
Riella semakin tidak mengerti dengan sikap Kenzo. Semakin hari hubungannya dengan Kenzo semakin renggang. Hampir tidak ada komunikasi diantara mereka berdua. Setiap Riella berusaha membuka obrolan. Kenzo selalu menghindar dan menyendiri di ruang kerjanya.
Morning sickness yang dialami Riella sedikit mereda. Tidak seperti seminggu yang lalu yang benar-benar menguras habis tenaganya.
Saat Riella bangun, ia langsung meraba sisi kanannya. Hanya dingin yang bisa ia sentuh. Sepertinya Kenzo tidak tidur dengannya tadi malam. Dalam lubuknya yang paling dalam, ia kecewa dengan sikap Kenzo.
Pagi ini Riella sengaja tidak membuatkan sarapan untuk Kenzo. Percuma saja ia membuatkan sarapan, jika Kenzo menatapnya pun tidak. Ia sakit hati saat membuang masakannya yang tidak disentuh sama sekali oleh Kenzo.
Riella lalu bangun dari tidurnya. Mendekat ke arah box bayi. Ia tidak menemukan Aslan di sana. Ia yakin jika Kenzo sudah membawanya keluar rumah. Riella berjalan keluar kamar, mencari keberadaan Kenzo dan Aslan. Saat berada di ruang tamu ia menghentikan langkahnya saat melihat Kenzo bersendau gurau dengan Lintang.
"Sama wanita lain bisa seramah itu, kenapa denganku tidak? Padahal jelas aku sedang hamil dan butuh perhatianmu," gumam Riella sambil menatap ke arah Kenzo yang tengah tertawa lepas bersama dengan Lintang.
Riella lalu kembali ke kamar. Berusaha meredam rasa gelisah yang ia alami. Ia ingin kembali tidur. Menuruti si jabang bayi yang selalu memintanya bermalas-malasan. Kehamilannya ini membuat ia mudah lelah, dan selalu ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Tapi yang ada, saat ini Riella tidak bisa memejamkan matanya. Ia terus membolak-balikkan tubuhnya karena merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Bukan hanya posisinya, tapi perasaanya juga, ia takut, tapi apa yang ia takutkan dia juga belum paham.
“Ow iya, hampir saja lupa,” gumamnya saat teringat hari ini adalah jadwal kontrol kandungan. Riella langsung mendudukan tubuhnya, ingin mengabari Kenzo.
Namun, saat ia hendak keluar kamar, ia bertemu dengan Kenzo di depan pintu kamar.
“Ken, nanti jadwal aku periksa kandungan, nanti temani ya!” minta Riella menghentikan langkah kaki Kenzo.
Kenzo menatap wajah Riella. Lalu melihat ke arah jam di tangan kanannya. “Maaf aku ada rapat penting, hari ini,” jawab Kenzo yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
“Apa tidak bisa kamu menundanya?” tanya Riella yang tampak kecewa karena penolakkan Kenzo.
“Tidak. Ini sangat penting!” ketus Kenzo sambil berjalan meninggalkan Riella.
“Ken!” panggil riella menahan tangan Kenzo. Riella berpikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan akar permasalahannya dengan Kenzo, tanpa harus berlarut-larut diabaikan oleh suaminya.
“Aku tidak bisa Riella!” bentak Kenzo yang membuat Riella begitu terkejut saat Kenzo menghempaskan tangannya dengan kasar.
Riella merasa hampa, tidak ada pegangan apapun yang bisa pegang saat ini. Ia benar-benar kehilangan sosok Kenzo yang dulu begitu hangat dan menyayanginya. Riella mengatur nafasnya, berusaha meredam emosi dan menenangkan debaran jantungnya. Matanya hanya mampu melihat kepergian Kenzo dari kamar. Sudut matanya mulai berair, bersiap turun saat itu juga, dan kini pipinya perlahan mulai basah.
“Okey, baiklah!” lirihnya sambil menyandarkan tubuhnya di tepian meja, ia tahu Kenzo tidak mendengar itu, tapi ia benar-benar menyerah kali ini, “sabar ya, Sayang. Ada mami di sini. Adek harus kuat, Mami, kakak Aslan, Oma, Opa akan menunggu adek. Adek yang kuat di dalam sana! Mami sayang kamu, Sayang.” Riella terus mengusap air matanya yang sudah bercucuran, bibirnya bergetar saat membisikkan itu pada anaknya. Ia menatap perutnya yang masih datar, sambil berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Dan siang ini demi ia cek up ke dokter Syifa, Riella melanggar janjinya pada Kenzo, ia pergi ke rumah sakit dengan meminjam mobil milik mertuanya.
Nggak papa sekali-kali ia melanggar, toh ini juga demi kesehatan bayi yang ada di perutnya. ungkap Riella dalam hati saat ia mengemudikan mobilnya menuju klinik.
Sampai di klinik, Riella jadi teringat beberapa minggu yang lalu, saat ia ditemani periksa oleh Kenzo. Tapi siang ini ia berangkat sendiri, bahkan ia tersenyum pada wanita yang dulu digoda Kenzo. Wanita itu sekarang datang bersama suaminya. Ia merasa malu, karena kini ia berada diposisi wanita yang ia temui dulu. Beruntung wanita itu tidak membalas kelakuannya sekarang, jika iya ia bingung harus menjawab apa.
Riella menelan salivanya saat melihat anak kecil yang duduk tidak jauh darinya menikmati rumput laut dengan nikmat. Ia ingin sekali menikmati rumput laut seperti anak kecil itu. Makan rumput laut dengan nasi hangat.
“Astaga Riella, itu hanya rumput laut. Kenapa manatap seperti ingin merampasnya saja?” gumam Riella yang tidak segera mengalihkan tatapannya.
Sesaat kemudian, nama Riella dipanggil, ia bersyukur, saat tatapannya bisa teralihkan. Riella masuk ke ruang pemeriksaan dan disambut ramah oleh dokter Syifa yang sebulan lalu menanganinya.
“Alhamdulillah, bayinya sehat Nona Eriella. Usianya sudah sepuluh Minggu ya ... apa ada keluhan selama ini?” tanya dokter Syifa sambil memeriksa calon anak Riella.
“Tidak sih, Dok. Cuma kadang suka pusing saja setelah muntah.”
“Baik, Dok.” Singkat Riella, lalu segera duduk di kursi untuk menerima catatan resep yang Syifa berikan. Riella lalu berjalan ke arah apotek untuk mengantre obat.
Saat ia menunggu namanya dipanggil, terdengar suara teleponnya berdering. Riella buru-buru mengangkatnya, karena dia berharap jika Kenzo lah yang menelponnya. Tapi ia hanya kecewa karena yang menelepon adalah Erik.
“Hallo ....” Riella menyapa lelaki di ujung telepon.
“Hmmm ... gimana kabarmu? Kenapa dua hari tidak menelepon Papa?” tanya Erik memprotes Riella, karena tidak memberikan kabar padanya.
“Emm ... Riella sedikit pusing, Pa. Jadi masih fokus pada kesehatan Riella.” Riella berusaha menjelaskan, menutupi kondisinya saat ini.
Setelah itu terdengar suara panggilan dari penjaga apotek yang memanggil nama Riella dengan lantang.
“Ehm kamu lagi di mana?” tanya Erik yang mulai curiga.
“Em biasa cek kandungan, Pa.” Riella menjawab sambil meraih dompetnya yang ada di tas, “ini, Mbak.” Riella menyerahkan uang dan menerima vitamin yang tadi diresepkan dokter Syifa, sejenak mengabaikan teleponnya.
“Ow, di mana Kenzo? Apa dia tidak mengantarmu?” tanya Erik, dia curiga kenapa Kenzo tidak mengambilkan obat untuk anaknya, di saat Riella tengah menerima telepon darinya.
“Ada kok, Pa. Cuma katanya dia kebelet pup jadi dia pergi ke toilet sebentar.” Riella terpaksa berbohong, karena tidak ingin Erik curiga, dan kalau Erik tahu bisa-bisa ia langsung terbang dan menjemputnya untuk pulang. Riella kembali mendudukan tubuhnya di kursi tunggu. Menunggu Erik mengakhiri teleponnya.
"Pa ..." panggil Riella mengetes masih ada Erik di ujung telepon.
“Hemm ....” jawab Erik singkat, sambil menanti Riella melanjutkan ucapannya. Cukup lama mereka diam, hanya saling mendengarkan suara nafasnya saja.
“Pa ... Riella pingin sekali makan rumput laut. Bisa nggak Papa kirim via paket saja,” minta Riella pada lelaki di ujung telepon, ia sebenarnya sedikit ragu untuk mengatakan itu. Ia takut Erik curiga dengannya.
“Kenapa nggak minta sama Kenzo?” tanya Erik.
“Di sini susah mencarinya, Pa.” Riella mulai mencari alasan yang tepat, dan mungkin itu alasannya.
“Oke, nggak pengin Papa yang ngantar saja ke sana?” Tawar Erik, dengan senang hati akan langsung terbang ke Banjarmasin. Jika anak gadisnya itu menjawab ya.
“Eng ... nggak usah. Papa sudah tua jadi istirahat saja di rumah.” tolak Riella.
Terdengar suara Erik yang menghembuskan nafasnya kasar, “ya, Papa akan mengirimkan itu secepatnya. Kamu jaga dirimu baik-baik di sana!”
“Terima kasih, Pa. Papa terbaik untuk Riella.” Riella tidak kuat untuk menahan air matanya, ia meneteskan air mata. Saat mengingat Erik yang masih mau ia repotkan. Meski papanya itu berada di seberang sana.
“Dari dulu Papa selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Apalagi setelah ini kamu akan melahirkan cucu untukku, aku tidak berhenti tersenyum hanya membayangkan saja.” Kata Erik membuat Riella kesulitan untuk meredam suaranya.
“I-iya,” suara Riella terdengar parau, ia yang paham segera menutup ponselnya tanpa berpamitan pada Erik. Ia khawatir Erik akan semakin curiga, apa yang terjadi dengannya saat ini.
Setelah sedikit tenang, Riella segera berjalan ke area parkir mobilnya. Ia ingin segera pulang, beristirahat di rumah dengan Aslan. Bayi itu semakin hari semakin menggemaskan, dan itu membuat ia sejenak melupakan masalahnya.
#Note :
Reader yang punya aplikasi kuning berlogo N tengokin karya Ella ya, ketik saja My Second Husband (free) oke terima kasih, jangan lupa like, komentar dan vote😉