The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Riella Hilang



Di sisi lain, Kenzo yang baru saja tiba di rumah, menautkan kedua alisnya saat mendapati Alby tengah berada di depan rumahnya. Ia tengah menenangkan Aslan yang tengah menangis dalam gendongannya.


“Itu Papi datang As!” ucap Alby ketika mendapati Kenzo turun dari mobil.


“Abang dari mana saja? Bukan dari rumah Reva, kan?” tanya Alby ketika melihat Kenzo berada di depannya. Tapi Kenzo enggan menjawab pertanyaan Alby. Ia malu untuk mengatakan iya pada Alby.


“Di mana Mami nya?” lirih Kenzo menanyakan keberadaan Riella pada Alby. Ia was-was juga jika dia diam-diam menanyakan kabar Riella.


Alby diam, dia justru menatap heran ke arah Kenzo, sebelum akhirnya dia berkata jujur pada Kenzo.


“Dia nyariin Abang tadi, dia memintaku untuk mengirimkan alamat Reva.” Alby menjelaskan apa yang dilakukan Riella tadi pagi.


“Kamu serius?!” tanya Kenzo terkejut, ia tidak mengira jika Riella berniat mencarinya di sana, pertanyaan Kenzo langsung dijawab anggukan kepala oleh Alby, membuat perasaan Kenzo khawatir.


“Tapi aku tidak bertemu dengannya?” ujar Kenzo setelah sedikit tenang.


“Jadi Abang benar ke rumah Reva?” tanya Alby memastikan kebenarannya. Kenzo menatap ke arah Alby, lalu mengangguk pelan.


“Kenapa Abang bodoh!” maki Alby pada Kenzo yang kini hanya bisa diam merenungi kesalahannya.


“Hanya dia wanita yang mengerti aku, Al! Dia tahu segalanya tentangku! Dan dia paham dengan kondisi tubuhku, saat ini!” ungkap Kenzo berkata jujur pada Alby. Membuat Alby semakin geram dengan Kenzo.


Sejak menjalin hubungan dengan Reva, Kenzo memang memberitahukan semua kekuranganya pada Reva. Meski sejujurnya, Kenzo tidak peduli dengan Reva, wanita itu bilang akan menerima semua kekurangnnya.


Dan sekarang Kenzo hanya butuh teman cerita untuk mendengar keluhannya selama ini. Dia memang meminta Reva untuk menemaninya menghadiri acara pernikahan rekannya. Karena terlalu banyak minum jadi dia mabuk dan Reva membawanya pulang ke rumahnya.


“Lalu di mana istrimu sekarang, Bang? Dia sudah pergi sejak pukul tujuh!” tanya Alby sedangkan Kenzo hanya menggedikkan bahunya, tidak tahu keberadaan Riella saat ini.


“Hah, mungkin dia sedang berbincang dengan Reva! Sudahlah aku mau istirahat! Aku nitip Aslan dulu, ya!” jawab Kenzo, dia hendak pergi meninggalkan mereka berdua.


“Bang! Kamu ini bagaimana sih, istrimu belum pulang! Kenapa Abang jadi menyalahkan Riella, saat mengetahui dia hamil!” teriak Alby yang memprotes kelakuan Kenzo.


“Al, kamu tidak paham, sudahlah aku hanya ingin istirahat! Aku pusing!” timpal Kenzo sambil melanjutkan langkahnya menuju rumah.


“Abang mabuk semalam?”


“Sedikit nggak sampai mabuk!” kata Kenzo menyunggingkan senyum tipisnya, ia berlalu ke dalam rumahnya, meninggalkan berjuta pertanyaan di kepala Alby.


Alby yang khawatir dengan kondisi Riella saat ini, segera menitipkan Aslan pada Nindi. Ia meminjam mobil Nindi untuk mencari di mana Riella berada.


“Al segera hubungi Bunda, ya!” perintah Nindi saat mendengar cerita singkat dari Alby. Ia juga tidak habis pikir dengan kelakuan Kenzo yang menyia-nyiakan Riella begitu saja di saat istrinya tengah hamil muda.


Alby semakin takut hal buruk terjadi pada Riella. Apalagi istri abangnya itu tengah hamil muda. Alby terus melajukan mobilnya mencari keberadaan Riella. Tapi setelah mengemudikan satu jam hanya mendapati kekecewaan. Alby tidak bisa menemukan Riella. Hingga pukul 12 siang ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Menghentikan pencariannya, siapa tahu Riella sudah pulang ke rumah.


Tiba di rumah Kenzo, ia langsung berjalan menuju kamar pemilik rumah. Membangunkan Kenzo yang masih terlelap di dalam kamar. Ia langsung menerobos masuk, tidak peduli akan semarah apa Kenzo padanya nanti.


“Bang Riella belum pulang juga, tidakah Abang khawatir dengannya?” tanya Alby sambil menggoyangkan tubuh Kenzo secara kasar.


“Mungkin dia pergi ke rumah temannya biarlah saja!” jawab Kenzo acuh, ia masih menutup matanya.


“Bang istrimu hamil, peduli sedikit kek! Lagian ... emangnya Abang pernah lihat Riella menemui sahabatnya di sini?” Alby mengangkat sudut bibirnya, menyesali kelakuan Kenzo.


“Bodoh, dia tidak hamil anakku, jadi buat apa aku peduli dengannya?” sahut Kenzo.


“Kenapa Abang bicara seperti itu! Bagaimana jika itu anak Abang! Dan dia keguguran, pasti Abang akan sangat menyesal nanti!” sambar Alby yang sama-sama bersuara keras.


“Cukup Al, kenyataanya itu bukan anakku! Pergilah jangan semakin membuatku sakit kepala!” usir Kenzo, meminta Alby untuk pergi dari kamarnya.


“Lalu apa yang akan Abang lakukan setelah ini? Abang akan bercerai?!” tanya Alby menanyakan rencana Kenzo.


“Kok gitu?!”


“Pikir saja sendiri, Bang! Aku sudah menasehatimu! Ingat ucapanku, jika kamu terus seperti ini, jangan pernah menyesal jika Abang kehilangan Riella untuk kedua kalinya,” kata Alby lalu pergi dari kamar Kenzo, ia sudah lelah menasehati abangnya itu. Tiap hari dia mengoceh juga tidak pernah dianggap oleh Kenzo.


“Al. Al. Al ... mau kemana kamu?”teriak Kenzo berusaha menghentikan langkah kaki Alby. Tapi adik angkatnya itu terus berlenggang pergi meninggalkan kamarnya. Tidak peduli dengan panggilannya. Alby hendak mengisi perutnya di rumah Nindi lalu kembali mencari di mana Riella berada.


Saat tiba di rumah Nindi terlihat jelas wajah Nindi yang tampak kacau. Ia memikirkan keadaan Riella yang menghilang tanpa pesan dan kabar.


“Pa ... Papa benar-benar nggak pernah berhubungan dengan mereka lagi, kan?” tanya Nindi memastikan hubungan suaminya dengan mafia dari Jepang yang beberapa tahun lalu membuat masalah dengannya.


“Nggak, tenangkan pikiranmu! Riella pasti akan segera pulang ke rumah,” jelas Haikal menenangkan istrinya.


“Bagaimana kalau Riella tidak pulang, Bang! Di hamil, hamil cucuku kita, lalu apa yang harus aku katakan pada Ella?” Nindi sudah tampak kacau, ia tidak bisa membayangkan betapa marahnya Ella saat mengetahui Riella pergi dari rumah.


“Sttt tenanglah, semua akan baik-baik saja, biar Kenzo mengatur semuanya.”


“Kenzo! Kamu lihat anakmu itu! Dia tidak peduli sama sekali dengan Riella!” ucap Nindi dengan emosi yang sudah membara, ia lalu memijit kepalanya. Dia khawatir, jika seperti ini terus, bisa-bisa vertigonya akan kambuh, dan pasti dia tidak bisa mencari keberadaan Riella.


...----------------...


Jangan lupa untuk like, dan komentar serta vote. Terim kasih 🙏