The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Tangga Darurat



Vote ya, biar Ella semangat update.


Emil menarik tangan Riella, lalu mendorong kasar tubuh Riella, hingga Riella bersandar ke dinding tembok. Tidak membiarkan tubuh Riella bergerak sedikit pun, dari kukungannya.


“Mau apa lagi sih kamu!” bentak Riella di depan wajah Emil, ia mencoba melawan tangan Emil yang mencekal kedua tangannya, tapi tetap saja dia kesusahan.


“Mau tahu, apa yang aku inginkan?! Yang pasti. Aku ingin mengulang masa indah kita!” Emil menjawab tepat di depan wajah Riella.


“Jangan berbuat aneh-aneh atau aku akan teriak, untuk minta tolong!” peringat Riella yang berusaha mengalihkan wajahnya dari Emil.


“Teriak saja! Tidak ada yang mampu mendengarmu, Sayang!” kata Emil menelisik wajah Riella dengan telunjuknya. Mengangkat dagu Riella supaya mata Riella menatapnya.


“Aku tunggu kamu di tempat biasa, atau kamu mau video kita dulu, aku kirim ke suamimu!” kata Emil mengancam Riella.


“Kau mengancamku! Kirimkan saja! Percuma juga kamu kirimkan padanya, karena kamu tahu? Dia lebih percaya padaku dibandingkan pria tak bermoral seperti kamu!” balas Riella berusaha lagi untuk melepas cekalan Emil, matanya memerah penuh amarah yang ingin ia luapkan pada lelaki di depannya.


“Lepaskan!” bentak Riella saat ia tidak kunjung berhasil bebas.


“Nggak semudah itu ya? Kamu lihat saja, aku punya seribu cara untuk mendapatkanmu lagi!” jelas Emil lalu mendekatkan bibirnya di leher Riella, memberikan kecupan di sana, dengan kedua tangan yang terus menahan tubuh Riella yang terus memberontak, ia memperdalam lagi ciumannya, dan membuat tanda merah di leher Riella.


“Lepaskan!” teriak Riella menolak perlakuan Emil yang tengah memberikan tanda di leher sebelah kanan. Namun, ternyata Emil semakin tertantang dan memberikan tanda merah lagi di sana. Dua tanda bekas bibir Emil terlihat jelas, bahkan lebih jelas dari yang dibuat Kenzo kemarin.


“Pintar juga suamimu! Memberikan tempat untukku memberikan tanda kepmilikan!” Emil menatap wajah Riella, “Bagaimana perasaanmu? Sebelah kanan dari suamimu sekarang, dan kiri dari calon suami masa depanmu!” Emil berucap sambil tersenyum smirk ke arah Riella. Ia sedikit mengendorkan cekalannya setelah menyelesaikan itu.


“Baji*ngan kamu!” bentak Riella lalu mendaratkan tangannya di wajah Emil, setelah tangannya terbebas dari cekalan Emil.


“Aku membencimu! Aku benci denganmu!” teriak Riella diiringi suara tangis, kakinya tiba-tiba lemas, tidak mampu menahan bobot tubuhnya. Ia jatuh di depan Emil, bersandar di tembok, masih dengan tangisnya yang semakin pilu, sampai memenuhi tangga darurat rumah sakit. Ia melindungi tubuhnya dengan mendekap erat supaya lelaki di depannya tidak mendekat lagi padanya.


Emil yang melihat Riella seperti itu, segera membawa Riella ke dalam pelukan, menenangkan Riella yang tengah menangis. Sama seperti dulu saat Riella masih berada dalam genggamannya.


“Aku tahu di hatimu masih ada aku. Jangan menolakku!” Emil mengangkat wajah Riella yang tengah menangis, mengusap lelehan air matanya.


“Aku minta maaf, kita mulai dari awal oke. Kita lupakan masa lalu kita. Beri aku satu kesempatan lagi, aku akan memulainya dari awal.” Riella menutup telinganya merasa jijik dengan ucapan Emil.


“Ini terakhir kali aku peringatkan padamu! Jangan menemui aku lagi! Urus saja urusanmu dengan Chika. Ku mohon jangan lagi menggangguku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah berniat untuk kembali padamu!” peringat Riella sambil mencoba berdiri, setelah itu dia segera pergi dari hadapan Emil, menahan kakinya supaya tidak terjatuh di depan laki-laki di depannya, ia manaiki anak tangga, menuju lantai ruangannya.


***


Tiba di ruangan, yang ada di lantai atas umah sakit, Riella menutup pintunya kasar, mengunci pintu, takut jika Emil akan mengikutinya lagi. Ia lalu bersandar di balik pintu, tubuhnya merosot, tangannya mendekap erat lengannya yang bergetar, air mata semakin lama semakin deras, meluapkan rasa takut yang tengah ia rasakan. Rasa takut jika Kenzo benar mengirim video itu, dan suaminya akan melihatnya, dan akan jijik dengannya.


“Maaf Ken … maaf kan aku! Ku mohon maafkan aku!” kata Riella lirih, semakin dalam menundukkan kepalanya, ia menyembunyikan wajahnya di atas lutut yang ia tekuk, ia menangis membayangkan jika Kenzo akan pergi darinya.


Riella berusaha menghapus tanda di lehernya dengan tangan kosong, yang ia tahu itu pasti tidak akan bisa, ia khawatir saat Kenzo pulang tanda merah dari Emil masih ada di sana. Setelah sedikit tenang, Riella berdiri dari duduknya, ingin menghapus bekas Emil, tapi ponselnya berdering nyaring. Ia mengambil ponselnya, dan mendapati nama Kenzo yang meneleponnya. Dengan susah payah Riella menghentikan tangisnya, ia mengatur nafasnya supaya Kenzo tidak curiga dengannya. Dengan tangan bergetar Riella mengangkat panggilan dari Kenzo.


“Hallo, selamat pagi. Sedang apa, dan di mana?” tanya Kenzo yang pertama kali menyapa Riella.


“Em … aku di kamar rumah sakit, ada pertemuan pagi ini dengan Tiffani, jadi aku harus datang.”


“Em … ya. Hati- hati saat pulang. Jangan merindukan aku, karena itu berat!”


“Yaelah, nggak. Kamu itu over narsis tahu nggak! Sudah sana kerja, jangan numpang terus dengan mertua!” goda Riella memberi candaan pada Kenzo.


“Aku sedang di rumah sakit.” Kenzo menjelaskan posisinya sekarang.


“Ngapain? Kenapa sampai jauh-jauh ke sana. Jika di tempat istrimu ada dokter terbaik,” kata Riella heran.


“Nggak papa sih. Kebetulan satu bulan yang lalu aku ada janji dengan kakeknya Kaila.”


“Ow, gitu … ya sudah lanjutkan. Aku tidak akan menganggu pekerjaanmu. Semoga cepat selesai dan pulang ke Indonesia.”


“Yah, Bye … jaga dirimu!” pesan Kenzo sebelum menutup panggilannya. Riella segera menyahut, lalu melempar ponselnya ke kasur. Ia berdiri berjalan ke arah kamar mandi, menghapus aroma Emil yang menempel di tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Riella segera mencari baju ganti. Mendapati baju Emil yang masih terlipat rapi di sana ia segera mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Mulai detik ini juga dia akan menghapus semuanya yang menyangkut tentang Emil. Ia ingin memulai dengan benar hubungannya dengan Kenzo. Lelaki yang hampir setahun ini bersamanya, selalu menghibur dia saat dia kesepian, lelaki yang berstatus suami tapi tidak pernah ia berikan haknya.


Riella meraih ponselnya menhapus semua yang berhubungan dengan Emil, dengan bodohnya suaminya masih mau menerima perlakuan buruknya selama ini. Benar katanya, dia harus bersyukur atas apa yang diberikan pada Allah. Tidak seharusnya dia larut dalam cintanya pada Emil. Sebelum semua terlambat, sebelum Kenzo pergi darinya.


Bersambung ....