The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Dokter Mesum



Seperti mengikuti ke mana arus sungai akan membawanya bermuara. Berhenti di tengah tenangnya ombak yang diam-diam akan menghanyutkannya. Begitulah yang dialami Riella saat ini. Menyerahkan semuanya pada Sang Pencipta kehidupan selanjutnya yang harus ia jalani.


Persiapan pernikahan sudah hampir separuhnya rampung. Sudah beberapa kali Erik meminta anak gadisnya untuk segera mengambil cuti meski pesta pernikahan masih satu bulan lagi. Tapi Riella masih tetap menolaknya, dia ingin segera menyelesaikan tugasnya, selain itu, alasan spesifiknya supaya dia bisa segera mengambil pendidikan yang lebih tinggi lagi.


Saat ini, Riella tengah terjaga di ruang praktek yang ada di rumah sakit, dia sudah selesai bertugas malam ini. Dan pasien yang tadi berada di ruang UGD juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Hubungannya dengan Emil masih terlihat baik-baik saja, sesekali mereka pergi untuk makan malam atau makan siang bersama. Namun, beberapa hari ini Emil semakin sibuk dengan tugas-tugas yang diberikan oleh pemilik kantor tempat ia bekerja. Meski masih sering bertukar kabar, tapi mereka kesulitan untuk bertemu.


Dering ponsel Riella terdengar nyaring memenuhi ruangannya, ia mengerutkan dahi saat melihat siapa yang menghubungi nomornya kali ini. Tapi secepat kilat ia menerima panggilan rekannya tersebut, tidak ingin mengabaikan rekan seperjuangannya.


Pria itu bersuara merdu seperti suara penyanyi Ari Lasso mantan vocalis Dewa 19. Itulah julukannya ketika mereka masih duduk di salah satu ruangan saat menempuh pendidikan bersama. Pria tampan yang masih betah menjomblo seumur hidupnya, baginya perempuan adalah pembawa masalah. Bahkan sempat di juluki pria gemulai oleh rekan-rekan seangkatannya.


“Selamat malam, dokter mesum,” candanya menjawab sapaan lelaki di ujung telepon. Ia tergelak mendengar elakkan dari dokter Pamuji.


“Apaan sih, kamu. Mesum-mesum! Mencoret reputasiku!” serunya terdengar kesal.


“Hahaha, iya dokter Pampam, iya calon dokter kandungan yang tampan sejagad Kalibata.” Riella menggunakan nama gelar dari rekan dokter yang tengah praktek di tempat lain. Dia lalu terkekeh dengan omelan salah satu dokter sejawatnya.


“Ada apa kamu menghubungiku?” tanya Riella penasaran, merasa heran, karena selama ini mereka jarang bertukar kabar.


“Apa kamu masih berpacaran dengan Caesar?”


“Iya, aku masih dengannya. Tenang saja satu bulan lagi aku akan mengirimkan undangan pernikahan vvip untukmu, aku tulis namamu dengan huruf capital dr. Pamuji Waluyo calon dokter kandungan terbaik di kota ini,” ledeknya menjawab pertanyaan lelaki di seberang telepon.


“Ya, aku tunggu. Semoga kurirmu tidak salah alamat.” Pamuji lalu meminta Riella untuk menarik nafas. Karena dia akan mengatakan hal yang kurang baik menurutnya.


Riella yang mendengar itu turut mengikuti intruksi lelaki di ujung telepon, dia dibuat kesal dengan teka-teki yang dibuat Pampam di seberang telepon sana. Karena lelaki itu tidak segera mengatakan kabar yang akan dia sampaikan.


“Dasar! Langsung ngomong aja, kenapa sih!” gerutunya, namun dengan cepat, akhirnya Pampam mengatakan apa yang ada di pikirnnya. Riella mendengarkan ucapan dari seberang telepon, dia membuang nafas pelan sambil membuat lengkungan bibirnya, dahinya berkerut tidak percaya dengan ucapan lelaki di ujung telepon.


“Kamu salah lihat kali, Pam.” Sergahnya membela calon suaminya, “aku masih sering bertemu dengannya, kami kemarin juga selesai bertemu, jadi mana mungkin dia ke rumah sakit tempatmu praktek. Mendingan di sini yang pasti free.”


"Nggak ada untungnya buatku membohongimu, Gadis Bodoh!"


“Ya, palingan kamu cuma iseng aja mengerjaiku. Kamu pasti masih seperti dulu, kan. Yang suka menarik bra wanita di depanmu!” ujar Riella mengalihkan pembicaraan pamuji dengan topic lain. Namun, pria di ujung telepon tidak membahas memori buruk yang Riella katakan padanya. Baginya masa lalu buruk itu harus dilupakan saja, bukan untuk disimpan dan menjadi kenangan.


“Nggak percaya banget, jadi cewek. Mataku ku masih waras ya! jadi meski kamu hanya membawanya beberapa kali aku yakin masih ingat dengan perawakan tubuhnya.”


Riella tidak menjawab ucapan Pampam, dia lebih mEmilih diam mencerna ucapan rekannya.


“Ya sudah aku matikan saja. Percuma kalau sudah namanya cinta mati, mau dislingkuhi berapakali pun tetap saja masih cinta.”


“Nah, itu tahu. Calon suamiku tidak akan berani melakukan hal itu. Sudah aku tutup ya, aku punya banyak urusan, jadi nggak bisa menanggapi obrolan recehmu ini.” setelah itu Riella mengakhiri panggilanya dengan pamuji. Beralih menatap ponselnya, memperhatikan dengan lekat foto yang dijadikan layar depan ponselnya. Membelai bagian wajah lelakinya dengan lembut seolah lelaki itu benar ada di depannya.


“Ngaco tahu nggak Kak, nggak mungkin kan, untuk apa juga kamu ke rumah sakit Pampam dengan wanita lain? Dasarnya Pampam saja yang kurang kerjaan,” celotehnya bermonolog sendiri, tidak ingin menanggapi aduan dari Pampam. Setelahnya Riella segera mencari nomor telepon Emil, untuk melakukan panggilan. Satu kali tidak ada jawaban dari pemilik telepon, hingga percobaan panggilannya yang ke 5 kali, terdengar suara lelaki yang tadi Pampam bicarakan.


“Lagi di mana?” tanya Riella tanpa perbincangan basa-basi. Riella mendengarkan jawaban dari Emil yang mengatakan jika dia tengah lembur, berada di kantor sahabatnya.


“Emmm … gitu ya? Nggak jadi ketemuan dong?”


“Iya maaf.” Terdengar jawaban singkat dari Emil.


“Baiklah, besok saja. Kita makan siang bareng. Aku malam ini juga nggak akan pulang ke rumah, kok. Aku lelah untuk menyetir jadi lebih baik aku tidur di rumah sakit.” Riella berucap setelah mendengar pertanyaan Emil.


Setelah itu Riella segera membereskan berkas yang ada di mejanya, ia segera beranjak dari tempat duduk, berjalan menuju salah satu ruangan paling tinggi di gedung rumah sakit yang kini sudah berada di bawah kekuasaanya. Tiba di ruangan yang biasa menjadi tempat istirahat, ia ambruk di sofa depan telivisi. Menikmati tayangan kartun malam hari yang di tayangkan di channel kesukaanya, yang seharusnya sudah tidak bisa ia nikmati lagi, karena jadwalnya yang terlalu padat.


Mata Riella semakin terasa berat. Tayangan kartun itulah yang akhirnya menghantarkan Riella masuk ke dalam mimpinya.


Riella berjalan di hamparan rumput yang nampak luas, dengan gaun putih yang menjutai indah hingga menyapu rumput yang ia lalui, di sampingnya ada dua bridesmaid yang menuntunnya menuju mempelai pengantin pria. Namun, sayangnya dia tidak bisa melihat wajah lelaki yang tengah menunggunya di tempat pelaminan yang masih jauh darinya, kepalanya meneleng ke kanan, mencari tahu siapa pria yang membelakangi tubuhnya. Setelah menyadari kedatangan Riella lelaki itu perlahan membalikkan tubuhnya. Belum sepenuhnya ia melihat lelaki tersebut, tapi Riella segera membalikkan tubuhnya saat merasakan cengkraman erat di perutnya. Pelukkan itu semakin erat, semakin erat dan membuatnya terbebani, hingga akhirnya hanya ada bayangan gadis kecil yang tidak mampu ia raih. Namun, pelukan terasa itu masih terasa nyata, justru sekarang perutnya tidak mampu ia gerakkan dan membuat dirinya sadar, perlahan meninggalkan alam mimpinya saat merasakan pelukan tersebut.


“Jangan tinggalkan aku!” lirih Emil yang masih memeluk erat tubuh Riella. Dia belum menyadari jika Riella sudah membuka matanya. Dia justru semakin erat lagi memeluk Riella. Hingga Riella menyapu rahangnya yang kokoh, membelai lembut pipi yang dihuni beberapa bulu halus.


“Kamu di sini?” tanya Riella yang belum mampu mengubah posisinya, dia ingin lebih lama lagi merasakan pelukan Emil.


“Hmmm … kamu terbangun?" tanya Emil merasa bersalah, "aku menganggumu ya, Sayang?” Emil segera menjauhkan tubuhnya, dari Riella. Menyesal karena menganggu calon istrinya.


“Nggak, baru jam segini juga. Kamu kusut banget, Kak, pasti lelah ya? Mau aku bikinkan teh?” Riella sudah beranjak dari duduknya, hendak berjalan menuju dapur. Namun, tangan Emil menahan tangan lembut yang tadi membelai wajahnya, ia menarik Riella ke atas pangkuannya, kembali memeluk Riella yang posisinya kini lebih tinggi darinya, menghirup aroma parfum yang masih tertinggal di baju Riella.


“Kenapa, Sayang. Cerita saja kalau punya masalah,” ungkap Riella, mencoba menjauhkan wajah Emil dari benda yang selama ini memberikannya kepuasaan.


Tapi kediaman Emil justru membuat Riella semakin bingung. Dia masih memeluknya erat, menyadarkan kepalanya di dada bergelombang milik Riella.


“Setelah ini, aku ingin seperti ini terus denganmu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku.” Emil memejamkan matanya, tidak mampu menatap wajah Riella.


“Kamu habis melakukan kejahatan, ya?” Riella mengangkat rahang Emil menghadap ke arahnya. Sedikit senyuman jelas terlihat di wajah Riella, ketika melihat wajah Emil yang berubah pucat pasi.


“Lelaki pertama selain Papa yang membuat aku jatuh hati, itu kamu, Kak. Masa iya, sudah sejauh ini aku akan pergi meninggalkanmu! Kecuali....” Riella menggantungkan ucapannya. Membuat Emil semakin merasa bahwa kelakuannya memang salah.


“Kecuali apa?” sahutnya lirih, yang tidak berani menatap ke arah Riella.


“Sangat sedikit wanita yang memaafkan pengkhianat, dan mungkin aku salah satunya!” Riella terkekeh saat melihat wajah Emil kembali memasang wajah ketakutan, tetapi berbeda dengan pelukan yang ada di pinggangnya, dia justru semakin erat memeluk tubuhnya, seolah tidak ingin melepaskannya.


“Hanya kamu wanita yang ada di hatiku saat ini.”


“Saat ini?” Riella mengerutkan dahinya, “bagaimana dengan esok, dan seterusnya?”


“Yang pasti akan masih sama.” Keduanya kembali melanjutkan lagi obrolan ringan, di sertai kecupan ringan, di wajah, leher dan bagian yang terbuka lainnya hingga Riella lupa untuk mengambilkan Emil minum. Namun, dering ponsel yang ada di kantung celana Emil, sudah membuatnya harus pergi dari tempat itu secepatnya.


“Kenapa panik begitu sih Kak? Ada apa?” tanya Riella ketika Emil sudah kembali di depannya, yang sebelumnya berpamitan untuk mengangkat panggilan.


“Nggak papa, Sayang. Cuma aku harus pergi sekarang, ada hal penting yang harus aku kerjakan!”


Riella terlihat menghembuskan nafasnya, sebelum kata-kata manis terlontar dari bibirnya, “padahal aku masih kangen.” Riella memeluk pinggang Emil dengan erat, seperti anak kecil yang akan ditinggal ibunya pergi lama. Meluapkan rasa rindu yang belum sepenuhnya terobati.


“Besok aku akan datang lagi, kemarin juga sudah ketemu.” janji Emil sebelum melepaskan pelukan Riella, ia lalu mengecup seluruh wajah Riella, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan ruangan Riella, tepat ketika jarum jam berada di angka 10 malam. Riella semakin dibuat bingung dengan tingkah Emil, ia merasa ada sesuatu yang lelaki itu sembunyikan darinya. Dia hanya berharap tidak ada hal serius yang akan mengganggu hubungannya dengan calon suaminya.


🚑


🚑


🚑


🚑


Kalau suka like ya😍 tinggalkan komentar positif😍. Terima kasih.🙏