
Teruntuk, pembaca setia 69 (The Delayed Of Love Stories), dimanapun readers berada semoga sehat selalu. Maaf ya, Ella harus membuat note ini. Karena dan karena Ella masih menunggu kepastian dari NT untuk menyetujui kontrak karya 69. Jadi untuk sementara waktu kisah Kenzo dan Riella saya hentikan dulu. Sampai kapan? Mungkin sampai surat kontrak turun. Jadi bila hari ini/ besok surat kontrak turun jadi gak jadi Hiatus. Sekali lagi Ella minta maaf, nantikan setelah ini ada yang lebih seru lagi.
......................
Riella menutup mulutnya saat melihat ruangan Kenzo. Ruangan itu menjadi penuh warna dengan dekorasi balon warna-warni menghiasi sudut dan lantai ruang kerja Kenzo. Ia jadi teringat jika hari ini adalah hari ulang tahun Kenzo. Riella merasa tidak enak hati, karena melupakan hari lahir suaminya.
“Kenzoooo ....” terdengar suara rengekan dari Riella, ia menghampiri suaminya, “maafkan aku ... aku melupakannya.” Riella lalu memeluk Kenzo dengan satu tangan karena tangan kirinya menahan tubuh Aslan. Kenzo hanya diam menghadap ke arah luar jendela, menatap pepohonan yang rimbun yang menghiasi gedung kantornya. Cukup lama ia terdiam sampai Riella melepaskan pelukannya.
“Sudah ku duga ... tapi tidak apa! Yang paling penting tahun ini adalah ulang tahun pertama aku melewatinya denganmu. Kita bisa merayakannya berdua. Makan siang bersama mungkin, dengan makanan yang kamu masak?!” Kenzo membalikkan tubuhnya menghadap Riella. Menatap wajah cantik istrinya yang tampak anggun siang ini.
“Selamat ulang tahun, Bee. Maaf ... aku benar-benar lupa,” kata Riella kembali memeluk Kenzo. “Semoga jadi papi yang baik untuk Aslan, dan jadi suami yang lebih sabar lagi untuk menghadapi ku,” ucap Riella mendoakan Kenzo sambil mengusap punggung suaminya. Riella segera melepaskan pelukannya sebelum mendengar suara protes dari Aslan.
“Al, tolong bawa Aslan dulu!” perintah Kenzo saat melihat Alby masuk dengan tas yang dikalungkan di lehernya.
Alby yang mendapat perintah Kenzo, segera mendekat ke arah Riella. Dia mengambil Aslan untuk dibawa keluar, meninggalkan orangtua angkatnya berduaan di dalam ruangan.
“Maaf,” ulang Riella sambil memeluk Kenzo lebih erat lagi.
“Hmmm ... tapi aku kesal denganmu. Aku sudah membayangkan kejutan apa yang akan kamu berikan di pagi ini. Tapi semuanya datar. Dan aku harus menyiapkan semua ini sendirian.” Kenzo mengeluh karena realita tidak sesuai ekspetasinya, sambil membalas pelukan Riella, “aku yang ulang tahun, aku sendiri yang menyiapkan.” suara Kenzo terdengar kecewa. Membuat Riella semakin merasa bersalah.
“Kamu seperti anak kecil, Bee. Sudah bangkotan juga.” terdengar cibiran dari Riella, sambil mencubit hidung Kenzo.
“Ya, nggak papa. Mumpung ada kamu! Kapan juga bisa kaya gini.”
Riella hanya bisa menahan kesalnya, dengan sikap Kenzo yang kekanak-kanakan. Ia lalu menarik tangan Kenzo untuk duduk di sofa, menghampiri kue blackforest berukuran 25 cm, dan menyalakan lilin yang bertuliskan angka 28 tahun.
“Doa dulu Bee, semoga keluarga kecil kita selalu dilimpahkan kebahagian,” kata Riella memperingatkan Kenzo.
“Yang ulang tahun aku, kenapa kamu yang bilang?” protes Kenzo sedikit cemberut.
“Aku cuma nitip doa, siapa tahu kamu melupakannya.”
“Ya, tanpa kamu minta aku juga akan mendoakan." Kenzo lalu memejamkan mata, "Ya Allah, berikanlah hamba istri yang mencintai hamba seutuhnya, biarlah kehendak-Mu yang terjadi. Karena hamba tahu rencana-Mu lebih indah dari keinginan hamba.” Kenzo lalu membuka matanya, menatap Riella yang tengah mengaminkan doanya.
Acara romantis pun tercipta di ruang kerja Kenzo, saling menyuap, meski hanya dengan cah brokoli dan ayam penyet. Tapi Kenzo tampak bahagia siang ini. Hari ini adalah hari pertama untuknya, merayakan ulang tahun bersama wanita yang ia cintai.
Riella merasa aneh dengan sikap Kenzo yang berubah manja. Kenzo terus menempel dengannya setelah makan siang selesai. Ia yang berniat mengambil Aslan di ruangan Alby, terpaksa harus ia tunda karena Kenzo masih ingin berduaan dengannya. Riella lalu melepas tangan Kenzo yang melingkar di lengannya. Menjauhkan bibir Kenzo yang terus mengecup lengannya.
“Aneh kamu, Bee. Sudahlah aku mau pulang, aku mau mencari hadiah untukmu!” kata Riella sedikit kesal dengan tingkah Kenzo yang nempel seperti siput.
“Nggak boleh, harus di sini dulu!” tolak Kenzo meraih pinggang Riella. Riella hanya bisa melotot sempurna ketika kelakuan Kenzo lebih seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya pergi.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukkan pintu, dari arah luar. Riella yang mendengar segera mendorong tubuh Kenzo dan merapikan bajunya. Sedangkan Kenzo tampak cemberut meski bibirnya menyahut, dan meminta suara wanita itu masuk ke dalam ruangannya.
Terdengar semakin jelas suara sepatu wanita yang berjalan masuk ruangan Kenzo. Wanita itu tampak cantik, tingginya tidak lebih dari Riella, dengan blazer navy dan kaos warna pink sebagai baju dalaman, mendekat ke arah meja kerja Kenzo. Rambutnya sangat indah, tampak sekali jika wanita itu selalu melakukan perawatan di salon.
Mata Riella terus memindai penampilan wanita di depannya, dari atas hingga ujung jempol kakinya. Ia hanya mampu menahan senyumannya, saat melihat ada motif stroberry di kuku wanita cantik itu. Ia lalu membuang nafas berat, saat melihat mata wanita itu terus menatap ke arah suaminya.
“Kenapa?” tanya Kenzo, ia berdiri dari duduknya mendekat ke arah Reva. Wanita itu tersenyum ramah ke arah Kenzo.
“Tanda tangan,” jawab Reva mengangkat file yang ada di tangannya. Dia lalu duduk di depan meja Kenzo. Saat melihat Kenzo sudah duduk di kursinya.
“Istri kamu?” bisik Reva bertanya di depan wajah Kenzo.
“Selamat ulang tahun Pak Kenzo. Semoga panjang umur dan sehat selalu.” Kata Reva sambil menyerahkan satu bingkisan kotak ke meja Kenzo.
Kenzo hanya menatap kotak yang diberikan Reva, lalu melihat Riella dengan ekor matanya, istrinya itu fokus tengah sibuk membolak-balikkan majalah yang ada di tangannya. Tapi Kenzo tahu jika itu hanya alibi Riella saja, ia tertawa dalam hati saat menyadari jika majalah yang dibaca Riella itu terbalik.
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi maaf kamu bawa kembali saja. Aku tidak butuh barang apapun dari mantan pacar.” Kenzo berucap dengan keras membuat Riella segera mendekat ke arahnya.
Riella yang penasaran, langsung meraih benda yang diberikan Reva. Dia penasaran dengan isi hadiah yang diberikan Reva. Siapa tahu ada rahasia Kenzo yang terkuak di dalamnya.
“Nggak baik nolak rezeki, siapa tahu bisa bermanfaat buat kamu, Bee.” Riella melirik ke arah Kenzo penuh ancaman, “terima kasih sudah perhatian dengan suami saya. Kalau sudah selesai silakan keluar! Tidak baik terlalu lama berada di ruangan suami orang!” peringat Riella pada Reva.
Kenzo hanya mampu menahan senyumnya saat melihat perlakuan Riella. Sedangkan Reva hanya tersenyum ke arah Kenzo sambil menunduk untuk berpamitan.
Setelah Reva keluar ruangan, Riella segera beralih menatap tajam ke arah Kenzo. “Mantan pacar?”
“Ya,” jawab Kenzo malas.
“Beneran putus? Atau pura-pura putus?” tanya Riella mengintimidasi.
“Putus Nee, makanya aku tidak mau menerima benda apapun darinya. Kamu malah menerima kotak itu, sudah sini aku kembalikan!” kata Kenzo meminta kembali kotak yang ada di tangan Riella.
“Enak saja, aku harus tahu dulu apa isi di dalamnya, siapa tahu isinya cincin berlian yang kamu berikan padanya waktu dulu, kan lumayan bisa dijual lagi!” kata Riella membuka satu persatu kertas kado yang diberikan Reva.
Kenzo masa bodoh dengan apa yang dilakukan Riella karena ia memang tidak pernah memberikan apapun pada Reva. Dia fokus menatap berkas yang tadi dibawakan sekertaris wanitanya..
“Apaan ini! Kenapa isinya seperti ini? Jangan-jangan ini bekas punyamu dulu ya, dia masih menyimpannya dan kini memberikannya sisanya padamu.” Terlihat Riella menyerahkan satu kotak pengaman ke tangan Kenzo.
“Astaga. Apaan sih? Nggak pernah aku melakukannya selain denganmu,” bantah Kenzo lalu menatap manik mata Riella yang terlihat kecewa dengan ucapannya. “Dasar, wanita itu saja yang iseng!” lanjutnya menatap kesal ke arah pintu masuk, “tapi ada untungnya juga sih, kita bisa menggunakannya siang ini, kita perlu mencobanya!” lanjut Kenzo menarik pinggang Riella hingga ia jatuh di pangkuannya. Kenzo berusaha mengalihkan Riella dari ucapannya tadi.
“Malas, Aslan masih di luar, aku pulang saja.” Riella lalu melepaskan tangan Kenzo yang memeluknya.
“Nee, kamu nggak marah kan?”
“Hmm ....”
“Maaf aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu, aku hanya ingin kamu mengerti jika aku tidak pernah melakukannya selain denganmu.”
“Ya, aku paham. Aku pulang dulu, sudah waktunya Aslan tidur siang juga.”
“Biar kalian pulang bersamaku, katanya kamu mau mencari kado untukmu. Jadi biar aku yang mengantarmu!”
“Nggak perlu, aku bisa pergi dengan Alby, kamu selesaikan saja pekerjaanmu biar nanti bisa pulang cepat.”
Mau tidak mau Kenzo terpaksa melepaskan tangan Riella. “Ya, pulanglah! Hati-hati, maaf bila ucapanku tadi menyakitimu,” kata Kenzo, Riella hanya mengangguk lalu pergi dari ruangan Kenzo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
SPOILER :
Mata Riella menatap lekat ke arah wanita dan lelaki yang tidak jauh darinya. Lelaki itu duduk sambil mengusap lembut perut sang wanita. Ia sebelumnya tidak pernah berharap akan masuk ke tempat ini.