The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Just A Dream



Terima kasih atas votenya yang melimpah ruah😉🙏.


Tapi Ella masih butuh poin readers buat terus mendukung karya ini, jadi jangan bosan untuk menyumbang poinnya ya. Terima kasih buanyak pokonya, peluk online🤭🤗


✈️


✈️


✈️


✈️


Masih berdiri di depan ruang informasi. Riella berjalan kesana kemari menunggu kabar dari petugas bandara. Menulikan telinganya, saat mendengar keluarga korban menceritakan firasat-firasat buruk yang mereka alami, korban yang sudah mengucapkan salam perpisahan terakhirnya, sebelum korban menaiki pesawat naas itu. Riella lalu mengingat pesan terakhir Kenzo sebelum ia masuk terminal bandara.


Jaga dirimu saat aku tidak berada di sampingmu! Riella teringat suara lembut Kenzo. Ia masih bisa mendengarnya dengan jelas. Tangannya meraih ponsel di dalam tas, melihat foto terakhir yang Kenzo kirimkan padanya. Menampilkan senyum Kenzo yang terlihat menawan dari biasanya. Riella teringat, cara Kenzo yang memintanya untuk berfoto, saat berada di mobil tadi siang.


Ijinkan aku pergi dulu, sampai ketemu next time. Tulisan terakhir dari Kenzo, kata permintaan atau pamitan? Dia bahkan baru paham jika Kenzo meminta izin padanya untuk pergi.


“No Ken. Nggak mungkin itu pesan terakhir darimu, kan? Kita akan bertemu lagi, Ken? Jangan pergi dulu, kamu yang bilang akan menungguku. Kamu jangan bilang, aku sudah terlambat! Aku janji akan memulainya dari awal,” Riella memejamkan matanya, “please, this is just a dream!” lanjut Riella memejamkan matanya. Matanya sudah perih mengiringi perasaannya yang kacau. Riella menarik nafas dalam mengeluarkan sesak di dadanya. Tapi ternyata ia tidak mampu, rasa itu masih nyata, ini benar terjadi dalam kehidupannya.


Riella membuka matanya, menatap layar 42 inch yang tertempel di dinding, mendengar kabar berita melalui media elektronik. Hari sudah gelap, tapi masih terlihat dengan jelas beberapa orang yang mengenakan pakaian warna orange, masih berusaha mengevakuasi korban. Riella berjalan cepat menuju meja informasi, menanyakan daftar nama korban yang sudah berhasil diterima petugas bandara.


Kaki Riella tidak mampu menahan tubuhnya, saat melihat nama Kenzo masuk ke daftar nama korban meninggal. Ia akhirnya mengalami juga, sama seperti orang yang tadi berada di sampingnya. Riella jatuh dengan air mata dan nafas pendek. Kakinya terasa lemas, tidak mampu menahan tubuhnya.


“Ma …” panggil Riella sambil menggelengkan kepalanya, meminta pendapat Ella, jika ini adalah salah, berita ini tidak benar.


“Bandara Bali sudah dibuka, siapkan dirimu untuk berangkat ke sana! Papa dan kakakmu sedang perjalanan ke sini,” ucap Ella memeluk tubuh Riella yang sudah lemas. “Apa ada yang ingin ke Bali dengan kami? Sebentar lagi kami akan ke Bali,” tawar Ella pada keluarga korban lainnya yang tengah berada di sana. Terdengar sautan demi sautan menjawab tawaran Ella. Mereka akan terbang bersama, untuk melihat anggota keluarga yang menjadi korban.


***


Satu mobil mewah berhenti di depan bandara, kedua lelaki yang hampir mirip perawakannya itu berjalan masuk menuju ruang informasi. Kalun terus memainkan ponselnya, mencari kabar tentang Kenzo. Informasi yang ia dapat sama dengan Riella, Kenzo masuk daftar korban yang sudah ditemukan dan dinyatakan meninggal. Kalun yang melihat kondisi Riella, memeluknya erat, mencoba memberinya kekuatan.


“Aku jahat ya, Kak? Aku bodoh, aku … aku-” Riella tidak mampu melanjutkan apa yang ia rasakan saat ini, tangisnya kembali pecah mengingat kelakuannya sendiri, yang tidak pernah menghargai Kenzo.


“Sudah berlalu. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Semoga dengan masalah ini, kamu bisa lebih dewasa dalam bersikap.” Kalun berusaha menenangkan adiknya, tidak peduli dengan istrinya yang tengah panik karena kalun tidak bisa dihubungi.


Pesawat yang ditumpangi Riella sudah take off meninggalkan Jakarta. Kalun terus menenangkan adiknya yang masih terisak menangisi kondisi suaminya, berusaha menerima apa yang terjadi saat ini.


Pesawat berhasil mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali dengan sempurna. Riella turun pesawat, dituntun oleh Kalun yang terus berada di sampingnya.


“La, Mama sama papa menunggu mama Nindi dulu. Kamu ditemani kakakmu ya,” pesan Ella, menghentikan kaki Riella yang hendak menuruni tangga pesawat. Riella mengangguk lemah, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil jemputan yang sudah berada di samping pesawat.


Riella dan Kalun sudah berada di dalam mobil, mereka akan mendatangi tempat evakuasi korban pesawat. Cukup lama perjalanan dari bandara ke lokasi, karena mereka terhambat oleh petugas yang mengangkut bangkai pesawat. Tiba di lokasi, Riella kembali mendatangi tempat informasi. Meminta kepastian apakah nama Kenzo benar menjadi korban kecelakaan yang sudah meninggal. Petugas tersebut membenarkan apa yang ditanyakan Riella. Membuat Riella semakin kacau, belum siap menerima kenyataan. Ia lalu berjalan menuju tempat korban meninggal, yang sudah ditunjukkan oleh petugas medis.


Langkah Riella semakin berat, tidak ingin melanjutkan langkahnya, tidak peduli dengan Kalun yang sudah berjalan mendahuluinya. Ia belum siap menerima kenyataan, jika harus kehilangan Kenzo untuk kedua kalinya.


“Hey! Ayo … lebih cepat lebih baik!” ajak Kalun, “sudah menjadi takdir Kenzo jika ia benar-benar harus pergi, dan kita sebagai keluarganya, kita harus mengurusnya. Dan lebih cepat lebih baik. Kita akan membawanya pulang, jika itu benar Kenzo.”


Riella bersandar di dinding tembok, menggelengkan kepalanya, “aku belum siap, Kak. Aku belum siap menerima ini.”


“Ikhlaskan jika ini benar terjadi, kalian mungkin bisa bertemu di alam berikutnya!” suara Kalun membuat Riella semakin menangis keras, tubuhnya bergetar hebat di pelukan Kalun.


“Aish … gimana ini, kalau Aluna tahu, pasti dia akan sangat cemburu melihatmu seperti ini!” Tegur Kalun berusaha menghibur adiknya.


“Ayoh! Kita harus memastikan dulu, La! Kamu nggak bisa seperti ini terus,” ajak Kalun mengulangi permintaanya. Riella akhirnya mengalah, berusaha menyiapkan hatinya di setiap langkah kakinya yang berjalan di belakang tubuh kalun. Terus mencengkram kemeja putih yang Kalun kenakan. Sampai tiba di ruang evakuasi korban meninggal, kedatangan beberapa petugas medis mengalihkan perhatian mereka berdua.


🚑


🚑


Jangan lupa like dan vote🤭🙏