The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Kantor Kenzo part. 1



Menurut perhitungan Riella, berdasarkan hasil pemeriksaan terakhirnya waktu itu. Tepat hari ini, usia kandungannya memasuki bulan ke lima. Sudah tidak ada lagi keluhan morning sickness, yang ada dia kini semakin doyan makan.


Gerakan dari calon anaknya, semakin nyata ia rasakan. Menggelitik perut dan perasaanya, membangun ikatan batin antara ibu dan anak. Biasanya bakal bayinya itu akan bergerak saat Riella merasa kelaparan, dan terkadang ia merasakan perutnya mengeras setelah dia bertemu dengan papinya. Banyak respon yang diberikan calon anaknya, yang tidak bisa dia ceritakan pada suaminya.


Hari senin adalah hari paling malas menurut Kenzo. Dia sebenarnya masih ingin berada di rumah bermalas-malasan, serta bermanja ria dengan Riella. Tapi keinginan hanyalah ekspetasi-nya, dan realita yang harus dia terima, Kenzo harus berangkat ke kantor karena jadwal rapat sudah menantinya.


Pagi ini, Kenzo sudah terlihat rapi dengan pakaian yang tadi disiapkan Riella. Setelah sarapan, dia segera berpamitan pada istrinya yang belum sempat mandi karena mengurus keperluannya pagi ini. Tangan Kenzo kini mengalung di leher Riella, berjalan berdampingan keluar rumah.


“Aku nanti ke kantor ya,” ucap Riella meminta izin.


“Iya, tapi jangan bawa mobil sendiri. Biarkan Alby menjemputmu!” peringat Kenzo yang diangguki Riella.


“Ke toko buku ya?” Riella meminta izin lagi, dia membutuhkan bacaan tentang kehamilan dan cara merawat bayi untuk bekal persiapan melahirkan nanti.


“Ngapain?” Kenzo mengerutkan dahinya, heran dengan permintaan Riella.


“Masak iya, beli lingerie! Ya beli bukulah!” ucap Riella dengan nada tinggi. Dia kesal, sudah jelas ke toko buku masak iya masih tanya mau ngapain.


Kenzo mencubit pipi Riella yang semakin berisi. “Siap. Nanti aku akan mengantarmu. Kamu masuk dulu, aku mau berangkat,” ucap Kenzo diakhiri kalimat perintah


“Nggak, kamu dulu yang masuk ke mobil!” Riella menolak karena merasa tidak pantas dia melakukan itu.


“Kamu masuk dulu! Kalau mau lihat, dari balik jendela saja!” perintahnya lagi. Membuat Riella menghentak-hentakkan kakinya kasar. Entah apa yang ada dipikiran suaminya itu, pasti selalu seperti ini. Kenzo tidak mengizinkan dia berada di luar bangunan rumahnya saat Kenzo hendak berangkat kerja.


“Eee … lupa!”


“Kenapa lagi?” tanya Riella.


“Aku belum nyium kamu, kata pak uztadz itu termasuk sedekah pada istri! Sudah ku bilang alasannya, jangan cemberut begitu!” Kenzo kembali masuk ke dalam rumah.


“Ya terserah!” Kenzo lalu mengecupi seluruh wajah Riella. Dan alasan klasiknya, Kenzo tidak kuat hati meninggalkan Riella di rumah sendiri saat dia pergi ke kantor.


“Nggak jadi kerja saja, ya. Biarkan Alby yang ngurus semuanya. Aku masih kangen kamu!” mintanya pada Riella, sambil meniup-niup udara dari mulut ke telinga istrinya.


“Nggak, baru juga satu minggu kerja. Sudah sana, nanti siang kita ketemu lagi.” Riella mendorong tubuh Kenzo menjauh darinya.


“Aku tunggu.” Kenzo lalu benar-benar menutup pintu rumah, berjalan menghampiri mobil yang tadi pagi sudah ia panasi.


**


Tiba di kantor, Kenzo langsung berjalan menuju ruanganya, tidak perlu menggunakan lift karena gedung kantornya cuma satu lantai. Kenzo berjalan sendiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Senyumnya mengembang menyapa karyawannya. Seolah senyuman itu ia obral untuk memberikan semangat pada para karyawannya.


“Pak Kenzo semringah sekali pagi ini?” sapa salah satu karyawan yang dilewati Kenzo.


Pria berpakaian biru navy dengan motiv square itu memang terkenal supel. Tidak seperti CEO pada umumnya, yang begitu dingin dan hanya mau berbicara pada sekretarisnya saja. Mendengar pujian dari karyawannya Kenzo menghentikan langkahnya sejenak.


“Jelas dong! Punya istri kok, ada yang selalu bikin bahagia, di rumah. Makanya kamu buruan nikah, biar awet muda.” Kenzo menjawab.


“Tunggu uang tunjangan nikah dari Bapak!” balas Intan nama salah satu karyawan wanitanya.


“O ya, Reva mana. Jadi nggak pertemuannya hari ini dengan PT. Lumbung Sawit?” tanya Kenzo sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Belum datang, Pak!” jawab Intan. “Sama Miranti saja bagaimana?” imbuhnya menawar sambil memperhatikan wajah Kenzo.


“Boleh. Suruh dia menyiapkan semuanya! Dan siapkan ruangan seperti biasa.” Kenzo lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan. Namun, baru lima langkah suara gadis centil kembali menghentikannya.


“Pak Kenzo!” teriak Jenny.


“Apa lagi?” Kenzo bertanya menatap Jenny tak suka.


“Harga sawit turun, Pak!”


“Ow …” reaksinya datar, seolah tidak ada masalah berat, dia lalu berbalik bersiap melanjutkan langkahnya menuju ruangan, “Nanti saya akan menghubungi menteri perdagangan buat menaikkan harga sawit.” Kenzo sedikit berteriak, sambil menutup pintu ruangan.


“Coba kita bilang kaya gitu beberapa minggu yang lalu! gempar deh,” gerutu Jenny sambil menatap ke arah Intan.


“Sekarang pak bos sudah baikan sama istrinya makanya bisa ramah seperti dulu.” Dua wanita mulai menghibah karena bertemu dengan orang yang tepat.


“Eh … tapi kenapa ya kemarin kok pak Kenzo seperti emosi level tinggi gitu mana lama pula marahanya.” Jenny mulai mengorek informasi dari Intan, dan setelah itu biasanya dia akan menyebar luaskan gosip simpang siur tersebut.


Intan sadar dirinya sudah lewat batas. “Kepo banget sih jadi orang, sudah sana balik kerja!” Intan memerintahkan wanita di depannya untuk kembali ke ruanganya. Tidak membicarakan orang yang sudah membayarnya.


“Aku sudah sampai,” ucapnya memberitahu, “kamu lagi ngapain?” tanya Kenzo penasaran. Dia selalu seperti ini memberi kabar saat sudah tiba di kantor atau akan rapat.


“Lagi rebahan, sudah ya aku mau tidur lagi. Kamu hati-hati kerjanya! Jaga mata jaga tangan dan jaga hati.”


Sepertinya setelah Kenzo berangkat kerja tadi Riella melanjutkan acara tidurnya. Jadi dia bicara dengan sedikit nglantur.


“Iya, jaga dirimu juga, jangan terlalu capek. Dan jangan lupa, cepat datang ke kantor. Nggak usah bawa bekal makan siang, nanti kita makan di luar.”


“Hem.” Riella hanya berdehem, sambil memejamkan matanya, dengan telinga masih bisa mendengar dengan baik suara suaminya.


“Oke bye. Tidurlah mimpi yang indah.” Kenzo lalu menutup ponselnya. Dia akan memulai pekerjaanya sekarang juga sambil menunggu tamu untuknya datang.


Jarum jam sudah berada di angka dua belas, Riella sudah dalam perjalanan bersama Alby menuju kantornya. Rapat yang diadakan Kenzo juga sudah selesai kini sisanya akan diurus oleh adik angkatnya.


Sambil menunggu Riella datang, Kenzo memainkan ponselnya. Melihat aplikasi sosial media bewarna merah dengan logo kotak. Sudah lama dia tidak bersua di laman media sosialnya. Banyak rekannya yang mengirimkan pesan, mengundangnya untuk ikut pertemuan reuni SMA.


Merasa tidak begitu penting Kenzo enggan untuk membalas pesan dari temannya. Jemarinya justru tergerak untuk menperbaharui laman statusnya. Kenzo mengirimkan satu foto yang sejak kecil selalu ia pindah-pindahkan tempatnya, dulu foto itu berada di album mamanya, dia lalu menyimpannya di kotak, setelah perkembangan zaman akhir-akhir ini, ia memindainya dengan kamera yang cukup membuat foto itu terlihat bagus. Dan sekarang selalu dia bawa ke mana-mana Bibir Kenzo tersenyum saat menggetikan kalimat capture di sana.


Bahagia itu ketika kita menginginkan sesuatu, dan bisa mendapatkannya.


Foto Riella dan dirinya waktu berusia 10 tahun terpasang di atas tulisan tersebut. Bibirnya terangkat ke samping, memang tidak banyak yang men-follow dirinya, tidak lebih dari 5 ribu. Tapi seolah teman-temannya itu merindukannya, lima menit kemudian like dan komentar membanjiri laman statusnya.


Tapi saat dia hendak mengetikan balasan, pintu ruangan terbuka, istrinya muncul dari balik pintu, dengan wajah ditekuk.


“Kenapa?” tanya Kenzo memperhatikan wajah Riella.


“Nggak papa.”


Kenzo merentangkan tangannya meminta Riella duduk di pangkuannya. Tapi Kenzo sedikit kecewa, karena Riella memilih duduk di depan mejanya.


“Perasaan tadi sebelum berangkat kamu baik-baik saja?”


“Iya, aku badmood.” Riella meletakkan kepalanya di meja. Membuat Kenzo yang duduk di depannya, bisa bebas memainkan rambutnya.


“Katakan siapa yang membuat kamu tiba-tiba berubah badmood!”


“Alby, masak dia beliin es krim buat Reva tapi aku nggak dibeliin juga. Mana Reva makanya di depanku lagi!” Riella mengatakannya dengan marah. Kenzo yang mendengar hanya bisa menunda tawanya, dia takut Riella akan semakin kesal.


“Kamu mau?” Riella mengangkat kepalanya menatap Kenzo lalu mengangguk cepat.


“Kenapa nggak kamu sambar saja es krim yang dibawa Reva?” Kenzo menghasut, Riella pikir Kenzo akan memberinya solusi yang baik.


“Tapi sudah habis sekarang.” Riella kembali meletakkan kepalanya di meja.


Kenzo yang melihatnya jadi ikutan kesal dengan Alby, dia lalu meraih ponselnya di saku, untuk menghubungi adik yang tidak tahu diri itu.


“Beli es krim di mana tadi?” tanya Kenzo basa-basi.


“….”


“Belikan untuk istriku secepatnya aku tunggu di ruangan!” perintah Kenzo tanpa jeda. Dia lalu meminta Riella untuk duduk di sofa sambil menunggu es krim yang dibelikan Alby datang.


Melihat Riella yang tengah tiduran di sofa membuat konsentrasi Kenzo buyar dia menghentikan kegiatannya, menghampiri istrinya yang tengah membaca buku tentang perkebunan sawit di wilayahnya.


“Misal papa meminta kita tinggal di Jakarta, apa kamu mau, Ken?” tanya Riella tiba-tiba.


“Kalau papa Erik yang minta aku nggak mau. Tapi kalau istriku yang menginginkannya, akan aku pikirkan.”


“Bukan apa-apa sih, Ken. Cuma kalau kamu mengizinkan aku akan ambil kuliah spesialis nanti setelah melahirkan.”


“Kamu yakin?” Kenzo mengerutkan dahinya.


“Yakin nggak yakin sih sebenarnya, soalnya pasti repot banget kalau sudah punya anak dua.”


“Nggak usah lah, kamu ngurusin aku dan anak-anak kita saja. Nggak papa kan?”


Riella terlihat membuang nafas kasar lalu mengangguk sambil memperlihatkan senyum terpaksanya. Impiannya belum tersentuh meneruskan mamanya menjadi dokter spesialis anak adalah cita-cita dari dulu. Tapi jika imamnya mengatakan tidak dia juga harus menurutinya.