
Alhamdulillah, Ella balik lagi nih, semoga ada yang nungguin cerita ini ya. Jangan lupa untuk dukung cerita Kenzo dan Riella, caranya gampang kok, tinggalkan like, komentar dan vote sebanyak-banyaknya. Biar updatenya juga lancar oke! Terima kasih🙏😘
Happy Reading! 📖
Riella dan Kenzo masuk ke ruang periksa kandungan. Mereka berdua disambut ramah oleh perawat yang berdiri di belakang pintu. Bahkan, perawat cantik itu, menarik kursi dan mempersilakan duduk Riella.
“Terima kasih,” ucap Riella sambil menatap ke arah perawat yang tadi membantunya. Perawat itu mengangguk tersenyum ramah ke arah Riella. Seperti mereka saling mengenal, atau dia memang kenalan dari suaminya?
“Nona Eriella ya?” tanya dokter di depan Riella. Riella mengangguk menyetujui ucapan dokter, “baru pertama datang, rupanya. Baiklah ... apa keluhannya ini? Mau program hamil atau ada hal lain yang ingin dikonsultasikan?” lanjutnya menatap ke arah Kenzo dan Riella bergantian.
“Begini, Dok. Istri saya belum mendapatkan haid bulan ini, dan dia mengeluh sakit perut tadi pagi. Mungkin karena hormonnya tidak stabil jadi pengaruh ke perutnya.” Kenzo menjelaskan sambil menerka kemungkinan yang terjadi.
“Jadi ... Kita ke sini mau minta obat hormon atau semacam pelancar haid saja, supaya istri saya cepat mendapat haid dan sakit perutnya bisa hilang.” lanjut Kenzo dengan wajah polosnya.
Dokter di depan Riella hanya tersenyum ke arah Riella, lalu menggelengkan kepalanya ke arah Kenzo, “Berapa tahun Bapak menikah?” tanya dokter sambil menepuk punggung tangan Kenzo.
Kenzo menatap ke arah istrinya, sambil tersenyum manis, tangannya lalu meraih tangan Riella, dan membawanya mendekat ke bibir, ia mengecupi punggung tangan Riella dengan lembut sebelum menjawab pertanyaan dokter dengan lantang, “sebelas bulan, Dok.”
Dokter di depannya semakin tersenyum lebar, ia mengacungi jempol atas perlakuan Kenzo terhadap Riella. Andai semua lelaki seperti Bapak pasti wanita di Indonesia, tidak perlu takut jika suaminya akan tertarik dengan pelakor. Ungkap dokter dalam hati, saat melihat kelakuan Kenzo, mendadak jiwa singlenya memprotes kenapa sang pacar tidak kunjung melamarnya.
“Apa Anda tidak berpikir jika, istri Anda tengah hamil, Pak?” tanya dokter sat mendengar penjelasan dari Kenzo.
“Hamil?!” Wajah Kenzo tampak pucat setelah mendengar ucapan dokter di depannya. Bahkan genggaman di tangan Riella reflek ia lepaskan.
“Iya, coba saya tanya Nona Eriella dulu.” Dokter itu lalu menatap ke arah Riella yang sedari tadi hanya diam. “Tanggal berapa, Anda terahir haid, Nona?”
“Tanggal dua puluh, Dok.”
“Hubungan dengan suami bagaimana?” selidik dokter yang penasaran dengan frekuensi hubungan Riella dan Kenzo.
“Gimana sih dokter ini, ya seringlah SMS, teleponan, kirim foto!” Kenzo menyambar pertanyaan dokter.
“Pak! Bukan itu. Tapi hubungan badan,” ralat dokter yang berumur sepantaran dengan Kenzo.
“Ow, kalau itu ... Kita aktiv sekali, Dok. Memang sebulan ini setiap malam, saya selalu meminta hak saya. Kecuali, waktu saya koma saja.”
“Bee ... jangan terlalu jujur ah.” Riella berbisik di samping telinga Kenzo, karena merasa malu dengan wanita di depannya. Sedangkan dokter muda bernama Syifa itu hanya menahan tawanya yang hampir pecah.
“Apa? janin, Dok!" Kenzo tampak terkejut, ia merasa itu tidak akan terjadi mengingat kondisi kesehatannya sekarang ini, "Nggak mungkin bisa terjadi, dokter sudah memeriksa cairan saya. Dan cairan itu tidak bisa membuahi sel telur,” lanjut Kenzo menjelaskan kondisinya.
“Apa katamu, Bee? Coba ulangi!” tanya Riella yang tidak begitu jelas dengan apa yang diucapkan Kenzo.
Kenzo tampak bingung, berulang kali ia mengalihkan tatapanya dari Riella.
“Bee!”
“Em nggak. Aku bilang apa tadi?” tanya Kenzo menyembunyikan perasaanya di balik senyuman.
“Bikin cemas saja tahu, nggak!”
“Nggak papa, aku baik-baak saja. Aku sehat, pasti kamu bisa hamil tapi tidak sekarang.” Ucapan Kenzo terdengar aneh di telinga Riella. Ia ingin sekali melemparkan pertanyaanya. Tapi ia urungkan karena dokter di depannya sudah menunggu terlalu lama, lagian di depan pintu masih banyak pasien yang mengantre.
Riella kini sudah berbaring di brankar pemeriksaan. Perawat di sana membantu membuka dress yang dipakai Riella. Kenzo yang ikut pun dengan jahil mengotak-atik sandaran brankas, membuat Riella menatap tajam ke arahnya.
“Cukup Bee, jangan jahil deh!” peringat Riella yang kesal dengan kelakuan suaminya.
“Enggak apa-apa mungkin Bapaknya kurang bahagia di kala kecil.” Goda Syifa yang merasa aneh dengan tingkah Kenzo.
“Entahlah Dok! Suami saya itu limited edition, langka!” sambar Riella sambil menatap ke arah Kenzo, lelaki itu sudah mengacungkan jempolnya setelah mendengar ucapan Riella.
Dokter Syifa mulai melaksanakan tugasnya, ia memberikan gel di perut Riella, lalu mulai menggerakkan tranducer nya. Dengan lembut ia mencari apa yang seharusnya ada di rahim Riella.
“Wah, betulan loh ... Nona hamil!” ujar Syifa terdengar riang, “lihat tuh sudah berbentuk kantong janinnya,” lanjutnya menunjuk monitor lcd.
Suasana berubah mencekam, raut wajah keduanya tampak pias, berbeda saat alat itu belum menempel di perut Riella.
“Lihat, Pak! Ini calon anak Bapak, loh!” kata dokter sambil menggerakkan lagi tranducer di tangannya, mencari posisi yang pas untuk memberitahu keduanya jika Riella memang benar-benar positif hamil.
Mereka berdua terdiam tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Meski Riella belum begitu membuka hati untuk Kenzo, tapi jika Allah sudah memberikan keturunan, dia bisa apa? Mungkin calon anaknya nanti, akan seperti Aslan yang mengikat dan memperkuat hubungannya dengan Kenzo. Berbeda dengan Kenzo yang tampak bingung, dia hanya menunduk menahan rasa kecewanya.
“Bee ...” panggil Riella ketika melihat Kenzo menyingkap gorden ruang pemeriksaan, Kenzo keluar dari ruang pemeriksaan, mengabaikan panggilannya.
Kenzo masih berpikir, jika ia tidak bisa membuahi sel telur Riella. Ntah, apa yang akan terjadi ke depannya dengan hubungan merek berdua. Ia hanya mampu berharap, jika istrinya tidak benar-benar hamil anak pria lain. Semoga dugaannya salah. Tapi pasti itu anak lelaki itu? Karena dia sudah melihat bukti otentik hubungan mereka berdua. Meski bukti itu sudah lenyap, tapi dia bisa memastikan jika itu benar istrinya.