The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Benci Yang Beralasan



Riella yang hendak bersuara menjawab tuduhan Kalun, langsung dicegah dengan suara Kenzo yang membuatnya merinding.


“Iya, baru juga mau pemanasan, malah kamu ganggu, sudah sana! Pergilah cepat jika tidak ada hal penting yang akan kamu sampaikan! Aku mau melanjutkan kegiatanku yang tertunda. Tanggung tahu nggak.”


“Gila. Aku kira kamu volos tak tahunya … penjahat!” Kalun menampilkan cengiran khasnya ke arah Kenzo. Meronta dalam hati karena hanya dialah lelaki yang benar-benar menjaga keperjakaannya sebelum benar-benar resmi menikah.


“Ya sudah lanjutkan saja, aku akan segera memanggil kedua orang tuaku untuk menggrebek kegiatan kalian,” pesan Kalun segera berlalu dari kamar adiknya.


“Maksudnya apa coba ketuk-ketuk pintu!” teriak Kenzo yang menghentikan langkah Kalun, calon kakak iparnya itu lalu menoleh kepadanya..


“Ngetes saja, kalian masih pakai baju atau tidak,” ujarnya, lalu melanjutkan jalannya meninggalkan sepasang manusia yang menatapnya penuh kebingungan.


Kedua orang yang masih berdiri di ambang pintu itu saling tatap menanyakan maksud Kalun melalui bahasa isyarat. Sebelum terdengar perintah Riella untuk Kenzo terlontar mulus dari bibirnya.


“Masuklah!” Riella berbalik badan, masuk lebih dulu ke dalam kamar meninggalkan Kenzo yang tengah menutup pintu. Riella mengambil duduk di tepi ranjang, mengawasi kaki Kenzo semakin dekat ke arahnya.


“Sepertinya penting sekali, sampai kamu harus mengurungku dua kali di sini.”


Riella menyengir ke arah Kenzo, “ya, ini memang penting, menentukan pernikahan ini akan diteruskan atau dibatalkan.” Riella beralih menatap lukisan yang terpasang di kamar Maura. Menghindari tatapan Kenzo. “Baiklah sepertinya aku harus segera mengucapkannya.” Riella lalu berdiri, mendekat ke arah jendela kamar, tidak ingin rasa gelisahnya ia perlihatkan di depan Kenzo, ia menarik nafas dalam sambil memejamkan matanya.


Ya Tuhan, kenapa berat sekali untuk membuka mulutku, hanya untuk jujur dengannya. Keluh Riella dalam hati sambil mere*mas ujung pashmina yang sudah ia gulung dengan jari.


“A-a-aku sudah tidak suci lagi, kamu masih bisa membatalkan acara pernikahan ini, sebelum kita benar-benar resmi menikah,” ucap Riella sedikit kesusahan di awal kalimatnya, tapi walaupun suara yang ia ucapkan lirih, masih bisa di dengar Kenzo dengan jelas, sebab lelaki itu berdiri tepat di belakangnya, bersidakep sambil memainkan ujung hidungnya.


“Hanya itu yang ingin kamu katakan?” tanya Kenzo kemudian, menampilkan senyum tipis yang tidak mampu dilihat oleh Riella.


“Iyah. Hanya itu, kamu bisa pergi jika kamu tidak bisa menerimaku, sebelum semuanya terlambat untuk mundur.” Riella berucap tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya, menatap hamparan kolam renang yang tepat di samping kamar adiknya, mengatur perasaan gelisah jika Kenzo benar-benar akan pergi meninggalkannya.


Kenzo mendekat ke arah Riella, mencondongkan tubuhnya, hingga bibirnya tepat berada di belakang daun telinga Riella, membisikkan ucapannya di sana dengan tulus dan lembut, “terima kasih sudah berkata jujur.”


Reflek Riella berbalik badan karena merasa tidak nyaman dengan nafas Kenzo yang mendarat di telinganya, dia menatap Kenzo penuh dengan pertanyaan. “Kamu bisa pergi jika tidak menerimaku! Kamu masih punya waktu untuk memikirkan semuanya. Aku tahu, tidak ada pria yang menerima bekas orang lain. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan Ken. Kamu lelaki baik, dan seharusnya bisa mendapatkan lebih dari pada aku.”


“Begitu ya? Aku baik? Hemm ....” Hening sesaat sebelum Kenzo melanjutkan bicaranya, “lalu aku harus protes sama siapa? Jika Tuhan sudah menuliskan takdirku untuk bersamamu?” Kenzo lalu mendaratkan kedua tangannya ke pundak Riella, sedikit menunduk, tatapannya menatap lembut ke arah Riella, “masa lalu yang kamu lakukan itu, tidak ada hubungannya denganku, biarlah itu menjadi rahasia antara Tuhan, kamu dan dia. Aku sebagai calon suamimu, tidak peduli mau kamu suci, atau tidak, karena bagiku kamu wanita sempurna. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu ke depannya, kamu bisa pegang ucapanku.”


Riella membalas tatapan Kenzo, bukan hanya terpesona dengan ketampanannya, tapi sikapnya yang selalu menenangkan, dalam hatinya ia selalu memuji setiap apapun yang Kenzo ucapkan padanya. Dia paham lelaki di depannya ini benar-benar mencintainya tetapi ia tahu jika dirinya tidak mampu membalas ketulusan Kenzo. Lelaki itu sudah menggoreskan luka lebih dulu di hatinya, benci karena Kenzo sudah ingkar janji.


Liburan yang sudah Riella dan Kenzo rencanakan musim itu. Liburan bersama mendatangi kota Seoul, Korea bersama anggota keluarga, lalu memasangkan gembok cinta di sana, berharap keduanya benar-benar bisa bersatu suatu hari nanti. Namun, yang terjadi Kenzo tidak datang musim itu, rencananya memasang gembok cinta di sana sirna karena lelaki itu tidak bisa dihubungi. Seluruh keluarganya hilang tanpa kabar. Bahkan Ella tidak bisa menghubungi seorangpun yang ada di Banjarmasin, orang panti juga tidak tahu menahu keberadaan keluarga Kenzo saat itu.


Terdengar hembusan nafasnya kasar saat Riella mengingat kejadian itu, “Dan, ada satu lagi Ken! Jangan mengharapkan aku mencintaimu. Karena sejak saat itu semuanya hilang bersama kepergianmu!”


Terdengar deheman Kenzo yang merdu, dan lembut, “tapi kita menikah bukan untuk permainan, kita nikah untuk ibadah dan aku yang akan mempertanggungjawabkan semuanya pada Allah. Jadi, maaf, kalau kamu melarangku untuk tidak memberikan nafkah apapun nanti, aku tidak bisa melakukannya. Kamu tahu salah satu tujuan menikah untuk …” Kenzo tidak mampu meneruskan ucapannya, karena dia paham dengan apa kekurangannya saat ini. Dia paham dengan kondisinya yang belum tentu bisa membimbing Riella ke jalan yang benar.


“Beri aku waktu!” kata Riella setelah Kenzo terdiam, “dulu aku memang menyukaimu, menginginkanmu. Bahkan setiap hari, aku selalu menginginkan supaya waktu cepat berlalu. Dan aku selalu menantikan hari libur tiba, untuk bisa segera bertatap muka denganmu. Tapi tidak untuk sekarang. Maaf.” Kata Riella di akhiri tepukkan lembut di pundak Kenzo. Dia lalu berlalu pergi meninggalkan kamar Maura. Menghampiri keluarganya yang masih berkumpul di ruang tengah.


Riella duduk di samping Erik yang tengah menggendong anak dari Ghea. Gadis kecil yang berada di pangkuan Erik itu terus mengangkat tangannya ke arah Riella, saat melihat kehadirannya. Meraih tangan Riella meminta gendong.


“Sabar ya, aunty mu baru snewwen,” goda Erik mengajak gadis bernama Ghina untuk bicara. Dia lalu menyenggol lengan Riella.


“La, papa mau juga ya nanti dibikinin cucu kaya Ghina, kalau bisa cewek 3 cowoknya 4, biar rame.” Goda Erik dengan ekpresi serius.


“Hilih, emangnya Riella pabrik pembuatan baby. Riella nggak mau hamil, papa minta saja sama Kak Kalun tuh!” kata Riella menunjuk ke arah Kalun yang baru saja bergabung dengannya.


“Itu jelas, dia sudah mau ada hasil, keponakanmu sudah dalam perjalanan, dan nanti papa harap kamu juga tidak akan menundanya, biar rumah papa ini makin rame,” bujuk Erik menatap ke arah Kalun dan Riella bergantian.


“Nggak janji, papa tahu sendiri gimana Kenzo. Badannya saja besar begitu, kaya Hulk. Riella takut!” kata Riella sedikit pelan lalu beranjak dari duduknya, hendak masuk ke kamar.


“Gede badan saja, tapi hatinya tetap lembut kok, penyayang lagi.” Sahut Kenzo yang baru saja tiba dari kamar Maura, ia menahan lengan Riella yang hendak pergi, untuk tetap duduk di posisinya.


“Maaf Pa, sepertinya kita sepakat untuk menunda dulu soal momongan. Ken tahu, kalau Riella juga tengah sibuk, dan Kenzo juga sibuk akhir-akhir ini harus mondar-mandir Singapura- Banjarmasin- Bali. Dari pada kenapa-napa mendingan kita tunggu waktu yang tepat.” Terang Kenzo yang langsung disambut senyuman ramah oleh Riella, sebagai thanks giving karena calon suaminya itu sudah paham akan arti ucapannya di kamar tadi.


“Yah, terserah kalian. Yang penting kalian bahagia.” Erik tampak kecewa dengan keputusan mereka berdua, meski hanya Kenzo saja yang berbicara, tapi ia paham apa yang ada di pikiran anak gadisnya saat ini.


🚑


🚑


🚑


🚑


Sudah terjawab kan, ya?🤭 alasan di balik kebencian Riella. Lalu di mana Kenzo saat itu?🤣🤣🤣


Jangan lupa, like dan komentar. Ke kondangan setelah ini, dresscode nya putih, selain putih dilarang masuk🤣🤣🤣🤭 Terima kasih yang sudah berkenan membaca🙏