The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Memang Pantas Aku Dapatkan



Cahaya mentari kembali bersinar cerah pagi ini. Bersiap menguapkan tetesan embun pagi dengan sinar panas yang terik. Bunyi suara air menetes masih terdengar dari arah kamar utama rumah Kenzo.


Riella membuka matanya yang bening, meregangkan kedua tangan ke samping dan ke arah atas kepala. Setelah puas ia kembali meraih selimut menutupi kakinya yang jenjang. Ia menoleh ke arah samping tempatnya berbaring. Sang suami tidak berada di sampingnya.


Ah, mungkin tidur di rumah mama, menemani Kalun ngobrol. Riella berusaha berpikiran positif, tidak ingin terlalu pusing memikirkan tingkah Kenzo.


Merasa kantuknya hilang, ia segera beranjak dari tempat tidur empuk, yang semalam menjadi sandaran rasa lelahnya. Riella berjalan ke arah kamar mandi, bersiap untuk menemui keluarganya.


Kondisi kesehatan Riella saat ini semakin membaik. Dia sudah bisa berjalan sendiri kemanapun ia mau.


Setelah Riella selesai mandi, dia segera keluar dari kamar. Bola matanya menangkap Ella dan Aluna tengah sibuk menyiapkan sarapan. Dia berjalan berusaha membantu dua wanita yang tengah sibuk.


“Sudah bangun, bumil cantik?” Ella bertanya saat menyadari kehadiran anaknya.


“Mama saja yang bangunnya kepagian. Kamu juga Kak Lun! Ngapain bangun pagi-pagi begini?” Riella menegur kakak iparnya yang tengah sibuk memasukkan tempe.


“Coba lihat ke arah jam tua mu itu!” Ella menunjuk ke arah jam, dengan alat penggorengan di tangannya.


“Sudah jam delapan pagi Riella!” sambar Aluna. Riella meringis, saat menyadari jika dia yang terlambat bangun.


“Papa mana, Ma?” tanyanya sambil mengambil tempe mendoan dari penggorengan. Tapi setelah itu ia mengibaskan tangannya karena tersengat minyak panas yang masih menempel di tempe mendoan yang penuh irisan daun bawang.


“Kamu itu kebiasaan, belum berubah juga tenyata! Tuh papamu lagi belajar ghibah!” Ella menunjuk ke arah bayangan Kalun dan Erik yang tengah berbincang serius.


“Lagi berjemur sama Leya, ada Aslan juga di sana!” sahut Aluna yang teringat dengan anak gadisnya.


Riella langsung berjalan keluar setelah mendengar nama Aslan disebut. Dia begitu merindukan bayi lelaki yang semakin menggemaskan itu.


“Riella, jangan gendong Aslan dulu!” Ella berteriak memperingati anaknya. Karena takut Riella akan teledor lagi.


“Oke, Ma!”


Riella lalu mendekat ke arah Aslan yang tengah digendong Maura. Dia menciumi pipi gembul anaknya. Dia merindukan Aslan, karena hampir satu Minggu dia tidak mengurus bayi pertamanya ini, dia merasa ada yang kurang, jika Aslan jauh darinya.


“Mam ... Mammmmm ....” terdengar suara Aslan saat Riella berada di depannya. Bayi itu memainkan air liurnya hingga menyembur di area bibirnya yang tipis.


“Mam-mi ....” Riella mengeja, memberi contoh untuk Aslan. Tapi yang ada Aslan justru mengambil kata belakangnya saja. Dia lalu mencium gemas pipi Aslan. Meski dia rindu tapi dia tidak boleh mengabaikan ucapan mamanya.


Setelah Erik masuk ke dalam rumah bersama Leya, kini giliran Kalun mendekat ke arah Riella.


“Di mana suamimu?” tanyanya dengan senyum licik terpancar dari bibirnya. Sedangkan Riella menampilkan wajah bingung ke arah Kalun.


“Bukannya Kenzo tidur di rumah mama Nindi?” Riella menjawab dengan pertanyaan.


Kini Kalun justru terkikik, "aku pikir dia memintamu untuk mengobati lukanya. Syukurlah jika kamu tidak semudah itu luluh dengannya."


“Apa maksudmu, Kak?!” Riella meninggikan suaranya meminta penjelasan.


“Aneh! Sana cari suamimu!” perintah Kalun.


Riella kembali masuk ke dalam rumah, untuk mencari keberadaan Kenzo. Awalnya dia bertanya pada Erik yang berada di ruang keluarga, melihat Kenzo tidak pagi ini, tapi Erik menjawab dengan gelengan kepala. Dia lalu berjalan menyambangi ruang kerja suaminya.


Riella mendengus kesal, pintu sudah ia ketuk tiga kali, tapi tidak ada jawaban dari sang pemilik ruangan.


“Ken. Kamu di dalam?” teriak Riella yang masih mencoba mencari keberadaan Kenzo. Merasa tidak ada jawaban tangan kanannya menggoyangkan ganggang pintu yang di kunci dari dalam. Kini tangan kiri bukan mengetuk pintu, tapi beralih menepuk-nepuk kasar daun pintu di depannya.


Riella tahu Kenzo berada di dalam, karena pintu ruang kerjanya terkunci. Mungkin Kenzo masih tidur, atau Kenzo tengah sakit karena ulah kakaknya kemarin, karena sebelumnya Kenzo juga terlihat tidak sehat.


“Ken!” Riella menempelkan telinganya di daun pintu, “jangan buat aku panik, Ken! Aku tahu kamu di dalam!” Riella berteriak lagi. Mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dapur. Selang beberapa detik terdengar suara kaki dari dalam ruangan.


Handle pintu ditarik Kenzo dari dalam, dia sedikit membuka pintunya, bersembunyi di balik pintu. Riella yang melihat itu merasa lega. Karena ternyata Kenzo masih bernafas. Tapi saat mendengar suara batuk dari Kenzo dia terlihat khawatir.


“Iyha ... tenanglah, aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku!” Kenzo kembali terbatuk, batuk kali ini lebih dalam dari pertama tadi. Dan membuat Riella curiga jika suaminya itu tengah tidak sehat.


Riella lalu mendorong pintu ruangan kerja Kenzo, reflek membuat suaminya itu terjungkal kebelakang karena tidak siap dengan tindakannha. Kenzo membuang nafas kasar, tidak berani menatap Riella yang sudah satu ruangan dengannya.


“Kenapa dengan wajahmu?” selidik Riella sudah meletakkan kedua tangannya di pinggang, “ini perbuatan Kalun?” Kenzo masih diam menunduk, tidak menjawab pertanyaan Riella. Riella memang seperti itu jika sedang kesal tidak ingin memanggil dengan embel-embek Kak pada Kalun. Toh usia mereka tidak jauh beda.


Riella hendak keluar ruangan, ingin membuat perhitungan dengan Kalun. Dia tidak suka jika urusan keluarga kecilnya dicampuri oleh orang lain. Dia takut masalahnya akan semakin rumit.


“Jangan tegur dia! Ini memang pantas aku dapatkan! Jangan khawatir aku tidak apa-apa!” ucap Kenzo sambil menahan pergelangan tangan Riella.


“Apa kamu tidak mengganti bajumu? Kamu sengaja menarik perhatianku?” selidik Riella sedikit emosi, saat melihat baju Kenzo yang masih terasa lembab.


“Kamu memang bodoh! Tapi jangan terus diperlihatkan seperti itu, pakai otakmu untuk memikirkan baik-buruknya!” Riella menatap lekat ke arah Kenzo, seperti ibu yang tengah memaki anaknya.


“Aku tidak mau menganggu waktumu istirahat. Aku takut kamu terbangun, saat mendengar langkah kakiku!” Kenzo menjelaskan pada istrinya. Sekarang baik atau buruk kelakuannya akan dianggap salah oleh Riella. Jadi dia lebih baik begitu.


“Kamu itu terlalu parno an! Sedikit-dikit takut! Sama halnya menyerah sebelum berperang. Seperti masalahmu kemarin, kamu menyerah sebelum memberitahukan semua padaku, dan berakibat fatal! Kamu akan kehilangan aku!” Riella diam sejenak sambil menatap ke arah Kenzo.


“Takut ini itu, dan itu merugikan dirimu sendiri!” Riella terus menambah omelannya, layaknya KRL yang tengah berjalan diatas rel, mengerutuki sikap buruk Kenzo.


“Duduklah, aku obati lukamu!” Riella berjalan ke kotak P3K yang ada di lemari ruangan Kenzo. Dia teringat jika beberapa hari yang lalu melihat obat-obatan di sana.


Riella duduk di depan Kenzo, membersihkan darah yang sudah mengering di wajah suaminya. Tidak lupa dengan pelipis Kenzo yang terlihat luka goresan paling besar. Bibir Riella cemberut, dia kesal dengan dua orang pagi ini. Satu suaminya dan satu kakak kandungnya.



Kenzo hanya menatap dengan tatapan sayu. Luka yang dipencet Riella ini sebenarnya sakit, tapi dia berusaha menahannya. Dia lebih memilih mengalihkan rasa sakit itu dengan menatap wajah Riella yang terlihat berisi.



“Kamu tahu di sana ada kotak obat?” tanya Kenzo penasaran.


“Hemm ....”


“Sejak kapan?”


“Sejak kamu pulang ke rumah wanita lain!” Riella menjawab ketus.


“Riella ... semua tidak seperti yang ada di pikiranmu!”


“Tapi aku melihatnya, Ken! Kamu bahkan membelikan gaun yang serasi untuknya!” Riella masih bersikukuh dengan apa yang ia lihat.


“Bukan begitu, aku pikir kamu tidak akan mau menemaniku, kamu juga sedang muntah berat, aku juga tidak tega membawamu ke pesta. Aku tidur di rumah Reva karena aku kebanyakan minum!”


“Kau minum?!” selidik Riella.


“Sedikit.” sahut Kenzo, sebenarnya dia minum untuk mengalihkan pikirannya dari masalah yang tengah ia alami.


Riella kembali mengunci bibirnya rapat, tidak ingin berbicara lagi dengan Kenzo.


“Aku tidak melakukan apapun dengan milik orang lain. Aku tahu diri. Aku dan Reva hanya sebatas teman cerita, seperti Alby.” Kenzo berusaha menjelaskan pada Riella.


“Dia tahu semuanya, sejak awal dulu kita pacaran. Dan setelah putus semuanya berlalu begitu saja. Kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Kamu bisa tanyakan pada Alby.”


“Bukan urusanku!” Riella dengan kasar menekan luka Kenzo. Membuat suara teriakan keluar dari bibir Kenzo, diiringi tetesan darah yang kembali keluar.


...----------------...


JANGAN LUPA, LIKE, VOTE, DAN KOMENTAR, YANG SUKA BOLEH BANTUIN PROMO YAH😣 TERIMA KASIH 🌹🌹🌹🌹🌹