The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Pasien Darurat



Seminggu sudah berlalu sejak kejadian di mobil yang tidak membuat otak keduanya nyaman, lantaran ada beberapa orang yang membicarakan kejadian tersebut. Saat ini durasi pertemuan Emil dan Riella semakin menipis, karena kesibukkan masing-masing yang terlalu banyak menyita waktunya.


Sore ini, setelah pulang dari rumah sakit, Riella ada janji dengan Chika, bahwa dia akan menjemput Chika di bandara. Chika baru saja selesai dari liburannya di Australia, menghilangkan ketegangannya usai proses perceraiannya dengan Danish kemarin. Setelah menjemput Chika, ia akan makan malam bersama dengan Emil dan kedua sahabatnya.


Riella membereskan barangnya, memasukkannya ke dalam tas, hendak bersiap untuk menjemput Chika. Berulang kali terdengar ponselnya berdering, tapi ia hanya tersenyum tipis, karena dari suara deringnya ia sudah mengetahui jika itu panggilan dari calon suaminya.


Setelah lama mengabaikan panggilan dari Emil, sampai membuat Emil menghubunginya hingga ketiga kali, dengan berat hati Riella baru menjawab panggilan dari calon suaminya.


“Apa Sayang?” tanya Riella tanpa mengucapkan salam pada Emil.


“Kenapa lama sekali mengangkat teleponku? Kamu di mana sekarang? Apa kamu baik-baik saja?” terdengar jelas nada suara Emil tengah emosi bercampur khawatir karena Riella tidak segera mengangkat penggilannya.


“Iya, ini aku mau berangkat ke bandara, dan aku baik-baik saja,” jawab Riella yang juga ikut tersulut emosi.


“Oke, oke! Jangan ikut emosi, aku akan menjemputmu sekarang.” Emil yang sudah keluar dari gedung kantornya bersiap menuju mobilnya untuk menjemput Riella.


“Nggak perlu, Kak. Kita bertemu saja di tempat biasa, aku sudah keluar kok ini, kalian bisa memesan makanan kesukaanku lebih dulu, sebelum aku dan Chika datang,” lanjutnya sambil berjalan meninggalkan ruangan yang biasa ia gunakan untuk beristirahat. Riella lalu menutup teleponnya, berjalan menelusuri koridor rumah sakit, setelah Emil menyetujui saran yang ia tawarkan, dia menyapa rekannya yang tadi membantunya menangani pasien korban kecelakaan beberapa jam yang lalu, yang tidak lain adalah dokter Rizki. Calon dokter yang menjalani koas di rumah sakitnya.


“Dokter Riella,” panggil seorang perawat yang berlari cemas menghampiri keberadaan Riella. Riella yang mendengar itu reflek menghentikan langkahnya, menyadari jika terjadi sesuatu dengan pasien yang baru saja ia tangani, ia lalu menoleh ke arah perawat yang tadi memanggilnya.


“Pasien yang baru saja dokter tangani jantungnya kembali melemah, Dok!” ujarnya panik setelah berada di depan Riella. Riella yang mendengar aduan dari perawat perempuan yang seusianya, tampak panik, berpikir keras apa ada kesalahan saat ia menanganinya tadi, dia lalu bergegas kembali ke ruangan, kembali mengenakan snelli putih yang tadi ia tinggal di sandaran kursi kerjanya.


Dengan langkah panik, ia kembali berjalan ke ruang ICU, menghampiri pasien korban kecelakaan yang tadi siang ia tangani bersama Rizki. Riella menarik nafas dalam, membuangnya perlahan, sebelum masuk ke ruang ICU, mencoba membuang rasa khawatirnya, menenangkan dirinya terlebih dahulu, sebelum kembali bertatapan dengan pasiennya yang tengah sekarat di atas brankar.


“Apa masalahnya?” tanya Riella pada rekannya yang tadi menangani pasien yang terbaring lemah di brankar.


“Pendarahan di kepalanya belum berhenti, sampai menit ini. Dan tadi pasien sempat kejang, Dok.” perawat itu menjelaskan keadaan lelaki bernama Julius yang tengah menanti detik-detik terakhir nafasnya.


“Cepat panggilkan dokter Febri!” teriak Riella pada wanita di berada balik punggungnya.


“Dokter Febri di ruang operasi, Dok. Dia belum bisa keluar.”


“Astaga! Cepat temui dia, harusnya dokter Febri sudah selesai! Dia sudah di sana 3 jam.” Maki Riella di tengah rasa paniknya.


Namun, tiba-tiba terdengar suara lelaki yang mengejutkan dari balik punggungnya.


“Kita serahkan semua pada Allah, kita hanya mencoba membantunya, jika pasien tidak berhasil melewati masa kritis, itu bukan kehendak kita.”


“Kamu Diam, Ki! Kamu nggak paham, bagaimana aku berusaha mencoba menyelamatkan satu nyawa di sini!” Riella meluapkan emosinya pada lelaki yang kini sudah berdiri di depannya.


Sejenak Riella memikirkan apa yang diucapkan Rizki, ia bingung juga dengan dirinya yang mendadak kacau, tidak fokus dalam menangani pasiennya hari ini. Saat ini pikirannya tidak mampu berpikir jernih, hanya ketakutan akan kehilangan satu nyawa yang tadi ia tangani tadi siang.


Ketegangan terjadi di ruang ICU, perdebatan kecil antara Riella dan Rizki mengundang rasa penasaran keluarga korban. Mereka memperhatikan keduanya dari balik kaca bening yang menutupi akses ruangan, hanya gerakan tangan saja yang mampu keluarga pasien lihat. Tidak lama kemudian dokter Febri yang ternyata sudah selesai menangani pasien segera masuk ke dalam ruang ICU, melerai pertikaian mereka berdua.


“Kalian berdua. Silahkan keluar ruangan!” teriak Febri tanpa peduli siapa pemilik rumah sakit, dia hanya ingin menyelamatkan nyawa pasien yang hampir saja terlewat karena perdebatan mereka berdua, yang pembahasannya sama sekali tidak penting.


Riella menurut dengan dokter Febri, karena ia tahu apa yang ia lakukan sangat salah. Dia lalu menghampiri keluarga pasien yang tengah menunggunya di depan ruangan.


“Maafkan saya, Bu. Putra Ibu sudah mendapatkan penanganan dengan dokter Febri. Maafkan atas ketledoran saya.” Riella berucap dengan perasaan bersalah yang terlihat jelas.


Wanita paruh baya yang di temani anak gadis perempuannya itu hanya diam. Namun tatapannya mengintimidasi ke arah Riella, seolah menyalahkan Riella jika terjadi sesuatu dengan anak kesayangannya.


“Berapa tahun kamu menjadi dokter, hah?!” teriak wanita seumuran Ella di depan wajah Riella dengan air mata yang meluncur deras. Membuat Riella membayangkan jika yang menangis itu adalah mamanya.


“Jika sampai anakku pergi, aku nggak akan tinggal diam, ya! Aku akan menuntut mu!” lanjutnya membuat Riella semakin merasa bersalah dengan penangananya tadi.


“Sudah, Bu. Kita serahkan semua pada Allah!” lirih gadis yang merangkul tubuh wanita paruh baya tersebut, “dokter juga sudah berusaha keras dari tadi kakak tiba di sini, jika nyawanya tidak tertolong, berarti itu sudah kehendak yang di atas. Tidak perlu menyalahkan dokter, dokter hanya perantara Allah untuk membantu menyembuhkan Kakak,” ujar gadis berwajah campurna bule dan Jawa. Ia lebih membela Riella yang menampakkan wajah penuh penyesalan.


Riella yang paham maksud dari gadis tersebut, segera berlalu dari tempat tersebut, tanpa berpamitan dengan keluarga pasien. Dia lalu kembali berjalan menuju ruangan yang biasa dipakai untuk istirahat. Tiba di ruangan ia masuk ke dalam kamar mandi, mencuci wajahnya yang lusuh setelah lelah bekerja keras seharian. Mengabaikan ponselnya yang sejak tadi berdering di dalam tas kulit yang menjadi kesukaanya.


Setelah selesai Riella mengambil ponselnya, terdapat laporan puluhan panggilan tidak terjawab dari Emil, detik berikutnya ponselnya kembali berdering, ia segera mengangkatnya, dugaanya tidak meleset. Suara cacian dari Emil terdengar dari seberang telepon, memgumpatinya tidak jelas karena ia tidak kunjung datang ke tempat yang sudah mereka janjikan. Bahkan sekarang Chika dan Eva sudah berada di sana.


“Dalam 15 menit kamu tidak sampai di sini, aku akan pulang!”


“Iya, kamu pulang saja, maafkan aku, aku benar-benar kacau malam ini.” Tanpa berpamitan Emil langsung menutup panggilannya. Sedangkan Riella yang merasa tubuhnya lemas, ia meraih kursi dan melepar snellinya ke sandarna kursi, ia duduk di sana sambil menelungkupkan wajahnya di pinggiran meja, bayangan ketika menolong lelaki yang berlumuran darah itu menghiasi otaknya malam ini. Mengingat lagi semua penanganan yang ia lakukan tadi siang.


“Dokter Riella.”


🚑


🚑


🚑


🚑


Terima kasih sudh berkenan singgah jangan lupa vote, like dan komentarnya ya. Terima kasih.