
“Aishhh … sakit?” Riella berdesis, sambil menepuk pelan darah yang mengalir di pelipis Kenzo, ia menyesali tangannya yang jahil dan mengakibatkan luka itu kembali terbuka lebar.
“Nggak!” kilah Kenzo lalu menahan tangan Riella, “hatimu pasti lebih sakit melihatku berdarah-darah.”
Mendengar itu, bibir Riella yang tadi sudah maju bertambah manyun, dia tidak akan luluh seberapa kuat Kenzo merayunya. Dia akan pulang ke Jakarta setelah dia merasa pulih nanti, dan itu tidak bisa diganggu gugat, meski perlakuan Kenzo manis seperti ini.
Riella menarik tangannya, lalu membereskan kotak obat di depannya. “Keluarlah, mereka pasti sudah menunggu kita untuk sarapan bersama.” Riella beranjak dari tempat duduknya, mengembalikan kotak obat ke tempat semula. Dia lalu membalikan tubuhnya menatap Kenzo, “apa demammu sudah turun?”
Tiba-tiba Riella mendengar suara Kenzo
terbatuk, dan itu menarik perhatiannya untuk mendekat lagi. “Jangan lebay, deh!
Kamu pura-pura, kan? Dasar!” Riella mendorong kesal tubuh Kenzo setelah sadar jika suaminya itu hanya pura-pura.
“Sini pinjam tanganmu!” minta Kenzo
mengulurkan telapak tangannya di depan Riella. Setelah itu dia meletakkan
tangan Riella di keningnya.
Suhu tubuh Kenzo memang masih terbilang panas, tapi tetap saja pria itu masih bisa tersenyum ke arah istrinya. Seolah mengatakan jika ini tidak masalah.
“Aku akan mengambilkan sarapan
untukmu!” Riella menarik tangannya, berlalu keluar kamar, tidak ingin baper saat melihat Kenzo sakit.
Saat ia keluar ruang kerja Kenzo, ia menatap Kalun dengan tatapan kesal, ia ingin memperingati Kalun untuk tidak ikut campur masalah pribadinya.
“Kenapa?” Kalun bertanya sambil
menyunggingkan senyumnya ke arah Riella, “sekali-kali memberinya pelajaran tidak apa-apa!” lanjutnya saat melihat Riella berkacak pinggang bersiap melontarkan amarahnya.
“Cukup diam saja, kamu akan lebih tampan dari sekarang, dari pada ikut campur masalahku dengan Kenzo!” peringat Riella dengan tatapan membunuh ke arah kakak lelakinya.
“Dih sekarang lebih garang dari pada kak Ros kamu, ya?” ledek Kalun menggoda adiknya. “Ow pasti gara-gara juniormu ini!” mata Kalun beralih menatap perut Riella yang sedikit membuncit.
“Kak Luna!” Riella berteriak, “Kalun
nakal tolong urus dia! Dia memukuli suamiku!” adunya berteriak keras sambil
menatap ke arah dapur, dimana ada Aluna dan Ella yang tengah memasak.
“Katanya mau minta cerai? Masih
menganggap suami?” selidik Kalun, membuat Riella menginjakkan kakinya di
punggung kaki Kalun. dia lalu pergi dari hadapan Kalun, berjalan ke arah dapur, mengambilkan sarapan untuk Kenzo.
Tiba di sana, Riella mengadu pada
Ella dan Aluna, tentang perbuatan Kalun pada Kenzo. Mereka berdua yang mendengar turut terhanyut dalam luapan emosi yang diungkapkan Riella, saat wanita itu menceritakan kondisi Kenzo.
Mata Riella lalu menangkap papa dan kedua adiknya tengah memasang tenda, “Astaga mereka benar-benar akan berkemah di samping rumah?” tanya Riella menatap heran ke arah Ella.
“Ya, paham kan sikap Maura bagaimana?” Ella bertanya sambil mencibirkan bibirnya, “kamu tidur di dalam saja! Dingin nanti kamu sakit.” imbuhnya memperingati.
“Tapi sepertinya seru, Ma. Kalau kita bikin api unggun! Itu mengingatkanku saat dulu kita liburan di Lombok.” Riella berucap sambil membayangkan kenangannya dulu.
“Nostalgia sudah!” sindir Ella, “kamu mau apa tadi ke sini?” tanyanya saat Riella hanya mengawasi papa dan adiknya.
Riella menepuk dahinya, “aku mau mengambilkan sarapan untuk Kenzo. Dia masih demam.”
“Ambilkan cepat, setelah itu suruh minum obat!” perintah Ella, yang langsung dituruti Riella.
___
Malam ini sepertinya alam ikut
mendukung acara yang diadakan Maura, banyak bintang bertaburan di kelamnya
langit hitam. Udara juga tidak sedingin semalam. Di halaman samping rumah Kenzo kini ada lima tenda berukuran jumbo sudah terpasang siap menampung mereka.
Sebagian orang sudah berkumpul di
sana, memutari api unggun yang sudah dinyalakan di atas tungku besar. Mereka
tidak ingin merusak rumput grinting yang tertanam indah di rumah Kenzo.
Tidak ada acara khusus, mereka hanya berkumpul sambil memakan camilan yang tadi di buat para ibu rumah tangga. Memanfaatkan waktu kebersamaan dengan baik. Sejak Kalun dan Riella menikah mereka sangat jarang menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama.
Bayi mungil Aslan dan Leya, sudah terlelap di rumah Nindi. Mereka ditemani oleh pelayan yang biasa mengurus rumah nindi. Jadi Kalun dan Aluna bisa berpacaran sepuasnya.
“Stop ya! Jangan ada yang duduk berdampingan! Paham dikit dong, aku di sini jomblo! Jadi formasinya aku yang ngatur!” ujar Maura sambil berdiri hendak membongkar ulang tempat duduk mereka yang tengah berpasangan.
“Kalau aku sudah sendiri, jadi tidak perlu berdiri lagi!” ucap Riella seraya membenarkan posisi duduknya. Riella
memang keluar sendiri tadi, karena Kenzo masih berada di ruang kerjanya.
“Kenzo mana, La?” tanya Ella yang baru menyadari jika Kenzo tidak turut hadir di samping Riella.
“Tahu? Masih tidur mungkin.” Riella
menjawab seolah tidak peduli dengan kehadiran Kenzo.
“Minggir dulu, Pa! Biar aku panggil Kenzo dulu!” perintah Ella yang hendak beranjak dari tempat duduknya, dia tidak sampai hati untuk meminta Riella karena paham jika anak itu selesai bedrest.
Mereka yang berada di depan api unggun melanjutkan obrolannya. Obrolan unfaedah yang dilontarkan Maura, tentang mantan pacarnya yang memutuskan tali percintaan secara sepihak, karena akan kuliah keluar m negeri.
Selang beberapa menit kemudian, Ella sudah kembali dengan Kenzo berada di belakang tubuhnya. Sebenarnya Kenzo tidak ingin mengikuti acara seperti ini karena wajahnya masih tempak lebam. Kenzo mengambil tempat duduk di samping Riella. Namun, dengan sigap Maura langsung memintanya untuk pindah.
Mata Kalun dengan jeli mengarah ke wajah Kenzo, bibirnya tersenyum tipis mendapati wajah adik iparnya yang kacau. Kenzo justru mengambil tempat di samping Kalun. Tanpa peduli dengan apa yang terjadi kemarin.
“Kak Luna, Kakak nggak mau nyanyi
untuk kak Kalun?” tanya Maura sambil mengupas kacang rebus. Kalun menatap lekat ke arah istrinya mengkode supaya Aluna menyanyikan lagu untuknya.
“Nggak, Kakak sudah lama nggak nyanyi. Takut nanti diketawain.” Aluna memberikan senyumnya ke arah Kalun yang berada tepat di seberangnya.
“Hilih, sama saja. Pasutri malu-malu.” Maura lalu menatap ke arah Kenzo, “Kak Kenzo mau nyanyi?” tawar Maura. Kenzo langsung menggeleng sebagai jawaban. Dia tidak bisa bernyanyi, suara lirih berteriak pun seperti suara panci jatuh.
“Sini Papa saja yang nyanyi. Kalian anak muda nggak ada romantis-romantisnya!” cibir Erik sambil meraih gitar yang tadi dipegang Naura.
Petikkan gitar mulai mengalun
merdu, semua diam mendengarkan Erik yang mulai bernyanyi.
Malam ini … aku milikmu …
Dan tak ada satu pun yang perlu
tahu
Tidak juga waktu, yang terus
memburu
Aku milikmu, aku milikmu
Hingga saat pulang, tertidur.
“Sampai aku pulang kan, Yang?”
tanyanya pada Ella saat ia berhenti menyanyikan lagu dari Ahmad Dhani tersebut.
“Pulang ke Jakarta?” sahut Ella
menggoda.
“Bukan pulang ke pangkuan-Nya.”
“Hilih, ogah ya Maura nggak mau
kalau ngomongin kematian!” tegur Maura yang tak suka arah pembicaraan papanya.
“Okey lanjut, siapa yang mau nyanyi!” Maura berteriak mengalihkan pembicaraan Erik. Namun, saat dia hendak kembali duduk ke tempatnya, matanya menangkap Alby yang berjalan ke arah kerumunan. Dia melihat di samping Alby gadis cantik berjalan di sampingnya.
Semua menatap ke arahnya, termasuk Riella yang terkejut karena Reva turut hadir di sini. Dia hendak beranjak dan masuk ke dalam rumah, tapi Kenzo buru-buru mencegahnya.
“Jangan pergi dulu, aku sama sekali tidak mengundangnya.” Kenzo menjelaskan supaya Riella tidak berpikiran negative tentang kedatangan Reva.
“Tenang, Bang! Saat ini biar Alby yang menjelaskan.” Alby berjalan mendekat ke arah Riella. “Kenalkan dia pacarku,” ujarnya sambil tersenyum manis ke arah Reva.
“Sandiwara lagi?”
“Bukan. Dia memang pacarku, kita
sudah hampir enam bulan pacaran, jadi jangan berpikiran buruk dengan Bang Kenzo, dia tidak akan mengambil milik adiknya. Meski adiknya terima-terima saja
mendapatkan bekas darinya.” Alby menjelaskan sambil menatap ke arah Kenzo.
[Hayoo, ingatkan betapa marahnya
Alby saat tahu Kenzo tidur di rumah Reva.]