The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Menunggu Pulang



Happy reading 📖📖


Malam yang semakin dingin, tak mengurungkan Riella untuk menunggu Kenzo pulang ke rumah. Dia masih terjaga, setia menunggu Kenzo. Riella sudah menyiapkan berbagai pertanyaan untuk Kenzo. Dia penasaran dengan hasil tes laboratorium yang ada di meja kerja Kenzo.


Bayi kecil Riella sudah terlelap di atas box. Hari ini Aslan sedikit nurut, dia mungkin paham jika suasana hati Riella sedang tidak baik. Riella berusaha menghubungi Kenzo lagi, tapi tetap saja ponsel Kenzo masih mati. Ia semakin khawatir, karena sebelumnya Kenzo tidak pernah pulang selarut ini, kalaupun terpaksa pulang telat, ia akan selalu mengabarinya.


Dengan rasa khawatir yang begitu tinggi. Akhirnya Riella memutuskan menelepon wanita yang ia kenali di kantor Kenzo. Sebenarnya dia tidak begitu mengenalnya, tapi mereka sempat bertukar nomor ponsel ketika Riella berkunjung ke kantor Kenzo.


“Ha-hallo,” sapa Riella sedikit ragu saat mendengar teleponnya tersambung.


“Eh, Bu ... ada apa ya? Tumben telepon?” tanya Miranti khawatir saat mendapat telepon dari Riella.


“Mira ... lagi di mana? Apa suami saya masih berada di kantor?” tanya Riella saat mendengar suara Miranti.


“Haduh Bu, bukannya Bapak pergi dengan Ibu ya? Saya justru mau menanyakan baju yang dipesan Pak Kenzo untuk Ibu, apakah muat?” Miranti justru kebingungan saat mendapati Riella menanyakan keberadaan Kenzo.


“Mira jangan becanda deh!” tegur Riella yang sedikit terkejut dengan ucapan Miranti.


“Bu! Saya yang bingung deh kalau begini!” keluh Mira, “sudah ya, saya matikan saja!” putusnya yang merasa bersalah pada Riella.


“Mira tunggu dulu! Sebenarnya di mana suami saya?” tanya Riella yang ingin mendapatkan penjelasan. Ia tidak paham dengan ucapan wanita di ujung telepon.


“Begini ya Bu, maaf bukannya saya kenapa dan ada apa, tapi Pak Kenzo meminta saya untuk mencarikan gaun resmi, buat acara malam ini menghadiri pesta pernikahan rekannya. Saya pikir gaun itu untuk Ibu, karena Bapak meminta yang serasi dengannya.” Miranti mulai menjelaskan kejadian hari ini.


“Kamu yakin, Mira?” Riella meyakinkan apa yang ia dengar dari Miranti. Dadanya sesak, merasakan degup jantungnya yang mulai berpacu cepat.


“Bu, maaf kalau saya salah, dan sudah memberitahu Ibu. Tapi saya sungguh berbicara jujur dengan Ibu. Saya tidak berani bicara bohong!” ucap Miranti, terdengar suara penyesalan dari bibirnya. Ia tidak mau dicap sebagai wanita yang suka mengadu domba antar Kenzo dan Riella.


“Kamu tahu nggak, Bapak perginya dengan siapa?” tanya Riella yang penasaran.


“Maaf Bu, saya tidak tahu. Tapi, Bapak sudah keluar dari kantor pukul 4 sore. Bapak pergi dengan Kak Reva, saya pikir tadi mau bertemu klien, karena katanya undangannya pukul delapan malam,” jelas Miranti.


“Ya, sudah terima kasih.” Riella lalu menutup panggilannya. Ia mengatur nafasnya sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa. Memejamkan matanya di sana, menghalau air matanya yang terus memaksa turun.


“Semua lelaki itu sama! Sama-sama pengkhianat!” Riella kini sudah emosi melempar semua bantal sofa yang selalu ia susun di sandaran sofa. Setelah ia menyadari kelakuannya, ia menangis lirih sambil terus mengusap air matanya. Berharap Kenzo segera pulang dan memberikan penjelasan padanya.


Ting!



Pesan dari Miranti masuk ke nomornya, disertai bukti kuat Kenzo tengah bersama Reva yang menghadiri pesta pernikahan.


Terima kasih atas kerja kerasmu!


Riella masih bisa membalas pesan yang dikirimkan Miranti padanya. Dia justru berhutang budi pada Miranti yang sudah susah payah membantunya.


“Kuat Riella, pasti kamu bisa. Tidak perlu khawatir jika ia meninggalkanmu. Karena selama ini kamu tidak mencintainya. Semua akan baik-baik saja, bedanya cuma sekarang kamu punya bayi, yang akan selalu menguatkanmu!” lirih Riella menguatkan dirinya sendiri, ia meyakinkan dirinya jika belum jatuh cinta lagi dengan Kenzo. Dan semuanya akan kembali ke awal, tidak akan ada yang namanya sakit hati setelah mereka berpisah.


Riella masih menunggu Kenzo pulang ke rumah. Ia sengaja menunggu di ruang keluarga, sambil membaca buku di tangannya. Namun, hingga pukul 12 malam Kenzo tidak segera pulang maupun memberi kabar apapun padanya.


Sekali lagi Riella mencoba menghubungi Kenzo. Namun, ponsel suaminya masih tidak aktiv. Ia menyerah dan masuk ke dalam kamar. Menemani Aslan yang sudah terlelap, dia mengambil Aslan dari box bayinya, memindahkan Aslan di ranjang untuk tidur dengannya.


Mata Riella terus menatap lelaki di sampingnya. Bayi tampan yang semakin berisi, ia tidak lagi mengingat kesedihannya setelah menatap wajah teduh Aslan yang terlelap. Riella akhirnya terlelap dengan tangan memeluk tubuh Aslan. Ia memberikan cintanya untuk Aslan, dia benar-benar mencintai Aslan seperti anak kandungnya sendiri. Sempat ia berpikir akan membawa Aslan jika mereka berdua nanti berpisah.


***


Mentari pagi mulai bersinar memberikan kehangatan kamar yang Riella tempati saat ini. Riella mulai membuka kelopak matanya, sekilas ia teringat pesan dari Miranti, ia lalu meraba sisi kanannya. Tidak ada Kenzo di sana. Ia mulai tidak tenang, karena Kenzo tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Riella lalu berjalan keluar kamar, menuju garasi mobil dan mobil Kenzo juga sudah tidak ada di sana. Ia sudah memastikan jika Kenzo tidak pulang ke rumah tadi malam. Ini masih pagi, tapi pikiran Riella sudah kacau, tidak mungkin juga Kenzo tidur di kantornya semalam.


Riella lalu kembali ke kamar, untuk menghubungi Alby. Meminta lelaki itu untuk datang ke rumah. Dengan sigap Alby segera menuju rumahnya, karena rumahnya dengan Alby tidak terlalu jauh.


Saat Alby tiba di sana, dia menemukan Riella sudah menunggunya di teras rumah. Riella sudah berpakaian rapi, terlihat cantik pagi ini, meski matanya yang sembab. Alby yang curiga segera mendekat dan menanyakan keadaan Riella. Namun, saat ia hendak angkat suara, Riella memupuskan niatnya.


“Alby, tolong jaga Aslan! Aku pinjam mobilmu sebentar, dan tolong kirimkan alamat Reva melalui pesan singkat!” perintah Riella yang mendekat ke arahnya.


“Tapi Mbak Riella mau ke mana?” tanya Alby penasaran, dengan perkataan Riella.


“Diamlah Al, segera kirimkan alamat Reva padaku!” ulangnya sambil masuk ke dalam mobil, Riella mengikatkan seatbelt lalu menjalan kan mobilnya pelan meninggalkan pekarangan rumah Kenzo.


...----------------...


#Note


Foto hanya pemanis, ambilnya di Ig Kem Hussawee 🤪. Jangan lupa untuk like, komentar wajib, dan vote sebanyak-banyaknya. Terima kasih 🙏