The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Masih Bisa Mundur



Sinar matahari mulai masuk dari celah gorden kamar Riella, ia membuka matanya lebar, mengingat lagi jika besok akan ada acara di rumahnya. Tepatnya acara sakral dirinya dengan Kenzo. Pernikahan yang tidak ia inginkan. Ingin rasanya ia melarikan diri ke kutub utara, menghindari pernikahannya. Namun, ucapan dari Eva membuatnya semangat untuk membalas perlakuan lelaki yang sudah mengkhianatinya.


Jika kamu menikah dengan Kenzo, dia pasti akan kebakaran jenggot. Kamu tahu, kan? jika dia membenci Kenzo. Jalani saja, semoga pernikahanmu akan baik-baik saja.


Perkataan Eva terdengar jelas di bayanganya. Riella menutup wajahnya dengan selimut putih yang tadi menutup separuh tubuhnya.


“Kak ….” Terdengar suara panggilan dari Ella di depan pintu kamar Riella, diiringi derap langkah Ella yang semakin terdengar jelas memasuki ruangan Riella, Ella manarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Riella, lalu melipatnya.


“Mandi dulu, Kak! Di bawah sudah banyak tamu yang hadir, ada bibi Sashi, dan bibi Mila menunggumu,” perintah Ella meminta Riella untuk beranjak dari ranjangnya. Riella yang masih merasa nyaman hanya diam tak menyahut ucapan mamanya. Ia dengan malas mendudukan tubuhnya, memeluk erat guling ke dalam dekapan.


“Hari ini, sementara kakak tidur dengan si kembar ya, soalnya akan ada orang yang menghias kamarmu,” minta Ella saat melihat Riella masih melamun di atas ranjang.


“Harus ya, Ma?” tanya Riella menghadap ke arah Ella.


“Iya, kalian akan jadi pasangan pengantin baru, jadi harus ada yang special, dong.” Ella mengedipkan satu matanya ke arah Riella, menggoda anak perempuannya, yang berwajah datar.


“Hubunganku dengan Kenzo nggak sebaik itu, Ma,” jawab Riella yang berjalan masuk ke kamar mandi.


“Yang penting jangan mempermainkan pernikahan, Sayang! Itu janji kalian di hadapan Allah. Mama menunggumu di bawah ya, nggak enak sama ibu-ibu pengajian. Mama sudah siapkan baju di ruanganmu!” teriak Ella saat melihat pintu kamar mandi sudah tertutup rapat, ia lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Riella menemui kerabatnya yang sudah duduk di alas karpet.


Riella yang berada di dalam kamar mandi terus mempertimbangkan keputusannya, meyakinkan lagi hatinya untuk menikah dengan Kenzo, meyakini jika lelaki itu mau menerima dia apa adanya.


Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian yang sudah di sediakan Ella, Riella segera keluar dari kamar. Turut menyambut tamu undangan yang sudah hadir di sana. Pagi ini Riella mengenakan baju lengan panjang, berbahan sutra yang di lapis dua. Dengan penutup kepala bewarna mustard yang kontras dengan baju gamis yang ia kenakan. Riella menyalami tamu yang hadir dari sanak keluarganya, sebelum tiba di ruang acara, dia diminta duduk oleh Sashi yang sudah membawa nampan berisikan sarapan di tangannya.


“Duduklah! Makan dulu, sini!” perintahnya menyuapi Riella dengan satu potong sandwich berisikan daging. Riella hanya menurut, percuma menolak untuk tidak sarapan karena pasti wanita di sampingnya akan mengoceh tidak jelas.


“Baik-baik dengan suamimu nanti ya, biar mamamu tidak terlalu memikirkanmu,” ujar Sashi menasehati keponakannya yang tengah mengunyah makanan.


“Lala selalu baik baik saja, Bi.”


“Menurutmu begitu, tapi kamu tidak pernah tahu bagaimana hancurnya mamamu saat melihatmu bersedih, dia pintar menyembunyikan kesedihannya, jadi sebisa mungkin buat dirimu bahagia dengan suamimu. Biar mamamu tidak terlalu berat memikirkan kalian.” Sashi menyuapkan lagi roti ke mulut Riella, ia terus mengoceh, memberi wejangan untuk rumah tangga Riella ke depannya, hingga melihat kedatangan Ella ia baru menutup mulutnya rapat.


“Sudah datang pak uztad nya?” tanya Sashi menatap Ella.


“Nggak tahu. Aku saja baru keluar dari kamar, papanya anak-anak tidak enak badan,” kata Ella yang duduk di samping Riella.


Sashi merespon dengan kekehan, saat mendengar penuturan Ella. Melirik penuh arti ke arah adik iparnya. Menghina dengan senyuman jenaka.


“Kenapa? Nggak usah melihatku seperti itu!” maki Ella yang paham raut wajah sahabatnya.


“Kenapa papa, Ma?” tanya Riella memotong bahasa isyarat wanita tua di sampingnya.


“Nggak papa, semalam kebanyakan begadang, jadi sedikit demam.” Ella menenangkan Riella, “bentar lagi juga keluar,” lanjutnya menatap pintu kamar yang ada di lantai bawah.


Setelah ucapan Ella terhenti, terlihat Erik keluar dari kamar, mengenakan baju senada dengan yang Ella kenakan. Dia berjalan mendekat ke arah istri dan anaknya, duduk sebentar di sana, lalu menanyakan posisi Damar pada Sashi.


“Ada di taman tadi, cucunya minta mainan bunga di sana,” jawab Sashi menceritakan keberadaan Damar. Erik yang akan menghampiri keberadaan Damar terpaksa harus mengurungkan niatnya karena suara Ella yang melarangnya.


“Duduk, Pa. besok kamu harus menikahkan anakmu, jadi jaga kesehatanmu, jangan sampai kamu drop dan Riella batal nikah.” Ella terus mengomel karena Erik tidak menghentikan niatnya.


“Aku sudah baik-baik saja, sekalian berjemur, kan nggak papa,” jawab Erik menolak permintaan Ella, ia lalu beranjak meninggalkan keberadaan ketiga wanita tersebut. Untuk menemui sahabat sekaligus kakak iparnya.


Tepat pukul 10 pagi acara pengajian di mulai. Ada Kenzo dengan wajah tampan, mengenakan kemeja yang senada dengan yang Riella kenakan, ia duduk diapit oleh kedua orang tuanya, sama dengan Riella yang juga berada di antara Erik dan Ella. Acara pengajian dijadikan satu tempat, mengingat domisili keluarga Kenzo bukan di Jakarta melainkan di Banjarmasin.


Banyak tamu yang hadir menyimak dengan baik, nasehat-nasehat yang diberikan oleh pak uztad yang menyampaikan dakwahnya. Turut mendoakan untuk kebahagian Riella dan Kenzo di kemudian hari saat menjalin tali pernikahan.


Setelah acara pengajian rampung, mereka menikmati jamuan makan yang sudah disediakan tuan rumah. Saling bertukar cerita tentang bisnis dan tawar menawar anaknya untuk mengadakan perjodohan. Riella yang melihat Kenzo tengah mengobrol dengan Kalun, mendekat ke arahnya meminta waktu sebentar untuk berbicara Kenzo.


“Ada yang harus aku bicarakan denganmu, bisa ikut aku sebentar?” tanya Riella tanpa memanggil siapa orang yang ia ajak bicara.


Kenzo menoleh ke arah belakang, mendapati Riella yang berada di balik tubuhnya, ia hanya mengangguk pelan. Kenzo lalu meminta izin pada Kalun, untuk mengikuti Riella yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan tempat acara.


“Masuklah!” perintah Riella membuka kamar adiknya.


Kenzo menatap bingung ke arah Riella, mereka akan memasuki kamar hanya berdua saja, apa kata orang nanti saat mengetahui. Terlihat Kenzo menarik nafasnya meminta penjelasan dari Riella.


“Santai saja, nggak akan terjadi hal-hal buruk di dalam nanti.” Riella meminta lagi dengan isyarat mata.


Kenzo mengedarkan pandangan ke arah sekelilingnya, setelah merasakan kondisinya aman, ia lalu melangkahkan kakinya masuk ke kamar Maura. Riella meminta Kenzo untuk duduk di sofa toska yang ada di kamar Maura. Sedangkan dia, berdiri di seberang kursi yang Kenzo duduki. Tatapannya terus menatap ke arah Kenzo. Mengamati setiap inch wajah tampan calon suaminya, wajah yang semakin matang dari 13 tahun yang lalu.


“Sebelum kita resmi menikah, ada hal penting yang harus aku katakan padamu, supaya kamu bisa memikirkan ini dengan baik.”


Kenzo yang tadi duduk bersandar di sofa, kini mulai menegakkan tubuhnya, menatap wajah Riella yang tengah menurunkan pasmina di lehernya.


“Katakan saja! Aku siap mendengarkan,” perintah Kenzo tanpa berpaling dari wajah Riella.


“Kamu masih bisa mundur setelah aku mengatakan ini. Jadi kamu nggak perlu berkorban apapun untukku,” kata Riella mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia menyembunyikan kecemasan yang tengah menyerangnya saat ini, mengeratkan cekalannya pada baju yang ia kenakan.


Riella masih diam belum membuka lagi ucapannya, tapi matanya terus menatap ke erah Kenzo, mempertemukan pandangannya pada mata Kenzo yang meneduhkan, setelah sekian lama, mereka tidak melakukannya.


“Harus kamu ketahui. Bahwa aku-” Riella yang sudah mengumpulkan keberaniannya, terpaksa harus menunda niat untuk memulai ucapannya pada Kenzo. Karena mendengar teriakan dari Kalun yang terdengar nyaring di luar pintu seraya menggedor pintu kamar.


Keduanya kompak berjalan ke arah pintu untuk segera membuka. Pintu lebih dulu ditarik Kenzo, dengan Riella yang berdiri di belakangnya. Mereka berdua menatap tajam ke arah Kalun yang berdiri di depan pintu.


“Ngapain kalian berdua di kamar, nggak sedang Dp kan?”


🚑


🚑


🚑


🚑


Mau ngomong apa ya kira-kira, hemm? Nggak ada TTD pernjanjian pernikahan seperti Kalun kan, ya?🤭


Jelas nggak,🤭 perjanjian nikah hanya di cerita Kalun.


Yang penasaran tinggalkan jejak, jangan vote, karena vote sengaja aku kompakin untuk akhir bulan. Terima kasih yang sudah memahami, maklum penulis kerupuk😌