The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Hukuman Buat Riella



Selamat Membaca!


🌹


Sudah dua minggu Riella berada di Jakarta. Di rawat di rumah sakit miliknya sendiri. Ditangani oleh dokter terbaik yang ada di rumah sakitnya.


Tapi, kenyataannya kondisi Riella saat ini, masih sama seperti dulu. Dia seperti Snow White yang menunggu Hunstman datang untuk mencium bibirnya, supaya dia bisa bangun dari kematian sementara ini.


Erik yang notabenya mantan dokter spesialis kandungan pun masih menerka-nerka apa yang terjadi dengan putrinya. Setiap hendak tidur dia selalu memikirkan, apa yang dialami anaknya saat ini? Kenapa Riella tak kunjung bangun? Hanya itu yang selalu mengisi pikirannya beberapa bulan ini.


Siang ini, Erik tengah berada di ruang meeting di rumah sakitnya. Dia sengaja mengumpulkan beberapa dokter terbaik yang menangani Riella. Keputusannya sudah bulat. Jika, dalam kurun waktu satu minggu Riella tidak sadarkan diri. Pihak keluarga terpaksa memindahkan Riella ke rumah sakit yang ada di Australia.


Para dokter yang hadir pun, sepakat untuk bekerja keras dalam memulihkan kondisi Riella. Mereka tidak mau melakukan kesalahan pada pewaris utama rumah sakit tersebut. Meski selama ini mereka sudah bekerja maksimal.


Ruangan yang dijadikan tempat meeting, memang tidak begitu jauh dengan kamar perawatan Riella. Erik sengaja memilih tempat itu supaya istrinya bisa mendatangani dengan cepat saat sesuatu terjadi dengan putrinya.


Belum Erik selesai bicara, pintu ruangan dibuka kasar dari arah luar. Seluruh dokter yang berada di dalam ruangan menatap ke arah pintu. Erik bisa melihat wajah istrinya yang tampak panik, nafas istrinya pendek saat masuk ke ruang meeting. Erik yang penasaran, memainkan kedua alisnya mencoba bertanya apa yang terjadi.


“Riella!” Ella bersuara keras setengah membentak. Meminta mereka untuk segera melihat kondisi anaknya. Dia sudah panik saat mendapati tubuh Riella yang tiba-tiba kejang.


Tanpa mendengar penjelasan lagi, Erik yang paham segera berlari kecil keluar ruangan. Dia bergegas mendatangi ruangan Riella, diikuti beberapa dokter terbaik yang mengekor di belakanganya.


Saat Erik membuka pintu ruangan, dia justru melihat Riella sudah duduk termenung menatap ke arah jendela kaca bening yang tidak jauh darinya. Seolah putrinya itu tengah memikirkan beban berat yang tengah menimpanya saat ini.


Erik memberi isyarat pada dokter yang ada di belakangnya, meminta mereka untuk segera mengecek kondisi Riella saat ini. Dia mencoba tersenyum lebar saat Riella menatap ke arahnya. Dia bisa melihat dengan jelas mata jernih itu sudah digenangi cairan bening yang sengaja ditahan oleh Riella.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Ella yang baru saja masuk ke ruangan Riella. Dia terlambat datang ke ruangan, karena lebih dulu mengabari Kalun dan putri kembarnya yang saat ini berada di rumah. Ella langsung mendekat ke arah Riella setelah dokter selesai memeriksa kondisi anaknya. Dia memeluk tubuh lemah putri pertama yang selalu ia sayangi.


“Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang tidak nyaman?” tanya Ella menelisik dengan kedua tangannya yang terus bergerak meraba tubuh Riella. Mencoba mencari bagian mana yang merasa tidak beres.


Riella hanya menggeleng saat mendengar pertanyaan Ella. Dia masih enggan berbicara, bibir pucatnya itu sulit untuk dibuka karena terasa kering. Riella menduduk menyembunyikan rasa sedihnya. Saat ini, dia sadar jika sudah kehilangan semuanya.


Riella yakin, apa yang dia rasakan itu bukanlah mimpi. Semuanya itu nyata. Anaknya meninggal, Kenzo pergi. Dia bisa merasakan jika itu adalah fakta yang terjadi padanya saat ini. Apalagi melihat Kenzo tidak berada di ruangan yang dia tempati. Dia semakin yakin Kenzo benar-benar pergi meninggalkannya.


“Jangan sedih! Mama pernah mengalami hal yang sama seperti kamu! Mama akan bantu kamu supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan.” Ella mencoba menenangkan putrinya. Kepalanya menempel di kepala Riella. Menghibur anaknya.


Ucapan Ella itu membuat Riella benar-benar yakin, jika mereka berdua sudah pergi jauh dari hidupnya.


“Kamu tahu?” Ella heran menatap curiga ke arah Riella. Belum ada seorang pun yang menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Kenzo.


“Jadi benar. Semua itu bukan mimpiku semata, Ma?” tanya Riella memastikan dia mencoba mencari kebenaran dari sorot mata Ella.


“Ah, mama nggak mau cerita! Tunggu kamu pulang ke rumah.” Ella yang tidak mau membahas masalah anaknya, segera berdiri dari bed yang ditempati Riella.


“Apa dia tampan seperti Kenzo, Ma? Atau ... dia cantik seperti aku?” air mata Riella turun semakin deras saat menanyakan itu pada Ella. Dia tidak bisa mengehentikan tetesan air matanya saat ini.


Ella yang sebenarnya sudah dua meter darinya pun kembali memeluk tubuh Riella. Meminta putrinya untuk menangis di pelukannya lagi.


Sedangkan Erik yang melihat mereka berdua hanya bisa meminta para dokter itu segera meninggalkan ruangan. Dia tidak ingin mereka tahu secara detail penyebab Riella berada di Jakarta.


“Mama punya sesuatu buat kamu. Tapi, barang itu ada di rumah. Tunggu kamu pulang, pasti Mama akan memberikannya padamu.” Ella mencoba menghibur putrinya, supaya tangisan itu segera mereda.


“Kalau begitu … ayo kita pulang! Riella sudah sehat kok!” ajak Riella yang penasaran, dengan apa yang akan diberikan Ella. Dia sudah melepas pelukan Ella, mengamati lekat wajah Ella.


“Papa tidak mengizinkanmu pergi, sebelum dokter mengatakan kamu sudah benar-benar sehat!” Erik mulai unjuk suara, saat mendengar obrolan mereka berdua. Dia lalu mendekat ke arah Riella, memeriksa dahi Riella dengan telapak tangannya. Wajahnya sudah seperti dokter yang hendak menerkam pasiennya.


“Ngapain saja kamu selama ini? Bikin seluruh dokter di rumah sakit ini panik!” tanya Erik yang sudah duduk di tepi ranjang Riella. Dia mencoba mengusir perasaan sedih yang dialami anaknya saat ini.


“Nggak ada apa-apa, Pa.” Riella menjawab dengan suara lemah, terlihat helaan nafas kasar keluar dari bibirnya, dia lalu bersandar di kepala ranjang.


“Mungkin ini salah satu hukuman buat Riella. Riella bukan orang baik, Pa. Riella pernah melakukan dosa zina, berbicara keras pada suami, dan Riella sering mengabaikannya juga. Riella banyak dosa dengan Kenzo. Riella belum bisa jadi istri yang baik untuk Kenzo.” Riella menghentikan ucapannya, dia mengusap air mata yang terus membasahi pipinya. “Semoga dengan Riella mengalami ini, salah satu dosa yang tadi Riella sebutkan, diampuni oleh Allah.” Riella mendongak menatap wajah Erik yang sudah keriput, meski garis keriput itu tidak banyak.


Dia lalu bergantian menatap ke arah Ella, memeluk erat wanita di depannya.


“Maafin Riella, Ma. Riella belum bisa memberikan yang terbaik buat Mama. Meski Riella saat itu tidak sadarkan diri, tapi Riella bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya saat akan melahirkan.” Riella mengusap punggung Ella, meluapkan rasa bersalahnya karena mungkin tanpa dia sadari dia pernah menyakiti perasaan mamanya.


“Sudah! Sudah! Papa jadi seperti nonton drama telenovela secara live!” peringat Erik yang tidak ingin melihat keduanya menangis. Setelah itu tangannya melingkar di bahu kedua wanita itu, memberikan pelukan hangat. Saat ini, mereka saling berpelukan. Erik seolah tengah meluapkan rasa rindu pada anaknya yang sudah lama menghilang.


...----------------...


Jangan lupa untuk like dan vote.


Jika readers suka ceritanya, bisa direkomendasikan ke teman-teman ya. Terima kasih♥️