The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Teman Cerita Dua



Matahari perlahan mulai tenggelam di ujung barat. Berganti dengan kegelapan yang bertabur bintang, turut menghiasi indahnya malam ini. Tapi tidak dengan Riella, dilihat dari segi manapun dirinya tidak sedap dipandang, tampak kacau dari ujung kepala hingga mata kakinya.


Riella tidak mengerti kenapa ia justru mengarahkan mobilnya ke rumah sahabatnya. Saat ini Riella sudah berada di area komplek perumahan mewah, rumah berlantai dua yang terlihat asri, dan sedap dipandang. Riella yang sudah kembali tenang segera turun dari mobilnya, berjalan menghampiri pintu utama rumah Eva, tangannya terulur menekan tombol lonceng yang berada di samping kanan pintu. Tidak perlu menunggu lama, pemilik rumah sudah tampak membukakan pintu untuknya, tersenyum ramah menyambut kedatangannya, tapi hanya sebentar Eva menampilkan itu, ia paham air muka Riella yang tampak sedih, Eva lalu memberikan dekapan hangat untuknya.


“Masuklah!” ajak Eva menuntun tubuh Riella, masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai tiga. Mengabaikan panggilan ibu Tari yang memintanya untuk makan malam bersama.


Tiba di kamar, Eva mendudukan Riella di sofa kulit yang menghadap ke arah jendela, memberikan air mineral supaya Riella lebih tenang lagi. Ia paham dengan raut wajah Riella saat ini, dia pernah menampilkan wajah seperti ini, terakhir kali saat mereka baru-baru saja menjalin persahabatan. Eva lalu meminta Riella untuk menceritakan semua masalah yang menimpanya.


“Kamu jangan pura-pura nggak tahu Va, aku yakin, kamu sudah mengetahuinya?!” kata Riella membuka percakapan.


“What? Apa maksudmu? Aku tahu apa?” Eva membulatkan matanya, menampilkan ekspresi bingung.


“Kenapa mereka melakukan ini, Va?” tangis Riella kembali pecah, setelah kurang dari sepuluh menit ia hentikan, mengingat pengkhianatan yang dilakukan kedua orang terdekatnya.


“La, cerita yang jelas, aku tidak mengerti apa maksudmu? Kamu ceritanya nggak tuntas! Coba ceritakan padaku pelan-pelan.”


“Perselingkuhan Chika dan Emil, kenapa bisa Chika hamil anak Emil? Hah? Kamu pasti sekongkol dengan Chika untuk menyembunyikan ini semua dariku, kan?” tuduh Riella.


“Fitnah!” kilah Eva langsung menyangkal tuduhan Riella.


“Kamu kenal aku bukan hanya satu atau dua bulan, La! Kita bahkan dikira pasangan lesbian ketika SMA dulu. Aku tidak tahu sama sekali perbuatan mereka.” Eva memeluk tubuh Riella yang meredam suara tangisnya.


“Chika hamil, Va.” ulang Riella di tengah suara tangis yang ia keluarkan. “dia hamil anak kak Emil. Tapi sayangnya dia keguguran. Kamu tahukan Chika masih perawan ketika bercerai dengan suaminya, mungkin dia bisa memberikan kehangatan yang lebih dari pada aku.” Riella menjelaskan panjang lebar perselingkuhan manusia lucknut yang sudah membuatnya terluka.


“Aku nggak yakin dia masih perawan,” cibir Eva, "kamu tahu sendiri bagaimana life style seorang Chika. “Keluar masuk club’ setiap hari, dan itulah alasan sebenarnya kenapa suaminya menceraikannya.” Eva menjelaskan alasan sesungguhnya kenapa Chika bisa bercerai dengan Danish.


“Dia yang mengatakan itu padaku, Va. Ketika pertemuan kami bertiga sebelum rumah tangganya benar-benar hancur.” Riella memelankan suaranya, dia sudah kehabisan suara karena berteriak-teriak di mobil tadi.


Terdengar helaan nafas kasar dari Eva. Ia mencoba menenangkan Riella memberikan usapan lembut di bahu Riella, mencoba menenangkan sahabatnya yang tengah merasakan sakit hati.


“Aku mengakhiri semuanya, Va. Apa aku sudah benar? Aku tidak akan menerima perbuatan keji mereka, Va. Aku tak bisa memaafkannya,” ucap Riella mempertanyakan keputusan yang sudah ia lakukan.


“Iya sudah, itu lebih baik. Bersyukur saja, mungkin dia bukan yang terbaik untukmu. Masih banyak cowok lain yang menunggumu di luar sana, La. Jangan terlalu lama bersedih seperti ini!” hibur Eva yang kini berganti mengusap rambut ikal Riella, membantu merapikan dengan mengikat rambut sahabatnya supaya lebih rapi.


“Kamu mudah mengatakan semua itu, Va, karena kamu tidak merasakan sakit hati seperti aku. Entahlah Va? Mungkin benar katamu, kalau di luar sana masih banyak yang menungguku, tapi bagaimana jika mereka tahu? Seberapa kotornya diriku ini? Pasti mereka akan mundur alon-alon.” Riella kembali meluncurkan air matanya, saat mengingat perbuatannya yang menjijikkan.


“Sudahlah, yang penting kamu harus bersikap baik-baik saja. Kalau perlu nih ya! Kamu tetap melanjutkan pernikahanmu, meski entah dengan siapa itu. Buktikan pada mereka berdua, meski kamu dikhianati, tapi kamu bisa berdiri tegar, tanpa Emil. Lelaki bajing*n yang ingin aku sunat itu burung merpatinya! Aku sumpahin mereka tidak akan hidup bahagia!” Tampak sekali Eva meluapkan semua kemarahannya.


Hening menyerang ruangan kamar Eva, tertinggal suara dengusan hidung yang Riella tarik kuat-kuat. Hingga terdengar berulang kali suara ponsel Eva yang berdering. Namun, Eva mengabaikan panggilannya. Dia lebih memilih menghibur Riella yang tengah patah hati.


“Husttt … jika tidak seindah cerita dongeng, bukan berarti kamu tidak bisa mendapatkannya lagi. Jika menyakitkan, itu berarti, bukan dia takdirmu. Semuanya hanya titipan, kita hanya dipinjami barang yang akan kita cintai, sayangi, lindungi. Tapi kamu juga harus ingat, jika semuanya akan diambil lagi oleh Allah, ketika sudah waktunya habis, mungkin masa pinjaman Emil sudah habis, dan jodohnya itu bukan lo.” Kata Eva panjang lebar menasehati Riella. “Intinya mulai sekarang, jangan terlalu berlebihan mencintai apapun yang ada di dunia ini, karena akan menyakitkan ketika Allah mengambilnya, dan kita dipaksa untuk ikhlas menerima.”


Riella sudah berhenti menangis, tapi usapan lembut di punggungnya masih bisa ia rasakan. Hingga perlahan kesadarannya mulai luntur, berganti alam mimpi yang lebih menenangkan. Ia sejenak bisa meninggalkan perasaan sedihnya kehilangan. Ia bermimpi indah, berbanding terbalik dengan kehidupan nyatanya, hingga membuat sudut bibirnya terangkat ke atas. Terlalu dini untuk menyimpulkan apa yang ada di mimpinya itu. Tapi dia bisa melihat dengan jelas, wajah lelaki yang memdatangi mimpinya beberapa hari lalu.


Seperti sinetron yang bersambung, mimpi itu diputar lagi kelanjutannya. Ia bisa merasakan pelukkan hangat lelaki berpakaian rapi, dengan jas putih yang senada dengan baju yang ia kenakan. Wajahnya semakin tampan ketika matahari pagi menyorot ke arah lelaki di depannya, Riella memperhatikan lelaki yang berdiri di depannya, semakin dekat membuatnya mampu mengusap wajah tampan pria di depannya. Rahang kokoh, putih bersih, tidak ada satu bulu yang tumbuh di sana.


“It’s me.” Ujar pria tersebut dalam mimpinya. Riella lalu mendekatkan bibirnya untuk lebih dekat lagi dengan pria di depannya, ia hendak meraup kasar bibir lembab pria itu. Tapi dengan cepat tangan lelaki itu menghentikannya dengan satu telunjuk jari.


“Kamu nggak malu, mereka memperhatikan kita,” ujar lelaki itu, menunjuk dengan dagu semua orang yang berada di belakang tubuhnya. Suara sorakkan itu menyadarkan Riella bahwa mereka tidak hanya berdua.


Riella kembali ke alam sadarnya, orang yang ia pikir menyorakinya tadi membuatnya kembali terbangun, karena suara ponsel Eva yang kembali berdering.


“Angkatlah La, sejak tadi om Erik menghubungiku. Aku tidak berani mengangkat, karena aku bingung harus berkata apa.” Kata Eva, lalu menyerahkan ponselnya ke pada Riella.


Terdengar suara pertanyaan lembut yang keluar dari bibir Erik, ketika Riella mengangkat panggilannya. Pertanyaan yang sebenarnya ditujukan Erik untuk sahabatnya. Tapi justru Riella yang mendengarnya


“Iya Pa, Riella di sini. Papa jangan mengkhawatirkan Riella. Aku baik-baik saja, Pa.”


“Apanya yang baik-baik saja? Kedua orangtua Emil datang ke rumah, menanyakan kenapa kamu membatalkan acara pernikahan? Papa yakin sesuatu terjadi pada kalian! Jangan kemana-mana papa akan datang menjemputmu malam ini di rumah Eva.” Lelaki di ujung telepon segera mematikan panggilannya. Suaranya sangat jelas, jika lelaki itu tengah mengkhawatirkan kondisinya. Setelah ponsel itu mati, Riella kembali tidur di sofa yang tadi ia pakai tidur.


"Va!" panggil Riella saat melihat sahabatnya berjalan ke arah kamar mandi.


"Hum?" Eva menjawab singkat, seraya menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Riella.


"Kenapa justru Kenzo yang hadir dalam mimpiku?"


Setelahnya, hanya terdengar kekehan kecil dari bibir Eva, menertawakannya.


🚑


🚑


🚑


🚑


Jangan lupa untuk like kalau suka.🥰🥰🥰🤗🙏