
Sore ini Riella dibuat bingung dengan datangnya paket rumput laut yang dikirim Erik. Bukan hanya satu kotak, tapi Erik mengirimkan untuknya satu box besar. Dengan merk produk ternama, dijamin Non MSG dan bahan pengawet.
Mata Riella berbinar senang, ketika mendapati rumput laut dengan taburan bubuk cabe. Ia buru-buru mengambil piring, dan mengambil satu centong nasi di dapur. Beruntung, jagoannya tidur setelah ia mandikan tadi. Jadi, ia bisa menikmatinya dengan nikmat tanpa gangguan.
Meski aromanya sedikit amis tapi Riella justru lahap memakannya. Mungkin ini makan porsi terbanyak selama ia hamil. Riella baru paham, mungkin inilah yang dinamakan ngidam, mendapatkan keinginanya lalu memakannya dengan lahap. Sampai ia lupa jika Kenzo masih bersikap dingin terhadapnya.
“Emm ... enak sekali. Akhirnya aku bisa menikmatinya,” ujarnya ditengah kunyahan-kunyahan kecil, lalu mengambil lagi selembar rumput laut dan memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan mulut penuh nasi.
“Hari ini Mami kasih makan spesial buat kamu, Sayang. Jangan dimuntahkan lagi ya, kita makan sepuasnya. Pantang berhenti sebelum kenyang.” Riella bermonolog sendiri, seolah mengajak berbicara dengan bayinya.
Tak berapa lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Riella yang paham segera mendekat ke arah pintu masuk. Dia menyambut kepulangan Kenzo dengan ramah, mencium punggung tangan Kenzo yang masih bersikap dingin padanya.
“Sudah makan?” tanya Riella, yang langsung mendapat jawaban anggukan kepala dari Kenzo, “itu hasil USG tadi, Ken. Siapa tahu kamu ingin melihat calon anak kita.” Lanjut Riella menunjuk ke arah gambar usg yang tadi ia letakkan di atas meja depan televisi.
Riella memang sengaja meletakkannya di sana. Supaya Kenzo melihatnya, tapi reaksi Kenzo biasa saja, dia hanya menatap 3 detik, tidak mengambil maupun menatapnya lebih dulu. Kenzo berlalu begitu saja menuju ruang kerjanya.
Riella membuang nafas lelah, ia sudah berusaha untuk sabar, tapi jika Kenzo seperti ini terus, ia yakin tidak akan kuat, dan berniat untuk pergi dari rumah Kenzo. Riella lalu masuk ke dalam kamar, meraih ponsel dan menelepon papanya. Ia ingin mengabari jika makanan yang ia kirimkan sudah tiba satu jam yang lalu.
“Pa, kok paketnya datangnya cepet banget ya?” keluh Riella yang heran dengan datangnya paket yang begitu cepat.
“Iya Papa sengaja mengirimnya pakai kilat khusus plus plus.” Erik menjawab dengan santai, “Apa kamu suka?” lanjutnya bertanya.
“I like it, bahkan ini menjadi makan sore terbanyak saat hamil anakku, Pa,” kata Riella dengan bangga.
“Yah, tadi apa kata dokter? Sudah tahu jenis kelaminnya belum? Papa sih pengennya anak kamu cowok, biar cucuku sepasang,” tawar Erik dengan sedikit candaan.
“Belum tahu, Pa. Baru juga sepuluh minggu.”
“Heh, 10 minggu?” tanya Erik yang merasa terkejut, ia pikir usia kehamilan Riella sudah 5 bulan.
“Iya, Papa. Papa kan tahu, gimana hubunganku dengan Kenzo. Dan ketika di rumah Papa, kita juga baru itu nglakuinnya,” ucap Riella yang malu-malu menceritakan hal itu pada Erik.
“Dasar kamu ya, beruntung suamimu tahan menunggu hampir satu tahun. Atau jangan-jangan Kenzo punya selingkuhan di luar sana, yang mampu memuaskan miliknya?” Goda Erik, yang membuat Riella berubah khawatir.
“Hahaha ... buang pikiran kotormu! Papa yakin Kenzo tidak akan berani melakukan itu! Sudah istirahatlah, Aslan juga sudah tidur, Kan? Besok kalau kamu ke Jakarta bawa Aslan ke rumah ya!” pesan Erik yang mencoba mengalihkan topik pembicaraannya, takut jika Riella menganggapnya terlalu serius.
“Siap Opa, Papa juga jaga kesehatan. Jangan bikin Mama marah terus!” pesan Riella memperingati Erik.
“Mana ada Mama marah? Kalau marah dia tidak akan Papa beri yang iya-iya.” Canda Erik sambil melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya. Beruntung mereka berdua tengah berada di kamar setelah menyelesaikan sholat Maghrib.
“Dah lah Riella tutup saja, setan mesum Papa mulai on soalnya!” ujar Riella yang mulai tidak nyaman dengan pembicaraan Erik.
“Heheh, ya sudah sana istirahat! Kalau ada apa-apa segera telepon Papa. Papa akan selalu ada untukmu!” pesan Erik sebelum ia menutup panggilan telepon Riella.
“Oke Opa Erik,” goda Riella sambil terkekeh.
“Enak saja, hanya cucuku yang boleh memanggil sebutan itu!” Erik protes ketika mendengar sebutan Riella.
“Baiklah! Sudah sana Riella matikan ya ...” pamit Riella lalu menutup panggilannya. Dibarengi Kenzo yang berjalan masuk ke dalam kamar. Sudah dua hari ini Kenzo tidur dengannya, dia juga sedikit heran apa yang mendorong Kenzo, mau tidur dengannya lagi. Padahal sudah berminggu-minggu ia selalu bermalam di ruang kerjanya.
Kenzo merebahkan tubuhnya di samping Riella. Menutup separuh tubuhnya dengan selimut. Sambil memejamkan mata, tapi sebenarnya ia tidak tidur. Pikirannya melayang ke arah kehamilan Riella yang masih tanda tanya besar di hatinya.
“Ken ...” panggil Riella memiringkan tubuhnya menghadap Kenzo, “tadi dokter pesan, misal kamu ingin memberi nafkah batin diperbolehkan kok. Tapi ya harus pelan-pelan.” Kata Riella penuh percaya diri, seolah Kenzo akan menanggapi ucapannya.
Meski sebenarnya dia juga malu jika harus membuka pakaiannya lebih dulu. Riella menatap Kenzo yang masih memejamkan matanya. Lelaki itu tidak bergerak sama sekali, membuat Riella kesal dan ingin mencakar wajahnya. Dia terus mengamati wajah Kenzo yang semakin tampan menurutnya. Atau mungkin karena ia terlalu merindukan Kenzo.
“Apa kamu punya selingkuhan, Ken? Kamu sudah bosan denganku? Jujur aku tidak mengerti apa salahku Ken, hingga membuatmu mendiamkan aku selama ini. Tidak kah kamu paham jika orang hamil tidak boleh stress. Tapi sebenarnya aku juga tidak stress juga sih. Cuma aku bingung memikirkan kesalahanku di mana?” Riella mulai mengungkapkan apa yang ada di hatinya selama ini. Ia lelah dan bingung harus bersikap bagaimana dengan suaminya itu.
“Tidurlah, aku mengantuk!” ucap Kenzo, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Riella.
“Kalau begini caramu memperlakukan aku. Aku jadi ragu kalau kamu mencintaiku! Atau mungkin kamu sadar jika aku bukanlah pilihan hatimu yang sebenarnya. Tapi Lintang lah yang ada di hatimu saat ini!” Tuduh Riella membuat suasana semakin sunyi. Kenzo tidak menjawab apa yang diucapkan Riella, dia juga tidak bergerak dari posisi tidurnya saat ini.
Riella ikut membalikkan tubuhnya membelakangi Kenzo, ia berharap masalah ini segera berlalu dan ia bisa damai lagi dengan keluarga kecilnya. Riella meraba perutnya yang rata, ia belum bisa merasakan gerakan anaknya saat ini, tapi ia selalu melakukan itu, menenangkan calon anaknya. Seolah dia berkata bahwa janinnya adalah anak yang kuat, meski papinya tidak pernah menyapanya.
Tanpa Riella sadari, ia menurunkan air matanya. Air mata kesedihan karena ia tidak dianggap oleh Kenzo. Emosionalnya meningkat, dia yang ingin dimanja tapi tidak ada yang memanjakannya. Yang ia butuhkan perhatian dari suaminya, bukan dari lelaki yang sudah susah payah membesarkannya.