The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Meminta Riella



Hari yang harusnya dijadikan acara sakral untuk Riella dan Emil terpaksa harus membuat Riella mengurung dirinya di lantai atas gedung rumah sakit. Dia menyembunyikan perasaan hancurnya di sana. Menangisi kenangan indah yang tinggal memori manis dan pahit dalam cerita cintanya.


Terang sudah berganti gelap, tapi Riella masih enggan untuk pulang ke rumah. Berulang kali ponselnya berdering, tapi ia enggan untuk merima panggilan, ia masih menikmati tangisnnya di sudut kamar.


Hingga pesan singkat dari Kalun membuatnya kalang kabut, rasa cemas menutupi rasa sedih yang ia rasakan saat ini. Riella segera berlari ke luar gedung rumah sakit, untuk bergegas pulang ke rumah. Pesan dari Kalun yang mengabarkan bahwa mamanya pinsan, membuatnya semakin merasa bersalah, karena sejak permintaan Ella satu minggu yang lalu, dan ia menolak permintaan mamanya untuk menikah dengan Kenzo, Ella terlihat mengurung dirinya di kamar, tidak ingin menyapanya.


Riella semakin gelisah ketika mobilnya terjebak kemacetan, pikirannya sudah melantur ke arah kematian mamanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan memaafkan kesalahannya, jika Ella benar-benar pergi.


Riella segera turun dari mobil setelah mobil sudah berhenti di depan rumahnya, ia menutup pintu mobilnya kasar, berlari masuk ke dalam rumah, tanpa memperhatikan ada mobil mewah yang berhenti di depan rumahnya. Saat Riella tiba di ruang tamu, ia menangkap keluarnya berjejer rapi di sana, menjamu salah satu keluarga yang ia kenali. Dengan wajah khawatir Riella menatap ke arah Erik, menanyakan keberadaan mamanya.


“Assalamu’alaikum, La,” sapa Nindi membuyarkan tatapan Riella yang sudah mengarah tajam ke arah Kalun yang tengah tersenyum smirk ke arahnya.


“Em, wa’alaikumsalam, Tante,” sahutnya lalu mendekat ke arah Nindi mengulurkan tangannya, bersalaman, dengan sopan mencium tangan Nindi.


“Gimana kabarmu, sehat, kan?” tanya Nindi ketika melihat Riella mencium tangan suaminya.


Riella lalu beralih menatap ke arah Kenzo yang tengah menatapnya, ia mengulurkan tangan sambil mengangguk, seolah mereka baru pertama kali bertemu.


“Alhamdulillah, Riella sehat, Tan. Tumben Tante dan Om Haikal datang malam-malam,” ucap Riella yang mendaratkan bokongnya di samping Erik. Mereka semua hanya terkekeh kecil ketika mendengar penuturan Riella.


“Memangnya mama Ella belum memberitahumu, jika kita akan datang malam ini?” tanya Nindi dengan senyum jahil.


“Sengaja nggak aku beritahu, Nin. Kalau diberitahu kabur nanti anak ini,” sahut Ella yang baru saja datang dari arah dapur, ia lalu menatap anak perempuannya sambil tersenyum manis. Di belakang Ella diikuti gadis bertubuh mungil, seumuran Maura yang baru pertama kali Riella lihat.


“Dia siapa Tante?” tanya Riella menatap gadis kecil yang baru saja duduk di samping Kenzo.


“Lintang, Kak.” Gadis itu lebih dulu mengulurkan tangannya ke arah Riella, yang langsung diraih ramah oleh Riella.


“Baru tiba di panti sebulan yang lalu, dia bantu tante mengurus anak-anak di rumah.” Nindi menjelaskan detail siapa Lintang sebenarnya. Riella mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Nindi.


Tidak lama kemudian terdengar suara deheman dari Erik yang mengisyaratkan Haikal untuk memulai inti kedatangannya. “Cepat katakan, sepertinya sebentar lagi akan hujan, nggak baik hujan-hujan bertamu di rumah orang. Takutnya menganggu tuan rumah,” kata Erik dengan seulas senyumnya menatap lelaki yang 10 tahun lebih muda darinya. Sedangkan yang ditatap hanya menarik bibirnya ke atas sambil menggelengkan kepalanya.


Semua beralih menatap Haikal, ekspresi mereka bercampur jadi satu. Deg-degan, penasaran, cemas tidak dengan Riella yang masa bodoh dengan apa yang akan disampaikan Haikal, karena tidak terlalu mempedulikan kehadiran mereka.


“La, om nggak akan bicara panjang lebar. Kedatangan om dan keluarga ke sini ingin memintamu untuk anak kesayangan om,” ucap Haikal menyampaikan inti kedatangannya ke Jakarta.


Riella terbatuk ketika mendengar suara permintaan Haikal, membuat Kenzo segera mengambilkan gelas berisikan minuman di depannya, lalu menyerahkan ke arah Riella. Riella pun menerimanya dan segera meneguknya sampai habis.


“Maaf, Riella nggak bisa, Om.” Mendengar jawaban cepat dari Riella, membuat Ella yang berada di sisi kanan Erik merebahkan tubuhnya di sandaran kursi, matanya terpejam, setelah mendengar penuturan Riella, yang langsung menyakiti hati calon suaminya.


“Astaga, drama apa ini!” keluh Erik melihat istrinya pinsan. Dia menggoyangkan tubuh Ella agar segera membuka mata.


“Ma, bangun.” Erik menepuk pelan pipi Ella. Riella yang berada tidak jauh dari Ella segera menghampiri mamanya, berbeda dengan Kalun dan kakak iparnya yang hanya mengawasi gerakannya.


“Angkat ke kamar, Pa!” minta Riella.


“Kal, cepetan angkat mamamu!” perintah Erik yang paham tubuhnya tidak sebugar dulu untuk membawa tubuh Ella berpindah ke atas ranjang.


Kalun yang mendengar perintah Erik segera mengangkat tubuh mamanya masuk ke kamar, diikuti Riella yang panik dari belakang tubuhnya. Ia lalu merebahkan tubuh mamanya di kamar, meminta Riella untuk memeriksanya.


Riella mulai memeriksa tubuh Ella, hanya ada mereka bertiga yang ada di sana. Kalun yang berada di samping Ella hanya memperhatikan pergerakkan Riella yang memeriksa mamanya. Mencari detik yang tepat untuk membujuk adiknya.


“Nggak Kak.”


“Apa kamu tega membiarkan mamamu seperti ini?” tanya Kalun menatap Riella, “lagian kebencianmu itu tak beralasan, kamu saja yang menutupi semuanya dengan kebencianmu.”


“Jangan bahas itu lagi! aku sudah melupakannya!”


Ella yang sebenarnya sudah tersadar segera meraih tangan Riella, mengusap punggung Riella dengan lembut, “nggak baik menyimpan dengki berlebihan, itu hanya akan membawa kita kepada penyesalan ketika orang itu sudah tidak berada di samping kita.”


“Mama dan papa sudah tua, nggak bisa melihat anak kesayangan mama terus bersedih seperti ini. Dulu kamu mengharapkannya hadir di hidupmu, bukan?”


“Tapi itu dulu, Ma. Dan itu hanya keinginan Riella sesaat saja, nggak lebih.”


“Kamu tahu kapan mama melihat wajah papamu lebih tampan dari lelaki manapun?” Ella menjeda ucapannya sejenak memperhatikan wajah Riella. “Saat mama masih 10 tahun, lebih muda darimu dulu, La. Tapi sampai akhirnya kita bisa sampai pada titik ini. Jodoh sudah diatur oleh Allah, jika jodohmu itu dia, apa kamu mencoba melawan takdir? Mau lari sampai ke got pun kamu tetap tidak bisa menghindar.” Semua yang berada di kamar tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


“Cobalah membuka hatimu untuk Kenzo! Dia lelaki baik, mama akan berdoa untuk kebahagian kalian.”


“Ma.”


“La!” Ella memanggil nama Riella lebih keras dari anaknya. “Percaya pada mama!”


Riella menatap heran ke arah Ella, ia lalu menarik nafas dan memajamkan matanya, “hanya untuk menikah, jangan mengharapkan lebih dari pernikahan Riella.”


“Ya, setidaknya akan ada orang baik yang akan menjagamu. Dan mama bisa pergi dengan tenang setelah ini.” Tubuh Ella tiba-tiba kembali vit lagi, ia beranjak dari tidurnya, berlari kecil ke arah ruang tamu, untuk memberikan kabar baik untuk tamunya.


“Riella bersedia menikah, Ken,” ucapnya setelah tiba di ruang tamu, ia tersenyum bahagia ke arah Erik yang tengah menatapnya heran karena terlalu over bahagia. Sedangkan Kenzo hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis ke arah Ella. Dalam hatinya bersorak gembira mendengar empat kata dari calon mertuanya.


Ella mendekat ke arah Nindi untuk membicarakan tanggal pernikahan anaknya. Keduanya tampak bersemangat memilih tanggal yang pas untuk mereka hingga, menimbang-nimbang jadwal kesibukkan, akhirnya mereka mengeluarkan suaran dengan kompak.


“Satu minggu lagi,” ucap keduanya mengamati pasangan masing-masing.


“Kau dengar Kal, segera persiapkan uang mahar terbanyak untuk putri kesayanganku.” Goda Erik menatap Haikal yang tampak terkejut mendengar penuturan Nindi.


“Semuanya akan aku pindahkan untuk putri kesayanganku juga.” Haikal tersenyu jenaka setelah berucap.


Berbeda dengan Kenzo yang menatap jengah kedua lelaki di depannya. Sedari tadi ia terus mengawasi pintu kamar Riella, berharap wanitanya itu akan menampilkan hidungnya. Namun, hingga ia akan berpamitan pulang, Riella enggan keluar dari kamarnya.


🚑


🚑


🚑


🚑


Siapkan amplop buat datang ke resepsi mereka ya🤣🤣🤭


Terima kasih jangan lupa like dan komentar positif🙏