The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Perasaan Bersalah



Setelah kepergian Erik, Kenzo masih terdiam, ia berpikir cukup lama di kursi meja makan. Sampai akhirnya ia menyadari dengan ucapan Erik sebelum mertuanya itu meninggalkan rumahnya. Berulang kali ia menggosok hidungnya yang tidak gatal, matanya terpejam dengan nafas naik perlahan, seolah dia tengah mengatur perasaan hatinya yang kacau.


Kenzo bergegas mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Dia tidak bisa duduk di sini, dia harus melakukan sesuatu, sebelum Erik benar-benar membawa Riella pergi darinya. Dia tidak mengharapkan perpisahan yang terjadi. Dia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan. Dia pasti menerima siapapun ayah biologis dari bayi Riella. Hanya saja dia butuh waktu, untuk menerima kenyataan itu.


Mobil Kenzo berhenti sempurna di area parkir rumah sakit. Dia masih berdiam diri di balik kemudi, menenangkan hatinya, serta mengumpulkan keberanian untuk menghadapi kenyataan dan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kenzo mengambil ponsel dari kantung celananya, mengabari Nindi bahwa, Riella tengah dirawat di rumah sakit.


Nindi syok dengan kabar yang diberikan Kenzo, dia bilang akan ke rumah sakit setelah suaminya pulang. Mendengar itu Kenzo segera menutup panggilannya, ia segera keluar dari mobil, berjalan menuju meja informasi menanyakan letak kamar Riella.


Setelah mendapatkan nomor kamar Riella, ia berjalan menuju lorong rumah sakit, langkahnya terasa berat. Berulangkali Kenzo berhenti, bersandar di dinding lorong sambil memejamkan mata. Perasaan bersalah mulai menggrogoti hatinya. Bayangan kelakuannya yang mengabaikan Riella lewat begitu saja. Bahkan, di usia kehamilan Riella yang sudah empat bulan, dia hanya sekali saja mengantar Riella ke dokter kandungan.


Saat tiba di ruangan tempat Riella dirawat, Kenzo dengan pelan memutar handle pintu. Tekadnya sudah bulat, apapun yang akan terjadi dia harus menerima semua akibat dari perbuatannya.


Semua mata tertuju ke arah Kenzo saat dia membuka pintu. Kenzo berusaha menampilkan senyum ramah ke arah mertuanya. Di sana terlihat Ella tengah menyuapi Riella. Istrinya itu tampak pucat, ia juga baru menyadari jika tubuh Riella semakin kurus. Dia menggerutu dalam hati, benar yang diucapkan Erik, dia sudah kelewatan karena mengabaikan Riella.


Dengan perasaan kacau Kenzo melangkah mendekat ke arah bed yang ditempati Riella. Tidak ada yang bersuara di sana saat ia masuk ke kamar. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Sedangkan Ella yang tidak tahu menahu hanya bisa bersikap ramah pada Kenzo.


“Mana mamamu, Ken?” tanya nya sambil memberi minuman kaleng pada Kenzo.


“Ada di rumah, Ma. Bentar lagi juga datang.” Kenzo menjawab dengan santai. Dia tidak berani menatap ke arah Riella yang duduk bersandar di bed.


“Biar Kenzo yang menggantikan, Ma.” Kenzo mencoba mengambil posisi Ella yang tengah menyuapi istrinya.


Ella tertawa kecil, “nggak perlu, Mama juga kangen menyuapi Riella. Duduk dan istirahatlah! Kamu pasti sudah lelah mengurusi Riella selama ini. Dia pasti minta aneh-aneh saat hamil muda. Aku dulu parah saat hamil Riella, aku yakin Riella menuruni masa ngidamku dulu,” Ella lalu menyodorkan sendoknya mendekat ke bibir Riella. "Itu terbukti Papanya dulu kebingungan mencarikan rumput laut untuk Riella!" Ella tersenyum penuh arti ke arah suaminya, mengingat perjuangan Erik yang sebenarnya lelaki itulah yang merasakan ngidam.


Dan itu membuat Kenzo semakin merasa bersalah pada istrinya, melihat kedua orangtua Riella begitu menyanyangi istrinya, dan dia justru menelantarkan Riella hampir empat bulan lamanya.


Erik hanya mengawasi perubahan mata Kenzo. Dia sedikit mengangkat ujung bibirnya saat melihat raut wajah Kenzo yang tampak bersalah.


“Sudah, Ma. Riella sudah kenyang.” Riella menolak ketika Ella kembali mengarahkan sendok ke depan mulutnya.


“Eh. Sekali lagi ini tinggal satu, nggak baik menyisakan makanan!” tegur Ella yang menahan tangannya di depan bibir Riella.


“Tapi Riella sudah kenyang, Ma. Riella tiba-tiba mual.” Riella tetap menolak sambil menutup mulutnya.


Erik yang mendengar keluhan Riella, segera berjalan ke arah kamar mandi, mengambil baskom untuk menampung cairan yang akan dikeluarkan Riella.


Dan Kenzo yang tidak tahu apa-apa hanya melihat pergerakan mereka berdua. Dia memang tidak berpengalaman tentang hal ini. Dan itu membuatnya semakin terlihat seperti suami terburuk sedunia.


Erik terus memengang baskom untuk menampung muntahan Riella dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyibakkan rambut Riella yang panjang. Terlihat sekali jika rambut anaknya itu tidak terawat, karena ujung-ujung tampak merah dan bercabang.


“Cepatlah sembuh, habis ini kita pulang ke Jakarta,” ucap Erik sambil menepuk lembut punggung Riella, di saat anaknya itu tengah menikmati rasa mual yang terus menggelitik perutnya. Riella tidak bisa menjawab maupun menanggapi ucapan Erik.


“Sudah, Pa. Sepertinya sudah tidak ingin muntah lagi.” Riella terlihat lemas setelah mengeluarkan cairan dari dalam perutnya. Ia memejamkan mata, menghadapkan wajahnya ke arah langit langit kamar.


Erik yang mendengar itu segera menjauhkan baskom di tangannya. Dan membuangnya ke kamar mandi.


“Riella mau tidur, ngantuk!” ucap Riella dengan suara manja. Dia sama sekali tidak menganggap kehadiran Kenzo di sana.


“Eh, minum obat mu dulu!” peringat Erik yang sudah kembali dari kamar mandi.


“Nanti Pa, Riella benar-benar mengantuk,” ucap Riella sambil merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut yang tadi hanya menutup kakinya.


“Eh, kamu nggak kangen suamimu? Dia baru datang bukanya disambut malah kamu cuekin!” peringat Ella yang tidak tahu dengan masalah mereka.


“Sudah yuk, Yang! Biarkan Kenzo yang menjaga Riella. Aku juga butuh istirahat.” Erik memijit kepalanya sambil memejamkan mata, dia juga pusing memikirkan masalah Riella. Biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri. Yang penting keputusannya untuk membawa pulang Riella sudah bulat.


“Mas, balik dulu saja ke hotel. Biarkan aku dan Kenzo yang menjaga Riella. Mas kan sudah menjaga Riella semalaman,” kata Ella yang tidak ingin jauh dari anaknya.


“Kamu ikut juga, dong! Kita juga belum memberi kabar si kembar,” ajak Erik, “kita biarkan mereka berdua di sini.” Erik menarik lembut tangan Ella, memberikan ruang khusus pada Kenzo untuk mengucapkan salam perpisahan pada Riella.


“Ih, kamu ini, Yang!” Ella akhirnya menurut dia menitipkan Riella pada Kenzo, tanpa merasa curiga dengan mereka raut wajah keduanya.


Setelah mereka berdua pergi, Kenzo berpindah ke kursi yang tadi di tempati Ella. Dia belum angkat bicara, dia hanya menatap mata Riella yang terpejam. Bibirnya sungguh tidak bisa digerakkan, mendadak bisu, bingung akan mengatakan apa. Sepertinya kata maaf saja tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bersalah yang saat ini ia rasakan.


Hampir tiga puluh menit mereka terdiam, Kenzo seakan tidak jenuh menatap wajah Riella dengan mata beningnya. Istrinya itu tidak bergerak sama sekali, benar-benar seperti orang yang sudah tertidur pulas, nafasnya teratur dan tenang. Dia takut mengajak bicara Riella. Kenzo akhirnya memutuskan untuk menunggu, sampai istrinya terbangun.


Seperti tidak puas sedari tadi mengamati wajah Riella yang cantik, dia terus memandang wajah wanita yang ia cintai, dan ia rindukan. Sesekali beralih ke arah perut Riella yang sedikit menonjol. Hatinya mengusik untuk mengelus perut Riella, tapi fisik Kenzo menolak, ia takut. Takut ditolak oleh Riella.


“Kamu benar-benar tidur ya?” tanya Kenzo dengan suara lembut, tapi Riella sama sekali tidak bergerak dari posisinya. “Papa bilang, dia mau membawamu pergi ke Jakarta.” Kenzo memberi jeda kalimatnya. “Jujur aku bingung harus melakukan apa, aku tidak bisa kehilangan kamu.”


...----------------...


TUTORIAL VOTE DAN HADIAH, READERS HARUS UPGRADE DULU APLIKASI NT/MT VERSI TERBARU. JIKA TIDAK VOTE AKAN TERBUANG SIA-SIA.😉


1. Langkah pertama



2. Langkah kedua



TERIMA KASIH SEMOGA BERMANFAAT.