
#Note :
Reader tercinta ... yang punya aplikasi kuning berlogo N tengokin karya Ella ya, ketik saja My Second Husband (free) oke terima kasih, jangan lupa like, komentar dan vote😉 untuk dukung Kenzo dan Riella.
...----------------...
Cukup lama Riella mengemudikan mobilnya menuju rumah Reva. Perasaanya semakin gelisah, rasa cemas menyelimuti hatinya saat ini. Ia takut apa yang ada di pikirannya benar-benar tejadi.
Jalanan menuju rumah Reva masih terasa sepi. Ini masih pagi, atau mungkin semua orang sudah berada di kantor untuk memulai pekerjaanya. Riella tidak tahu jalanan di sini, hanya petunjuk digital itulah yang menjadi temannya. Menunjukkan di mana rumah Reva berada.
Riella sudah memusatkan titik koordinat petunjuknya di rumah Reva, sesuai alamat yang dikirimkan Alby padanya. Namun, sudah 30 menit berlalu, ia tidak segera tiba di rumah Reva. Wanita itu di ponselnya itu bilang, masih 500 meter lagi, ia baru tiba di rumah Reva.
Jantung Riella berdebar semakin kencang, saat jarak rumah Reva semakin dekat. Riella takut jika Kenzo benar-benar berada di rumah Reva. Ia bingung harus bersikap bagaimana jika itu benar terjadi. Dulu Emil masih berstatus tunangannya, jadi dia bisa pergi begitu saja. Tapi sekarang, Kenzo adalah suaminya, jika itu terjadi, bisakah ia melepas Kenzo, dan mengaku kalah di depan pelakor?
“Ayo Riella, jika kamu tidak melihatnya sekarang, apa kamu ingin suamimu itu lebih leluasa lagi, melakukannya!” gumam Riella meneguhkan niatnya, dia sengaja menghentikan mobilnya, di samping rumah Reva. Riella ingin mempersiapkan hatinya lebih dulu sebelum mengetahui kebenaran yang belum pasti.
“Ya, Allah luaskan hati hamba, kalau aku harus mengalami ini lagi, beri aku keikhlasan untuk menjalaninya!” Riella lalu melajukan mobilnya pelan, mendekat ke arah pintu gerbang rumah Reva.
Saat tiba di depan pintu gerbang rumah Reva. Riella hanya berdiam diri di dalam mobil, dia tidak ingin turun, karena sudah terlihat jelas mobil Kenzo terparkir rapi di halaman rumah Reva.
Riella menatap rumah adat khas Kalimantan Selatan yang tampak mewah, dengan tangga di depan teras dan aneka tanaman menghiasi halaman rumah Reva. Tatapan Riella mengarah ke arah Kenzo yang baru saja keluar dari rumah Reva. Tangan Kenzo tengah mengancingkan kemeja putih yang baru saja menutupi tubuhnya.
Di sana terlihat Kenzo tengah terburu-buru menuruni tangga kayu, hendak pergi meninggalkan rumah Reva, dan perempuan itu mencegah Kenzo untuk pergi. Entah apa yang mereka bicarakan Riella tidak mampu mendengarnya. Dia hanya bisa melihat pergerakan Kenzo dan Reva dari arah kejauhan.
Riella yang melihat itu meresa de Javu, atas kejadian lima belas bulan yang lalu. Bedanya dia dulu begitu berani, lain dengan hari ini. Tanpa ia sadari buliran bening perlahan mengalir dari kelopak matanya.
Beberapa kali dikhianati harusnya Riella lebih kuat dari ini, ia yakin bisa melewati semua ini, seiring berjalannya waktu. Ia harus meyakinkan lagi, jika hatinya akan baik-baik saja. Mungkin karena efek dari hormon esterogen dia bisa cengeng seperti ini, emosionalnya begitu tinggi, jadi sulit untuk menahan tangisnya.
Sekuat apapun Riella menahan tangis dan amarahnya, tetap saja air mata itu semakin deras turun dari kelopak matanya. Ia merasakan sakit hati lagi, ia tidak tahu bagaimana hidupnya setelah ini. Mungkin ia tidak akan percaya lagi akan cinta sejati. Cinta tulus itu adalah cinta Erik yang diberikan padanya. Dan hanya pria itu yang belum terkalahkan hingga sekarang.
Dengan air mata yang masih menetes, perlahan Riella melajukan mobilnya meninggalkan rumah Reva. Dia tidak mau Kenzo menyadari kehadirannya. Riella tidak pulang ke rumah, ia tidak ingin Nindi tahu keadaanya sekarang ini.
“Kamu jahat Ken!” teriaknya meluapkan sesak yang menyiksa perasaan hatinya,“pada akhirnya kamu sama seperti yang lain, Ken! Brengsek! Apa salahku Ken!” Riella memukul keras dadanya, berusaha keras melegakan sesak yang ia rasakan. Dia tidak ingin menangis untuk hal-hak yang tidak perlu ia tangisi. Tapi, dia salah, hatinya terlalu lemah untuk menerima ini semua. Semuanya tampak nyata di depan mata, dan sangat menyiksa batinya.
“Kenapa kamu nggak jujur padaku, Ken! Kenapa? Apa ini hukuman buat aku, karena aku bukan yang pertama untukmu!” Riella terus berteriak, memaki seolah Kenzo berada di sana. Ia menyalahkan dirinya sendiri, mungkin ini adalah hukuman baginya atas kesalahan di masa lalu, karena dia tidak bisa menjaga kesucian yang harusnya ia berikan untuk Kenzo.
Riella menatap sungai yang tenang di bawah jembatan. "bahkan air saja bisa sedamai ini, Ken. Kenapa aku tidak! Kau terus menyiksaku selama ini, Ken! Tapi kamu bahkan tidak menyadarinya!" gumamnya sambil memejamkan mata. Riella sudah tidak tahu, apa lagi yang ia pikirkan, otaknya mendadak blank, tidak mampu berpikir jernih.
Riella benar-benar kehilangan Kenzo pagi ini. Ia pikir Kenzo benar-benar tulus mencintainya, mencintai dia apa adanya. Menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ia miliki. Tapi salah, Kenzo bukan pria seperti itu. Pria tetaplah pria, yang ingin memiliki wanita sempurna untuk dirinya.
Bayangan perkataan Kenzo pun tergiang di telinganya, membuat dada Riella semakin sesak, seolah Tuhan menghentikan stok udara untuknya saat ini juga. Riella menangis di sana bersandar di tembok jembatan, dia terhanyut dalam perasaan sedih, karena pengkhianatan yang dilakukan Kenzo.
Ucapan Erik terlintas begitu saja, mengingatkan padanya. Erik yang menerka jika Kenzo mempunyai simpanan, ternyata benar. Mengingat hal itu, Riella hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bahkan, feeling Erik lebih kuat darinya.
“Pa, aku butuh Papa!” lirih Riella, ia memeluk lututnya sambil menundukkan kepala, menghalau silaunya matahari yang mengenai matanya.
“Pa ... Aku benci ini, Pa! Tolong dengarkan Riella, hanya Papa yang mengerti Riella saat ini!” lirih Riella di tengah suara tangisnya. Ia tidak peduli dengan kondisi jalanan yang sudah mulai ramai lancar, mobilnya juga sedikit menganggu orang yang lewat karena jalan jembatan itu tidak lebih dari delapan meter.
Menyadari jalanan sudah mulai ramai, Riella berniat untuk pulang, ia tidak enak, jika terlalu lama menitipkan Aslan pada Alby. Karena pasti Alby juga repot hari ini. Riella berdiri, mencari pegangan tembok jembatan untuk menumpu tubuhnya.
Mata Riella mendadak kabur, saat ia berjalan ke arah mobil, kepalanya terasa sakit dan kakinya seperti kehilangan tenaga untuk ia gerakkan, tubuh Riella limbung dengan keringat dingin mengalir deras di dahinya. Riella pinsan di depan mobil. Menarik perhatian orang untuk mendekat ke arahnya.
“Haduh kasian ini ... ayo bawa ke rumah sakit!” teriak salah satu laki-laki yang nampak panik, saat menyadari Riella tengah hamil. Dia tahu, sebab Riella mengalami pendarahan, terlihat jelas darah segar mengalir melewati kakinya.
“Bril! Cepat buka mobilnya!” teriak lelaki tegap yang baru tiba di samping tubuh Riella, ia menggantikan lelaki pertama yang tadi membantu Riella. Selanjutnya ia meminta orang-orang di sana untuk membantu mengangkat tubuh Riella ke dalam mobil.
Lelaki bernama Gabril pun segera membuka pintu saat tahu ada wanita yang membutuhkan pertolongan. Dengan cepat mereka meninggalkan mobil yang digunakan Riella di sana, dengan sebagian orang yang tengah menatapnya heran.
...----------------...