
Setelah hampir tiga jam berada di atas awan, pesawat biru putih yang mengantar Riella dan Kenzo, berhasil mendarat sempurna di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Kenzo berusaha menggandeng tangan Riella ketika hendak keluar kabin. Namun, Riella terus menghindar, dia berjalan lebih dulu, meninggalkan Kenzo yang tengah bermain ponsel sambil menunggu bagasi kabin terbuka.
Terlihat Riella menghentikan langkahnya ketika berada di ambang pintu pesawat. Angin kencang menyambut kedatangannya, membuat rambutnya yang tidak diikat berterbangan kesana kemari, membuatnya tampak lebih cantik dari saat ia terdiam di kursi penumpang tadi.
Kenzo yang baru saja tiba di belakang tubuh Riella berusaha membantu merapikan rambut Riella. Ia mengumpulkannya jadi satu, lalu menengadahkan tangannya di depan Riella.
"Mana ikat rambutnya?" minta Kenzo dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya masih memegang rambut Riella.
"Nggak usah sok sweet dech! Lepaskan!" peringat Riella, lalu berusaha melepaskan rambutnya dari tangan Kenzo.
"Sttt ... diamlah!" kata Kenzo lalu mencari-cari benda yang bisa untuk mengikat rambut Riella. Ia menemukan bolpoint dari dalam tasnya lalu mengambilnya untuk menjepit rambut Riella, dengan baik Kenzo menyanggul rambut Riella, hingga rambutnya tampak lebih rapi.
"Lihai banget kamu! Sudah berapa wanita yang sudah kamu ginikan?"
"Tidak terhitung! cepatlah berjalan ada banyak orang yang sudah menunghu di belakang kita," kata Kenzo membuat Riella menoleh ke arah belakang tubuh Kenzo. Benar saja, banyak orang yang menyaksikan kejadian absurd yang Kenzo lakukan padanya.
"Semoga Allah selalu memberikan kebahagian untuk kalian berdua," ucap wanita sambil mengusap pipi Riella, mendoakan kebaikan untuk mereka berdua.
"Kalau aku punya suami romantis begitu yah, nggak aku izinkan buat keluar rumah. Aku kekepin terus, aku laminating kalau perlu," ucap seorang wanita seumuran Riella saat melewati tubuh mereka berdua, menampilkan senyuman menggoda ke arah pasangan pengantin baru.
"Ambil nih, Kak! Aku tinggalin juga nggak ada yang mau, sama lelaki ini!" sahut Riella saat mendengar ocehan wanita yang melewatinya. Tanpa melihat ke arah Kenzo yang sudah tersenyum kecut.
"Sudah, ayo turun!" ajak Kenzo lalu menuntun Riella keluar dari awak pesawat.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki terminal bandara, dengan Kenzo mengekor di belakang tubuh Riella. “Lewat sini saja!” kata Kenzo saat Riella lebih dulu masuk ke jalan yang bukan jalan keluar bandara.
“Nggak aku mau lewat sini!” bantah Riella tetap pada pendiriannya.
“Kamu mau ke mana lewat situ?” tanya Kenzo saat Riella tidak mau mengikutinya.
“Jalan-jalan,” kata Riella yang terus berjalan mengabaikan perkataan Kenzo.
Tanpa pikir panjang, Kenzo yang melihat Riella semakin jauh. Segera menyusul Riella, lalu mengangkat tubuh Riella ke gendongan, membawanya melewati jalan yang tadi ia tunjukkan.
“Turunkan aku!” protes Riella menatap ke arah wajah Kenzo yang sangat dekat dengannya.
“Kamu masih seperti dulu keras kepala!” ujar Kenzo yang tidak ingin menanggapi ucapan Riella.
“Hah! Memangnya kamu nggak! Cepat turunkan aku!” ulangnya lagi meminta Kenzo, matanya sudah khawatir, takut akan terjatuh.
“Nggak!” bantah Kenzo.
“Aku lompat ini!” ancam Riella sambil mencoba memberontak menggerakkan tangan dan kakinya.
Kenzo mengabaikan ucapan Riella, sampai ia berjalan naik ke arah eskalator. Goyangan tubuhnya saat menaiki eskalator, membuat Riella mengalungkan tangannya ke leher Kenzo, karena ia benar-benar takut terjatuh.
Riella pun akhirnya pasrah, dengan wajah yang menatap Kenzo penuh amarah.
“Ih … Tante sudah besar main gendong-gendongan, sama Om.” Gadis kecil yang berada di depan Kenzo angkat suara, meledek Riella yang berada di gendongan Kenzo.
Wajah Riella tampak panik, bersemu merah menahan rasa malu. Ia lalu menyembunyikan wajahnya menghadap dada bidang Kenzo, menarik sedikit jaket Kenzo untuk menutupi wajahnya.
“Iyah … tantenya tadi mabuk saat naik pesawat.” Kenzo menjawab dengan senyum bahagia, karena merasa tangan Riella yang mengalung lebih erat dari sebelumnya.
“Ow, gitu ya Om,” gadis itu lalu mengubah nada bicaranya, berbisik sambil menatap wajah Kenzo, “bilang ke tante, besok kalau naik pesawat lagi suruh minum antimo anak ya, biar nggak mabuk, kaya Sae.” pesan gadis barnama Sae. Membuat wajah Riella semakin merona karena malu, tatapannya tetap melirik ke atas, menajam ke arah Kenzo yang menganggukan kepala sambil tersenyum penuh binar.
Setelah itu, mereka berpisah, Kenzo terus mengamati gadis yang melambaikan tangan ke arahnya, memberikan senyum perpisahan pada gadis kecil yang tengah digandeng ibunya. Kenzo berjalan mencari keberadaan rekannya, dengan Riella yang masih dalam gendongannya.
“Mau turun atau tetap seperti ini?” tawar Kenzo saat langkahnya sudah berhenti di depan rekannya, yang terlihat kebosanan karena terlalu lama menunggu. Riella tidak tahu jika kini sudah berada di luar bandara karena sejak turun dari eskalator ia tetap menyembunyikan wajahnya di dalam jaket Kenzo.
“Turunkan! Dasar mencari kesempatan dalam kesempitan!” umpat Riella memaki suaminya, saat menyadari jika mereka sudah berada di luar gedung bandara.
“Perasaan kamu tadi yang menyadarkan wajahmu di sini!” kata Kenzo menepuk dadanya, setelah menurunkan Riella.
“Mana mobilnya?” tanya Riella mengedarkan pandangannya, mencari salah satu mobil mewah yang terparkir.
“Tuh!” tunjuk Kenzo dengan dagunya. Riella yang mendengar mengikuti arah petunjuk Kenzo, bertanya dengan isyarat. Kenapa mereka dijemput dengan Elf bertuliskan nama panti asuhan "Mutiara Kasih" ?
“Kenapa?” tanya Kenzo saat melihat wajah Riella yang nampak kebingungan.
“Yah.”
“Kamu nggak akan memintaku untuk mengasuh anak panti, kan? Di Jakarta, hidupku sempurna, jadi jangan membuat hidupku menderita di sini.”
“Nggak akan. Ada mobil mewah di rumah, cuma tadi sekalian mengantar anak-anak les jadi Alby sekalian menjemput kita, hemat uang bensin,” jelas Kenzo, beralih menatap rekannya.
“Kenalkan, dia Alby. Teman cerita selama aku hidup di sini.”
“Hai, Nona.” Sapa Alby, menyapa Riella seraya mengulurkan tangannya.
“Hai, Riella saja. Jangan pakai nama depan.” Kata Riella ramah menyambut tangan Alby.
“Heh, nggak papa kah, Ken?” tanya Alby pada Kenzo.
“Yah, senyaman kalian saja.” Kenzo menjawab sambil membuka pintu penumpang Izuzu elf, aramada baru di panti asuhan. Meminta Riella untuk duduk di belakang, ia lalu menyusul duduk di depan bersama Alby.
“Mau langsung pulang, atau jemput anak-anak dulu?” tanya Alby memastikan keduanya.
“Anak-anak pulang jam berapa?” tanya Kenzo menatap jam di pergelangan tangannya.
“Masih satu jam lagi sih.”
“Pulang dulu saja, istriku sepertinya lelah,” ucap Kenzo menatap pantulan wajah Riella dari cermin di depannya, mempertemukan tatapannya dengan mata Riella, lalu tersenyum tipis saat Riella menyengir ke arahnya.
Butuh waktu duapuluh menit untuk mereka tiba di rumah Kenzo. Rumah yang menyimpan banyak kenangan untuk Kenzo. Saat mereka tiba di sana hari sudah gelap, jam di pergelangan tangan Riella sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kedatangannya disambut oleh keluarga Kenzo.
“Pakai disambut segala, Ma. Kaya sama siapa saja, loh.”
“Eh, kamu nggak tahu, ya? Kamu itu special di sini.” Jawab Nindi memeluk Riella. Dia lalu menggiring Riella untuk masuk ke dalam rumah panggung dari kayu yang sudah di pernish warna kayu natural. Rumah adat yang sudah di kombinasi tema rustic oleh pemilik rumah, terlihat adem dari luar karena cahaya teras yang tidak begitu terang, dan banyaknya tanaman yang menghiasi halaman rumah mereka.
“Masuklah, Sayang. Semoga kamu betah berada di sini.” Kata Nindi yang sudah membuka pintu rumah yang belum pernah di tempati oleh pemiliknya. Riella mengangguk lalu mengikuti perintah Nindi.
“Mama tinggal di sebelah, jadi kalau ada sesuatu atau Kenzo menyakitimu, kamu tinggal lari ke sana.” pesan Nindi menunjuk rumah yang berjarak 10 meter dari rumah yang ditunjukkan.
Mana berani Kenzo menyakiti aku, lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Batin Riella menyampaikan isi kepalanya.
Riella sejenak memperhatikan isi dalam rumah. Terlihat lumayan luas, dan perabotan yang tidak sembarangan harganya terpajang di segala penjuru. Dia baru menyadari jika Kenzo hobi mengoleksi barang antik.
“Itu Kenzo sudah datang, biarkan dia yang menunjukkan di mana kamar kalian,” kata Nindi ketika melihat kedatangan Kenzo.
“Mama pulang ya La, Ken. Kalian baik-baik di sini. Jangan berantem terus!” pesan Nindi lalu segera berlalu dari rumah anaknya. Ia menuruni anak tangga rumah Kenzo, sebelum akhirnya hilang di balik pintu rumahnya sendiri.
Sedangkan di dalam rumah, Kenzo lebih dulu membawa Riella ke meja makan, menikmati masakan yang sudah disiapkan mamanya. Ia tahu Riella capek jadi nggak akan memaksa Riella untuk masak, jadi ia berpesan pada mamanya.
“Mau aku ambilkan?” tawar Kenzo ketika mereka sudah duduk di meja makan.
“Aku bisa sendiri,” jawab Riella lalu meletakkan ponselnya, ia mulai mengambil makanan untuknya sendiri. Tanpa mempedulikan Kenzo.
“Apa kamu tidak menyukai masakan mama? Jika benar begitu aku bisa membuatkan makanan lain untukmu.”
“Nggak, sudah cukup. Aku memang tidak terbiasa makan berlebihan di malam hari.” Riella lalu menyudahi acara makannya, meninggalkan makanan yang masih tersisa di meja makan.
“Di mana letak kamarnya? Aku ingin bersih-bersih dulu.”
“Ada di pintu warna coklat, ada dua kamar di rumah ini. Dan satunya aku pakai untuk ruang kerja. Tapi tenang saja kamarnya cukup luas kok. Jadi kalau kamu keberatan, aku bisa tidur di sofa.” Kenzo menjelaskan lebih dulu supaya Riella lebih nyaman berada di sana.
Riella tidak berkata lagi, dia berlalu mencari kamar yang dikatakan Kenzo. Benar kata suaminya, kamar itu memang luas dua kali luasnya dari kamarnya di Jakarta. Kamar yang tampak elegan, dengan ranjang yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman jika dipakai untuk tidur berdua. Satu kesan Riella saat melihat kamar itu, nyaman.
🚑
🚑
🚑
🚑
JANGAN VOTE YA, AKU TAGIH HARI SENIN BESOK POKOKNYA😂🤭 yang syuka boleh like dan komentar.