
Demi kalian meski tanggalnya merah aku tetap nulis, biar gak penasaran sama cerita mereka. Cuma mau ngingetin, jangan pelit ngasih vote ya! Yang saya takutkan, kalau views nya turun saya jadi males nulis. 😆😂😂😂😂 Hanya candaan jangan BAPER! Tapi kalau tiba-tiba ada tulisan END berarti *yo wes***🤣**
*
Setelah acara pembelian ponsel selesai, Kenzo membawa Riella keluar dari pusat pembelanjaan, mengabaikan Emil yang masih berada di dalam Mall. Karena jam di tangan Riella sudah menunjukkan pukul 2 siang, dan sebentar lagi Kenzo harus segera cek-in pesawat.
Saat mobil Riella sudah berada di area parkir bandara. Kenzo menghentikan Riella yang hendak turun dari mobil. Menarik tangan Riella supaya lebih mendekat lagi dengannya.
“Kenapa?” tanya Riella bingung mendapati kelakuan Kenzo.
“Kita coba dulu kamera ponsel baruku. Bagus nggak ya kira-kira?” jawab Kenzo sambil memainkan layar ponselnya. Riella hanya tersenyum tipis, mengerti maksud Kenzo.
“Modus tahu nggak, Ken! Pakai alasan mau nyoba kamera. Padahal kalau kamu bilang jujur pasti aku mau kok.” Riella mendekat ke arah wajah Kenzo.
Kenzo hanya tersenyum tipis, setelah mendengar jawaban Riella, lalu mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka berdua. Bukan hanya sekali atau dua kali. Tapi puluhan kali Kenzo mengambilnya dan dengan pose yang sama.
“Sudah ah, nanti ketinggalan pesawat!”
“Satu lagi,” minta Kenzo menahan tangan Riella. Setelah ia melihat hasil foto yang ada di galeri ponselnya. Kenzo lalu mencium pipi Riella sambil menekan tombol merah di layar ponsel. “Aku akan mengirimnya nanti ke nomormu siapa tahu kamu merindukan aku nanti malam.” Kenzo melihat lagi hasil kamera ponselnya, bibirnya melebar, ia memuji hasil bidikkannya sendiri. Setelah puas sesi pengambilan gambar, Kenzo membawa Riella masuk ke bandara. Menuntun Riella untuk mengantarnya hingga pintu masuk bandara.
“Sudah sampai sini saja! kamu jangan ikut masuk, pasti tidak akan diizinkan.” Kenzo memperingati Riella yang masih ingin mengikutinya.
“Ya, sampai ketemu lusa. Semoga urusanku di sini cepat selesai.” Riella menatap Kenzo sebelum suaminya berbalik badan.
Kenzo hanya mengangguk sambil merapikan anak rambut Riella ke belakang telinga. Dia membenci ini, meski hanya sebentar, tapi tetap saja setiap perpisahan tidak ada yang menyenangkan. Ia berusaha menahan air matanya, supaya tidak lolos membasahi pipinya. Tapi tetap saja, ketika ia berjalan masuk nanti, ada goresan pedih di hatinya.
“Jaga dirimu saat aku tidak berada di sampingmu!” pesan Kenzo sambil mencium pipi kanan dan kiri Riella.
“Ya, kamu juga. Jangan aneh-aneh selama di sana. Aku tahu di sana banyak wanita bule, tapi jangan sampai kamu tergoda!” pesan Riella sambil memeluk tubuh Kenzo.
“Nggak akan, sudah ah lepas! Atau aku tidak jadi berangkat saja,” kata Kenzo, membuat Riella melepas pelukannya.
“Bye …” ucap Kenzo sambil mengambil alih koper kecil yang dibawa Riella.
“Ya, hati-hati,” balas Riella sambil melambailan tangan. Ia terus menatap kepergian Kenzo yang semakin menjauh darinya. Hingga lelaki itu hilang tertutup kaca hitam yang tidak bisa ia lihat lagi, dia lalu berbalik untuk pulang ke rumah, dia lelah juga karena kurang istirahat. Bunyi pesan masuk membuyarkan konsentrasi Riella, ia segera membuka, sebuah gambar dia dan Kenzo membuat bibirnya tertarik ke atas.
Riella berbalik badan, mengamati tempat di mana Kenzo menghilang dari pandangannya, berharap Kenzo menemuinya lagi, tapi itu hanya di pikirannya, yang ada hanya sepasang manusia yang berjalan mendekat ke arahnya. Riella menggelengkan kepala, merutuki kelakuannya sendiri, yang berharap Kenzo akan kembali menemuinya, di saat jam sudah hampir menunjukkan pukul 3 jam tepat penerbangan Kenzo dengan pesawat komersil Boeing B737-900 yang sebentar lagi akan lepas landas.
“Sampai ketemu lain waktu Tuan Kenzo,” lirih Riella sambil memejamkan mata, ia lalu berjalan menghampiri mobilnya. Mobil merah yang masih meninggalkan aroma wangi Kenzo. Membuat otaknya sedikit berkelana, tidak ingin berpikir terlalu jauh. Riella segera meraih ponselnya, berniat menghubungi Eva yang tengah berada di Bali. Panggilan langsung terhubung dengan Eva. Teriakan Eva terdengar sumbang di telinganya, membuat Riella langsung menjauhkan ponselnya.
“Kamu sibuk tidak, Va? Dua hari lagi aku akan ke Bali, kita jalan-jalan ya?” tanya Riella saat mendengar sapaan Eva.
“Emm nggak mau. Kamu mau pacaran saja, kenapa mengajakku!” ledek Eva, bukan ia tidak tahu apa yang Riella lakukan dengan Kenzo tadi malam, sahabatnya itu selalu cerita jika itu menyangkut kebahagiaannya. Iya Riella bercerita padanya lewat pesan singkat, dia bahagia karena berhasil menjalankan kewajibannya sebagai istri.
“Em, ya sudah kalau begitu, aku tidak akan menghubungimu jika aku sudah tiba di sana.”
“Ya, itu lebih baik dari pada kalian harus menyiksa perasaanku, saat melihatmu melakukan adegan romantic dengan suamimu.”
“Nggak gitu juga Eva, pokoknya nanti kita harus ketemu. Kangen, giliran aku ke Jakarta lo malah pergi.”
“Ya, kita ketemu, dah aku lagi sibuk! Besok kabari aku lagi!”
“Baiklah, sana buruan nyari pacar bule biar memperbaiki keturunanmu,” canda Riella lalu segera mematikan panggilannya. Ia lalu menyalakan mobilnya untuk pulang ke rumah, berendam air hangat, setelah itu dia akan tidur nyenyak sampai pagi.
Tiba di rumah, Riella menyapa mamanya yang berada di ruang keluarga. Hanya sebentar Riella duduk bersama keluarganya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk naik ke lantai atas. Saat ia hendak naik tangga panggilan Ella kembali menghentikannya.
“Ken ikut penerbangan jam berapa, La?” tanya Ella.
“Jam tiga, Ma. Mungkin jam 5 baru bisa menghubungi Riella. Dah ya, Riella mau istirahat dulu capek,” keluh Riella sambil membalikkan tubuhnya. Ia melanjutkan langkahnya, berjalan pelan sambil memikirkan kelakuan Kenzo saat menyadari kehadiran emil di gerai ponsel tadi. Setapak demi setapak Riella berhasil melewatinya, ia masuk ke dalam kamar, disambut dengan aroma Kenzo yang masih bisa ia rasakan, ketika membuka pintu kamar. Ia lalu meletakkan tasnya, melihat arloji Kenzo yang tertinggal di meja, perasaanya jadi tidak nyaman. Tidak mau ambil pusing, Riella segera masuk ke kamar mandi, lalu segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
Riella terlelap di atas ranjang, setelah sepuluh menit yang lalu terus mengamati foto yang dikirimkan Kenzo. Hingga senja datang, ponsel yang ia setting mode diam pun ia abaikan, Riella memang sengaja melakukan itu karena tidak ingin tidurnya diganggu, ia kelelahan, karena setelah selesai memakan mie semalam, Kenzo terus mengajak bicara, membahas topic sana-sini yang tidak ia ingin bahas, tapi akhirnya ia bahas juga, karena permintaan Kenzo. Lima panggilan dari Eva, Riella abaikan, ia masih nyenyak dalam tidurnya. Tidak peduli juga, di lantai satu tengah terjadi keributan karena mendengar salah satu berita di televisi.
“Tanyakan saja! Siapa tahu kan, dia ikut di sana,” perintah Erik pada istrinya, “tapi ingat jangan langsung kasih tahu anakmu, nanti dia syok. Ajak bicara baik-baik. Aku akan mencari informasi yang akurat tentang berita ini.” Erik lalu masuk ke ruang kerjanya untuk menghubungi seseorang, sedangkan Ella dengan perasaan ragu, naik ke lantai atas menuju kamar Riella.
Ella masuk ke kamar Riella yang tidak terkunci, pelan pelan berjalan mendatangi Riella. Mengusap punggung Riella, dan mencoba membangunkan Riella dari tidur nyenyaknya.
“La … Kak. Bangun bentar yuk, ada hal penting yang ingin mama tanyakan padamu,” kata Ella mencoba membangunkan Riella.
Penasaran apa yang terjadi? Vote dulu nanti aku up lagi, Ok! Pokoknya 10 besar crazy up