The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
DIAM



Diam. Hanya itu yang bisa Riella lakukan saat ini. Dia berharap semoga dengan mengunci bibirnya rapat membuat Kenzo kelimpungan. Berulangkali Kenzo bertanya, ada apa? Tolong katakan! Tapi Riella tetap memilih DIAM. Menunggu mobil berhenti di depan rumah.


Saat perjalanan pulang, Riella berusaha keras untuk menahan air mata yang sudah menggenangi kelopak matanya, dia tidak ingin air matanya turun membasahi pipinya saat ini. Dan semua itu efek dari dadanya yang merasakan sakit, setelah mendengar ucapan lima wanita di dalam toilet tadi.


Perjalanan terasa lama menurut Riella. Dia ingin segera tiba di rumah. Memaki suaminya, yang sudah melewati batas. Atau dia ingin segera pergi sejauh mungkin, yang tidak akan pernah bisa Kenzo temui lagi.


Dua puluh menit di dalam mobil. Akhirnya, mobil Kenzo berhenti sempurna di depan rumahnya. Kaki Riella melangkah keluar mobil, dia berlari kecil masuk ke rumah kayu milik suaminya.


“Riella!” peringat Kenzo saat melihat Riella berlari kecil meninggalkannya. Tapi, tentu saja? Riella tidak mengindahkan panggilan suaminya. Dia masih berlari kecil sampai tiba di kamar utama.


Mata Riella mencari-cari di mana keberadaan kopernya. Pandangan bertemu dengan kopernya yang ada di atas lemari. Dia segera mengambil kursi kecil dan menaikinya untuk ia pakai mengambil koper.


Bruk!


Bunyi koper jatuh di lantai bersamaan dengan Kenzo yang masuk ke kamarnya.


“Sayang, kau mau kemana? Untuk apa koper ini?” pertanyaan Kenzo keluar saat melihat koper itu dibuka Riella dengan lebar.


“Kau tanya aku mau kemana?!” suara Riella terdengar sangat emosi. Masih terngiang dengan jelas, ucapan dari para wanita di dalam toilet tadi. Dan itu membuatnya semakin ingin segera meluapkan amarahnya pada pria di depannya ini.


“Hei ...” panggil Kenzo nada sangat lembut sambil menahan tangan Riella yang hendak menyusun pakaiannya. “Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!” Kenzo menatap wajah Riella yang sudah basah karena air mata. Sakit, dia tidak ingin Riella menangis seperti ini.


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Aku ingin pulang, di sini bukan rumahku!” Riella membuang wajahnya ke arah lain. Mengambil dan melepaskan gantungan baju ; hanger yang ada di pakaiannya. Lalu memasukkan asal ke dalam koper.


“Riella jangan seperti ini! Jelaskan dulu apa masalahnya!” Kenzo mulai emosi, dia tidak tahu duduk masalahnya di mana. Tapi, istrinya itu mendadak ingin pergi meninggalkannya.


“Atau jangan-jang—


“Jangan-jangan apa!” bentak Riella memotong ucapan Kenzo, matanya menatap marah ke arah pria tampan di depannya dan sayangnya semua itu di dukung dengan debaran emosi yang kini sudah meminta diledakkan. “Jangan-jangan aku bukan hamil anakmu?” Riella tertawa kecil di tengah kucuran air mata yang terus turun membasahi pipi. “Iya! Ini bukan anakmu! Seperti yang kamu katakan pada wanitamu itu! Kamu benar, aku selingkuh, aku hamil anak kak Emil! Puas!!” hardiknya, emosinya samakin tak terkendali. Entah kenapa dia bisa mengatakan hal itu pada suaminya.


Sedangkan Kenzo hanya mampu memejamkan mata sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya berusaha keras untuk menahan tangan Riella yang bergerak menyusun pakaiannya.


“Jangan katakan lagi, La!”


“Bukan aku yang mengatakan itu Ken. Tapi mereka ... Mereka yang mengatakan itu! Dan mereka berasal dari sumber terpecaya. Mantanmu!” Riella melemahkan gerakannya, berharap Kenzo segera melepaskan cekalan di tangannya saat ini.


“Kau mau bersamanya, setelah kamu tahu Emil ditinggal pergi Chika?!” teriak Kenzo menuduh. Membuat Riella memejamkan matanya erat. Bukan ini yang dia inginkan, dalam hatinya tidak ada sedikitpun niatan untuk kembali bersama mantan.


Tatapan Riella kembali menatap Kenzo. “Iya! Aku sudah lelah berada di sini denganmu. Di sini bukan tempatku, cintaku bukan di sini!” bibir Riella bergetar saat mengucapkannya. Dadanya sesak seolah kehilangan stock oksigen yang biasa ia hirup setiap detik.


Bukan hanya Riella yang mengeluarkan air mata, bahkan saat ini Kenzo yang merasa sakit hati pun, ikut menangis di depan Riella. “Ternyata hampir dua tahun tak mampu mengubah perasaanmu! Tapi, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Riella, aku benar-benar mencintaimu!” suara Kenzo kini terdengar menyeramkan, seperti sisi lain dari diri Kenzo yang belum pernah Riella temui, kini tiba-tiba muncul di waktu yang tepat, saat Riella memutuskan untuk pergi meninggalkannya.


“Aku tidak butuh izin darimu! Kamu yang berkata padaku. Kamu sadar nggak sih, Ken! Kali ini aku terluka lagi! Kamu sadar nggak!” Riella lalu menemukan kedua ujung resliting kopernya, menguncinya dengan password tanggal lahir Kenzo.


“Jangan pergi Riella, aku akan menghukum siapa yang sudah menyakitimu! Please jangan pergi!” Kenzo mencoba menahan langkah Riella yang hendak keluar kamar. Dia seperti pria yang tengah mengemis meminta sesuatu pada istrinya.


“Yang perlu dihukum di sini adalah KAMU!” Riella tidak peduli seberapa keras dia berteriak. Lalu menarik handle pintu kamar dengan kasar dan menarik kopernya menuju ke luar rumah.


“Riella!” teriak Kenzo sambil mencengkram rambutnya. Setelah Riella berhasil mengibaskan tangannya.


Mengingat sesuatu, Riella berbalik menatap Kenzo. “Aku akan menitipkan mobilmu di bandara. Kamu tenang saja! Aku tidak akan mengambil apapun darimu! Bahkan jika kamu menginginkan bayi ini, aku akan menyerahkan padamu saat dia lahir nanti. Aku tidak pernah menginginkannya ada di rahimku!” pesan Riella sebelum meninggalkan rumah Kenzo, dia lalu membalikkan tubuhnya berjalan menuju pintu utama ingin segera pergi meninggalkan Kenzo.


Sedangkan Kenzo Air matanya semakin deras saat mendengar pesan Riella. Dia terluka atas perkataan istrinya. Kakinya yang tadi terasa kokoh, kini seperti kehilangan tumpuan, meski hanya berjalan selangkah saja. Dia hanya diam membeku tidak lagi menahan Riella untuk pergi. Menatap dan membiarkan istrinya untuk pergi begitu saja dari hidupnya.


“Apa yang terjadi, Bang?!” tanya Alby yang baru saja tiba. “Kakak ipar mau ke mana?!” imbuhnya penasaran saat bertemu Riella menarik kopernya. Tapi, Kenzo hanya diam, matanya mencoba mencari pelampiasan atas sakit hati yang ia rasakan saat ini.


“Aku akan mengejar kakak ipar. Abang tenang saja, semua akan baik-baik saja!” pesan Alby, dia berjalan mundur, menatap wajah Kenzo, hendak menahan Riella untuk pergi. Dia tidak ingin hubungan Riella dan abangnya kandas begitu saja.


Kenzo berjalan gontai menuju kamar, kepalanya berdenyut nyeri saat mengingat ucapan Riella yang tidak pernah menginginkan keturunannya ada di dalam rahimnya. Dia tahu pasti, yang berada di perut Riella itu adalah anaknya bukan anak Emil. Harusnya, dia tidak mengatakan itu pada Riella tari ketika bertengkar. Harusnya ...dan harusnya. Andai dia bisa memutar kembali, dia akan menutup mulutnya rapat-rapat tentang kehidupannya. Tapi, semua sudah terlambat, dia harus ikhlas merelakan Riella untuk pergi dari hidupnya.


Kenzo menarik lampu pijar di kamarnya, lalu menghempaskan ya di lantai. Dia bodoh, benar dia bodoh saat ini! Dan waktu itu tidak seharusnya dia datang pada wanita bernama Reva. Dia hanya menceritakan dirinya mandul, tidak bercerita tentang hubungannya dengan Riella. Kenzo memejamkan matanya erat. Mengeluarkan cairan bening yang sudah kembali memenuhi kelopak matanya.


Sejenak Kenzo ingin melupakan kejadian yang baru saja menimpanya. Dia hendak berdiri mencuci wajahnya ke dalam kamar mandi. Tapi, dering panggilan ponselnya. Menghentikan niatnya kali ini.


“Ada apa?” tanya Kenzo dengan nada sedikit sengau.


“Abang, kakak ipar kecelakaan di tempat Abang dulu!”