
Sudah tiga Riella dirawat di rumah sakit. Kondisinya juga semakin membaik, pipinya kini lebih berisi dari tiga hari yang lalu. Dan pagi ini dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya.
Selama tiga hari Kenzo terus menemani Riella. Dia tidak keluar dari ruangan istrinya, kecuali saat makan, ataupun mengambil pakaian yang diantarkan Alby untuknya. Dia tidak peduli dengan tatapan kesal dari mertuanya, yang penting dia bisa melihat Riella sebelum mertuanya itu membawa istrinya pergi.
“Kau benar-benar akan pergi?” Kenzo memastikan lagi, saat ia menyusun barang Riella ke dalam tas. Erik dan Ella masih berada di hotel, mereka belum datang lagi ke ruang rawat Riella. Jadi Kenzo masih punya waktu untuk membujuk istrinya.
“Ya, sampai bertemu lagi di Jakarta. Tepatnya di pengadilan, dan kamu harus merelakan aku untuk pergi.” Riella menjawab tanpa menatap Kenzo.
“Riella ….” Kenzo memanggil Riella dengan suara lembut, dia menghentikan aktivitasnya, duduk di samping bed Riella. “tiga hari ini, apa tidak bisa membuktikan jika aku menyesali perbuatanku?”
“Tidak ada alasan, untuk aku bertahan di sampingmu, Ken!” Riella berucap dengan jelas.
“Baiklah, aku tahu kamu tidak mencintaiku. Kamu bisa tidak peduli dengan perasaanku. Tapi bertahanlah untuk anak kita.” Kenzo meletakkan tangannya di perut Riella. Mengusap lembut perut Riella yang sudah sedikit membuncit.
“Kau menyadari ini anak kita?” Riella tersenyum mengejek.
“Iya. Maafkan aku. Maaf sudah curiga denganmu. Saat pertama kali aku mendengar detak jantungnya, hatiku bergetar. Sekarang aku yakin jika dia anakmu denganku, bukan dengan Emil.” Wajah Kenzo mendongak menatap Riella yang sudah meneteskan air matanya. Kenzo berusaha mengusap air mata Riella dengan tangan kanan. Meminta Riella untuk tidak menangis.
“Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji jika aku berbuat salah lagi padamu. Aku sendiri yang akan melepaskanmu! Kamu bisa pergi sejauh mungkin supaya tidak pernah melihatku.” Kenzo bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Dan Riella bisa melihat kesungguhan itu dari mata Kenzo, tapi ini tidak bisa! Dia tidak bisa bersama Kenzo di sini, dia akan pergi dulu untuk menenangkan hatinya. Memikirkan semuanya dengan baik.
Pintu ruangan terbuka, Erik dan Ella masuk membawa kursi roda. Erik berkata akan membawa anaknya pulang ke Jakarta saat ini juga.
Kenzo kini hanya bisa pasrah dengan keputusan Erik. Dia sadar kesalahannya memang besar, dan sulit untuk dimaafkan oleh siapapun.
Riella hanya diam menuruti Erik yang akan membawanya pulang. Sebenarnya dia bimbang, antara ikut atau tidak, tapi ia percaya pada papanya jika semua itu yang terbaik untuknya.
“Kenapa Riella ikut kita, Yang?” tanya Ella yang kebingungan.
“Kita akan bawa Riella pulang ke Jakarta.”
“Apa? Kamu nggak lihat anakmu baru pulih?” Ella mencoba berdebat dengan suaminya.
“Nggak papa, aman. Kita naik pesawat kita sendiri.” Erik menjawab sesuai rencananya.
“Apa kamu tidak memikirkan baik-buruknya, biarkan Riella di sini dulu, aku cuma takut kita kehilangan calon cucu kita! Nanti kalau dia sudah benar-benar pulih, Riella bisa main ke Jakarta sepuasnya.” Ella menanggapi.
“Ma. Riella masih kangen dengan Mama, jadi Riella mau pulang Jakarta dulu!” Riella merengek dengan suara manja.
“Ayah sama anak sama bodohnya! Biarkan Mama yang tidur di rumahmu!” Ella mengambil keputusan yang menguntungkan menantunya, dia lebih menyayangi cucunya dari pada anaknya, sebab dia tidak tahu apa yang dialami Riella selama ini.
“Ma, kamar kita cuma satu di rumah! Biarkan Riella menginap di hotel saja!” Riella berusaha menolak permintaan Ella.
Dan itu membuat Ella semakin gencar, dia tidak membiarkan Riella ikut dengannya dulu karena terlalu bahaya. Lagian ada Kenzo yang akan mengurusnya di sini.
“Mama bisa tidur di manapun, asal dengan papamu!” ujarnya sambil melirik ke arah lelaki di sampingnya.
“Ayo kita pulang ke rumah dulu, masalah Mama dan Papa tidur di mana kita pikirkan nanti!” Kenzo memutuskan sambil mendorong kursi roda Riella ke luar rumah sakit. Kenzo tidak mengizinkan Riella untuk berjalan sendiri. Saat tiba di samping mobil Kenzo mengangkat tubuh Riella dan meletakkannya di kursi samping kemudi. Meninggalkan kursi rodanya di basement.
Kenzo melajukan mobilnya lebih dulu, karena Erik masih menunggu sopir yang akan mengantarkan ke rumahnya. Di dalam mobil mereka hanya diam tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Sampai mobil itu berhenti di depan rumah kayu milik Kenzo.
Mereka berdua sudah disambut oleh keluarga Kenzo. Ada Nindi, Haikal, Kaira, dan Lintang yang berdiri di halaman rumah. Sedangkan Alby terlihat berjalan menghampiri mereka dengan Aslan di gendongan.
“Kaira jangan ganggu Mami dulu!” tegur Kenzo saat melihat Kaira mendekat ke arah pintu mobil yang baru saja ia buka.
“Mami masih sakit ya, Pa?”
“Iya, belum boleh jalan. Papa bawa mami masuk ke dalam dulu, ya?” Kenzo lalu menggendong Riella masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan semua orang yang tengah menunggu kedatangan Erik.
“Mau duduk di mana?” lirih Kenzo saat mereka sudah berada di dalam rumah.
“Kau mau apa? Biar aku ambilkan?” Kenzo menawarkan sesuatu pada Riella, saat mereka sudah duduk berdampingan di sofa, “Aku ambilkan rumput laut ya?” tawarnya yang teringat makanan kesukaan Riella ketika hamil. Riella menggeleng menolak cepat tawaran suaminya.
Setelah itu Erik dan Ella yang baru saja tiba segera masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Nindi dan Haikal dari belakang. Erik berniat bermalam di rumah Kenzo sampai putrinya benar-benar pulih lalu akan membawanya pulang ke Jakarta.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga, seperti tidak ada masalah yang berarti yang terjadi saat ini. Erik memang sudah memperingati Nindi dan Haikal untuk tidak membicarakan masalah Kenzo dan Riella saat Ella sedang bersamanya. Dan beruntung mereka semua paham.
“Yang, telepon si kembar kita akan menunda kepulangan kita!” perintah Ella, yang sudah duduk di samping Erik.
“Sudah, tadi. Mereka mau datang sore ini juga,” kata Erik menoleh ke arah istrinya.
“Berani mereka?” Ella menatap suamniya dengan penuh selidik.
“Hem, mereka akan datang dengan anak lelakimu!”
Ella tersenyum, sambil menganggukan kepalanya. “Di sini benar cuma ada satu kamar, Ken?” Ella memastikan sambil mengedarkan pandangannya ke arah luasnya rumah Kenzo.
“Iya, Ma. Nanti biar mereka tidur di rumah Mama Nindi.” Kenzo menjawab supaya Ella tidak mengkhawatirkannya. Rumah mamanya memang luas dan masih banyak kamar kosong di sana.
“Nggak, kita akan berkemah di sini!”
Ella melotot sempurna, saat mendengar ucapan suaminya, “Jangan macam-macam deh, rematikmu nanti kambuh, karena angin malam!” tegur Ella.
“Ada kamu yang akan menghangatkanku!” sahut Erik sambil menarik tangan istrinya, lalu meletakkannya di pinggangnya.
Kenzo hanya menatap pasangan tua di depannya, mereka masih tetap awet mesra hingga sampai saat ini. Ia hanya mampu berharap hubungannya dengan Riella bisa seperti mereka berdua. Dia terus mengamati wajah Riella yang tersenyum saat mendengar gombalan Erik pada mamanya.
“Apa Kenzo sering seperti ini, La?” tanya Ella pada anak gadisnya saat mendapat perlakuan mesra dari Erik.
Riella tidak bisa menanggapi, dia hanya tersenyum tidak berani menoleh ke arah Kenzo. Sepertinya papanya itu benar-benar bersikap posesif saat melihat mertuanya duduk semeja dengannya. Entahlah mungkin dia membayangkan jika yang di depannya itu adalan mantan calon suami mamanya. Tidak mempedulikan juga jika mertuanya sudah beristri.
Sedangkan Nindi dan Haikal yang lebih pendiam hanya bisa berdecak saat melihat tingkah besannya.
“La, kamu mau makan apa? Biarkan mama yang memasak untukmu!” tawar Ella yang merasa jenuh dengan hanya duduk saja.
“Tekwan enak, Ma.” Riella menjawab sambil tersenyum memamerkan giginya yang rapi.
“Tekwan?” Ella menatap aneh ke anaknya. “ini Banjar ya bukan Palembang!” peringatnya mencoba mengingatkan Riella.
“Aku carikan ya?” tawar Kenzo mencoba memenuhi permintaan istrinya.
“Mau nyari di mana tekwan di sini? Mendingan kamu cari ikannya saja deh, Ken! Nanti biar Mama yang buatkan? Lagian ada anak-anak yang datang nanti.” Ella beranjak dari tempat duduk, berjalan menuju dapur.
Kenzo menggaruk dahinya, dia paling anti masuk ke pasar ikan, karena tidak kuat dengan aromanya. Tapi demi istrinya ia akan mencoba mengalahkan egonya.
“Mama catat saja ikan apa namanya, nanti Kenzo carikan.”
“Nanti?” Riella memprotes sambil mengerutkan dahi.
“Iya, sekarang,” sahut Kenzo, dia beranjak dari tempat duduknya saat mendengar suara Riella.
“Beli ikan tengiri satu ekor, sama bunga sedam malam kering jangan lupa! Kalau ada bengkuangnya sekalian, seledri, nggak usah pakai jamur kuping, soalnya Riella tidak suka!” ucap Ella setelah melihat stok bahan makanan di lemari pendingin.
“Baiklah, Ma. Nanti kalau lupa, Kenzo akan menelepon Mama.” Pesan Kenzo lalu menarik tangan Alby untuk ikut dengannya. Ella hanya bisa tersenyum menatap punggung Kenzo yang menjauh darinya.
Semoga Allah selalu memberimu kesabaran ya, Nak! Batinnya mendoakan Kenzo, dia paham sikap Riella yang keras kepala sedari kecil. Tapi Ella juga melupakan jika mereka tengah dirundung masalah.
...----------------...
Hayoo like, vote, gift, dan komentarnya. Setelah ini Kenzo bakalan tahu kalau dia bisa menghamili istrinya. Enaknya momennya gimana ya? Tulis yuk, di kolom komentar! 😁😁😁 Tapi tenang apapun komentarnya tidak membuat rencanaku berubah😛😛😛