The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Pesan Mama



Sudah satu Minggu berlalu. Riella masih bisa membagi waktunya antara pekerjaan rumah, Kenzo dan Aslan. Ia merasa hidupnya semakin bewarna dengan kehadiran Aslan di tengah keluarga kecilnya. Meski Aslan belum bisa berbicara tapi suara tangisannya memberi keramaian tersendiri untuk rumahnya.


Pagi ini Riella bangun kesiangan karena tadi malam Aslan sulit untuk terlelap, jadi ia harus berulang kali terbangun dari tidurnya. Kenzo yang juga bangun kesiangan, membuat ia harus menunda pertemuannya.


“Maaf ya ... maaf ... gara-gara aku, kamu jadi menunda rapatmu,” kata Riella berlarian kesana kesini, sambil menyiapkan perlengkapan kerja Kenzo, ia panik saat mendapati hari sudah siang.


“Nggak papa, Nee. Semua sudah diurus Alby, nggak perlu panik begitu.” Kenzo memperingati Riella ketika istrinya terlihat cemas.


Beruntungnya Aslan masih nyenyak di box bayinya, jadi tidak begitu menganggu Riella. Riella lalu meletakkan tas kerja Kenzo di atas meja dan mendekat ke arah Kenzo.


“Aku libur ya? Di luar gerimis, enaknya itu ..., buat satu selimut denganmu,” ucap Kenzo sambil meraih pinggang Riella yang berdiri di dekat ranjang.


“Enak saja, baru juga masuk tiga hari sudah mau bolos lagi! Sudah kerja yang baik, nanti aku antar makan siang ke kantor.” Kenzo cemberut saat mendengar penolakkan Riella. Namun, ia segera mengulas senyumnya ketika Riella mengecup singkat bibirnya yang manyun.


“Baiklah, aku tunggu ya.” Kenzo berdiri membalas mengecup dahi, pipi kanan dan kiri, lalu melu*mat sejenak bibir Riella. Tidak terlepas kalau Riella tidak memukul lengannya dengan keras.


“Kebiasaan!” peringat Riella setelah terbebas sambil melotot sempurna di depan Kenzo.


“Ketagihan kalau bisa, aku masukkan bibirmu ke kantung celana!” canda Kenzo sambil tersenyum.


“Hati-hati, Bee!” pesan Riella berjalan di belakang tubuh Kenzo, hendak mengantarkan Kenzo keluar rumah. Namun, ia kembali menghentikan kakinya mengikuti Kenzo yang juga berhenti dan berbalik ke arahnya.


“Kenapa?” tanya Riella heran, ia menautkan kedua alisnya karena bingung.


“Lupa belum mencium babyku,” jawab Kenzo segera mendekat ke arah box bayi. Dia lalu mencium pipi bayi Aslan. Membuat bayi itu menangis karena Kenzo terlalu kasar menciumnya.


“Kan, kamu sih, Bee ... baru juga aku mau mandi, sudah bangun Aslan nya.” Terdengar suara gerutuan dari Riella karena Kenzo membuat Aslan bangun.


“Nggak usah mandi, kamu sudah cantik. Apalagi kalau nggak pakai apa-apa. Tidak ada yang ngalahin,” goda Kenzo sambil mere*mas dada Riella, Ia segera melesat keluar kamar menghindari makian Riella yang siap menyembur.


“Aku tunggu kamu di kantor, Nee!” teriak Kenzo yang sudah berada di ruang tamu, di tertawa renyah melihat wajah marah Riella sambil berkacak pinggang.


“See you,” kata Kenzo sambil kiss bye pada Riella.


“Nyebelin ...” umpat Riella, sambil mengambil Aslan yang ada di box bayi dan membawa kain kecil milik Aslan. Ia lalu segera membawa Aslan untuk mengantar Kenzo yang masih berada di depan rumah.


“Bawa sapu tangan Aslan Bee, siapa tahu kamu kangen dengannya!” kata Riella sambil menyerahkan kain kecil yang sudah diberi parfum bayi.


“Boleh nggak sekalian bawa punyamu, tapi CD saja bukan sapu tanganmu!” goda Kenzo sambil tertawa, ia berlalu masuk ke dalam mobil, takut Riella benar-benar melempar sandal yang ia gunakan.


“To night!” ucapnya sambil mengedipkan satu matanya ke arah Riella.


Riella yang membayangkan kelakuan Kenzo merasa geli sendiri. Ia lalu segera masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Kenzo menghilang. Riella membawa Aslan kembali masuk ke kamar, untuk dimandikan, dan ia tidurkan.


Setelah selesai mengurusi bayi Aslan, Riella segera menyiapkan makan siang untuk Kenzo. Sebelum itu, ia menelepon dulu mamanya meminta resep untuk membuat cah brokoli dan ayam penyet. Sambil melakukan video call dengan Ella, Riella menyiapkan sayuran yang akan dimasak.


“Aslan mana, Kak?” tanya Ella yang sudah mengetahui jika anaknya punya boneka hidup.


“Bobo Ma, dia kelelahan setelah semalam begadang.” Riella menjawab dengan senyum manis terpancar dari bibirnya.


“Kamu juga jangan terlalu lelah, kapan bisa jadi adiknya Aslan kalau kamu kecapean,” pesan Ella.


“Pekerjaan di rumah sakit lebih melelahkan dari pada di sini,” jawab Riella sambil memotong brokoli.


“Ingat pesan Mama ya. Jaga tiga itu, biar yang menganggu rumah tanggamu nggak akan mempan.”


Riella mengangguk menyetujui ucapan Ella. Pesan dari mamanya selalu ia pegang, yang pertama menjaga makanan suaminya, menu makanan yang lezat, dan nikmat, supaya Kenzo lebih gendut dari waktu ia masih lajang selain supaya Kenzo selalu merindukan masakannya, meski masakkan yang ia buat tidak terlalu enak, tapi ia yakin suatu saat Kenzo akan merindukannya jika mereka berjauhan nanti.


Kedua, pandangan mata Kenzo, bagaimanapun juga ia harus tampil lebih cantik dari wanita diluar sana. Pelakor lebih punya banyak cara untuk merayu lelaki yang sudah beristri, jadi jangan sampai Kenzo memilik pelakor dari pada dirinya. Tapi tentunya bukan hanya dirinya, rumah yang ia tinggali juga harus dijaga kebersihannya supaya Kenzo lebih betah di rumah dari pada di hotel.


Dan terakhir kepuasan si Otong juga harus maksimal. Kalau itu, nggak usah ditanya, sejak keluar dari rumah sakit Kenzo selalu menyerangnya, tepat pukul 12 malam. Karena menunggu Aslan mendengkur dulu. Jika belum, pasti akan berhenti di tengah jalan. Dan itu sangat menyiksa Kenzo, karena pernah sekali mereka mencobanya dan dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. (Kapok!)


Tiga puluh menit kemudian Riella mematikan panggilannya, karena masakkannya sudah matang. Riella lalu menyiapkan makan siang untuk Kenzo ke dalam tempat makan. Setelah selesai ia segera bersiap dan mengganti baju Aslan, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Setelah semua siap, Riella segera meminta Alby untuk mengantarnya menuju kantor Kenzo. Siang ini, sudah ke tiga kalinya Riella mendatangi kantor Kenzo semenjak ia menikah. Masalah Kenzo punya mantan pacar yang ada di kantornya, ia juga sudah tahu, dan dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena Riella belum pernah bertemu dengan sekertaris Kenzo.


Riella keluar rumah saat mendengar suara deru mobil berhenti. Siang ini Riella tampak elegant dengan dress abu yang pas ditubuhnya, rambutnya ia biarkan menutupi lehernya yang putih. Riella lalu mendekat ke arah mobil Alby. Menyapa Alby sejenak, lalu duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Tak terasa Riella sudah tiba di gedung kantor Kenzo. Gedung yang tidak tinggi, hanya dua lantai. Namun, luasnya melebihi mall Kelapa Gading. Riella masuk ke kantor Kenzo diikuti Alby di belakangnya yang membawakan beberapa barang milik Aslan.


Saat Riella masuk ke dalam gedung Aslan terbangun. Bayi itu tidak menangis ia berusaha menggapai pipi Riella, seolah ingin mengajak berbicara. Membuat Riella membalas senyuman ke arah Aslan. Tiba di depan pintu ruangan, Riella mengetuk lebih dulu pintu ruangan Kenzo.


“Masuk!” sahut Kenzo yang berada di dalam ruangan. Riella yang mendengar sahutan Kenzo segera mendorong pintu di depannya.


“Se la mat siang, Bee ...” ucap Riella saat masuk ke dalam ruangan. Ia tidak percaya dengan apa yang ada di depannya saat ini. Riella kesulitan untuk menutup mulutnya, sampai ia harus menutupnya dengan satu tangan karena melihat kelakuan Kenzo.