
Seolah bergantian dengan malam yang sudah lalu. Semalam hujan begitu lebat mengguyur rumah Kenzo. Tidur lebih awal, menarik selimut satu untuk berdua adalah hal paling menyenangkan menurutnya. Padahal sikon sudah mendukung untuk berbuka puasa, tapi nyatanya tidak mampu membangunkan sesuatu dari dalam diri Kenzo.
Empat bulan lamanya, tidak menerima jajahan dari kompeni. Membuat Riella merindukan hal itu. Mungkin sebagian orang hamil akan merasa malas untuk melayani suaminya. Tapi nyatanya, tidak berlaku di kehamilan Riella saat ini. Di begitu menginginkannya semalam, tapi enggan untuk mengatakan keinginanya. Dia malu!
Sedangkan Kenzo, semalam justru memeluknya erat, kadang tangannya jahil meraba perut istrinya yang sedikit membulat. Mencium-cium gemas seluruh tubuhnya yang sedikit asam. Iya asam! Karena Riella malas mandi sore, dengan alasan dingin dan takut masuk angin. Alasan klasiknya adalah ini semua karena bawaan nyawa yang ada di dalam perutnya.
Dan pagi ini, terdengar suara dering alarm meraung-raung. Mengusik tidur Riella yang masih terasa nyenyak. Dia menunggu Kenzo untuk mematikannya. Tapi nyatanya sampai alarm itu berhenti dan kembali berbunyi, pemilik ponsel belum mematikannya.
Merasa terusik Riella bergegas membuka mata, lalu mematikan alarm yang ada di ponsel Kenzo. Suasana dalam kamar masih temaram, seluruh gorden masih tertutup rapat. Riella menarik selimutnya lagi karena merasa kedinginan, efek hujan deras semalam. Samar- samar ia mendengar keributan dari arah dapur. Aroma masakan samar tercium melalui hidungnya, membuat perutnya minta diisi segera mungkin.
“Pasti sudah masak duluan. Kan seharusnya itu tugasku.” Riella menggerutu sambil menyingkap lagi selimutnya. Mengambil ikat rambut yang semalam ia lempar di meja nakas. Riella mengumpulkan rambutnya menjadi satu, lalu menggelungnya tinggi-tinggi. Memperlihatkan lehernya yang jenjang, Riella berjalan ke arah dapur.
Benar saja. Saat ini sosok pria tampan dengan appron hitam menutupi dada hingga lutut, tengah memukul-mukul bawah putih dengan pisau pipih nan lebar di tangannya. Riella menarik kursi di depan dapur, mengamati kebolehan suaminya dalam mengolah masakan.
“Pagi …” sapa Kenzo saat menunggu sapaan Riella tapi tidak kunjung terdengar. Dia tersenyum cerah memamerkan gigi putih yang terlihat besar di tengahnya saja.
“Emmm … bikin apa?” tanya Riella melengok ke arah kompor listrik yang ada di depan Kenzo.
“Bikin sarapan untuk istri sekaligus calon anakku.” Kenzo menjawab sambil memainkan penggorengan di tangannya, seketika aroma bumbu kembali mengepul dari arah penggorengan, menusuk-nusuk hidung lancip Riella. Dan anehnya dia tidak mual sama sekali.
“Harus matang sempurna ya!” kata Riella saat menengok salmon yang tengah dipanggang Kenzo.
“Okey … Sweety.” Riella tidak begitu memperhatikan panggilan baru dari bibir Kenzo. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, tapi dia tidak menemukan Aslan di dalam rumahnya.
“Aslan mana?” tanya Riella, diiringi kerutan dalam di dahinya.
“Tadi pagi ... diambil Lintang, katanya hari ini jadwal vaksin.” Kenzo menjelaskan tanpa menatap wajah Riella, dia masih fokus dengan daging salmon yang tengah di olah.
“Kau bertemu Lintang?” selidik Riella. Dia melihat ke arah Kenzo yang juga menatapnya.
“Kamu cemburu ya?” terka Kenzo dengan seulas senyuman.
“Nggak,” sanggah Riella, sambil memanyunkan bibirnya satu senti.
“Hanya sebentar, kok. Ngasih Aslan saja tadi di depan pintu.” Kenzo menjelaskan sambil berjalan mendekat ke arah Riella.
Dua potong salmon berukuran sedang, dilengkapi dengan kentang rebus dipotong kotak, brokoli dan wortel rebus melengkapi gizi Riella, kini sudah siap santap. Riella tidak lupa memeras lemon yang disiapkan Kenzo di tepi piring datar.
“Sini aku suap!” Kenzo mengambil pisau dan garpu dari tangan istrinya. Memotong daging salmon bewarna jingga di depannya, lalu mengulurkan garpu itu di depan mulut istrinya.
“Emmm … enak ini. Beneran ini enak, lebih enak dari yang biasa papa beli di Jakarta.” pujian terlontar dari bibir Riella. Membuat perasaan Kenzo berbunga-bunga, dia sudah lama tidak melakukan hal ini untuk Riella, dan pagi ini dia bisa melakukan lagi untuk petama kalinya saat Riella hamil.
“Makan yang banyak, biar gendut ibu dan anaknya.” Lagi, Kenzo kembali menyuap sayuran ke mulut Riella.
“Kamu belum mandi ya?”
“Belum, masih pagi, nanti kalau sudah adzan,” ucap Riella.
Kenzo tertawa kecil, “kamu sekarang mulai malas-malasan, ya … nggak nyadar banyak daki di lehermu!”
Reflek Riella meraba lehernya, “masak sih?” Riella menunduk merasa karena malu.
“Jangan menjauh, biar aku bersihkan dulu!” kata Kenzo saat merasa Riella menjauh dari tubuhnya saat ini. Riella tidak menolak dia tidak menjauhi Kenzo.
Namun, yang dilakukan Kenzo tidak membersihkan daki Riella, itu hanya akal –akalannya saja untuk mengelabuhi sang istri. Dia justru memberi tanda merah di leher Riella.
“Astagha bodohnya aku berhasil kamu kelabuhi,” kata Riella mengusap air liur yang sengaja ditinggalkan Kenzo. Suaminya itu justru diam tidak ada reaksi apapun. Pandangannya ke arah Riella sudah berubah, istrinya ini semakin membuatnya mabuk saat menatap ke arah pahanya yang tidak tertutupi kain. Perasaan hampir lima bulan kemarin melihat Riella hanya menggunakan handuk, dia tidak akan bereaksi. Tapi, sekarang what’s wrong with Jono Bin Kenzo? Dengan melihat paha mulus istrinya semenit saja, sudah mendobrak resliting celananya.
“Apa kamu tidak menginginkan aku?” Kenzo sengaja berbisik di samping telinga Riella.
Dan Riella menjauhkan wajahnya, seolah menolak keinginan Kenzo. Dia menyangga kepalanya dengan tangan kanan, lalu menatap lekat ke arah Kenzo. Menyalakan mesin pemindainya memeriksa Kenzo dari ujungrambut hingga ujung kepala. Dia terbahak saat melihat daging diantara selangkangannya menyembul.
Dia ber-istighfar dalam hati, “kata orang wanita itu beda, dia akan on jika sudah menerima sentuhan. Berbeda dengan pria, melihat sekelebat saja miliknya sudah meronta-ronta.”
“Banyak omong, bilang saja mau disentuh. Bagian mana yang ingin disentuh lebih dulu?” Kenzo melepas tali apronnya, melipatnya asal lalu melemparkannya ke meja makan. Tangannya bergerak menirukan gerakan meremas dada, mata beningnya kini sudah menyiratkan nafsu yang sudah tidak bisa ia tahan. Tapi Riella justru tertawa dengan gerakan yang Kenzo berikan.
“Kita ke kamar!” Kenzo mengangkat tubuh Riella ala pengantin baru, dan Riella, bersandar di dada Kenzo. Tangannya mengalung di leher suaminya, takut jika tiba-tiba Kenzo menjatuhkan tubuhnya di sofa yang mereka lewati.
“Tapi aku belum mandi?” Riella berucap manja, yang semakin membuat Kenzo bergairah.
“Mandinya nanti saja. Hemat air,” kata Kenzo sambil memutar handle pintu dengan sikut kananya. Setelah mereka berada di dalam Kenzo menendang keras pintu kamar, hingga menghasilkan dentuman nyaring memenuhi ruangannya.
Perlakuan Kenzo sangat hati-hati, kini dia tidak lagi memikirkan kepuasaanya saja. Ada anaknya di dalam perut Riella yang berusaha tumbuh dengan sehat. Dia tidak ingin menyakiti keduanya saat ini.
“Kau yakin, Sweety ini tidak akan masalah?” Kenzo memastikan lagi.
“Ya, selama kamu tidak aneh-aneh.”
“Aku akan mengucapkan salam dulu sebelum memulainya. Supaya dia tidak kaget dengan tamu yang terasa asing baginya.” Kenzo menggoda.
“Bicaramu terlalu frontal, bisakah kita mulai petualangannya sekarang,” tegur Riella yang sudah tidak sabar. Kenzo mengeluarkan seringai nafsunya, “petualangan kita akan panjang, aku akan mulai dari bib-
Tanpa ragu dan penuh percaya diri Riella lansung meraup bibir Kenzo, memotong ocehan yang akan dilontarkan suaminya. Sergapannya begitu kasar, tapi Kenzo dengan cepat mengimbangi apa yang diberikan istrinya. Hingga suara kenikmatan dari bibir memenuhi kamar.
Merasa gemas, dia mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakan Riella, hingga harta karun yang saat ini menjadi hak miliknya, terlihat sangat indah di depan mata. Dua gundukan kenyal itu ia mainkan dengan lembut. Bibir dan lidahnya saling bergiliran memberikan kenikmatan.
Kenzo selalu membungkam bibir Riella saat desahan itu terdengar lirih. Tidak adil menurutnya, jika ia tidak menanggalkan kain yang masih menempel di tubuhnya. Dia meminta Riella untuk membantu melepaskan pakaiannya. Seketika tonkat pendek dan berurat itu menggoda Riella untuk dimainkan.
Kenzo mendesiskan suara merdunya, saat tangan lembut Riella dengan sengaja memainkannya. Tidak berhenti sampai di situ, kini tangan Kenzo juga mencari-cari gua kenikmatan milik istrinya. Dia ingin fivety fivety pagi ini. Sama –sama memberikan kenikmatan melalui organ pendamping yang sudah diciptakan Tuhan secara sempurna.
Satu jam melakukan hal itu, beberapa kali keceplosan dan mengeluarkan cairan putih tanda pelepasan, akhirnya kini tongkat kecil itu berhasil tenggelam dalam istananya. Istana yang sudah lama tidak ia datangi, dan kini Kenzo mulai lagi bertamu di sana. Menikmati remasan-remasan dari bibir bawah istrinya.
Buliran keringat kini sudah membasahi tubuh keduanya, sama-sama melepas kerinduan, sama-sama memberikan kenikmatan hingga diakhir klimaksnya keduanya saling menyebutkan nama pasangan mereka masing-masing. Terdengar merdu meski ada sedikit teriakan yang mereka lontarkan. Mereka puas setelah melakukannya berulang kali, beruntung Aslan tidak ada pagi ini jadi tidak perlu ada drama sebelum bercinta.
“Nanti malam lagi ya,” kata Kenzo sambil merebahkan tubuhnya di samping Riella, dia memeluk Riella, dengan tubuh yang sama-sama belum tertutupi kain. Sedangkan Riella, masih berusaha mengatur deru nafasnya yang masih tersengal-sengal.
“Dia gerak-gerak, Sayang ... apa dia masih ingin bertemu denganku?” kata Kenzo saat merasakan gerakan halus dari perut Riella. Mendengar suara Kenzo, Riella pura-pura membuat dengkuran halus dari bibirnya. Iya, pura-pura tertidur nyenyak adalah solusi terbaik saat ini supaya tubuhnya tidak remuk redam.
...----------------...