
Please tekan jempolnya 👍
🌹
🌹
Sudah hampir tiga puluh menit, mobil yang dilajukan Kenzo tidak menemui ujung. Riella belum ingin mengatakan kemana mobil itu akan berhenti. Dia masih semangat, bercerita tentang pertemuannya dengan Emil beberapa hari yang lalu.
“Trus istrinya pergi kemana?” potong Kenzo, meski hatinya terasa nyeri saat istrinya menceritakan pria lain. Tapi rasa penasaran yang menyerang, memintanya untuk menanyakan hal itu, biar semuanya jelas.
“Ya, nggak tahulah, Ken. Kalau tahu pasti sudah dibawa pulang sama kak Emil.” Riella mencoba menjelaskan. Kenzo mengangguk paham sambil fokus menatap ke arah jalan.
“Bagaimana perasaanmu dengannya saat ini?” pertanyannya Kenzo masih berlanjut, dia penasaran dengan perasaan Riella.
“Perasaan?” Riella menoleh ke arah Kenzo, “a-aku kasihan saja. Tidak lebih, kasihan dengan Sheva. Ternyata hukuman Allah lebih berat dari yang aku pikirkan.” Riella lalu menatap ke arah jalan yang sudah tampak sepi.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi mereka belum menentukan ke mana mobil itu akan berhenti. Kenzo juga lebih banyak diam setelah mendengar cerita tentang Emil tadi. Dia berpikir kenapa mereka bertemu saat dia tidak berada di Jakarta?
“Kita duduk di taman saja di situ saja deh, sepertinya seru!” Riella menunjuk ke arah bangku taman yang tidak dihuni orang.
“Sudah malam, dingin,” jawab Kenzo singkat, menolak permintaan Riella.
“Ken. Sebentar saja, ayolah!” bujuk Riella, menarik lengan Kenzo.
Kenzo yang merasa kasihan akhirnya menuruti keinginan istrinya. Dengan syarat tidak akan terlalu lama berada di sana.
Mereka duduk berdampingan, memesan makanan yang ada di sana, kebetulan di tepi jalan banyak orang berjualan. Tapi Riella lebih memilih nasi goreng yang ada di seberang jalan. Kenzo sendiri juga heran, padahal bisa saja mereka makan di restoran mahal mumpung masih berada di sini. Tapi, nyatanya Riella memilih masakan pinggir jalan.
“Masih sama.” Riella menatap ke arah pedagang kaki lima yang berjajar, menelisik satu-persatu wajah pedangnya.
“Apanya?” tanya Kenzo menoleh ke arah Riella, dia tidak tahu maksud Riella mengatakan hal itu.
“Iya, masih sama seperti dulu. Tempat ini. Aku dulu sering ke sini dengannya, setiap akan pulang ke rumah.” Riella tersenyum mengingat kenangannya dengan Emil, dia bersemangat sangat menceritakan kenangan masa lalunya. Pikirannya tidak sampai, untuk menjaga perasaan Kenzo.
“Kau masih mencintainya?” tanya Kenzo, membuat Riella yang tadi tertawa sambil menceritakan kenangan masa lalu tiba-tiba berhenti. Dia lalu menghela nafas, kedua tangannya merengkuh lengan Kenzo untuk ia peluk. Wajahnya berusaha mendekati wajah tampan suaminya, lalu tersenyum meneduhkan ke arah Kenzo.
“Apapun yang terjadi ... aku akan tetap di sampingmu.” Riella meletakan tangan Kenzo di perutnya, “ada dia yang menjadi alasan, untuk aku tetap bersamamu.” Riella tersenyum lebih manis lagi ke arah suaminya, meyakinkan jika dia tidak akan pergi.
“Jangan cemburu begitu, nggak asyik banget. Kenzo selalu mengerti aku. Bukan seperti ini!” cibir Riella mencubit pipi Kenzo.
Kenzo hanya bisa menyengir merasakan cubitan yang Riella berikan, lalu menatap ke arah penjual nasi goreng yang berada di seberang jalan.
Maaf ... Ken, aku belum bisa mengatakan ini padamu. Aku ragu, tentang apa yang aku rasakan saat ini. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Kita juga tidak akan pergi kemana-mana. Batin Riella sambil menatap wajah Kenzo dari arah samping.
“Aku hanya ingin mengingat jika kita juga pernah berada di sini. Jadi, saat aku lewat jalanan ini, semoga hanya kamu yang aku ingat, bukan tentang dia,” ucap Riella tanpa melihat ke arah Kenzo.
“Iya, aku paham.” Kenzo menjawab sambil membawa Riella ke dalam pelukannya. Riella yang dipeluk mencoba menenangkan debaran jantungnya, dia ikut hanyut dan mengeratkan pelukannya, mencium parfum yang Kenzo gunakan saat ini. Dia merindukan aroma ini, yang beberapa hari menghilang dari radar penciumannya.
“Aku merindukanmu, Ken,” gumam nya sambil memejamkan mata. Setelah merasa puas, matanya mencoba melihat wajah Kenzo. Senyum menyambutnya saat dia menemukan wajah Kenzo.
“Kenapa?” tanya Kenzo dengan membulatkan matanya.
“Sesak, pelukanmu terlalu erat,” jawab Riella, membuat Kenzo tersenyum simpul. Dia lalu mengecup dahi Riella.
“Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu. Terima kasih sudah bertahan menemaniku sampai saat ini, meski kamu tidak mencintaiku,” ucap Kenzo, sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Riella.
Riella tidak berkutik, dia seperti akan mendapat ciuman pertama, debaran jantungnya berpacu cepat, wajahnya tiba-tiba memanas, semua ia rasakan malam ini. Kenzo memang sering menciumnya, tapi tidak di ruang terbuka seperti ini kecuali di hari pernikahan mereka.
“Nasi gorengnya, Mbak!” kata penjual nasi goreng yang membuat mereka berdua gelagapan melepaskan pelukannya.
“Santai saja, Mas. Bukan hanya saya kok yang melihat.” Penjual nasi goreng itu menunjuk ke arah pria yang tengah tersenyum ke arah mereka, dia duduk sendirian di sana. Mengenakan kaus putih berlapis jaket kulit dan celana hitam di tubuhnya. Riella memejamkan mata, saat pria itu mendekat ke arah mereka berdua, malu yang ia rasakan saat ini.
Pedagang itu pergi setelah menyerahkan nasi gorengnya pada Riella.
“Apa aku menganggu acara kalian? Romantis sekali sepertinya.” Emil menyapa keduanya.
“Nggak. Sama sekali tidak.” Kenzo menjawab sambil memberi pelukan Riella, dia ingin mengatakan jika Riella adalah miliknya dan dia tidak akan melepasnya untuk Emil.
“Kakak di sini juga?” tanya Riella.
“Iya, aku dan Chika berpisah di sini.” Emil menggaruk pelipisnya, “lanjutkan, sepertinya aku sudah terlalu lama berada di sini.” Emil lalu menjauhkan diri dari mereka berdua. Membuat dua orang itu saling bertatapan.
“Kau tidak mengejarnya?”
“Aku mau mengejarmu saja.” Kini Riella mengecup singkat bibir suaminya. Lalu segera menunduk mengamati nasi goreng di depannya, karena merasa malu dengan kelakuannya sendiri.
“Dah lah kita bungkus saja nasi gorengnya!” ajak Kenzo menarik tangan Riella.
“Kenapa memangnya?”
“Nggak kuat, kamu selalu menggodaku!” Kenzo lalu berdiri menghampiri kedai warung tenda membayar nasi goreng. Sedangkan Riella, masih menikmati nasi goreng di tangannya. Mengabaikan Kenzo yang mengajaknya pulang.