The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Mimpi Atau Nyata



Jangan lupa untuk like, vote, hadiah dan komentarnya ya😉. Terima kasih😍


...----------------...


Riella menutup pintu kamar dengan pelan. Dia bersandar lebih dulu di daun pintu, sambil mengusap air matanya. Dia tidak ingin terlihat sedih di mata orang yang ia temui nanti, dia gadis yang kuat selama ini, jadi pasti dia bisa melewatinya.


Setelah air matanya sedikit kering, dia berjalan keluar rumah, menyusul mereka yang sudah menunggu di halaman rumah Kenzo.


Dengan hati-hati Riella menapaki tangga kayu teras rumah kayu yang ada di rumah Kenzo. Pandangannya menatap ke arah Nindi yang menggendong bayi Aslan. Bayi itu tengah tertawa saat mamanya mengajak Aslan berbicara.


Riella lalu mendekat, memainkan jemari Aslan yang mungil. Dia mencium gemas pipi Aslan yang gembul, membuat bayi itu reflek menarik rambut hitam miliknya.


"Gemes banget nih sama anak Mami," ucapnya sambil mencium gemas dada Aslan dengan kepalanya, tarikan rambut itu melembut diiringi suara tawa Aslan yang semakin pecah.


"Aslan mami pergi, ya ... Aslan nggk boleh rewel." Riella berucap lirih, di depan wajah anaknya. Mata bening bayi Aslan, menatap ke arahnya, bibir Aslan masih dengan senyum ceria yang biasa dia lihat. Tapi tangannya meminta Riella untuk menggendongnya.


"Ma, gendong Aslan bentar ya?" Riella minta izin sebelum benar-benar meninggalkan rumah Kenzo.


"Hem ... sebentar saja tapi ya." Ella berkata sambil membuka pintu mobil. Menunggu Riella selesai berpamitan sambil mengawasi tingkahnya.


Riella memeluk erat tubuh Aslan, bayi itu terlihat tidak nyaman dan meronta untuk dibebaskan dari pelukan erat yang diberikan Riella.


"Mammmm ... mmmm," celotehnya dengan kata tidak jelas. Riella yang mendengar pun semakin memeluk erat tubuh Aslan.


"Mami bakalan kangen banget sama kamu, Nak." Riella lalu memberikan Aslan kepada Nindi, dia berpamitan pada mertuanya, meminta maaf atas kesalahan yang sudah dia perbuat saat tinggal bersama Kenzo.


"Hati-hati, sering hubungi Mama! Mama akan selalu menunggu kabar baik dari calon cucu mama. Apapun keputusanmu, sekarang mama mendukung mu." Nindi mengusap bahu Riella lalu memberikan pelukan terakhirnya, meski terganggu dengan adanya tubuh Aslan.


"Da, Ma. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Mata Nindi mengeluarkan air, saat menatap kepergian Riella. Kini dia akan mempersiapkan hatinya untuk melihat kondisi Kenzo yang kembali terpuruk.


Suara tangisan jelas terdengar, saat Riella masuk ke dalam mobil. Bayi itu seolah tidak Riella jika maminya pergi meninggalkannya. Tapi suara tangisan itu tidak mampu merubah keputusan Riella. Dia tetap menutup pintu mobil dengan keras. Meninggalkan semua kenangannya di sini.


Sedangkan di dalam kamar, Kenzo hanya mampu melihat Riella dari jendela kaca kamarnya. Dia memejamkan mata erat, saat mobil yang membawa Riella menjauh dari rumahnya. Menghilang di balik gerbang kayu yang ditutup satpam pekarangan rumahnya.


Kenzo berusaha kuat, untuk tidak meneteskan air mata. Meski rasanya sangat menyiksa batinnya. Tapi keputusan Riella harus ia hargai karena ini akibat dari kesalahannya. Kenzo berusaha bangkit dari terpuruknya, dia tidak ingin Nindi melihatnya rapuh.


Satu persatu barang yang berhubungan dengan Riella, Kenzo masukkan ke dalam kotak box. Bayangan Riella selalu menghiasi setiap benda apa yang dia pegang. Ia merasa Riella belum pergi, Riella hanya ingin menenangkan diri saja. Dan itu membuatnya kembali berharap Riella akan segera pulang. Tapi tidak, kenyataanya tidak seperti apa yang dia inginkan.


Kenzo menatap beberapa foto hitam putih yang sengaja Riella tinggalkan untuknya. Dia tidak paham apa maksud istrinya itu. Dengan melihat gambar itu saja, perasaan Kenzo semakin sakit, dia seperti kembali diingatkan tentang perbuatannya dulu.


Lirihan kata maaf terucap dari bibirnya yang tipis. Berharap jika Riella mendengar dan pulang lagi ke rumah. Tapi tidak, nyatanya saat dia menatap pintu kamar, pintu itu masih tertutup rapat. Riella benar-benar tidak ada di sini.


"Aku mencintaimu Riella." Perlahan mata Kenzo yang sudah perih dan memerah, tertutup rapat. Dia tertidur membawa kesedihannya ke alam mimpi. Alam yang sejenak bisa membuatnya lupa tentang kesedihan yang ia rasakan.


Dalam mimpinya ia bertemu sosok wanita cantik, dia bukan Riella. Seperti bidadari, dengan pakaian warna putih, wanginya semerbak memenuhi taman yang ia tempati saat ini. Bisa jadi dia malaikat yang dikirim Tuhan untuk menghiburnya.


Dia tidak berbicara, hanya saling pandang saja dan memancarkan senyuman. Kenzo melihat lagi lebih dalam. Wanita itu lebih muda darinya, rambutnya hitam kumbang, sedikit bergelombang. Semakin dia mendekat, keanehan semakin muncul, dia seperti melihat sosok Riella kecil yang bertransformasi menjadi Riella dewasa.


Gadis itu tertawa sangat merdu, dan membuat bibir Kenzo tersenyum lebar.


"Papi ...." Samar Kenzo mendengar dia menyebutnya. Kenzo mendekat lagi, karena merasa ada yang aneh.


"Papi ...." Gadis itu tidak lagi tersenyum, air mukanya seketika berubah menjadi sedih.


"Papi ..." Sebutnya lagi. Kaki Kenzo berlari kecil ke arah gadis cantik itu. Tapi seakan gadis itu menjauh darinya. Semakin dia mengejar, gadis itu semakin cepat menjauh.


"Pap ...."


"Pap ...." Masih terngiang di telinganya suara panggilan itu, meski gadis itu sudah pergi jauh darinya. Tapi suara itu seperti menggema di tempat yang ia pijaki sekarang.


"Pi ... Papapapa." Kini suaranya berubah, dia seperti mendengar suara anak kecil yang tidak asing baginya.


"Pa ... Pi ...." Ejanya dengan jelas.


"Aslan?" Kini Kenzo menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Aslan. Hingga sesuatu yang lembab menempel di bibirnya.


Mata Kenzo langsung terbuka, dia menyadari ada bayi Aslan di atas dadanya. Memanggil manggil namanya berulang kali. Kenzo lalu mengusap rambut Aslan yang sudah panjang. Dia membalas kecupan akan di dahinya.


"Kamu tidur, kaya orang pinsan lama banget!" Suara itu Kenzo bisa mengenalinya. Tapi dia tidak bisa membedakan ini dunia nyata atau mimpi, atau dia yang terlalu dalam menghalu tentang Riella yang tidak jadi pergi.


Kenzo bangkit dari posisi tidurnya, dia benar-benar melihat Riella duduk di samping ujung kakinya.


"Kau siapa? Ini mimpi atau nyata?" Gumamnya bingung. Dengan jahil Kenzo mengigit lembut bayi Aslan, dan sontak Aslan menangis dengan suara lantang.


"Apa ini nyata? Kamu benar di sini, La?" tanya Kenzo.


Gantung ya ... Hayo nyata atau mimpi?


...----------------...