
Sesuai rencana yang sudah mereka susun dengan matang, setelah Emil menjual club yang ia miliki pada rekannya. Ia memberanikan diri untuk berbicara langsung dengan Erik. Meminta izin untuk meminang Riella.
Kedatangannya memang disambut ramah oleh kedua orang tua calon istrinya. Tapi tidak dengan Kalun yang masih kesal dengan kejadian saat Riella mengakui jika dia tengah hamil anak dari Emil. Tapi semuanya tidak bisa terhindar, kejadian itu benar-benar membuat Kalun luluh dan mengizinkan ia untuk menikahi Riella.
Sesuai rencana yang sudah mereka sepakati dua bulan yang lalu. Malam ini akan diadakan acara pertunangan antara Riella dengan Emil.
Mobil sport milik Emil tiba di pekarangan rumah Erik, beriringan dengan keluarga Emil yang mengikuti di belakangnya. Keluarganya disambut ramah oleh keluarga Ramones. Dengan sopan Emil menyalami calon mertuanya dan disambut senyuman ramah oleh Erik, sedangkan Ella tengah membantu putri pertamanya untuk merias diri. Emil sudah siap menunggu kemunculan Riella. Ia duduk di antara kedua orang tuanya di kursi taman yang sudah disediakan.
Di kamar Riella.
Wajah Riella tampak sekali jika ia tengah gelisah. Meski ini yang ia harapkan, tapi jelas terasa degub jantungnya yang tidak normal seperti biasanya. Ia meraih tangan Ella yang tengah merapikan baju kebaya yang ia kenakan.
“Apa Mama dulu juga seperti ini?” tanya Riella, menatap wajah Ella yang terlihat berkaca-kaca. Tapi terlihat bibirnya mengukir senyuman manis untuknya.
“Ternyata seperti ini rasanya, melepas anak gadis Mama.” Ella menghapus air mata yang tiba-tiba menetes, “Mama dulu tidak merasakan ini, dulu papa penuh kejutan, papa melamar mama saat pernikahan Paman,” lanjut Ella menceritakan kenangan semasa Erik melamarnya, mengingat betapa romantisnya Erik saat itu.
“Mama coba pegang deh dada, Riella!” Riella meletakkan tangan kanan Ella ke bagian dada atas, “bisa-bisa hipertensi, Riella,” lanjutnya.
Ella terkekeh kecil, lalu menarik kembali tangannya takut akan merusak dandanan baju Riella. “Sudah. Ayo, pasti papamu sudah kebingungan kenapa anak gadisnya yang cantik ini tidak segera turun ke bawah. Calon suamimu pasti juga sudah tidak sabar melihat wajahmu yang cantik dan tubuhmu yang sexy ini.” Ella lalu membawa Riella keluar kamar, berjalan menuju taman yang akan dijadikan tempat acara pertunangan.
Saat menuruni anak tangga, keduanya bertemu dengan pasangan muda yang mengenakan baju couple batik tengah menunggu kemunculannya. Mereka hanya memberikan senyum semangat untuk adiknya yang tengah menatapnya lekat. Kalun turut berjalan mengekor di belakang para perempuan di depannya, memperhatikan istrinya yang tengah hamil muda.
Tiba di taman, semua beralih menatap Riella. Terutama Emil yang tidak mampu mengedipkan matanya dari tubuh calon istrinya. Bibirnya melebar, menatap kecantikan Riella yang tampak beda malam ini.
“Sepertinya tidak perlu menebak calon istrimu yang mana. Karena aku tahu siapa yang paling cantik di antara ketiga wanita itu, dan tentunya istriku.” Canda Erik dengan masih memegang microfon di tangannya, menggoda calon menantunya. Dia lalu menyerahkan microfon yang ada di tangannya ke arah Emil, beralih mengulurkan tangannya supaya diraih Ella, saat jarak keduanya sudah dekat.
Tidak terlalu banyak tamu yang menghadiri acara malam ini, hanya keluarga inti dari Damar, dan keluarga inti dari Emil, serta ketua rt dan rw setempat, para sahabat dekat dari keduanya. Hanya Eva yang hadir di acara pertunangan Riella, karena Chika tengah berlibur ke Lombok, ia baru saja berangkat setelah proses perceraiannya rampung.
Semua tamu yang hadir sudah duduk di kursinya masing-masing. Riella saat ini duduk diapit oleh Erik dan Ella, duduk manis sambil mencari pegangan untuk menyalurkan nerveos nya, ia malam ini mengenakan warna baju hitam muda yang pas di tubuhnya, dan warna serasi dengan baju yang saat ini dikenakan Emil.
Acara dimulai tepat pukul 8 malam. Emil berdiri untuk meminta Riella menjadi wanita satu-satunya yang akan ia nikahi. Ia mendekat ke arah Riella, dengan senyuman yang terpancar indah dari bibirnya. Tangannya mencari keberadaan cincin di saku celana yang ia kenakan. Pertama sapaan salam yang begitu manis ia berikan untuk semua tamu yang hadir.
“Selamat malam, calon istri,” lanjutnya setelah menyapa tamu, matanya fokus mematap Riella yang langsung menunduk malu dengan wajah yang bersemu merah seperti rajungan yang baru saja selesai di rebus.
“Lanjut …” teriak Samuel yang juga hadir di sana, dia duduk di belakang kursi pasangan muda yang tengah memadu manisnya cinta.
“Calon papa mertua izinkan Emil menjadikan Riella sebagai satu-satunya istri Emil, izinkan kita menghabiskan sisa umur kita berdua, dengan tali pernikahan, bahagia bersama, menikmati hari-hari indah berdua. Emil tidak mampu menjanjikan apapun, karena Emil yakin kekayaan Om Erik jauh di atas Emil. Dan Segala kebutuhan Riella pasti sudah tercukupi. Tapi meskipun begitu, Emil berjanji untuk selalu membahagiakan Riella.” Emil menatap memohon ke arah Erik yang tengah duduk di samping istrinya, merangkul pinggang Ella erat.
Sesaat suasana terdengar lenggang, hanya terdengar gesekkan piring yang di susun oleh pelayan, dan lantunan musik romantis dari denting piano. Erik segera berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Emil yang berdiri lima meter darinya, ia lalu meminta microfon pada petugas, mendekatkan dengan bibirnya. Sebelum ia berbicara, ia mengulas senyuman tipis ke arah Emil. Memuji keberanian Emil dalam hati.
“Kalau dalam situasi seperti ini, saya seperti bernostalgia dan masuk ke masa muda saya,” ujar Erik seraya menatap istrinya yang tengah menggelengkan kepala dengan bibir yang mengeluarkan desahan kesal.
“Nak Emil.” Panggil Erik sambil menatap ke arah Emil lekt. Mata keduanya kini saling bertatapan “Pernikahan bukan hanya masalah kebahagiaan saja. Tapi kalian juga akan menghadapi banyak masalah di dalamnya, dan semua itu butuh perjuangan yang besar untuk menghadapi badai yang datang, bukan hanya sekali duakali, bisa jadi setiap hari. Dalam pernikahan akan ada suka, duka, masalah, tantangan yang harus kalian hadapi. Jadi saya sebagai lelaki pertama yang menggantikan popok Riella akan menyerahkan dia jika kamu mau berjuang bersamanya, berjuang mendampinginya hingga hanya kematian yang memisahkan kalian berdua, saya akan ikhlas asal kamu mau menerima kekurangan dan kelebihan anak saya.” Erik menarik nafas lega, setelah itu, ia mengulurkan tangannya ke arah Riella, memintanya untuk mendekat ke arahnya.
“Diakah lelaki yang selama ini kamu inginkan?” tanya Erik sambil menunjuk ke arah Emil. Riella menatap mata Emil yang tengah memperhatikan dirinya lekat, dengan malu- malu Riella menganggukan kepalanya pelan, membenarkan ucapan Erik.
“Baiklah, sepertinya papa tidak akan menunda lagi, mengingat paman Damar sudah kelaparan!” kata Erik sambil menggores senyumnya ke arah Damar yang tengah duduk berdampingan dengan Sashi.
“Dasar cari alasan kamu!” balas Damar yang tidak terima dengan perkataan Erik.
Erik terkekeh sejenak, lalu kembali melanjutkan ucapannya, malu dengan calon besannya karena sedari tadi memasang tampang kesal ke arahnya, karena candaanya yang receh di kala kepanikkan tengah menderu anak lelakinya.
“Semoga kalian bahagia.” Singkat Erik sambil memundurkan tubuhnya, mempersilakan keduanya berdiri berdampingan, ia lalu menepuk bahu keduanya, sebagai tanda ia menyetujui hubungan mereka.
“Berjuanglah, untuk menghadapi masalah kedepannya, aku meridhoi setiap apa yang kalian putuskan.”
Emil tersenyum bahagia, tidak beda dengan Riella ketika tangannya tersemat berlian putih berukuran ring 14 yang tersemat cantik di jari manisnya. Dia menangis haru di sana. tidak mampu berucap dengan kata-kata lain selain kata terima kasih pada calon suaminya dan para tamu yang hadir. Bersyukur dengan pencapaian saat ini.
🚑
🚑
Ye ... bentar lagi nikah🙊😍
Terima kasih atas dukungannya, membuat saya semakin rajin update😍🥰🥰🥰
Jangan lupakan gerakan jarinya untuk menekan like ya😊😊 terima kasih.