menggantinya dengan diriku.” Kata Kenzo sambil membuka pintu utama rumahnya.


Saat tiba di rumah, hari sudah sore. Riella segera membersihkan diri masuk ke dalam kamar, karena merasa lelah setelah perjalanan yang lumayan panjang. Saat tiba di kamar Riella dibuat terkejut dengan adanya barang-barang baru di kamar mereka berdua.


“Bee ...” teriak Riella memanggil suaminya.


“Yaa ...” sahut Kenzo dari arah dapur, ia hampir saja tersedak air putih, saat mendengar teriakan Riella bagaikan Guntur lokal menyerang rumah kayunya.


“Kenapa, Nee?” tanya Kenzo, saat sudah berada di belakang tubuh Riella.


“Apa mama menginginkan aku untuk segera hamil? Kenapa banyak perlengkapan bayi di sini?!” tanya Riella seperti tidak menyukai adanya box bayi di kamarnya.


“Tunggu biar aku tanyakan dulu pada Mama. Tenangkan dulu dirimu, jangan terlalu panik. Mungkin saja ada anak panti baru yang mereka dapatkan!” jelas Kenzo ketika mendapati wajah Riella terlihat kesal. Baru saja Kenzo hendak menelepon mamanya. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya, suara mamanya pun terdengar mendekat ke arahnya, diiringi suara Kaila dan Lintang yang menyahut suara Nindi.