
Ella minta bantuan lagi ya, buat mempertahankan ranking vote. 🤭🤭 Terima kasih.
♥️
♥️
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Kenzo semakin menjadi-jadi. Meminta ini itu pada Riella. Termasuk meminta Riella untuk menemaninya tidur, di bed tidur yang hanya berukuran lebar 90 cm saja itu. Beruntung, Nindi sudah kembali ke hotel karena Haikal meneleponnya. Jadi, Riella tidak perlu menahan rasa malu, saat mendusel-ndusel ke dada Kenzo.
Mengambil kesempatan dalam kesempitan ungkapan yang pantas untuk Kenzo saat ini. Ya, bukankah kesempatan selalu menunggu untuk diubah menjadi keberhasilan, dan siapa tahu Riella bisa mencintainya setelah ini. Itulah yang ada di pikiran Kenzo.
Berada dalam satu selimut, dengan kaki yang saling menyilang, tangan berada di pinggang pasangan, entah kenapa kecanggungan semakin meningkat. Tidak ada komunikasi di ruangan itu, hanya pelukan dan gerakan mesra saja yang saling mereka berikan. Padahal lampu sudah padam sejak tiga puluh menit yang lalu, dan pembaca juga sudah menantikan adegan apa selanjutnya. Tapi sang lakon masih saling melepaskan keriduan, ditemani aroma obat yang berasal dari ruangan.
“Ken ….” Suara perdana akhirnya meluncur dari bibir sensual Riella. Suaminya itu masih memajamkan mata, hanya menggerakkan dagunya sedetik, tanda mendengar panggilan dari Riella.
“Apa yang di alami pesawat yang kamu naiki, kenapa bisa jatuh?” tanya Riella, mendongak menatap wajah Kenzo yang lebih tinggi darinya, hingga dahinya menyentuh bibir Kenzo.
“Nggak paham.” Kenzo menjawab singkat, seperti tidak berniat membahas apa yang dia alami saat menaiki pesawat naas tersebut.
“Hmmm … terus kenapa kamu bisa tukeran dengan tempat duduk Kenzo Raditya?” Riella melepaskan tangan Kenzo, membuat suaminya membuka mata menatap wajah Riella.
“Dia yang bandel, sudah aku bilang ke dia, jika yang ia tempati itu adalah tempat duduk ku. Tapi ia yang nggak mau pindah, ya sudah. Aku terima keputusannya.” Kenzo menjelaskan kejadian sebelum ia berangkat. Di mana ia bertemu dengan orang keras kepala seumuran denganya.
“Dia meninggal, Ken. Dan kemarin saat petugas evakuasi menyampaikan jika ada nama Kenzo di sana, rasanya aku tidak mau bertemu denganmu lagi di alam baka nanti.”
“Kenapa seperti itu? Bukankah kamu tidak mencintaiku?” tanya Kenzo.
Riella melirik ke atas, matanya menangkap bola mata Kenzo yang tengah menatap ke arahnya. “Hampir setahun Ken. Kamu menjadi teman ranjangku, meski baru kemarin kita melakukannya. Tapi aku tidak bisa melupakan kenangan kita, bau ketekmu, kangen ngacak rambutmu, kangen suaramu yang mengucapkan selamat pagi, kebiasaan-kebiasaan itulah yang mungkin akan aku rindukan jika kamu pergi. Dan aku belum siap merasakan itu.”
Kenzo hanya mencibirkan bibirnya, “hanya itu?”
“Iya. Kangen pelukanmu juga,” lirih Riella menduduk malu.
“Aku punya cerita buat kamu, La. Kamu belum kenal dengan temanku yang menikah kemarin, kan? Setelah aku keluar dari sini kita akan menemuinya.” Kenzo mulai serius, bersiap menceritakan kisah cinta rekannya.
Riella mengangguk menyetujui tawaran Kenzo. “Ada apa dengannya?”
“Hampir sama denganku. Dia hidup dalam penyesalan beberapa tahun ini.” Kenzo menjeda ceritanya, menatap reaksi Riella, “Dia nikah muda, akibat dijebak oleh wanita yang mencintainya. Wanita itu hamil, tapi temanku tidak begitu peduli dengannya, sampai ia tidak tahu jika istrinya punya penyakit serius. Anak itu lahir dengan selamat, cantik sekali seperti ibunya, dia sekarang baru berumur tiga tahun namanya Flora." Kenzo menjeda ucapannya mengingat wajah gadis kecil yang sudah lama tidak ia temui. "Namun, sayang sekali, ibunya tidak sempat menyapa bayi itu. Ibunya hanya mampu mengantarkan di kehidupan baru, hidup baru menemani papanya. Menggantikan sosok Nadira yang sudah tidak bisa ditemui oleh siapapun. Dan saat itu Zain baru menyadari rasa kehilangan istrinya. Menyadari jika dia juga mencintai Nadira, dia terpukul sekali waktu itu, hingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dengan baik. Aku turut bahagia saat mendengarnya akan menikah. Tapi entah dia cinta atau tidak, setidaknya ia bisa membuka lembaran baru, dan mengambil pelajaran dari apa yang dulu ia alami.”
“Heh, kenapa orang di sekitarmu selalu tragis nasibnya?” protes Riella, setelah Kenzo selesai bercerita.
“Termasuk aku nggak?” balas Kenzo dengan pertanyaan.
“Setidaknya, aku mau mencoba.” Riella membalikkan tubuhnya membelakangi Kenzo.
“Hm … berusahalah! Jangan sampai kamu terlambat menyadari dan aku sudah bersama orang lain,” sahut Kenzo sekenanya, dia tampak tersenyum kecil, di balik punggung Riella.
“Ya, sana pergilah! Jika kamu mau dengan yang lain.” Sahut Riella lemah, sambil memejamkan matanya.
“Ku mau kamu. Hanya kamu, bukan dia,” bisik Kenzo di samping pipi Riella.
“Sudah tidurlah, jangan cerita yang sedih-sedih lagi. Sudah cukup kamu kemarin membuatku sedih!”
“Baiklah Nyonya Kenzo, tidurlah dalam pelukanku. Kita sambut mentari berganti menyinari malam yang gelap ini!” Kenzo lalu meletakan kepalanya di bantal menempel pada rambut Riella.
“Ih … sok penyair kamu!” ledek Riella menepuk lengan Kenzo yang melingkar di perutnya.
“La … kamu tidak punya panggilan sayang untukku?” tanya Kenzo yang belum ingin memejamkan matanya.
“Nggak ada. Sayang aja belum! Masa aku harus punya panggilan sayang untukmu,” jawab Riella yang tidak ingin membalikkan tubuhnya.
“What? Apa tadi kamu bilang? Kamu panggil aku apa?’ tanya Riella mencoba menghadap ke arah Kenzo tapi tetap saja tidak bisa, karena pelukan Kenzo yang begitu erat memeluk tubuhnya.
“Setelah aku pikir-pikir, kamu yang selalu menjadi pemanis dalam kehidupanku, bagai madu yang memberikan rasa manis dan getirnya dalam sepotong roti tawar.” Kenzo lalu menghentikan ucapanya, memperhatikan wajah Riella, dengan sedikit mengankat tubuhnya, hingga bisa mengukung tubuh Riella.
“Nggak mau, jelek!” sahut cepat Riella sebelum Kenzo melanjutkan ucapannya.
“Heh, aku belum mengatakannya, Honey.” Kenzo protes atas penolakan Riella.
“Nggak mau, aku gak mau jadi anak alay, kita sudah sama-sama dewasa. Aku akan memanggilmu Tuan Kenzo saja!” kata Riella lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Panggil aku Bee!” Kenzo berucap tegas masih dalam posisi mengukung tubuh Riella. Sedangkan mata Riella Riella membulat menatap wajah Kenzo yang tepat di depan wajahnya.
“Beencong?!” sahut Riella cepat, dengan sebutan bee yang diminta Kenzo, tentunya dengan gaya plesetan.
“Bee, Honey … Lebah!” Kenzo mengoreksi ucapan Riella.
“Ogah, Tuan Kenzo.”
“Honey ...” minta Kenzo lembut.
“Alay …” jawab tegas Riella.
“Bee bukan Alay!”
“Tuan Kenzo!” ucap Riella.
“Bee! Harus patuh, surga istri adalah ridho suami!”
“Hah!” Riella membuka mulutnya membentuk oval.
“Emmm jadi kamu harus?!” tanya Kenzo dengan penuh kemenangan, kedua alisnya sudah naik turun meminta Riella menjawab.
“Tunggu tunggu! Ini penyelewengan, Tuan Kenzo.” Kenzo terkekeh saat mendengar suara suara Riella, menjuhkan tubuhnya di samping Riella.
“Jangan durhaka!” peringat Kenzo tegas. Namun, dalam hatinya terus terbahak, menatap wajah Riella yang kesal.
“Kenzo! Nggak ada panggilan lainnya …” ucap Riella, lalu meninggalkan bed yang tadi ia tempati dengan Kenzo.
“Ya, berarti kamu kehilangan kesempatan buat milih 8 pintu surga. Kamu nggak taat sama suami, sih!” sindir Kenzo menghentikan langkah kaki Riella.
“Ken!” panggil Riella yang sudah emosi.
“Hati-hati syaiton marah menggodamu!” peringat Kenzo saat menatap wajah Riella yang mulai mengeluarkan tanduk tak kasat mata.
Riella lalu mendengus kesal, dengan langkah berat kembali ke bed tidur yang Kenzo tempati, “Bee … jangan gitu dong! Doamu jelek banget.” Riella menjatuhkan kembali tubuhnya di samping Kenzo.
Kenzo tersenyum cerah, menang atas perdebatan malam ini, “Baiklah, Honey … sini tidur!” kata Kenzo menepuk punggungnya.
“Jijay dech!” umpat Riella menatap kesal ke arah suaminya, mengingat dulu mantan pacarnya tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Kenzo memeluk Riella, meluapkan rasa bahagia lewat pelukan yang tengah ia rasakan, berharap perlahan hati istrinya yang tertutup balok es itu bisa segera mencair karena pelakuan manis yang ia berikan.
♥️
♥️
Pasangan kalian panggilan sayangnya apa? Dasarnya Kenzo ini yang rada-rada, efek obat anti-depresan jadi harap sabar ya, sebelum masalah kembali mendarat.😉😉 vote banyakin ya😉 like 1x komentar titik juga nggak masalah.😜