
Tiga hari sudah berlalu, kejadian menyedihkan itu membuat Riella tak ingin keluar dari kamarnya. Dia benar-benar mengurung diri di dalam, setelah menceritakan semuanya pada keluarganya.
Seperti kemarin saat kedua orangtua Emil menggedor pintu kamarnya, tetap saja ia tidak keluar dari kamar. Riella belum siap untuk menemui seorang pun, selain anggota keluarganya. Bahkan kedua adiknya sering keluar masuk kamar menggoda dan menanyakan kondisinya, tapi tetap saja dia hanya menjawab singkat pertanyaan adiknya, dan kembali memasang wajah patah hati yang saat ini ia rasakan.
Matahari yang mengintip di balik gorden jendela, menarik perhatian Riella untuk segera beranjak dari duduknya saat ini, ia menyingkap gorden abu-abu gelap, membuat cahaya matahari teduh menyinari ruangannya. Riella menatap ke arah luar, masih terlihat embun yang menempel di kaca jendela kamarnya. Ia meyakinkan hatinya lagi, pasti semua akan baik-baik saja, meski hidupnya tanpa lelaki yang ia cintai, tanpa Emil di sampingnya. Riella menarik nafas lebih dalam, membuangnya pelan lewat mulutnya, masih saja setiap kali menyebutkan nama lelaki itu, air mata Riella kembali menetes, mengingat semua kenangan baik dan buruknya bersama pria itu. Walaupun tidak sederas saat ia mengetahui semua perbuatan Emil.
Gedoran pintu kamar dan suara Ella memanggil namanya, terdengar jelas di telinga Riella. Dengan langkah enggan ia menghampiri pintu kamar, membuka pintunya dan mempersilahkan Ella untuk masuk.
“Ada Kenzo di bawah,” bisik Ella menatap lekat wajah anak gadisnya yang belum mandi “temuilah!” lanjutnya meminta.
“Mama yang meneleponnya?” selidik Riella, menatap penuh curiga ke arah Ella. Kedua orang tua mereka memang dekat, dekat dalam segala apapun termasuk menggosip tentang hubungan asmara anaknya.
“Bukan, dia datang sendiri kemari. Dia bilang ada pekerjaan di Jakarta, jadi sekalian mampir.” Ella mengalihkan pandangannya saat mengatakan itu, lalu mengedarkan tatapannya ke penjuru ruangan, mengamati apa ada benda tajam yang akan membuat anaknya berbuat nekat.
“Bohong, pasti dia tahu semuanya,” kilah Riella, tetap dengan tuduhannya. Ia kembali duduk di tepi ranjang, memperhatikan pergerakan mamanya.
Ella terkekeh kecil mendengar tuduhan yang dilontarkan Riella. “Diam-diam kamu perhatian ya, sama Kenzo, biar pun dia tahu, kan, juga tidak melanggar norma-norma agama, jadi biarlah, dia hanya ingin melihat kondisimu saja. Tapi kalau kalian mau ke tahap serius mama sih, oke-oke saja.”
“Ma.”
Ella menoleh ke arah Riella yang kini menatapnya penuh emosi. Dia lalu berjalan menghampiri Riella, duduk di sampingnya dengan wajah yang berbinar.
“Mama tahukan, bagaimana dia mencoba dekati Riella lagi. Riella benci sama Kenzo, Ma.”
“Stt … jangan begitu Sayang, kamu nggak takut bagaimana jika perasaanmu nanti berubah, seperti dulu, hum?” kata Ella memainkan kedua alisnya naik turun.
“Nggak akan, sekali benci tetap benci!” jelas Riella, menolak.
“Yakin?” Ella bertanya lagi tentang perasaan Riella.
“Ya. Nggak akan bisa, hanya satu nama pemilik hati Riella dan itu bukan Kenzo.”
Pasti Kenzo. Batin Ella yang mendengar perkataan Riella.
“Mendingan kamu temui dia dulu deh, atau Mama akan memintanya untuk masuk ke kamar.”
“No, Ma. Biar dia di bawah, nanti Riella akan menemuinya.” Terdengar sahutan cepat dari Riella.
Namun, terlambat karena kini Kenzo sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, mulai berjalan masuk kamar dengan nampan yang berisikan roti dan susu untuk Riella.
“Sudahlah, jika seperti ini. Riella mau pergi saja.” Riella beranjak dari tepi ranjang, mengambil tas fosil yang ia simpan di atas nakas. Berlalu melewati Kenzo yang baru saja masuk.
Secepat kilat Kenzo meletakkan nampan itu di atas meja yang ada di depan sofa, meminta izin Ella untuk mengejar Riella. Ia lalu berjalan cepat mengejar langkah kaki Riella yang keluar dari kamar.
“Biar aku yang mengantarmu!” ucap Kenzo saat melewati tubuh Riella, saat keduanya sudah tiba di halaman rumah.
“Nggak perlu.” Ketus Riella memberikan tatapan mematikan ke arah Kenzo. Riella lalu membuka pintu mobilnya sendiri, masuk tanpa peduli permintaan Kenzo. Namun, dia terkejut, kini justru Kenzo membuka pintu penumpang samping kemudi, ia turut menaiki mobilnya. Duduk manis di samping kursi kemudi. Ia hanya bisa pasrah, mau tidak mau ia melajukan mobilnya, dengan wajah ditekuk karena sikap Kenzo yang keras kepala.
Mobil perlahan melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah Erik. Riella fokus ke arah jalan, tidak membuka percakapan dengan Kenzo. Masih tenggelam dalam rancangan hidup yang sudah ia susun rapi dua hari ini.
“Apa kamu tidak sadar baju apa yang kamu kenakan?” tanya Kenzo menatap piyama satin yang Riella kenakan.
Riella yang mendengar ucapan Kenzo, beralih memperhatikan pakaiannya, mengembalikan tatapannya ke arah Kenzo yang memperhatikan wajahnya.
“Mata woey, jaga tu mata!” maki Riella yang kesal melihat ekpresi Kenzo, yang seperti ingin menerkamnya.
Kenzo yang mendengar makian Riella, justru melepas jaket yang ia kenakan, membuat Riella berpikiran Kenzo akan berbuat yang tidak-tidak padanya. Dugaannya salah Kenzo justru menyerahkan jaketnya untuknya.
“Sebenarnya aku mau mengenakannya untukmu, tapi aku tau itu akan membuatku semakin buruk di depanmu!” Kenzo terus menggantungkan jaket di tangannya, menunggu Riella untuk segera mengambil jaketnya.
Demi apapun, Riella menyesali kenapa harus ada lelaki di sampingnya ini. Cahaya matahari yang mengintip di balik kaca mobil, tepat menyinari wajah Kenzo, membuatnya semakin tampan di mata Riella, seperti mimpinya beberapa hari yang lalu, seperti malaikat berambut cepak yang tidak mempunyai sayap, malaikat tampan tepatnya. Tiba di lampu merah, Riella akhirnya mengalah, ia mau mengenakan jaket yang diberikan Kenzo, ia mengambilnya kasar dan menutupkan ke tubuhnya.
“Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, mau sampai kapan pun, tanaman yang sudah mati tidak akan bisa tumbuh lagi. Hati ini tidak ada tempat untukmu!” peringat Riella, segera melajukan mobilnya kembali, ketika lampu berubah warna hijau.
“Kenapa seperti itu?” tanya Kenzo seraya menggaruk pelipisnya dengan jari manis, “mereka sudah meminta kedua orang tuaku untuk menggantikan calon suamimu. Dan aku menyanggupinya,” ujar Kenzo masih dengan senyum ramahnya.
“No, nggak! Aku nggak mau menikah denganmu!” tolak Riella tanpa tedeng perkataan lain.
“Terserah kamu La, kamu bisa menolak langsung di depan orang tuamu, mereka juga yang memintaku untuk datang ke Jakarta. Menghiburmu, lebih tepatnya!”
Dugaan Riella dibenarkan Kenzo. Ia menyesali kenapa kedua orang tuanya, justru meminta orang yang ia benci untuk menjadi pendampingnya. Padahal mereka tahu jelas alasan di balik kebenciannya itu.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah mewah berwarna abu-abu kombinasi merah yang dominan. Riella turun dari mobil, meninggalkan Kenzo yang sibuk melepas ikatan tali di tubuhnya.
Setelah terlepas dari seatbelt, Kenzo segera mengekor di belakang tubuh Riella. Berjalan beriringan menyusuri taman kecil rumah mewah tersebut. Riella menghentikan langkah kaki Kenzo ketika ia sudah berada di depan pintu ruangan yang sudah dijanjikan dengannya semalam. Ia meminta Kenzo untuk menunggunya di depan pintu, dan melarangnya untuk ikut atau menyusul masuk.
"Kalau kamu nggak mau menunggu, kamu pulang saja! aku tidak mengizinkamu untuk masuk!" pesan Riella sebelum akhirnya ia memasuki ruangan berpintu hitam.
Kenzo menurut, dan menunggu di kursi depan ruangan. Perasaannya campur aduk antara khawatir jika Riella akan melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri.
Cukup lama Riella berada di dalam ruangan, Kenzo sudah berjalan mondar-mandir di depan pintu, perasaanya semakin jelas, dia khawatir Riella akan melakukan hal buruk. Karena tidak sabar, Kenzo akhirnya menerobos pintu masuk, mengabaikan pesan Riella duapuluh menit yang lalu.
Pemandangan menyebalkan ada di depan matanya. Riella terbaring di brankar masih dengan mata ynag terbuka, dengan lelaki yang membelakangi tubuh Riella, mengisikan cairan ke dalam suntikan.
“Apa-apaan ini, La!” teriak Kenzo manatap tajam ke arah pria yang berada di samping tubuh Riella.
Riella menatap tidak suka ke arah Kenzo, karena lelaki itu mengabaikan pesannya.
“Pergi Ken, nggak usah pedulikan aku, kenapa kamu masuk!” teriak Riella mengusir Kenzo. Namun, yang terjadi Kenzo mengabaikan ucapan Riella, dia mengalihkan tatapannya ke arah pria yang sedang menyentil jarum suntik, di samping Riella.
“Katakan apa yang ingin kamu lakukan, padanya?!” tanya Kenzo meminta lelaki itu untuk berkata jujur, ia sudah menarik kerah baju pria dewasa di depannya.
“Pergi jangan pedulikan aku! aku bilang pergi Ken!” usir Riella lagi, tapi kali ini dengan suara parau bercampur isak tangis, yang terdengar menyakitkan di telinga Kenzo.
“Aku tidak akan pergi, jelaskan dulu apa yang akan kamu lakukan!”
“Pergi!” teriak Riella di tengah suara tangisnya yang sudah pecah, “aku benci ini! Aku sudah nggak bisa merasakan ini Ken, aku menyerah. Aku sakit, Ken. Lebih baik aku melupakan semuanya, dari pada harus merasakan perasaan sakit ini.” Riella sudah duduk di tepi brankar, menatap Kenzo dengan air mata yang terus mengalir.
“Kamu gila! Kamu bukan dokter, kan? Jelaskan padaku!” kata Kenzo menghadap ke arah pria yang kini sudah berada di sampingnya, meminta penjelasan apa yang akan dilakukan Riella.
Hening menerpa ruangan, lelaki itu tidak mampu menjawab pertanyaan Kenzo, bibirnya terus bergetar menahan rasa takutnya, jika tindakannya akan dilaporkan pihak berwajib, matanya tidak berani menatap ke arah Kenzo, yang menghunus tajam ke arahnya.
“Cepat lakukan, Rif!” bentak Riella meminta lelaki bernama Rifat.
“Katakan dulu padaku, apa yang ia minta!” sahut Kenzo menatap tajam ke arah Rifat, beradu dengan Riella.
Cukup lama Rifat berpikir, menimbang ucapan keduanya, akhirnya ia memberanikan diri mengungkap keinginan Riella yang memaksanya untuk memasukkan cairan pelupa ingatan.
Kenzo yang mendengar itu, kembali menatap Riella, ia menampilkan wajah marah ke arah Riella. Tanpa mengalihkan tatapannya dari Riella, ia berucap pada Rifat, “suntikkan cairan itu ke tubuh saya dulu! Kebetulan sekali! Saya juga ingin melupakan perempuan yang saya cintai! Sudah lama saya mencintainya, tapi sepertinya ia lebih memilih menyerah dari pada berjuang melawan kesedihannya saat ini, silahkan lakukan, biarkan kita sama-sama melupakan perasaan menyakitkan itu!”
Rifat semakin kebingungan ketika melihat Kenzo yang menyingkap lengan kemejanya, memperlihatkan otot tangan, memintanya untuk menancapkan jarum suntik ke lengannya lebih dulu.
🚑
🚑
🚑
🚑
Segitunya cinta Bang Kenzo🥰🥰 pura-pura lupa🤣🤣
yang suka boleh like, dan komentar positif. Votenya untuk akhir bulan saja🤭🤭🤭🤣🙏